hidup berdampingan dengan luka.
katanya, waktu akan menyembuhkan segala luka.
hidup berdampingan dengan luka.
katanya, waktu akan menyembuhkan segala luka.
Photo by Satria on Unsplash
semakin jauh kaki ini melangkah, semakin aku menyadari satu hal yang selalu ingin aku bantah. waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka. malah, ia hanya mengajarkanku bagaimana cara hidup berdampingan dengan luka yang sama, tanpa lagi menjadikannya pusat dari seluruh kehidupan.
ternyata luka itu tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya berpindah tempat.
dulu ia hidup di tangis yang pecah setiap malam. kini, ia tinggal di isak yang kutelan diam-diam ketika tidak ada siapa pun yang melihat. dulu ia memenuhi dadaku hingga setiap tarikan napas terasa menyakitkan. sekarang ia bersembunyi di balik senyum yang sudah cukup pandai meyakinkan semua orang bahwa aku baik-baik saja.
mungkin, begitulah caraku untuk bertahan. aku tidak pernah benar-benar melupakannya, aku hanya menjadi semakin mahir menyembunyikan bagian-bagian diri yang pernah hancur. aku belajar menata kembali kepingan-kepingan yang berserakan tanpa berharap semuanya akan utuh seperti dulu.
ada hari dimana aku dapat menyebut namamu tanpa suara yang bergetar. ada hari ketika diriku mampu melewati tempat-tempat yang pernah kita datangi tanpa harus mengalihkan pandangan hanya agar air mata tidak jatuh, atau sekadar mengingat kembali kenangan itu. juga ada hari ketika aku benar-benar percaya bahwa aku telah sembuh sepenuhnya.
aku sempat berpikir akhirnya aku berhasil.
semua ini sudah selesai.
lalu, tanpa aba-aba, semesta mempertemukanku dengan aroma yang pernah begitu lekat denganmu. sebuah lagu diputar entah dari mana, lagu yang dulu kita dengarkan tanpa pernah membayangkan suatu hari nanti ia hanya akan menjadi pengingat tentang seseorang yang sudah tidak lagi berjalan di sisiku. atau langit senja yang warnanya begitu mirip dengan sore ketika tanganmu menggenggam tanganku untuk terakhir kalinya.
dan dalam hitungan detik, semuanya kembali. bukan kenangannya, tetapi rasa yang kupikir sudah lama tertinggal. saat itu aku sadar, luka memang bisa tertidur sangat lama. namun ia tidak pernah benar-benar mati. hanya membuka matanya lagi ketika menemukan sesuatu yang terasa begitu akrab.
anehnya, kali ini ia tidak datang untuk menghancurkanku. seperti mengetuk pelan, seolah berkata,
“aku masih ada.”
sedihnya, beberapa kehilangan memang tidak diciptakan untuk dilupakan. hanya berubah wujud dari rasa sakit yang mengoyak menjadi kerinduan yang lebih tenang. dari luka yang terus berdarah menjadi bekas yang sesekali terasa ngilu ketika cuaca kenangan sedang tidak bersahabat.
tentu saja aku pernah membenci luka ini lebih sering daripada yang bisa kuhitung.
aku terlalu menganggapnya sebagai musuh yang mencuri begitu banyak bahagiaku. aku pernah berharap suatu pagi aku bangun dan mendapati seluruh ingatanku tentangmu lenyap begitu saja. aku selalu berharap ada hari ketika namamu terdengar seperti nama orang asing yang sama sekali tidak pernah singgah dalam hidupku.
namun harapan itu tidak pernah menjadi nyata.
dan mungkin memang tidak seharusnya.
sebab luka ini adalah bukti bahwa aku pernah mencintai dengan segenap jiwa. bahwa pernah ada seseorang yang kehadirannya mengubah begitu banyak hal di dalam hidupku. seseorang yang membuatku mengerti bagaimana rasanya menemukan rumah pada diri manusia lain. walau pada akhirnya, orang yang sama pula yang mengajariku bahwa rumah pun tidak selamanya tinggal.
kini, aku tidak lagi sibuk mengusirmu dari ingatan.
aku lelah berperang dengan sesuatu yang memang memilih tinggal. jadi aku hanya menyediakan satu ruang kecil di dalam hatiku. tidak besar, tidak pula berada di tengah. hanya sebuah sudut yang cukup untuk menyimpan segala hal tentangmu tanpa membiarkannya mengambil alih seluruh semesta batinku.
jika suatu hari kenangan itu datang, aku tidak lagi panik. aku belajar mengucapkan, “aku tahu kamu masih ada.”
lalu membiarkannya berlalu seperti angin yang membawa aroma musim yang telah lama berganti. barangkali memang begini rupa kedewasaan. bukan ketika luka itu akhirnya hilang. melainkan ketika kita tidak lagi menghabiskan seluruh tenaga untuk mengusirnya. ketika kita mampu duduk berdampingan dengannya tanpa rasa marah, menyeduh secangkir penerimaan, lalu menatap masa lalu dengan hati yang jauh lebih tenang.
dan pada akhirnya, kita bisa berkata,
“terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. terima kasih karena pernah mengajariku bagaimana rasanya mencintai, kehilangan, dan tetap bertahan. kini, mari kita melanjutkan hidup meski tidak lagi dengan cara yang sama.”
메타데이터
- post_id
- af9995502e14
- slug
- hidup-berdampingan-dengan-luka-af9995502e14
- url
- https://medium.com/@ocean_lullaby/hidup-berdampingan-dengan-luka-af9995502e14
- canonical_url
- https://medium.com/@ocean_lullaby/hidup-berdampingan-dengan-luka-af9995502e14
- author_url
- https://medium.com/@ocean_lullaby
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 00:50:33