← Back to list

Aku Tidak Merindukan Masa Lalu, Aku Hanya Merindukan Ibu

Ada hari-hari ketika hidup terasa begitu bising.

Radit Ya? in Ruang Kontemplasi · 2026-07-15 01:02 · 93 claps · 1.6 min read
#ruang-kontemplasi #ibu #renungan #rindu #menulis
Open on Medium ↗

Aku Tidak Merindukan Masa Lalu, Aku Hanya Merindukan Ibu

Ada hari-hari ketika hidup terasa begitu bising.

Tanggung jawab datang silih berganti. Orang-orang mengenalku sebagai seseorang yang mampu, seseorang yang bisa diandalkan. Aku tersenyum, menjawab, dan terus berjalan seolah semuanya baik-baik saja.

Namun, ketika malam tiba dan dunia mulai sunyi, ada satu kenyataan yang selalu menemukan jalannya kembali.

Aku rindu ibu.

Aneh rasanya.

Bertahun-tahun telah berlalu, tetapi rindu ternyata tidak mengenal kalender. Ia tidak mengecil karena waktu. Ia hanya belajar bersembunyi di balik kesibukan.

Kadang aku tidak ingin didengar. Aku tidak membutuhkan nasihat. Aku hanya ingin pulang. Pulang ke pelukan yang tidak pernah menghakimi. Pulang kepada seseorang yang membuatku merasa tidak harus menjadi kuat.

Aku membayangkan memeluk ibu. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada tangisan yang berlebihan. Aku hanya ingin memeluknya… sambil tersenyum. Karena di hadapan ibu, aku tidak perlu menjelaskan mengapa aku lelah. Beliau pasti tahu.

Ketika hari terasa begitu berat, tetapi tidak ada lagi pelukan yang membuat semua kecemasan terasa lebih ringan. Dan ketika dunia memintamu terus menjadi dewasa, padahal jauh di dalam hati, masih ada seorang anak kecil yang hanya ingin memanggil,

“Bu…”

Aku sering bertanya-tanya. Kalau ibu masih ada malam ini, apa yang akan kulakukan? Mungkin aku tidak akan bercerita apa pun. Aku hanya akan memeluknya.

Lalu tersenyum.

Karena ternyata, rumah bukanlah sebuah tempat. Rumah adalah seseorang yang membuatmu merasa aman. Dan sejak ibu pergi, aku masih belajar bagaimana rasanya pulang.

Untuk semua anak yang kehilangan ibunya, aku tahu tidak ada kalimat yang benar-benar bisa menghapus rindu. Tetapi jika malam ini kamu juga diam-diam menangis, ketahuilah…

Kita bukan sedang lemah.

Kita hanya sedang merindukan orang yang pernah mencintai kita tanpa syarat.

Dan mungkin, selama kita masih mampu mengingat wajahnya dengan penuh cinta, ibu tidak pernah benar-benar hilang.

Beliau hidup dalam setiap doa yang kita panjatkan, dalam setiap langkah yang tetap kita usahakan, dan dalam setiap air mata yang mengingatkan bahwa pernah ada seseorang yang mencintai kita begitu dalam.

Photo by Lukas Robertson on Unsplash

Photo by Lukas Robertson on Unsplash

Maka malam ini, izinkan aku menjadi anak sekali lagi. Bukan untuk meminta dunia menjadi lebih mudah. Melainkan hanya untuk berbisik kepada langit,

“Bu… hari ini aku capek. Tapi aku masih berusaha. Semoga suatu hari nanti, ketika kita bertemu lagi, aku bisa memelukmu sambil tersenyum seperti dulu.”


메타데이터
post_id
af22713dcd91
slug
aku-tidak-merindukan-masa-lalu-aku-hanya-merindukan-ibu-af22713dcd91
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/aku-tidak-merindukan-masa-lalu-aku-hanya-merindukan-ibu-af22713dcd91
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/aku-tidak-merindukan-masa-lalu-aku-hanya-merindukan-ibu-af22713dcd91
author_url
https://medium.com/@raditreza62
status
ok
fetched_at
2026-07-16 16:02:15