Cemas Akan Segala Hal
Opini Artikel
Cemas Akan Segala Hal
Opini Artikel
Ketika itu saya sedang lanjut mencari ide terkait artikel apa yang harus saya bahas materinya. Saya memutuskan mencari ide tersebut di beranda youtube saya, saya gulir terus tanpa menonton satu pun. Tujuan saya ketika itu hanyalah mendapatkan ide lewat judul atau tulisan thumbnail yang ada di sana. Selang menggulir beranda, semakin lama pikiranku semakin liar. Ada kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran terkait pekerjaan yang kupilih ini.
“Apakah aku benar-benar bisa hidup lewat pekerjaan ini?”
“Apakah aku benar-benar bisa di pekerjaan ini?”
“Bisakah aku benar-benar menghasilkan duit lewat pekerjaan ini?”
Pertanyaan tersebut terus berputar di kepala saya. Apakah berhenti sampai situ? Tentu saja tidak. Selama pertanyaan tersebut terbesit di kepala, berbagai kekhawatiran mulai bermunculan bagaikan domino yang mulai runtuh. Saya mulai berpikir bagaimana keesokannya jika saya terus melanjutkan pekerjaan ini, lalu bagaimana jika seandainya pekerjaan ini terus tidak menghasilkan uang dan sampai akhirnya saya sudah tua tetapi belum mendapatkan pekerjaan sementara ibu dan ayah saya sudah tua. Bagaimana jika saya akhirnya berakhir menjadi seorang gelandangan yang kehilangan semuanya. Bagaimana jika saya tidak memiliki pasangan, atau bahkan jika saya memilikinya, bagaimana jika pekerjaan saya benar-benar tidak bisa menghidupi keluarga saya sendiri.
Berbagai rentetan pikiran dan kecemasan tersebut terus berputar di kepalaku ketika itu. Jujur, perlahan jantung saya mulai berdegup kencang serta kepala mulai terasa sakit, mata saya seperti bergerak cepat ke sana ke mari seperti tidak mau diam, tubuh saya terasa tegang dan kaku bagaikan ada suatu hal yang sedang mengancam saya.
Lalu apakah saya langsung sadar terkait semua pikiran saya tadi? Apakah saya langsung sadar dengan gejala yang saya alami tadi? Tentu saja tidak. Ketika itu pikiran saya terlalu terfokus dengan segala kemungkinan buruk yang sudah melebar ke mana-mana. Saya kurang ingat, karena ketika itu saya benar-benar fokus sekali memikirkan hal tersebut. Perlahan juga nafas saya ketika itu semakin cepat, tetapi saya belum sadar akan hal tersebut.
Lalu bagaimana saya sadar akan semua hal itu jika ketika itu pikiran kita sedang penuh sekali. Hal yang kulakukan ketika itu adalah berhenti sejenak. Bukan berhenti dari pekerjaanku sebentar lalu mengambil cuti atau hari libur, tetapi tepat saat itu juga kalian coba berhenti melakukan aktivitas. Tidak perlu waktu lama, kalian cukup lepaskan diri entah dari menulis, membaca atau lain halnya, dan jangan melakukan aktivitas.
Tujuan dari tindakan tersebut itu bukan untuk menenangkan pikiran kita, tetapi untuk menyadari semua gejala di tubuh kita ketika itu. Coba tenangkan semua gejalanya secara perlahan, seperti mengatur nafas agar bergerak lambat dan pelan untuk menenangkan aliran nafas yang cepat tersebut serta mengatur detak jantung yang berdegup sangat cepat ketika itu. Rilekskan sedikit tubuh yang sebenarnya sedang tegang ketika itu. Atur kecepatan berkedib kalian manual agar kalian sadar bahwa kalian memiliki kontrol akan hal tersebut. Meskipun terdengar sepele terkait tindakan mengatur nafas, sedikit menggerakkan tubuh (agar tahu tubuh kita kaku atau rileks) dan mengatur kecepatan berkedip di kelopak mata, hal tersebut juga ternyata membantu saya untuk benar-benar tenang ketika itu.
Seketika rasanya semua pikiran tersebut hilang. Bukan karena permasalahn pikiran tersebut terselesaikan, tetapi sepertinya karena tubuh saya sudah mulai tenang sehingga pikiran saya juga mulai ikut tenang.
Lalu langkah selanjutnya yang saya lakukan selanjutnya adalah mengatasi pikiran negatif tersebut. Saya mulai menuliskan semua keluh kesah pikiran saya saat itu, lalu mengatur strategi tersebut untuk mengatasi masalah yang saya pikirkan, bukan strategi untuk mengatasi pikiran negatif itu. Setelah selesai, saya mulai menetapkan tujuan yang harus saya gapai berdasarkan waktu yang saya tentukan pula. Barulah rasanya bukan tubuh saya saja yang lega, tetapi pikiran juga ikut lega.
Perasaan ketika kita mulai menenangkan diri lalu pikiran ikut tenang itu berbeda dengan setelah kalian juga menyelesaikan permasalahan di pikiran kalian ketika itu. Kenapa? Karena proses menenangkan tubuh agar pikiran ikut tenang hanya solusi sementara agar saya ketika itu bisa berpikir jernih, barulah setelah pikiran saya tenang, saya mulai memanggil kembali pikiran negatif tersebut agar saya selesaikan akar masalah dari pikiran tersebut.
Mungkin terbesit di pikran, apakah setelahnya pikiran buruk tersebut tidak muncul lagi? Berdasarkan pengalamanku adalah tetap muncul, tetapi karena kalian sudah memiliki jawaban dari pikiran tersebut, kalian dengan mudah menjawabnya sehingga pikiran tersebut ikut menghilang dengan sendirinya, dan tidak tertanam di otak seperti sebelumnya.
Namun, menariknya pikiran negatif tersebut juga muncul ketika saya sedang melakukan aktivitas yang saya wajibkan ke diri saya sendiri seperti sedang membaca buku ketika hari libur. Saya biasa menetapkan jadwal libur tetap sama seperti jadwal hari biasa saat saya bekerja, namun yang berbeda adalah di jam kerja saya ganti dengan jam membaca buku ketika itu. Nah, pikiran tersebut mulai muncul setelah saya membaca selama satu jam atau dua jam dan pikiran tersebut terus bermunculan tanpa henti. Mungkin kalian berpikir itu karena saya tidak menyukai baca buku. Sebenarnya tidak salah juga, saya memang tidak menyukai proses membaca buku karena lama, tidak ada ilustrasi, tidak ada efek suara dan efek gambar. Tetapi yang saya tetap memaksakan diri untuk terus membaca buku karena membantu saya untuk memahami kerangka berpikir orang lain beserta pengetahuan yang dituangkan di dalamnya. Jika disuruh memilih antara menonton anime atau membaca buku, maka saya jelas memilih menonton anime. Oleh karena itu, ketika hari libur akhirnya saya memutuskan untuk menambahkan satu kegiatan lagi berupa kegiatan fisik yang bertujuan mengalirkan pikiran negatif saya ketika saya sedang membaca buku dan kegiatan tersebut yang saya pilih adalah memainkan alat musik.
Alat musik yang saya mainkan itu keyboard piano. Entah mengapa ketika saya mulai memainka piano tersebut dan berlatih lagu yang saya kuasai, perlahan pikiran stres atau negatif saya hilang sehingga saya mulai rileks. Mungkin kalian berpikir itu karena saya sudah ahli dalam bermain piano, tetapi nyatanya ketika kalian dengar dan lihat sendiri, saya sebenarnya masih kaku dalam memainkan piano. Kenapa saya bisa merasakan rileks ketika bermain piano itu mungkin disebabkan oleh proses belajar piano yang di mana saya langsung berhenti melihat tutorial piano sebelum saya stres juga. Jadi ketika saya mulai merasakan stres, saya memilih berhenti melanjutkan mempelajari baris atau note lagu selanjutnya, lalu memilih untuk terus mengulang note yang saya sudah ketahui dari lagu tersebut hingga jari saya mulai lancar dan terbiasa. Selain itu, saya juga ketika belajar piano tidak dikekang oleh peraturan waktu seperti membaca buku, sehingga saya akan memainkan piano setiap kali saya stres saat membaca buku.
메타데이터
- post_id
- af28e8e2a169
- slug
- cemas-akan-segala-hal-af28e8e2a169
- url
- https://medium.com/@sederhanasaja5/cemas-akan-segala-hal-af28e8e2a169
- canonical_url
- https://medium.com/@sederhanasaja5/cemas-akan-segala-hal-af28e8e2a169
- author_url
- https://medium.com/@sederhanasaja5
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31