Umbra Protocol : Bagian 1
Suatu pagi yang tenang, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahku tanpa aba-aba. Aku yang tengah menyeduh secangkir teh terpaksa…
Umbra Protocol : Bagian 1

Suatu pagi yang tenang, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahku tanpa aba-aba. Aku yang tengah menyeduh secangkir teh terpaksa menghentikan ritual pagiku untuk membukanya. Betapa terkejutnya aku, di depan pintu, berdiri sekelompok prajurit dengan zirah lengkap yang tampak mengintimidasi.
“Ada apa ini?” tanyaku dengan nada berusaha tenang.
“Anda ditangkap atas tuduhan sebagai mata-mata yang sedang mencari informasi mengenai Kerajaan Grinhold. Jika ingin membela diri, sampaikanlah nanti di depan Hakim Agung”.
Tanpa memberi kesempatan bagiku untuk memprotes, mereka segera memborgol pergelangan tanganku dengan kasar. Belum sempat aku bereaksi, mulutku disumpal kain dan mataku ditutup rapat. Tiba-tiba mereka menyeretku paksa meninggalkan rumah.
Dalam kegelapan yang pekat, duniaku seolah menyusut. Napasku tersengal karena kain itu terlalu rapat menyumpal mulutku. Sesak yang kian menghimpit dadaku menyisakan satu firasat dingin: aroma kematian sudah semakin dekat.
Kereta yang membawaku terus berguncang hebat saat roda-rodanya menghantam bebatuan jalan. Di tengah kepanikan yang menyesakkan, pikiranku berkelebat liar ke masa lalu; teringat hari saat misi ini dimulai, kenangan bersama keluarga, hingga pertemuan terakhirku dengan wanita di kedai perbatasan itu. Namun, semua bayangan tersebut hancur berantakan oleh satu pertanyaan yang menyiksa: siapa yang telah membocorkan misi ini?
Mungkinkah itu Elro, rekan sedivisi yang ditugaskan bersamaku? Atau mungkin wanita itu? Setiap wajah kini muncul di benakku, kusidang dan kutuntut untuk kuhakimi.
Kenangan bersama Elro tiba-tiba melintas dengan tajam di kepalaku. Bulan lalu di rumahku, ia bersikeras agar kami memasuki istana melalui jalur perdagangan ramuan herbal. Katanya, jika hanya diam-diam mencari informasi dari luar, misi ini akan memakan waktu terlalu lama. Ia meyakinkanku bahwa dengan kenalan tabib yang ia miliki di istana, itu akan menjadi jalur yang strategis. Saat itu, aku merasa idenya cukup masuk akal.
Kemudian seminggu yang lalu, kami bertemu kembali. Malam itu kami tidak banyak membicarakan misi, melainkan hanya bersantai sambil membicarakan aktifitas kami hari itu.
“aku menemukan sebuah kedai bagus di kota ini, kau harus ke sana. Kopi disana benar-benar enak” Ucap Elro dengan semangat.
“Kau tau sendirikan, aku berhenti minum kopi dari setahun lalu”
“Ah, benar juga,” dia tertawa canggung, matanya gelisah. “Kalau begitu pesanlah teh. Roti selai blueberry-nya juga mirip sekali dengan buatan Bibi Gwen. Kau harus mencobanya!”
Aku tersenyum tipis saat mengingat tawa Elro kala itu. Kesannya selama ini sebagai prajurit yang kaku tiba-tiba terlihat begitu santai dan manusiawi. Namun, jika di ingat kembali, ini terasa janggal.
Elro tidak pernah suka kopi. Dia selalu bilang kopi akan merusak indera seorang prajurit dalam misi, terlebih kopi itu terasa pahit. Terus kenapa malam itu Elro terlihat seperti pecinta kopi dan bersikeras memujinya? dan roti selai blueberry buatan Bibi Gwen? Bukannya dia sejak dulu hanya tertarik dengan selai strawberry. Dan sekarang, kemana Elro?
Dadaku seketika terasa lebih sesak. Aku menyadari sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang, apakah hari itu Elro tidak sedang membicarakan kedai kopi.
Jantungku berhenti berdetak sesaat. Kopi. Teh. Roti selai blueberry.
Setiap kata yang dia ucapkan malam itu, kopi, teh, roti selai, apakah semua itu adalah kode? Ah sial, aku terlambat menyadari, itu adalah sandi operasional yang diajarkan kakek Arash kepada kami sebagai pengingat Keamanan.

“Jika dalam misi nanti, kau mendengar hal mustahil dan janggal dari rekanmu, cepat sadari bahwa itu adalah peringatan bahwa kalian sedang disadap”
Sial. Aku baru saya akan berteriak, namun kereta mendadak berhenti. Pintu dibuka dan Tubuhku di dorong keras keluar dari kereta. Matahari terasa menyilaukan bahkan dari balik penutup mataku. Aku tidak tau mereka akan membawaku ke mana. Semakin berjalan, aroma tempat yang ku masuki semakin pengap. oh tidak, sepertinya aku akan di sekap.
Udara semakin pengap dan ruangan ini begitu senyap. Saking senyapnya, aku bisa mendengar suara jantungku berbunyi mengejar detik jam. Jantung yang sama ketika ia berdetak untuk seorang wanita dari kedai di perbatasan itu.

Suasana Kedai sore itu terasa hangat, sangat kontras dengan udara dingin daerah perbatasan yang menusuk tulang. Aku melangkah masuk dengan membawa informasi dari Elro yang saat itu tidak ku sadari sebagai kode. kopi, teh dan roti selai blueberry. Tanpa sadar, aku memesan menu yang disebutkan Elro, secangkir teh dan roti selai blueberry.
Aku memilih kursi yang menghadap jendela. mejanya menjalar memuhi bagian depan kedai dan kursi yang berjejer disana. Tak lama, seorang wanita duduk di kursi tepat di sampingku. Ia membawa sebuah buku tebal bersampul kulit tua. Sekilas aku melihat, buku itu seperti buku ramuan herbal. Kini fokusnya terbagi antara bacaan itu dan sesekali melirik ke luar jendela. Dia tampak elegan, jauh lebih berkelas daripada orang-orang yang biasanya singgah di kedai perbatasan ini.
Mungkinkah dia seorang tabib? atau ahli ramuan? atau orang yang sedang tertarik mempelajari tentang ramuan herbal? pikirku. Jika memang iya, aku bisa memanfaatkan ini untuk membantuku masuk ke istana seperti rencana misi yang sempat kami bicarakan bersama Elro sebelumnya. Meskipun belum sempat bertemu lagi untuk menyusun ulang rencana, Elro pasti akan senang jika tau tentang apa yang ku temukan hari ini.
Saat ia membalik halaman buku, jemarinya yang lentik terjeda. Ia seolah merasakan tatapanku. Perlahan, wanita itu menoleh. Matanya — sepasang iris yang begitu lembut dan bercahaya menatapku begitu dalam hingga membuat napasku tercekat. Aku seketika membalikkan pandanganku ke arah jendela.
“Kamu bukan berasal dari kota ini ya?” Tanyanya pelan.
“Iya, aku dari kota Durhim.”
Wanita itu tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang tampak tulus namun entah mengapa terasa sedikit meruntuhkan pertahananku. Ia menutup bukunya, buku yang kurasa adalah kunci masukku ke istana. Dia kemudian memutar tubuhnya ke arahku.
“Kota yang indah,” lanjutnya, suaranya kini lebih rendah. “Tapi kurasa, orang-orang dari Durhim tidak datang ke perbatasan yang dingin ini hanya untuk sekadar minum teh dan menatap jendela, bukan?”
Aku tertegun. Ada getaran aneh yang menyisip lembut dalam dadaku.
“Aku hanya pedagang yang sekedar mampir di kota ini untuk menjajakan daganganku,” jawabku berbohong, meski suaraku terdengar payah bahkan di telingaku sendiri.
Wanita itu kembali tertawa padaku. suaranya terdengar pelan namun seperti denting lonceng di telingaku.
“Wah pedagang ya?” ucapnya sambil menatap di arah luar jendela.
“Dagangan apa yang kau bawa, aku tidak melihat barang apapun? sepertinya bukan sesuatu yang berat mengingat kau hanya memesan secangkir teh dan sepotong roti setelah perjalanan panjang. Atau mungkin, kau sedang menjajakan sesuatu yang tidak bisa dilihat mata?”
“oh, tidak-tidak. aku sudah lebih seminggu di kota ini, dan daganganku sudah habis. aku menjual berbagai jenis barang. sekarang aku tengah menikmati waktu luang sebelum kembali ke kotaku. Tapi berbicara tentang sesuatu yang tidak kasat mata, aku jadi tertarik. ”
Aku memaksakan tawa, meski jantungku berdegup kencang karena detak yang ganjil. “Terkadang yang tak terlihat justru memiliki nilai paling tinggi. Seperti ramuan herbal di bukumu itu. Aku dengar, beberapa jenis tanaman dari perbatasan memiliki khasiat luar biasa yang tidak dimiliki tanaman dari selatan. Aku… sangat tertarik mempelajarinya untuk bahan daganganku selanjutnya.”
Wanita itu mengangkat alisnya, terlihat antusias. Ia kembali membuka bukunya dan membiarkanku melihat berbagai sketsa tumbuhan herbal yang rumit, akar-akaran, kelopak bunga kering yang langka dan berbagai jenis daun-daunan yang bisa dijadikan sebagai obat.

“Kau benar, tanaman dari sini sangat berkhasiat dibanding dengan tanaman dari Selatan. Kau tau kenapa bisa seperti itu?”
Aku buru-buru menggeleng, dan langsung dijawab dengan senyuman lembut dari wanita itu,
“Karena tanaman disini hidup dengan cara yang keras, jadi sarinya lebih pekat. Mereka harus bertahan hidup setiap tahun dalam cuaca ekstrim yang dingin maupun panas, seperti kita”.
Kami mulai larut dalam percakapan yang mengalir seolah-olah kami sudah saling mengenal dalam waktu yang lama. Dia mulai kembali menjelaskan bagaimana setiap warna, noda pada kelopak bunga dapat menggambarkan bagaimana kekuatan bunga itu sendiri. Misalkan jika ada noda kecoklatan pada kelopak bunga, maka bunga itu memiliki khasiat alami sebagai antri nyeri. Dia terlihat begitu antusias membahas detail tanaman herbal dan khasiatnya.
“Manusia pun begitu,” ucapnya, menatapku tajam. “Kita dibesarkan oleh noda-noda masa lalu. Mungkin itulah yang membentuk kita hari ini, bukan? Kita tidak pernah benar-benar ‘sembuh’, kita hanya belajar bergerak membawa noda itu.”
Aku mendengarkan dengan seksama. Wanita ini tampak mempesona, dia mampu menyederhanakan berbagai macam filosofi dan mengaitkannya dengan kegemarannya mempelajari ramuan herbal. Aku bahkan sempat menceritakan sedikit tentang rencanaku untuk masuk ke istana guna menjual herbal langka — sebuah detail misi yang seharusnya sangat rahasia, namun entah mengapa, kata-kata itu meluncur begitu saja karena merasa begitu nyaman dengannya. Untungnya aku tidak sampai membocorkan misi rahasia apa yang akan ku lakukan jika berhasil masuk kedalam istana.
“Sayangnya,” ia menutup buku itu dengan bunyi tak yang pelan, “waktuku habis. Kereta kuda sudah menungguku di luar.”
Ia bangkit dari kursinya. Saat itulah, aku menyadari bahwa aku belum tahu namanya. “Tunggu,” kataku spontan.
Ia menoleh, memberiku senyum paling tulus yang pernah kulihat. “Viena. Namaku Viena. Berhati-hatilah dengan daganganmu, sampai jumpa lagi di lain waktu. Dunia ini tidak seaman kelihatannya.”
Ia lalu pergi, menyisakan hawa dingin ketika pintu kedai kembali tertutup bersama keretanya yang mulai menghilang di telan jalanan kota
Realitas kembali menghantamku dengan kasar setelah suara pintu besi dibuka dengan kasar. Mataku masih tertutup rapat dan tanganku masih di borgol dengan kuat. Hanya menyumpal mulutku yang di lepas.
“Siapa kalian? apa mau kalian denganku?” Teriakku terdengar nyaring memenuhi ruangan pengap itu. Tak ada jawaban selama beberapa detik kemudian mulai terdengar suara tertawa dari orang yang berdiri didepanku.
“Kau terlalu banyak bicara di kedai itu, anak muda,” suara itu datang dari balik kegelapan. Langkah kaki yang menyeret terdengar mendekat. “Kau begitu asyik bercerita tentang rencana masuk ke istana kepada wanita muda itu, sampai-sampai kau lupa siapa yang sedang membersihkan meja di belakangmu.”
Jantungku seakan berhenti berdetak. Apakah si Pelayan tua itu.
“Apa maumu hah? kau tidak bisa seenaknya menangkapku seperti ini.” Teriakku mencoba melawan.
Tawa parau itu memuncak, berubah menjadi batuk kering yang menyakitkan telinga. Langkah kaki yang menyeret itu berhenti tepat di depanku. Aku merasakan aroma tembakau murahan dan keringat dingin yang menusuk hidung.
“Menangkapmu?” suara itu terdengar seperti gesekan amplas di atas besi. “Kami tidak menangkapmu, anak muda. Kami hanya memetik buah yang sudah jatuh ke tanah. Kami berhasil menangkap mata-mata yang mau mencuri informasi politik negeri kami untuk menyelamatkan negerimu yang berada dalam wilayah jajahan kami kan?
“Kau tidak usah mengelak. Nikmatilah waktu terakhirmu di dunia ini. dan Lihat kami dari atas sana mendapatkan bonus yang besar dari raja hahaha” Tertawanya makin nyaring.
“Kau bajingan tua!” teriakku, memberontak sekuat tenaga. Borgol yang mengikat tanganku sama sekali tidak merenggang, jeratannya terlalu kuat. “Lepaskan aku! Kau tidak tahu siapa aku!”
“Aku tahu persis siapa kau,” balasnya dingin.
Bugh!
Satu hantaman keras mendarat tepat di perutku. Napasku tercekat, paru-paruku seakan dipaksa mengempis dalam sekejap. Rasa sakit yang tajam menjalar dari ulu hati, membuatku terbungkuk dalam ikatan. Belum sempat aku mengumpulkan sisa kesadaranku, sebuah pukulan lain menghantam sisi wajahku.
Rasa darah mulai memenuhi rongga mulutku. Kepalaku berdenging hebat, sekarang semuanya tampat berputar tidak stabil.
“Besiaplah, besok kau akan masuk ke ruang introgasi, persiapkan jawaban terbaikmu, karena hanya itulah satu-satunya kesempatanmu untuk bisa bebas”
Setelah menyelesaikan kalimatnya pintu besi kembali di tutup seperti mataku yang tidak di izinkan melihat apapun. Malam itu terasa seperti keabadian yang menyiksa. Setiap detak jantungku di dinding yang dingin seolah menjadi pengingat akan setiap kata bodoh yang kuucapkan di kedai itu. Aku memejamkan mata rapat-rapat, namun bayangan Viena terus menari-nari, seolah mengejek betapa mudahnya aku menelanjangi diri sendiri di depannya.
“Kita tidak pernah benar-benar sembuh, kita hanya belajar bergerak membawa noda itu.”
Kata-katanya terus terngiang, bukan lagi sebagai penjelasan mengenai tanaman herbal yang akan menyembuhkan siapapun, melainkan sebagai vonis mati yang hendak dia tulis untukku. Apakah dia sengaja menjebakku atau semua ini benar-benar nyata sebagai pertemuan dan percakapan tak di sengaja. Jika dia benar-benar menjebakku, apakah dia sadar bahwa dia baru saja membubuhkan noda permanen di sisa hidupku yang hanya tinggal hitungan jam? Atau bagi Viena, aku hanyalah sekadar “bahan herbal” lain yang perlu dia bedah untuk memuaskan rasa ingin tahunya akan pola pikir manusia?
Rasa sakit itu begitu nyata, namun yang lebih menyakitkan adalah ingatan tentang wajah Viena yang tersenyum manis saat aku membocorkan rencanaku. Aku meludah, memuntahkan darah ke lantai ruangan yang lembap itu. Hatiku perih sekali.
Tak terasa sepertinya sudah pagi. Ini firasatkku saja, soalnya dengan mata tertutup di ruangan pengap ini, aku seperti kehilangan sebagian besar indera tubuhku.
Suara dentuman logam di kejauhan memecah kesunyian yang mencekam. Pintu besi itu berderit terbuka, diikuti oleh cahaya lampu minyak yang menyusup masuk, melukai mataku yang sedari tadi terbiasa dengan kegelapan pekat.
“Bangun”. teriak suara lain dengan nada kasar memaksaku untuk kembali sadar.
Tangan-tangan kasar menarikku berdiri. Kakiku yang mati rasa karena ikatan semalaman hampir tak mampu menopang berat tubuhku. Mereka menyeretku keluar, melewati lorong lembap yang berbau air selokan dan karat, menuju sebuah ruangan yang lebih besar.
Saat mereka melepaskan penutup mataku, hal pertama yang kulihat adalah sorot lampu gantung yang telanjang tepat di atas kepalaku. Aku memicing, menyesuaikan penglihatan yang kabur. Di seberang meja kayu kasar yang memisahkan kami, sosok itu duduk dengan tenang.
Itu bukan Viena. Syukurlah, setidaknya dalam kematian ini, bukan cinta pertamaku yang menjadi pelakunya. Aku hanya berharap Viena tidak dalam bahaya. Ya tanpa sadar aku menyukai wanita itu. Jangan menertawaiku. Aku juga tidak mengerti kenapa hatiku bisa luluh dalam pertemuan sesingkat itu.
Tak lama kemudian terdengar teriakkan dari balik pintu di hadapanku. Mataku membelalak. Itu Viena. Viena tidak lagi tampak elegan. Pakaiannya kotor, beberapa bagian sobek, dan ada memar keunguan yang kontras di tulang pipinya. Sumpal kain kasar membungkam mulutnya, membuat suara rintihan tertahan yang keluar dari tenggorokannya terdengar begitu menyayat hati. Tatapannya padaku penuh dengan ketakutan, sebuah penderitaan yang memicu rasa bersalah hebat di dalam dadaku.
“Viena!” teriakku, namun suara serakku hanya terdengar seperti parutan kayu.
“Apa yang kau lakukan padanya?!” aku memberontak sekuat tenaga, hingga borgol besi itu mengiris pergelangan tanganku dan memunculkan aliran darah hangat. “Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini! Dia hanya orang asing yang kebetulan bertemu denganku di kedai!”
Seorang pria masuk ke dalam ruangan menatap tegas kepada setiap petugas di dalam.
Pria itu memadamkan rokoknya didinding ruangan menyisakkan asap kecil yang perlahan menghilang. “Di dunia ini tidak ada kebetulan, anak muda. Hanya ada ketidaksiapan.” ucapnya sambil berjalan menuju ke arahku.
Dia bangkit berdiri, berjalan mendekati Viena. Dengan gerakan kasar, dia mencengkeram dagu Viena, memaksa wanita itu menatapku. Viena menangis tanpa suara, matanya yang dulunya bercahaya lembut kini meredup, menyimpan trauma yang begitu dalam.
“Wanita ini adalah putri dari salah satu tabib yang kami dapatkan dari pengakuan Elro,” ucap pria itu dingin, mematikan harapanku dalam satu kalimat. “Dia tertangkap karena berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah, saat kau dengan naifnya menceritakan rencanamu tentang jalur herbal istana.”
“Elro? dimana dia sekarang? kalian jangan macam-macam ya”
Pria itu tertawa kecil sebuah tawa yang kering, seperti ranting yang patah di musim dingin. Ia berjalan ke arah sebuah pintu baja di pojok ruangan, lalu memberi isyarat kepada dua penjaga di sampingnya.
“Kau menanyakan Elro?” Pria itu menarik tuas pintu baja tersebut.
Kini tampak jasad Elro yang terbujur kaku di seret oleh penjaga itu untuk masuk ke dalam ruangan itu. Aku menahan napas. Sedih dan marah bercampur manjadi satu. Aku tak menyangka sahabat sekaligus teman seperjuanganku dalam misi ini harus pergi duluan. Di lehernya masih terlilit rantai besi yang panjang. Pakaian prajuritnya penuh dengan bekas sabetan, dan darahnya telah mengering. Dia sudah tidak bernapas. Matanya terbuka, menatap kosong ke arah langit-langit, seolah sedang memprotes segala hal yang terjadi.
“Elro adalah pion yang sudah sampai di garis finis,” ucap pria itu sinis. “Dia membocorkan segalanya demi satu janji kosong bahwa keluarganya akan diampuni. Tapi, setelah dia tidak lagi berguna, dia hanyalah sampah yang harus dibuang.”
Viena memekik di balik sumpal kainnya. Dia melihat pemandangan itu, dan matanya kini memancarkan keputusasaan yang melampaui rasa takut.
“Kau lihat?” Pria itu berjalan kembali ke hadapanku, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti. “Elro mati karena rasa takutnya sendiri. Viena mati karena dia mengenalmu. Dan kau… kau mati karena kau terlalu naif untuk memahami bahwa manusia tidak pernah bisa ‘sembuh’ dari takdirnya sendiri.”
Tubuhku gemetar hebat mendengar semua itu. Belum sempat aku menjawab dan mengatakan apapun, pria itu mengeluarkan sebuah belati dari balik jubahnya. tanpa aba-aba darah mengalir deras dari leher Viena. Aku berteriak hebat melihat semua hal mengerikan itu didepan mataku sendiri. Ini tidak adil, mereka merenggut semuanya dariku. kebebasan negaraku, keluargaku, sahabatku, dan kini Viena.
Kini dunia terasa sangat sunyi. Meskipun masih hidup, aku merasa telah mati bersama Viena. Akupun hening setelah berteriak hebat.
“Satu sudah selesai,” pria itu berbisik, menyeka belatinya ke kain seragamku yang kotor. “Sekarang, giliranmu.”
Sekarang aku sama sekali tidak merasa takut, mungkin inilah keputusasaan paling dingin dan kejam. Mungkin inilah yang disebut Viena sebagai Noda di kertas yang tetap membekas meski sudah berusaha di hapus.
Ku tutup mataku pasrah. Aku tidak peduli lagi jika harus mati hari ini. Aku merasakan kehampaan total. Namun kenapa belati itu belum menembus leherku?
Justru yang terdengar adalah suara dentuman yang menggetarkan fondasi bangunan. Dinding besi di sisi ruang interogasi itu meledak ke dalam, serpihan logam beterbangan seperti peluru. Asap tebal memenuhi ruangan dalam sekejap, membuat napas terasa mencekik.
Ditengah kabut asap itu, sebuah bayangan yang ku kenali muncul dengan kecepatan tak wajar.
“Kakek… Arash?” bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.
Bugh!
Sebuah tendangan presisi menghantam pergelangan tangan pria dihadapanku. Sebelum pria itu sempat berbalik, Belati itu jatuh kelantai bersamaan dengan tubuh pria itu.
Kakek Arash tidak menoleh, namun gerakannya sangat tenang, mematikan, dan penuh otoritas. Dalam hitungan detik, penjaga yang tersisa di ruangan itu roboh tanpa sempat mencabut senjata. Kakek Arash bergerak seperti angin; setiap pukulannya adalah pelajaran yang tak sempat kupelajari saat latihan dulu.
“Maaf aku terlambat, Nak,” suaranya parau, namun tetap tegas.
Kakek Arash segera menghampiriku, memutus rantai borgolku dengan alat kecil yang ia keluarkan dari sakunya. Begitu aku terlepas, aku langsung jatuh terduduk. Mataku kembali tertuju pada tubuh Viena yang kaku. Aku merangkak ke arahnya, namun Kakek Arash menahanku.
“Jangan, Nak. Dia sudah tidak bisa lagi kita tolong,” ucap Kakek Arash, suaranya mengandung kesedihan yang dalam. “Kita harus segera pergi sebelum bala bantuan mereka datang.”
“Tapi Viena… Elro…” aku terisak, dadaku terasa seperti dihantam palu besar.
“Elro mati sebagai pion. Viena mati sebagai korban,” Kakek Arash menatapku tajam, matanya yang tua menyimpan rahasia tentang dunia yang selama ini kusalahpahami. “Dan kau? Kau akan hidup untuk menuntaskan noda yang mereka buat di hatimu. Itulah satu-satunya cara agar pengorbanan mereka memiliki arti.”
Kakek Arash menarikku bangkit dan keluar dari gedung itu. Kami melewati lobang yang diledakkan tadi, menuju lorong gelap keluar dari tempat itu. Kami berhasil sampai di tempat persembunyian kakek Arash tanpa ketahuan siapapun. Beberapa waktu kami tidak berkata apapun, hanya terdengar suara deru napas kami yang saling bersahutan kelelahan.
“Mengapa Kakek datang sekarang?” tanyaku di tengah deru napas yang memburu. “Mengapa tidak lebih awal?”, “Harusnya kakek membiarkanku saja mati bersama Elro dan Viena” Tangisku pecah.
Kakek Arash tidak menjawab apapun, hening lebih mencekam saat ini. Aku merasa keheningan ini bukanlah keheningan yang tenang, melainkan keheningan dari seseorang yang sedang menahan badai emosi yang jauh lebih besar dariku.
“Kau ingin mati?” suaranya pecah, hampir seperti geraman tertahan. Ia melangkah mendekat, mencengkeram bahuku, cengkeramannya terasa menyakitkan, namun justru itulah yang menyadarkanku bahwa aku masih bernapas. “Kau pikir kematian adalah tempat peristirahatan? Kau pikir dengan mati di sana, kau bisa menyusul mereka ke tempat yang lebih baik?”
Dia menarikku kencang hingga wajah kami hanya berjarak beberapa inci, ini lebih dekat dari dugaanku. Matanya yang keriput berkaca-kaca, menatapkku penuh amarah dan kesedihan.
“Kau jangan bodoh. Elro mati karena dia tidak tahu siapa dirinya. Viena mati karena dia mencoba mencari jawaban di tempat yang salah. Dan kau…” Kakek Arash menunjuk tepat ke arah jantungku. “Kau masih hidup karena kau adalah satu-satunya ‘kertas’ yang belum selesai ditulis oleh sejarah!”
“Tapi kakek melihatnya sendiri!” teriakku, sambil menghapus air mata dan keringat bercampur di pipiku yang kotor. “Viena… dia mati di depan mataku karena aku! Jika kakek datang satu menit lebih awal, dia mungkin masih bisa hidup! Kakek harusnya membiarkanku mati saja”
“Hentikan omong kosongmu. Mereka adalah api kita, mereka tidak mati, mereka adalah api yang akan menerangi jalan kita. Kau jangan lemah hanya karena kehilangan. Jika berbicara tentang kehilangan, kakek sudah khatam, tak terhitung lagi berapa kehilangan yang telah kakek alami karena kerajaan biadab ini.”
Kakek menarik napasnya yang mulai tersenggal-senggal menahan amarah dan sedih.
“Kakek tidak pernah menyesal. Jika aku datang satu menit lebih awal, kau tidak akan pernah memiliki kebencian yang cukup untuk menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya!” Bentakan Kakek Arash menggelegar. Dia melepaskan cengkeramannya dan membuang muka.
“Dunia ini tidak dibangun di atas keadilan, Nak. Dunia ini dibangun di atas tumpukan pengorbanan,” ucapnya dengan nada yang lebih rendah, penuh beban. “Kekuatan yang kau miliki sekarang bukanlah hadiah. Itu adalah kutukan. Dan jika kau ingin mati, lakukanlah setelah kau memastikan bahwa tidak ada lagi orang yang harus menderita seperti Viena dan Elro karena kebiadaban suatu rezim dan kelalaian seseorang yang merasa dirinya cukup pintar untuk mengatur pola.”
Dia berbalik kembali padaku, kali ini tatapannya dingin, tanpa ampun.
“Sekarang, pilih. Apakah kau akan terus menangisi kertas yang sudah ternoda, atau kau akan menggunakan tinta darah ini untuk menuliskan akhir yang jauh lebih kejam bagi mereka yang telah mengambil segalanya darimu?”
Kata-kata kakek Arash benar. Aku terdiam. Isak tangisku perlahan mereka, tapi jantungku berdetak aneh. bukan detak jantung yang ketakutan atau kesedihan, melainkan detak jantung yang berirama dengan penuh kebencian.
Aku menatap tanganku yang berlumuran darah kering, darah Viena. Aku menggenggamnya erat, merasakan lengketnya noda itu.
Dia benar. Viena tidak akan pernah kembali. Elro tidak akan bangun dari tidurnya.
Aku mengusap wajahku dengan kasar, menghapus sisa air mata. “Apa langkah selanjutnya?” tanyaku, suaraku kini sedingin es yang membeku di perbatasan kota itu.
Kakek Arash menatapku lama, seolah sedang memastikan apakah aku sudah benar-benar “rusak” atau justru baru saja “terbentuk”. Dia mengeluarkan sebuah kunci perak dari sakunya dan menyodorkannya padaku.
“Di bawah kaki gunung Durhim, ada tempat yang disebut Perpustakaan Abu. Di sana, semua sandi yang Elro gunakan dan semua rahasia yang Viena simpan akan terjawab. Tapi ingat satu hal…”
Dia berhenti sejenak, menatapku dengan peringatan tajam.
“Ada seseorang di balik peristiwa ini, seseorang yang bahkan aku pun belum bisa menjangkaunya. Seseorang yang tahu persis setiap langkah yang kita ambil. Jika kau ingin selamat, jangan percaya pada siapa pun. Bahkan padaku.”
Dia berbalik dan berjalan menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan aku berdiri sendirian di depan kereta kuda yang mulai berderit.
Saat aku memegang kunci itu, aku menyadari satu hal yang membuatku merinding: apakah Kakek Arash adalah penolongku, atau apakah dia hanyalah bagian dari skenario besar yang sedang mempermainkan hidupku?
Seseorang tahu setiap langkah kita.
Aku menatap ke arah hutan yang gelap. Mungkinkah di tengah kegelapan itu, mata yang sama yang menatap Viena di kedai, kini sedang mengawasiku?
Bersambung…
메타데이터
- post_id
- affc6a9fd894
- slug
- umbra-protocol-bagian-affc6a9fd894
- url
- https://medium.com/@fadillahnf__/umbra-protocol-bagian-affc6a9fd894
- canonical_url
- https://medium.com/@fadillahnf__/umbra-protocol-bagian-affc6a9fd894
- author_url
- https://medium.com/@fadillahnf__
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 21:48:21