← Back to list

manusia-manusia yang bercanda di buru

tulisan pendamping saya untuk buku Pak Hersri Setiawan “Humoria Buruhesis” (2026). Fiterbitkan oleh penerbit Balibul Press.

Khoiril M · 2025-12-23 04:05 · 0 claps · 7.5 min read
#hersri-setiawan #pulau-buru #tragedi-1965 #tapol
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval 📰 · Journalism & News 😂 · Humor & Satire

manusia-manusia yang bercanda di buru

tulisan pendamping saya untuk buku Pak Hersri Setiawan “Humoria Buruhesis” (2026). Fiterbitkan oleh penerbit Balibul Press.

Sampul Buku Humoria Buruensis oleh Hersri Setiawan. Diolah dari Instagram.

Sampul Buku Humoria Buruensis oleh Hersri Setiawan. Diolah dari Instagram.

Ingatan seorang tapol memang lebih keras kepala daripada rezim mana pun. Bagaimana tidak, mengingat butuh keberanian dan ketekunan, belum lagi menuliskannya sampai detail-detail terkecil. Buku-buku Pak Hersri sebelumnya yang berisi kumpulan surat, esai, dan catatan-catatan adalah bukti kegigihan ini. Saya setuju dengan Mbak Nuning, penulis pengantar di buku terbaru beliau, Dari Dunia Dikepung Jangan dan Harus, bahwa Pak Hersri adalah buku catatan berjalan dan sudah mengubah dirinya sendiri sebagai mesin waktu. Kita bisa memilih di menit mana kita mau membaca atau mengingat ulang.

Jika beberapa kumpulan tulisan sebelumnya bernuansa serius, kumpulan catatan dalam buku ini lebih ringan dan ringkas. Isinya berupa potongan-potongan momen lucu nan getir saat di barak, saat apel, saat bekerja di areal, dan komentar akan segala situasi yang layak ditertawakan di tengah rutinitas keseharian para tapol di Pulau Buru. Rutinitas yang berjalan antara kerja paksa, humor pahit, tawa, gerutuan, adegan apes, dan situasi tragedi yang sering berubah jadi semacam komedi karena absurditas komandan unit dan aparat di bawahnya yang sok kuasa. Selain sifatnya pendek dan ringkas, penulisannya juga tidak runut waktu linear, jadi kita bisa mulai membaca dari bagian manapun.

Selain itu, catatan humor ini membawa detail-detail kecil yang ajaib dari seorang pengingat sejarah dengan pengamatan tajamnya. Mulai kebiasaan para tapol memberi nama dan istilah nyeleneh dan vernakular, gambaran visual lokasi dan ruang, frasa maupun kata kecil yang selalu diulang atau dijabarkan jika tampak tidak umum, daftar nama-nama rekan, asosiasi nama pewayangan, atau cara para tapol menjawab pertanyaan komandan sambil sedikit menyindir. Humor sering menangkap kejanggalan kecil yang bertebaran dalam keseharian di Buru — gestur canggung, pilihan kata yang tak disadari, terlanjur salah tapi malu, yang wibawa ketemu yang remeh — dan dari sanalah ia berkesempatan membongkar kekakuan tata kelola tempat pengasingan.

Sebagai Ruang Batin

Membaca catatan sebagai teks sketsa pendek yang serba tragik-komik ini, pertama-tama membawa saya pada cuplikan momen ritual kebencian atau Two Minutes Hate dalam 1984 karya Orwell. Sebuah ritual harian ketika warga dikumpulkan di depan layar raksasa; wajah musuh Partai ditampilkan dengan suara tajam dan visual mengusik. Perlahan emosi mereka yang menatap layar itu meledak serempak. Kemarahan menular, tubuh bereaksi sebelum pikiran sempat bekerja. Tepat di puncak riuh amarah, Big Brother muncul sebagai figur tenang yang memberi rasa lega. Di dunia tersebut, warga dijejali propaganda yang sama berulang-ulang, bukan untuk diyakinkan, tetapi untuk dikuras, didorong ke titik jenuh hingga kelelahan mental membuat mereka patuh otomatis.

Rekayasa emosi setiap hari mengikis kepercayaan pada persepsi atas kedaulatan diri sendiri, termasuk ingatan, opini, bahkan nilai baik dan buruk. Pada tahap itu, rezim tak lagi perlu memaksa. Ketidakpastian dan gejolak internal sudah cukup menjadi borgol. Kontrol paling efektif memang jarang tampak dramatis. Ia hadir sebagai rutinitas, repetisi, ritme harian yang menyentuh wilayah paling personal. Lalu apa yang tersisa jika semuanya direnggut? Ketika kekuasaan terlalu besar untuk dilawan secara terbuka (karena selalu berbuah hukuman layaknya jatah harian), yang tersisa adalah ruang batin yang tidak mudah disentuh. Winston, sang tokoh utama kita, dalam senyap menulis buku harian untuk menuangkan isi pikiran yang rahasia, ingatan-ingatan, dan pemberontakannya pada partai. Tindakan mencatat menegaskan bahwa pikirannya belum sepenuhnya direbut. Kumpulan catatan ini adalah ruang batin yang serupa.

Bedanya, semangat para tapol tidak sehancur Winston dan semenyerah kisahnya. Meski segala gerak dicurigai melawan perintah, tetapi selalu ada “sikap pasrah bukan sikap menyerah,” tulis Pak Hersri. Ada momen-momen yang membuat mereka bisa bersenda gurau dalam penindasan. Sikap keteguhan yang berubah menjadi daya tahan moral — kepercayaan bahwa pengalaman pahit memberi kekuatan untuk menghadapi tekanan politik tanpa tergelincir pada keputusasaan. “Senyum, bersenyumlah! Selagi matahari belum padam.” Bahkan, fakta bahwa adanya catatan tentang momen humor di Buru, merupakan bukti semangat baja itu.

Tawa di antara para tapol bukan hanya ledakan naluri, melainkan upaya menemukan resonansi antar sesama nasib di tengah pengasingan. Jika bahasa kelas berkuasa memaksakan makna tunggal, hanya jangan dan harus, maka humor membuka retakan di mana makna lain bisa hidup. Di sinilah humor juga beroperasi sebagai dissensus communis. Ia tidak hanya menolak, tetapi, meminjam istilah Critchley (2002, On Humour), menunjukkan “how things could be otherwise” (bagaimana jika realitas dilihat dengan cara berbeda). Ketika tapol atau sesama tahanan melempar komentar jenaka yang mengempiskan wibawa kekuasaan, mereka sedang membalik permainan bahasa kuasa. Tawa kecil yang muncul, bahkan dalam situasi paling gelap, adalah tanda bahwa sensus baru sedang terbentuk. Kesepakatan rasa yang tidak tunduk pada logika rezim.

Salah satu ilustrasi di dalam buku. Diambil dari Instagram Balibul Press

Salah satu ilustrasi di dalam buku. Diambil dari Instagram Balibul Press

Sketsa Tragik-Komik

Selanjutnya, ketika membuka salah satu bagiannya, narasi catatan ini bergerak seperti sketsa. Tidak ada alur besar yang mengikat secara ketat, cerita terbentuk dari fragmen kehidupan tapol. Beberapa segmen punya tema, ritme, dan punchline sendiri, seperti potongan komedi observasional tentang segala kesialan yang terpaksa harus diterima tapol. Setiap halaman tampak seperti sepotong gambar berdiri sendiri: satu ruang, satu waktu, satu peristiwa kecil dalam segala keterbatasan barak. Di sana mereka berjibaku dalam jatah makanan pokok yang serba mepet, menjahit-menambal baju seadanya dengan ureatex /plastiktex, menelan olok-olok kasar komandan dan para penjaga pada situasi tak diundang. Tidak ada pengantar atau penutup, langsung menempatkan saya di tengah adegan. Seakan saya baru saja berdiri di samping mereka ketika mereka melancarkan gerundelan sembari menerima hukuman konyol.

Ada lompatan waktu yang mendadak. Ada humor pahit yang menyelinap di antara kerja paksa. Ada tragedi kecil yang meletus begitu saja, lalu lenyap secepat tawa tipis yang menyusulnya. Semua itu membuat catatan ini layaknya montase. Potongan-potongan yang tidak menjelaskan runut, tetapi justru saling menguatkan gambaran luas dan intim kehidupan tapol di Pulau Buru. Hari mereka bergerak seperti serpihan: bangun apel terlalu pagi, kerja berat di bawah matahari terik, lembur sampai malam, kelakar kecil untuk menertawakan nasib, dan gerutuan yang tak punya tempat berlabuh.

Kadang-kadang, tragedi berubah menjadi komedi hanya karena tingkah aparat yang begitu percaya pada kewenangannya sehingga setiap perintah terdengar seperti parodi kedunguan dirinya sendiri. Seorang penjaga yang ingin terlihat menakutkan justru mengundang senyum tertahan. Di tengah tekanan, para tapol menemukan humor karena keadaan memang lucu dan karena hidup memaksa mereka mencari celah napas. Membaca sampai halaman akhir, kita akan melihat bahwa pengalaman para tapol memang tidak mungkin dijelaskan dengan satu alur yang konsisten. Keseharian tapol tersusun dari fragmen yang tak logis — bisa apes atau kadang apes sekali — tetapi itu semua menggemakan kenyataan bahwa mereka tetap mencoba mempertahankan martabatnya, bahkan ketika hari-hari terasa seperti mendorong batu ke puncak gunung.

Setelah membaca beberapa bagian, sketsa-sketsa ini menarik saya untuk membayangkannya dalam bentuk visual. Misalnya, sebagai film Studio Ghibli dengan format My Neighbors the Yamadas. Sebuah kumpulan berbagai vignette atau adegan kecil yang utuh tetapi tidak selalu terikat pada plot besar. Ia lebih seperti cuplikan suasana atau momen karakter yang tidak mengikuti satu alur cerita panjang. Sebaliknya, ia tersusun dari sketsa-sketsa pendek bersifat episodik yang diadaptasi dari manga yonkoma karya Hisaichi Ishii. Setiap potongan menggambarkan kehidupan sehari-hari dan berbagai kesialan keluarga Yamada dengan cara yang ringan dan jenaka.

Bentuk yang tampak “tanpa struktur” tersebut menghadirkan potret yang lebih utuh dan impresif tentang kehidupan sebuah keluarga. Demikian pula, visualisasi cerita Humoria Buruensis yang menangkap denyut hidup sehari-hari di barak. Setiap potongan seperti berdiri sendiri, sampai seiring waktu menampilkan impresi utuh akan kehidupan eksil dimana tragedi dan komedi sulit dipisahkan. Keduanya muncul bergantian dalam fragmen-fragmen cepat yang bergerak antara absurditas perintah dan ketegangan yang terus mengintai. Hasilnya adalah gambar kegigihan para tapol bertahan dalam kondisi yang memutus bentuk kehidupan itu sendiri.

Gambar Umbul Koleksi Mas Benu.

Gambar Umbul Koleksi Mas Benu.

Catatan Tapi Strip

Teks catatan berupa sketsa pendek dan episodik Pak Hersri, seperti komik strip yang hidup. Setidaknya ada adegan dalam panel-panel imajiner yang tidak tampak, tetapi struktur panel tetap terasa — pergeseran dari satu momen ke momen berikutnya layaknya strip humor di koran Minggu. Termasuk dari segi penyajian maupun kemunculan tokoh-tokoh di dalamnya. Bedanya, jika biasanya komik strip koran Minggu punya satu tokoh utama, sketsa ini lebih pada cerita ansambel (ensemble story) atau bisa kita sebut juga multi-protagonis, setiap karakter punya porsi yang setara dan protagonis bisa muncul bergantian. Mereka melawan antagonis para majikan atau komandan unit.

Seorang tapol bernama “Lompongkeli” — nama pinjaman dari tokoh wayang raksasa yang bodoh dan bermulut besar — ditugasi membacakan Pancasila. Ia melapor dengan gaya prajurit teladan, tetapi menambahkan statusnya sebagai “tahanan G30S/PKI” secara lantang. Barisan hampir meledak tertawa. Komandan marah tidak suka dengan penegasan status tahanan yang tidak perlu itu lalu memerintahkannya “tidak usah bilang apa-apa”. Lompongkeli menerima sambil tetap menyimpan kelakar. Begitu jauh dari pos, ia membanggakan diri karena berhasil memancing keabsenan pikiran sang komandan.

Dua hal penting mengikat sketsa ini. Pertama, pewayangan dipakai bukan hanya sebagai cerita, tetapi sebagai kosakata sosial: nama tokoh, cara bercanda, dan cara para tapol menginterpretasi situasi. Kedua, gaya sketsanya menampilkan kekonyolan karakter badut wayang yang berpindah ke dunia nyata para tapol. Pada awal tahun 1970-an tokoh-tokoh wayang bermunculan dalam kartun strip. Tokoh wayang badut atau punakawan memiliki pengaruh kuat pada seni Jawa modem, termasuk komik. Badut-badut wayang, bernama Semar dan Togog, pada mulanya adalah dewa-dewa tetapi karena perilaku buruk mereka dibuang dari surga untuk hidup di antara manusia di bumi. Semar dan putra-putranya, Petruk, Gareng, dan Bagong, memiliki peran dalam kisah-kisah ini sebagai pelayan saudara-saudara Pandawa. Selama berabad-abad badut dari kisah-kisah ini adalah suara yang sangat dicintai rakyat. Karena badut dapat berbicara dengan hati dan pikiran mereka di hadapan tuannya.

Seperti yang ditunjukkan Anderson dalam Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia (1990), salah satu penjelmaan pertama dari punakawan ini muncul dalam tokoh kartun Djon Domino, seorang pahlawan berhidung panjang, dalam komik strip bikinan Johnny Hidayat. Satu-satunya yang bisa kita kenali dari Djon ialah penampilan dan kesamaannya dengan Petruk. Orang mungkin merasa dekat dengan karakter ini karena lakon Petruk dadi Ratu. Suatu lakon dimana Petruk menopengi dirinya sebagai seorang raja, memegang kekuasaan sementara, menyebabkan ketidakteraturan. Lakon itu menjadi suatu ungkapan umum untuk menggambarkan kekacauan sosial dan politik, korupsi, dan lawakan yang menyedihkan.

Baik strip-strip Hidayat maupun catatan Pak Hersri menjadi dekat dengan variasi lakon tersebut tetapi dengan versi terbalik, Ratu dadi Petruk. Status moral jadi kabur, setiap orang adalah pelawak, bawahan dan tuan tidak dalam hubungan saling melengkapi sebagaimana imajinasi para badut di lakon Jawa, melainkan dalam antagonisme. Bukan petruk yang dibuka kedoknya, melainkan sang ratu. Masih banyak cerita sketsa humor dengan konteks historis dan komentarnya pada kondisi sosial politik yang tak bisa disebutkan satu-satu di sini. Seperti peristiwa kekerasan Orde Baru, korupsi, dan peristiwa lain yang juga penting dalam sejarah Indonesia, akan tetapi berusaha dibelokkan.

Terakhir, kekuatan catatan sejarah yang sekaligus sketsa humor ini berada dalam jenis komunikasi sosial dan politik dengan perspektif informal, bersifat umum, namun intim. Bahkan, ia sampai ke taraf bisa kita nikmati. Jika misalnya karya ini masuk dalam kategori karya sastra, gaya penulisan yang apa adanya, jujur, semenjana, dan wagu (cringe) bisa menjadi ciri khas estetika tersendiri. Estetika yang terbuka pada keragaman ukuran dan kepekaan keindahan. Keindahan tidak hanya milik narasi yang sempurna, tetapi juga milik jiwa-jiwa yang mampu merawat kewarasan di sela-sela luka sejarah yang paling kelam.


메타데이터
post_id
af8aec40dbf0
slug
manusia-manusia-yang-bercanda-di-buru-af8aec40dbf0
url
https://medium.com/@khoirilm/manusia-manusia-yang-bercanda-di-buru-af8aec40dbf0
canonical_url
https://medium.com/@khoirilm/manusia-manusia-yang-bercanda-di-buru-af8aec40dbf0
author_url
https://medium.com/@khoirilm
status
ok
fetched_at
2026-07-14 00:19:11