Aku WNI. Lalu Kenapa? — JournalDay
Akhir-akhir ini timeline sosial mediaku penuh banget sama berita. Salah satunya — tentang seseorang yang dapat beasiswa dari uang pajak…
Aku WNI. Lalu Kenapa? — JournalDay

Akhir-akhir ini timeline sosial mediaku penuh banget sama berita. Salah satunya — tentang seseorang yang dapat beasiswa dari uang pajak. Uang yang aku, dan kita semua, bayarkan setiap hari.
Lalu aku lihat cuplikan video itu.
“Akhirnya anak aku punya passport Inggris. Cukup aku aja yang jadi WNI, anak aku jangan.”
Jujur, aku tahu mungkin dia cuma mau berbagi kebahagiaan. Tapi entah kenapa, rasanya… kosong. Bahkan cenderung nggak punya empati.
Memilih tinggal di luar negeri itu hak semua orang.
Mengejar hidup yang lebih baik — ya siapa sih yang nggak mau?
Tapi ketika kamu bilang “cukup aku aja yang WNI”, sementara pendidikanmu dibiayai dari pajak negara yang kamu rendahkan, itu bukan sekadar pilihan hidup. Itu sikap.
Dan menurutku, itu nggak bijak.
Dia dan suaminya mungkin termasuk orang-orang beruntung yang berhasil memperbaiki hidup di negeri orang.
Tapi tanpa dana dari masyarakat, apakah kesempatan itu tetap ada?
Pendidikan yang dia jalani, nilainya mungkin bisa membiayai 15 sampai 20 anak untuk kuliah layak di negara ini.
Aku marah. Aku muak.
Dengan sistem yang bobrok. Dengan praktik KKN. Dengan kemunafikan yang dipelihara terus-menerus.
Aku tahu negara ini jauh dari sempurna. Penuh cacat. Dan mungkin kalau dibahas satu-satu, nggak akan pernah selesai.
Tapi iya — aku WNI.
Aku mungkin nggak punya passport yang kuat.
Aku mungkin nggak punya ekonomi yang stabil.
Aku mungkin nggak punya akses pendidikan sebaik mereka di luar sana.
Iya. Itu kenyataannya.
Tapi lalu kenapa?
Aku masih punya mimpi. Aku masih ingin pergi ke luar negeri. Melihat dunia. Belajar. Bertumbuh.
Menjadi WNI bukan berarti aku nggak punya harapan.
Bukan berarti aku kehilangan empati. Bukan berarti aku berhenti peduli.
Aku tetap WNI.
Dengan segala kekurangannya. Dengan segala hal yang kadang bikin lelah.
Tapi juga dengan budaya, makanan, dan hal-hal kecil yang diam-diam masih bikin aku bertahan ditengah penuhnya kekacuan dari penguasa negeri ini.
Jadi iya, aku WNI.
Lalu kenapa?
Bukannya aku tetap boleh punya mimpi?
메타데이터
- post_id
- affaeb4594d6
- slug
- aku-wni-lalu-kenapa-journalday-affaeb4594d6
- url
- https://medium.com/@byannakaila/aku-wni-lalu-kenapa-journalday-affaeb4594d6
- canonical_url
- https://medium.com/@byannakaila/aku-wni-lalu-kenapa-journalday-affaeb4594d6
- author_url
- https://medium.com/@byannakaila
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13