← Back to list

Rupanya, Aku Tak Sekuat Itu

Aku sudah tak sekuat itu — bahkan mungkin tak pernah menjadi orang yang kuat

Han Abadie in Ruang Kontemplasi · 2026-06-21 23:54 · 131 claps · 5.4 min read paywalled
#dengue-fever #organizational-culture #ruang-kontemplasi #kesehatan #renungan
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media

Rupanya, Aku Tak Sekuat Itu

Photo by Olga Kononenko on Unsplash

Photo by Olga Kononenko on Unsplash

Tak kusangka jika daya tahan tubuhku selemah ini. Yah, sebelumnya aku cukup jemawa karena sangat jarang sakit. Sekali sakit, paling lama aku cuma butuh 2–3 hari untuk beristirahat dan aku akan sehat seperti sedia kala. Seperti pada Iduladha tiga tahun lalu, misalnya. Cukup beristirahat setelah mengurusi hewan kurban — dan makan — besoknya aku sudah sehat bugar.

Berkat sakit kepala ini juga, aku bahkan baru bisa membedakan gejala pusing dan sakit kepala. Kata dokter, pusing berarti kepala terasa seperti berputar-putar, sedangkan sakit kepala hanya cenut-cenut atau cekot-cekot. Lihatlah, selain tak seberapa kuat fisik, aku juga tak seberapa pintar. Pengetahuan sesepele ini saja aku baru mengerti sepekan lalu.

Walaupun, sifat pongah itu memang terbangun secara kumulatif. Dulu, saat di pesantren, aku suka sabung. Ya, sabung. Jika di benak kalian sabung berarti sabung ayam, itu benar, hanya ayamnya saja yang diganti jadi manusia: sabung manusia. Skemanya sederhana. Setiap santri akan diminta untuk duduk melingkar dan menyisakan ruang kosong di tengah-tengah untuk menjadi gelanggang pertarungan.

Aturan mainnya bebas. Boleh satu lawan satu, dua lawan satu, bahkan ramai-ramai juga boleh. Dulu, karena aku sering dihukum roll depan keliling lapangan akibat acap melanggar peraturan, aku merasa daya tahan tubuhku di atas rata-rata. Bagaikan samsak, menjadi objek bogem mentah hingga disepak dengan tumit sudah menjadi konsumsi tubuhku sehari-hari. Bahkan, ada kalanya aku benar-benar nyaman dengan itu (baca: masokisme).

Itu tidak berlebihan. Di tahun-tahun itu, penghuni pesantren alias para santri bahkan begitu bangga dengan langgengnya kultur somplak tersebut. Perundungan seolah menjadi tradisi yang mesti diturunkan. Adakah baiknya?

Terus terang, ada. Fisikku menjadi lebih kuat karenanya. Hanya, ketahanan tubuh itu tak seberapa ajeg. Di penghujung niha’i (istilah untuk tahun terakhir di pesantren), fisikku kian melemah. Aku makin jarang berolahraga, sering jajan-jajanan tak sehat, tak pernah puasa Senin-Kamis pula, dan tak pernah berlatih.

Masalahnya, asumsi jika fisikku kuat masih melekat di kepalaku. Aku masih merasa kebal dari pukulan dan kebal dari penyakit. Stres memang. Namanya juga anak kecil. Hingga pada hari ini, sepertinya asumsi itu telah menguap sepenuhnya.

Sebelum diserang demam berdarah, aku sudah merasakan pertanda betapa ringkihnya tubuhku. Misalnya, saat berangkat ke tempat magangku di Jogja dengan mengendarai sepeda motor. Astaga, pantatku sakit sekali ketika harus duduk di atas jok motor 2–3 jam, pulang-pergi. Puncaknya, aku kapok mengendarai motor ke Jogja. Kini, lebih baik aku menggunakan komuter saja setiap pergi ke sana.

Singkat cerita, sekitar dua pekan lalu, aku menginap di rumah temanku — lebih tepatnya rumah neneknya. Di tengah malam, aku terbangun berkali-kali, bukan karena kandung kemih yang penuh atau mimpi buruk, melainkan aku digigit nyamuk. Walhasil, sekitar pukul dua dini hari, aku menyerah dan bilang kepada temanku jika aku hendak pulang saja. Setibanya di rumah, aku baru bisa tidur nyenyak. Paling tidak, aku tidak dikeroyok nyamuk sampai subuh.

Selang beberapa hari kemudian, aku menginap di kantor temanku di dekat kampus. Rencananya, aku hendak merampungkan maraton drama Korea. Syukurlah, aku bisa mengelarkannya sampai pukul sepuluh malam — walaupun saat itu kondisiku sudah menggigil. Kupegang leherku. Panas. Aku bergegas merebahkan badan dan memasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaket. Aku demam.

Paginya, karena di kantor temanku itu akan diadakan tausiyah Senin pagi, aku segera cabut ke rumah. Beruntung aku libur di hari Senin dan Selasa. Saatnya bedgasm, pikirku. Bapakku berkomentar bahwa kemungkinan aku hanya masuk angin. Setelah baikan, biasanya akan mencret dan itu pertanda jika aku sudah sembuh.

Sehari, dua hari berlalu, aku masih terbaring lemah. Segar dalam ingatan, pagi itu 10 Juni, harga Pertamax naik. Oh, astaga, “Bajingan betul pemerintah ini!” teriakku dalam hati. Aku tak punya tenaga untuk sekadar marah. Tubuhku masih lunglai, aku tergeletak kembali.

Sorenya, dengan penuh kasih sayang, ibuku membelikanku obat. Sehari setelahnya, aku masih belum pulih. Kenapa sakit ini lama sekali?

Saat kutanya, rupanya kemarin ia mengira aku hanya sakit batuk karena hanya mendengarku batuk sedikit. Pantas saja tak ada efek apa-apa. Padahal, sakit kepalaku jauh lebih membuat frustrasi. Tapi tak masalah. Ibuku tidak salah. Aku yang salah karena tak beri penjelasan utuh.

Besoknya, Ibu membawaku periksa. Aku dan ibuku terkejut dengan hasil tensiku. “150? Memang biasa tinggi begini, ya, Mas?” Aku menggeleng. Saat dicek kembali, tensiku 147. Sama saja. Mulanya, ibuku berpikir jika aku hanya kebanyakan makan daging Iduladha sehingga tensiku melonjak drastis. Rupanya bukan begitu. Usai diperiksa, dokter menganjurkanku banyak-banyak minum air putih dan mengurangi makanan asin-asin.

Kamis paginya, aku masih terbaring lemah. Kepalaku tak bisa diangkat. Hajatku dalam empat hari terakhir hanya ke kamar mandi-kasur. Bubur selalu disediakan, yang itu pun selalu kunegosiasikan agar dikurangi jadi seperempat porsi. Tapi entahlah, nafsu makanku hilang saat itu.

“Opname,” kata ibuku, “diantar bapak. Siap-siap.”

Eh? Opname? Selemah itukah aku?

Tak seperti biasanya. Aku tak selemah itu. Cita-citaku opname sekali seumur hidup telah kandas karena ternyata sebelum hari itu, kata ibuku, aku sudah pernah opname dua kali saat masih kecil. Pertama karena kuning — kurang cairan, kedua karena tifus. Ah sudahlah. Memang aku tak sekuat itu. Opname beberapa kali seumur hidup pun tak apa.

Jadilah aku berjalan sempoyongan turun dari mobil, dituntun dan dibaringkan di ruang tunggu, dipasangi infus, lalu disuntik-suntik. Setiap harinya, suster mengambil sampel darahku untuk dicek. Benar saja. Kadar trombositku tak sampai 70. Normalnya 150–450.

Malamnya aku berkeringat hebat. Kasur yang kutempati basah kuyup. Aku sampai dua kali mengganti kausku — dan tetap basah paginya.

Besoknya, badanku jauh lebih enakan. Mungkin karena seabrek injeksi obat lewat infus dan suntik. Hari kedua, trombositku masih turun, mencapai 47. Padahal tubuhku terasa jauh membaik. Ini gila. Kata dokter, aku sedang melewati fase kritis demam berdarah. Aku meminta temanku menjagaku. Tanpanya, aku tak tahu siapa pula yang bisa membantuku kencing di pispot.

Aku memang sudah cukup bugar. Beberapa saudara dan teman sepengajian ibuku turut menjengukku, membawakan ayam goreng. Perlahan, nafsu makanku berangsur pulih. Sabtu pagi, setelah pengambilan sampel darah dan sarapan, suster bilang kalau aku sudah diperbolehkan pulang. Trombositku sudah naik. “75. Sudah boleh pulang, ya,” katanya.

Sepulang dari rumah sakit, aku merasa masih perlu bedrest. Persetan dengan organisasi. Aku lelah fisik, pikiran, dan mental mengurusi itu. Jangankan memikirkan, mendengar tentangnya saja aku ogah. Karena muak, aku masih izin untuk beberapa kegiatan. Aku mengaku hendak beristirahat, padahal aku pergi ke mana-mana, termasuk Jogja, tempatku magang. Di sana, aku menginap semalam, berpikir, merenung jika aku begitu payah menjadi pemimpin.

Ya. Aku krisis identitas. Gara-gara organisasi tengik itu, aku jadi jarang menulis. Satu buku yang kubaca pun jadi tak kelar-kelar karenanya. Mungkin aku hanya banyak alasan, lalu mencoba mengkambinghitamkan organisasi. Sejenak aku teringat saat aku masih menjadi bawahan yang kerap mengkritik atasanku yang payah. Saat di posisi itu, segalanya menjadi jelas. Semua persoalan yang dihadapi sama sekali tak sederhana. Masalah A memengaruhi masalah B, yang memengaruhi kepribadian C, sehingga untuk membereskannya perlu solusi D tetapi tak bisa dilakukan karena bisa berdampak buruk bagi E. Bangsat!

Jumat kemarin, aku baru kembali hadir dalam sebuah kegiatan. Sungguh aku adalah laki-laki payah. Tak becus berorganisasi, ringkih, tidak pintar pula. Alangkah lemahnya aku. Bagaimana bisa aku berpikir aku masih sekuat itu?

Hanya segelintir orang yang mengerti kondisiku secara riil.

Sebentar, mengerti? Sejak kapan aku butuh dimengerti?

Aku butuh dibantu. Kakak tingkatku itu membantu mencoba menguraikan masalah dan memetakannya. Sedangkan kakak tingkat satunya, ia kerap mengajakku makan dan mentraktir agar aku tidak stres. Beberapa kali, ia juga melebihkan jumlah utangku. Ia memberi 200 ribu padahal aku hanya meminjam 100 ribu. Pernah suatu ketika, saat aku sedang stres, ia bilang kalau ujungnya, kita tidak bisa memaksa.

Kini aku paham maksudnya. Dulu aku sangat ambisius, seolah memiliki banyak solusi atas segala masalah di organisasi dan bisa membereskannya. Tapi aku keliru. Masalah tahun lalu berbeda dengan masalah di masaku menjabat. Kakak tingkatku yang satunya bahkan bilang kalau organisasi kampus saat ini tak ubahnya penitipan balita.

Baca ini:

[embed]Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Penitipan Balita Organisasi mahasiswa sekarang tak lebih dari tempat penitipan balita. Bedanya, balita-balita yang ini badannya sudah…mojok.co

Sudah lama aku tak memikirkan diriku sendiri. Jika di redaksi aku ditempa menjadi profesional dalam dunia kerja, di posisi saat ini aku belajar agar lebih melunak dan bersabar, juga yang tak kalah penting: berintrospeksi atas kemampuan diri. Bahwa, sekarang, aku sudah tak sekuat itu — bahkan mungkin tak pernah menjadi orang yang kuat.


메타데이터
post_id
af95407f5392
slug
rupanya-aku-tak-sekuat-itu-af95407f5392
url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/rupanya-aku-tak-sekuat-itu-af95407f5392
canonical_url
https://medium.com/ruang-kontemplasi/rupanya-aku-tak-sekuat-itu-af95407f5392
author_url
https://medium.com/@hanabadie
status
ok
fetched_at
2026-06-23 21:39:52