← Back to list

Frame of Reference

“Kamu tuh nggak pernah jawab cepat, ngerti nggak rasanya kayak ditinggal?” suaraku meninggi, padahal aku tahu dia lagi capek banget.

sasa · 2025-08-16 14:44 · 0 claps · 1.3 min read
#happy-life #dapur #cinta #communication #salah-paham
Open on Medium ↗

Frame of Reference “shashi”

“Kamu tuh nggak pernah jawab cepet, ngerti nggak rasanya kayak ditinggal?” suaraku meninggi, padahal aku tahu dia lagi capek banget.

Rashi cuma terdiam sejenak, tatapannya kayak lagi mikir harus jawab apa. Alih- alih memulai pembicaraan, dia malah bangkit, ngerogoh tas, terus naruh kotak bekal kecil berkatakter lebah manis, di meja depanku.

“Ini donat. Aku bikinnya semalem. Padahal besok aku ada ujian praktik, tapi aku kepikiran kamu dulu.”

Aku mendelik, setengah nggak percaya. “Hah? Jadi kamu nganggep donat bisa gantiin kabar kamu?”

Semua orang pasti pernah merasa kalau dunia berubah begitu cepat, dan hubungan ikut diuji oleh waktu. Aku dan dia bukanlah pengecualian dari segala yang terjadi. Dari SD sampai SMA, kami terbiasa berjalan beriringan. Seperti dua garis yang meski tak selalu sejajar, tapi tahu bagaimana cara saling menemukan dan tahu ujung jalan yang jadi tujuan.

Namun, segalanya mulai berbeda ketika kami melangkah ke babak baru yang orang sebut kuliah. Aku memilih jurusan Komunikasi, sedang dia mengejar mimpinya di Tata Boga. Kedengarannya sepele, ya? Hanya dua jalan berbeda. Tapi justru di situlah semuanya berubah menjadi samar, ragu, dan penuh tanya tentang arah mana yang sebenarnya harus kami tuju.

Di awal, aku masih percaya kalau jarak dan kesibukan bukan apa-apa selama ada usaha. Aku berusaha menjaga komunikasi, mencari celah di sela-sela ospek, tugas, dan segudang kegiatan kampus lainnya. Tapi di balik dapur yang penuh aroma lelehan mentega dan oven yang terus menyala, dia semakin sibuk dengan dunianya sendiri. Sering kali, salah paham kecil berubah menjadi percikan api, yang lama-kelamaan membesar

Lucunya, aku pernah berpikir, kami ini seperti roti dan kopi. Roti yang harus melalui rising time, menunggu mengembang dengan sabar. Sedangkan kopi rasanya pahit, manis, atau kadang juga seimbang tergantung cara diaduk. Dua hal yang sangat berbeda, tapi bisa jadi pelengkap yang saling menemani di pagi hari. Sayangnya, kami lebih sering memaki ketimbang menjadi pelengkap untuk saling menemani.

Dan di sinilah kisah kami dimulai, bukan lagi tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana cara bertahan di antara dua dunia yang mulai beda tapi sama-sama menuntut perhatian.


메타데이터
post_id
af85547737e9
slug
frame-of-reference-af85547737e9
url
https://medium.com/@sshaz/frame-of-reference-af85547737e9
canonical_url
https://medium.com/@sshaz/frame-of-reference-af85547737e9
author_url
https://medium.com/@sshaz
status
ok
fetched_at
2026-06-24 23:31:39