Bangkit dari Kegagalan SBMPTN dan Ujian Mandiri 2022, Gap Year Worth It?
#GapYearChapters
Bangkit dari Kegagalan SBMPTN dan Ujian Mandiri 2022, Gap Year Worth It?
#GapYearChapters

Tahun 2021, tepatnya akhir tahun 2021 aku mulai memikirkan persiapan SBMPTN dan pemilihan jurusan. Mengenal lebih jauh segalanya tentang SBMPTN, SNMPTN, perguruan tinggi negeri dan swasta, beasiswa, materi yang diujiankan di SBMPTN dan ujian mandiri universitas dalam negeri, serta tips belajar untuk persiapan UTBK. Semua itu aku cari tahu dan mempelajari lebih lanjut dengan baik.
Awal tahun 2022, aku belum mendiskusikan hal ini dengan orangtuaku. Tetapi ketika orang-orang terdekatku seperti Om, Tante, tetangga, dan saudara-saudaraku bertanya kepadaku tentang kelanjutan pendidikan yang akan ku tempuh. "Kamu mau lanjut kemana?" dari situ, aku mulai pelan-pelan mendiskusikan hal ini dengan ayah dan ibuku. Aku berkata kepada mereka bahwa aku ingin berkuliah di Universitas Diponegoro Jurusan Ilmu Komunikasi. Pilihanku tidak berubah sampai tiba saatnya mendaftarkan diri di laman LTMPT untuk pelaksanaan SBMPTN.
Saat sebelum pendaftaran SBMPTN berlangsung, komunikasi dengan orangtuaku sedikit renggang. Entahlah, karena apa. Ketika itu aku mendaftar SBMPTN dengan teman-temanku, aku memilih Universitas Diponegoro Jurusan Ilmu Komunikasi sebagai pilihan pertama dan tanpa mendiskusikan dengan orangtuaku dulu aku memilih Universitas Singaperbangsa Karawang Jurusan Ilmu Komunikasi sebagai pilihan kedua. Mengapa aku memilih demikian? karena aku merasa ingin sekali kuliah, jadi aku memilih pilihan yang menurutku itu adalah pilihan yang paling realistis.
Kemudian aku mendiskusikan tempat pelaksanaan UTBK dengan teman-temanku lalu kami memilih IPB sebagai tempat pelaksanaan UTBK nya yang lagi-lagi aku tidak mendiskusikannya dengan orangtuaku, padahal itu penting sekali.
Setelah aku daftar dengan teman-temanku, aku kasih tunjuk kartu peserta yang masih berbentuk soft file kepada ayah dan ibuku. Mereka terkejut dengan tempat pelaksanaan UTBK yang kupilih. Menjelang hari keberangkatan ke Bogor bersama ayahku, aku lupa bahwa aku belum menceritakan bagaimana sistem pemilihan tempat pelaksanaannya. Jadi, aku memberi tahu mereka kalau memilih tempat pelaksanaan UTBK itu boleh memilih di mana saja, lalu ayahku sedikit jengkel denganku, katanya "Kenapa kamu ngga pilih UPI? ayah lebih hafal jalanan Bandung daripada Bogor." Seketika aku merasa bersalah. (Emot menangis).
Pengalamanku belajar untuk mempersiapkan SBMPTN tidaklah mudah, karena kelas 12 lumayan banyak kegiatan, banyak tugas kelompok, ujian sekolah, banyak drama pokoknya. Ditambah aku tidak mengikuti les baik online maupun offline alias aku hanya mengandalkan YouTube dan buku SBMPTN sebagai media belajarku. Lalu, bagaimana aku bisa gagal dan akhirnya memilih gap year?
Dari hasil introspeksi serta evaluasi diri setelah aku gagal, berikut ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan aku gagal dan akhirnya lebih memilih full gap daripada semi gap :
-
Kurang latihan soal & try out Iya betul, aku kurang latihan soal. Banyaknya materi dari setiap subtes dengan banyaknya kegiatan saat aku kelas 12, membuat aku banyak memahami materi tetapi kurang latihan soal dan try out bahkan itu pun masih banyak materi yang belum aku kuasai. Waktu kelas 12 memang struggle banget untuk manage waktu.
-
Jalur langit belum maksimal Melihat kilas balik aku selama mempersiapkan SBMPTN dan ujian mandiri adalah ibadahku kurang konsisten. Aku mengakui kalau aku kurang bisa konsisten untuk ibadah Sholat Subuh tetapi untuk ibadah yang mana itu Sunnah seperti Sholat Tahajud, Sholat Dhuha, dan Sholat Hajat itu aku niat banget sampai benar-benar meminta kepada Allah bahwa aku memang serius ingin kuliah di universitas negeri melalui jalur SBMPTN maupun jalur mandiri. Dan ternyata aku gagal di semua jalur (SBMPTN dan Ujian Mandiri). Jadi, untuk semua yang membaca tulisan ini, sempurnakan dulu ibadah yang wajib baru kemudian berdoa pada ibadah-ibadah yang Sunnah. Di masa gap year ini aku sedang belajar manajemen waktu, khususnya belajar untuk terbiasa bangun pagi dan sholat subuh. Doakan ya, guys!!
-
Finansial Yup, ini adalah faktor terbesar aku memilih gap year. Kenapa? Karena orangtuaku sedang di masa sulit sekarang, aku tidak bisa mendeskripsikan lebih. Terlepas aku akan mendapatkan bantuan Bidikmisi jika aku lolos, aku pasti membutuhkan uang lebih untuk transportasi ke domisili universitas yang aku tuju dan urusan finansial lainnya yang aku pikir pasti akan sangat membebani orangtuaku ----yang mana kami sedang ada di masa sulit secara finansial. Mungkin dengan gapyear aku bisa menabung untuk keperluan tahun depan, take a positive impact from gap year.
-
Belum siap secara mental Karena faktor finansial tersebut, aku merasa mungkin aku akan merasa tidak nyaman dengan segala kegiatan perkuliahan yang pasti butuh pengeluaran banyak. Aku takut membebani orangtuaku, benar-benar merasa menyusahkan orangtuaku banget I don’t know why with this feelings :(( Dan aku belum siap dengan perkuliahan yang kaya akan tugas itu, jadi Maba saja sudah banyak tugas apa lagi sesudah jadi Maba. Maaf aku memang kekanakan banget (emot menangis).
-
Restu orang tua Kesalahanku saat mempersiapkan SBMPTN adalah kurangnya restu orangtua. Ayahku marah karena aku asal memilih tempat pelaksanaan UTBK alias ikut-ikutan teman adalah kemungkinan besar aku kurang memaksimalkan persiapan SBMPTN. Beberapa diantaranya juga karena aku tidak mendiskusikan soal jurusan dan universitas dengan kedua orangtuaku serta komunikasi yang agak renggang. Tetapi semenjak aku dinyatakan tidak lolos, aku mulai membangun jembatan komunikasi yang baik dengan mereka. Intinya restu orangtua itu sangat penting. Tips dari aku, bangun komunikasi yang baik dengan orangtua, diskusikan jurusan yang kalian inginkan, dan mintalah doa dari mereka.
Terlepas dari apa yang aku sebutkan, aku tahu Allah sudah menggariskan apa yang ingin aku capai. Aku percaya bahwa dengan aku gap year, aku akan mendapatkan yang lebih baik. Bersyukurnya, Allah mengabulkan doaku untuk aku bisa ikhlas jika gagal dan sekarang aku sudah ikhlas dengan apa yang sudah terjadi.
Deserve lots of failures are not as easy as we think, tetapi untuk segenap usaha dan doa yang sudah kita kerahkan semaksimal mungkin, tahun depan nothing is impossible. Asalkan kita mau berjuang kembali dengan evaluasi diri dan menjadi diri yang baru yang lebih baik untuk bisa menerima keberhasilan. Percaya kepada Tuhan, percaya dengan kemampuan diri sendiri.
Tidak ada yang tahu rezeki kapan datang, tidak ada yang tahu titik terendah kapan datang. Terkadang manusia harus dimasukkan ke dalam kotak tersempit dulu untuk ingat nafas, bahwa "aku bisa lebih dari aku hari ini". Yakinlah bahwa yang namanya jatuh, sulit, sedih itu tidak mungkin selamanya tidak mungkin seumur hidup. Kalau percaya dengan mimpi, dan usaha kita sebesar keyakinan terhadap mimpi kita, yang pahit ini pasti berlalu. Take your time and take a rest, tidak usah buru-buru. Semangat!!
[Pict from pexels/Pixabay]
메타데이터
- post_id
- af5300a1614c
- slug
- gagal-sbmptn-dan-ujian-mandiri-2022-gap-year-worth-it-af5300a1614c
- url
- https://medium.com/@applepiespage/gagal-sbmptn-dan-ujian-mandiri-2022-gap-year-worth-it-af5300a1614c
- canonical_url
- https://medium.com/@applepiespage/gagal-sbmptn-dan-ujian-mandiri-2022-gap-year-worth-it-af5300a1614c
- author_url
- https://medium.com/@applepiespage
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 17:12:49