Bagaimana Dunia Memperkosa Kesalahan
Dunia hari ini penuh dengan teater bertemakan “Tampil menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain, sambil di belakang memperkosa…
Bagaimana Dunia Memperkosa Kesalahan
Photo by Orkun Azap on Unsplash
Dunia hari ini penuh dengan teater bertemakan “Tampil menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain, sambil di belakang memperkosa kesalahan mereka.”
Seorang waiter salah membuat pesanan, seantero penghasilannya diraup. Seorang supir sedikit terlambat karena lelah, sekeluarganya terancam tidak lagi makan. Seorang tokoh masyarakat tampil dengan rambut berantakan, seketika semua orang lupa mereka pula pernah di posisi yang sama. Seorang teman tidak sengaja mengabaikan ajakan, tiba-tiba hidupnya ditandai sebagai ancaman.
Seakan kita semua mulai lupa, bahwa kita pun, punya kapasitas yang sangat sama untuk berbuat yang sama. Bedanya sering kali bukan pada kemampuannya, melainkan pada kesempatannya. Banyak orang pikir, yang membedakannya adalah seberapa banyak orang terdampak oleh kesalahan itu, tapi kita sepertinya mengabaikan bahwa apa yang seseorang lakukan setelah kesalahan itu — jauh lebih bermakna ketimbang kesalahan kecil yang dinormalisasikan tanpa maaf dan malu.
Persis seperti tindakan pemerkosaan. Awalnya ditatap lekat-lekat, dari sedikit celah terbuka yang muncul dari lehernya, atau bahkan dari bagaimana mereka terlalu tertutup sehingga mengundang prasangka, lalu tiba-tiba tidak lama kemudian, ia ditelanjangi, dijamah satu per satu. Mulai dari latar belakangnya: “darimana dia datang?”, dari cara bicaranya: “dia bicaranya emang gitu tauk.”, dari tampilannya: “cakep aja enggak, malah kayak monyet.”, dari caranya berjalan: “lagian dia jalannya kayak orang cacat.”
Habis ditelanjangi. Tidak langsung diperkosa. Tapi diancam, diinjak. Dilucuti bukan saja pada pakaiannya, tapi jiwanya.
Lalu ketika tindakan itu selesai, semua orang akan bilang, “Pasti dia sendiri yang ngundang.”
Begitulah dunia memperlakukan kesalahan. Tidak puas hanya melucutinya, tetapi ingin pelakunya ikut kehilangan hak untuk tetap dipandang sebagai manusia.
Mungkin kita perlu berkaca sejenak, “Apa kita sedang memperjuangkan dunia yang lebih baik atau memperjuangkan ego kita untuk terlihat lebih baik dari semua orang?”
Bukan berarti setiap kesalahan tidak menyakiti atau tidak merugikan. Atau setiap kesalahan hanya perlu dilupakan lalu diterima, karena kalau begitu tidak ada gunanya hukum dan penjara. Tapi ada perbedaan yang besar antara membenci kesalahan manusia dan membenci manusia. Seringkali kita menempatkan diri di posisi yang lebih atas, tetapi lupa bahwa, kita semua berada di posisi yang sama; sama-sama menapak bumi.
Semua ini bukan berarti setiap kesalahan harus dimaafkan, dilupakan, atau dibebaskan dari konsekuensi. Hukum tetap perlu ditegakkan. Kritik tetap perlu disampaikan. Pencuri tetap bisa dipenjara. Pemerintah tetap harus dimintai pertanggungjawaban. Tapi berarti bahwa kita cukup bijaksana untuk memberi ruang antara menghakimi kesalahan dan mencabut seluruh kemanusiaan seseorang.
Sebab ketika seseorang kehilangan hak untuk dipandang sebagai manusia, kita tidak lagi sedang menegakkan keadilan. Kita sedang menikmati penghukuman.
Dan itu berarti, kita tidak menjadi manusia lagi, tapi menjadi makhluk yang mengikis kemanusiaannya sendiri.
“The line dividing good and evil cuts through the heart of every human being.”
“Garis yang memisahkan kebaikan dan kejahatan melintas tepat di dalam hati setiap manusia.”
Aleksandr Solzhenitsyn
메타데이터
- post_id
- af1747aa1d2a
- slug
- bagaimana-dunia-memperkosa-kesalahan-af1747aa1d2a
- url
- https://medium.com/@trisieflourentry/bagaimana-dunia-memperkosa-kesalahan-af1747aa1d2a
- canonical_url
- https://medium.com/@trisieflourentry/bagaimana-dunia-memperkosa-kesalahan-af1747aa1d2a
- author_url
- https://medium.com/@trisieflourentry
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 14:51:46