← Back to list

Malu Ketika Terlambat

Sore itu berlalu seperti biasa, melaksanakan kegiatan belajar mengajar untuk menambah ilmu pengetahuan.

Pangestu Wibisono · 2025-02-07 12:49 · 0 claps · 4.7 min read
#terlambat #ngaret #waktu
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Malu Ketika Terlambat

Photo by Christopher Luther on Unsplash

Photo by Christopher Luther on Unsplash

Sore itu berlalu seperti biasa, melaksanakan kegiatan belajar mengajar untuk menambah ilmu pengetahuan.

Bel telah berbunyi dan semua orang bergegas untuk menuju ke Masjid. Ya, keperluan tiap orang memang beda-beda ketika akan bersiap salat. Ada yang pergi ke toilet terlebih dahulu, ada yang menunggu antrian wudu, ada juga yang masih mengobrol sambil memantau tempat wudu yang mulai sepi. Ikamah berkumandang dan salat pun dimulai, kemudian diakhiri dengan ucapan salam. Beberapa menit setelah salam, Imam yang memimpin kami salat tadi berdiri dan memberikan beberapa nasihat kepada kami dan dirinya sendiri.

Beliau memberikan nasihat kepada kita semua yang sering menunda-menunda sesuatu yang menjadi kewajiban kita. Baik itu belajar, bekerja apalagi jika urusannya dengan ibadah. Saya yakin, sang imam memberikan nasihat tersebut bukan tanpa sebab. Mungkin saja beliau sudah beberapa kali melihat jemaah yang datang salatnya terlambat. Namun ada kalimat yang saya dengar sangat menarik dan bagus untuk diingat.

“Jika kita datang terlambat, harusnya kita malu. Bukan malah mengganggu.”

Kalimat ini dilanjutkan dengan “jika kita sudah terlambat — yang harusnya malu — dan malah mengganggu, kita bisa menjadi orang yang menzalimi orang lain”. Sangat menohok. Kebanyakan orang sering lupa akan hal ini. Sepertinya kata ‘telat’ dan ‘jam karet’ itu sudah menjadi budaya di sekitar kita. Karena saya berkecimpung di dunia pendidikan, saya masih sering menemukan siswa yang telat itu datang dengan muka tersenyum. Seakan-akan tidak melakukan kesalahan. Atau memang karena ‘telat’ adalah budaya kita, sehingga itu bukan menjadi suatu kesalahan? Jadi seakan-akan kita telah menormalisasi budaya telat tersebut. Dan akhirnya mereka yang disiplin itu terlihat aneh oleh kebanyakan orang. Pertanyaannya adalah bagaimana telat bisa menjadi budaya yang ada di Negara kita?

Budaya telat sudah ada sejak zaman 80-an di Indonesia

Dikutip dari laman *kompas.com, ternyata budaya telat ini sudah berlangsung lebih dari 40-an tahun yang lalu. Dijelaskan bahwa pada tahun 80-an tersebut di Indonesia mulai merasakan macet karena angkutan umum dan jalan yang terbatas. Seiring berjalannya waktu, kemacetan tersebut semakin menggila sehingga menjadi alasan untuk orang-orang yang telat. Selain itu juga memang di Indonesia mempunyai kebiasaan waktu yang sangat longgar. Contohnya, jika kita janjian dengan seseorang, kita bilang “abis isya” atau “abis zuhur”. Konsep waktu janjian seperti ini sangat memungkinkan terjadinya telat antar dua pihak, karena tidak ada kejelasan waktu. Karena “abis isya” bisa saja di jam 8 atau 9 atau 10 malam. Karena hal-hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang biasa, sehingga akhirnya pada zaman-zaman sekarang telat itu sudah menjadi budaya di Indonesia. Dan itu juga yang menyebabkan bahwa telat pada waktu yang telah ditetapkan bukan menjadi sesuatu yang salah, melainkan yang lumrah. Tidak heran apabila ketika kita sudah janjian dengan orang lain, sering terbesit di dalam hati kita pasti ungkapan “Ah, santai aja berangkatnya. Biasanya juga telat”. Atau misalkan sedang bersama teman dan mau pergi ke suatu acara, pasti ada saja yang bilang “Santai, biasanya juga ngaret”, dan sebagainya. Dan juga istilah asing OTW — dibaca on the way* — sering dijadikan lelucon bahwa OTW yang dimaksud adalah sedang di ‘jalan’ menuju kamar mandi, bukan di ‘jalan’ menuju lokasi.

Kembali lagi ke nasihat yang diberikan sang imam, bahwa ketika terlambat harusnya kita itu malu, bukan malah mengganggu. Hilangnya rasa malu karena telat itu adalah hasil dari budaya kita di Indonesia, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Ditambah, sampai mengganggu orang lain. Sungguh itu bukan sesuatu budaya yang baik untuk dipertahankan. Seharusnya telat itu bukanlah menjadi budaya, baik itu untuk sekedar janjian dengan teman, datang kondangan, memulai suatu acara, jam kerja dan apalagi itu kaitannya dengan ibadah. Karena itu sebagai seorang muslim, tepat waktu itu adalah hal yang lebih utama daripada yang telat. Saya ambil contoh, seorang laki-laki yang apabila dia memulai salatnya dengan takbiratul ihram bersama imam dan konsisten selama minimal 40 hari, maka akan mendapatkan ganjaran berupa dijauhkan dari api neraka dan sifat orang munafik. Berarti disini ada keutamaan bagi orang yang tepat waktu daripada yang telat salat — tidak takbiratul ihram bersama imam.

Bagaimana islam memandang telat atau ngaret

Saya teringat tentang hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberitakan tentang 4 hal yang akan ditanya pada hari kiamat. Salah satu perkara yang akan ditanya di akhirat adalah tentang waktu yang digunakan di dunia ini untuk apa, apakah untuk hal yang bermanfaat atau tidak. Dan juga peringatan Allah ‘Azza wa Jalla di surat Al-Ashr ayat 1 sampai dengan 3 yang mengingatkan akan waktu serta kerugian yang diderita jika menyia-nyiakan waktu. Apa kaitannya dengan budaya telat yang ada di Negara kita? Telat merupakan salah satu hasil dari kita sering menyia-nyiakan waktu dan menggunakan waktu tersebut untuk hal yang tidak bermanfaat. Karena budaya yang terjadi di Negara ini biasanya yang sering telat itu adalah orang yang itu-itu saja. Jadi bukan karena dia punya uzur yang jelas, melainkan karena kebiasaan dia yang memang sering telat.

Menurut (Sabrina, 2012) dalam (Parhan, 2022) menjelaskan bahwa ciri dan karakteristik waktu adalah sesuatu yang terus berjalan dan ketika telah berlalu waktu tidak bisa digantikan ataupun kembali. Pada zaman dahulu, para Sahabat jika datang waktu matahari terbenam dan tidak ada peningkatan ibadah, menurut mereka itu adalah dosa besar yang mereka khawatirkan. Mereka takut dihisab di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla sedangkan waktu yang disediakan oleh Allah tidak dipergunakan dengan baik. Bandingkan dengan zaman sekarang, para kaum muslimin sudah mulai lupa akan tanggung jawabnya terhadap waktu yang digunakan. Waktu yang berharga tidak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat sehingga kita akan lalai dalam setiap waktu yang kita miliki.

Telat terjadi karena kita sering menunda-nunda

Sudah sangat jelas, sikap yang suka menunda-nunda ini adalah bagian sikap yang harus segera dibenahi pada diri kita. Karena ketika kita suka menunda-nunda dalam suatu hal, itu akan berdampak pada kegiatan yang lain. Menunda-nunda menyelesaikan pekerjaan akan membuat pekerjaan berikutnya menumpuk, menunda-nunda belajar akan membuat kita semakin tertinggal dan malah membuat kita malas belajar, dan yang paling parah adalah menunda-nunda waktu salat. Semua itu akan menyebabkan kita menjadi telat dalam hal apapun. Hasan Al Basri menyampaikan nasihat bahwa kita harus hati-hati dengan sikap menunda-nunda. Dari sini beliau mengingatkan bahwa kita berada di hari ini bukan di hari esok, jika kita menunda-nunda pekerjaan hari ini, sampai datangnya hari esok maka kita posisi kita sebenarnya masih ada di hari ini. Tidak ada pekerjaan yang kita selesaikan di hari tersebut akan membuat hari esok kita akan sama dengan hari kemarin.

Dalam syair Arab “Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga esok. Seandainya esok itu tiba, mungkin engkau akan kehilangan.

Datang telat ketika bekerja, masuk sekolah atau dalam kegiatan-kegiatan lainnya sebenarnya tidak mengapa, yang jadi masalah adalah ketika selalu telat dan dengan alasan yang sama. Atau sudah tahu bahwa datang telat, tapi tidak merasa bersalah dan malah mengganggu orang yang tidak telat. Kita harus terbiasa untuk mengatur waktu kita dengan baik, agar sebisa mungkin tidak telat. Jika kita tahu bahwa hari Senin itu selalu macet, berarti di hari Senin kita harus bisa berangkat lebih pagi. Jika kita tahu pada 5 menit sebelum ikamah dikumandangkan tempat wudu ramai, berarti kita bisa wudu 10 menit sebelum ikamah dikumandangkan. Saling menghargai orang lain adalah sesuatu yang harusnya kita pegang, tidak datang telat termasuk dalam menghargai orang lain. Karena judul dari hidup ini adalah tentang saling.


메타데이터
post_id
b0135d3bc84b
slug
malu-ketika-terlambat-b0135d3bc84b
url
https://medium.com/@wibisonopangestu/malu-ketika-terlambat-b0135d3bc84b
canonical_url
https://medium.com/@wibisonopangestu/malu-ketika-terlambat-b0135d3bc84b
author_url
https://medium.com/@wibisonopangestu
status
ok
fetched_at
2026-07-21 01:40:58