← Back to list

Happy Birthday, Matthew! | Camaraderie

SeiMatt college edition. Kinda freaky ig but enjoy the story ❤

Amerta · 2025-07-13 13:44 · 14 claps · 6.3 min read
#teenlit #oneshot #teenfict
Open on Medium ↗

Happy Birthday, Matthew! | Camaraderie

taro cake

taro cake

“Uno!”

“Yah, aku kalah!”

Kedua insan itu tertawa sembari membereskan kartu uno yang sedari tadi dimainkan di lantai. Pada malam itu, Seira dan Matthew yang kini mengambil kuliah di Hong Kong memutuskan untuk menginap selama sehari di apartemen milik Matthew. Seira dengan sweater merahnya, seperti biasa berbicara dengan gaya cerewetnya kepada Matthew yang masih membereskan kamar.

“Matt, bosan!” seru Seira nyaring sembari mengurutkan kartu uno sesuai warna. Netra gadis itu mengerling manja ketika Matthew selesai membereskan kamarnya, lalu duduk di samping Seira. Pria itu mengelus puncak rambut Seira pelan sembari memainkan ponselnya, mengetikkan sesuatu dengan iseng di website bernama Chatgpt.

“Matt, kamu ngapain?” Seira bertanya sembari bersandar manja di bahu pria itu, mengintip sekilas ponsel miliknya. “Truth or Dare?”

Matthew mengangguk sembari tertawa tipis, “Iya, aku mau coba cari game seru di Chatgpt — tunggu, ini apaan?”

Keduanya saling melirik canggung, lalu tertawa canggung sambil membaca judul di layar ponsel Matthew secara berbarengan.

Truth or Dare untuk couple, spicy edition — ANJIR?”

Keduanya saling bersitatap, lalu tertawa pelan. Seira dapat merasakan tatapan tidak mengenakkan dari Matthew. Sial, sepertinya pria ini merencanakan sesuatu yang tidak baik.

“Mau main?” tanya Matthew sembari mengerling, menggoda Seira yang kini wajahnya mulai merah padam.

“Gila kau!” Seira melempar bantal ke arah Matthew yang dibalas dengan tawa pria itu. Sang pria mungil yang kini sudah menjadi pacarnya mendekat sembari berbisik pelan di telinga Seira. Suatu bisikan yang sanggup membuat bulu kuduk Seira merinding, sekaligus merasa tertantang.

“Berani gak, Sei? Kalau gak berani, kau berarti pengecut.”

“Hei, siapa bilang aku pengecut?” Seira hendak protes, namun seketika mulutnya terkatup rapat saat Matthew menatapnya intens. Gadis itu mendesah pelan, lalu balas menatap Matthew.

Fine, just for today,” gadis itu merotasikan bola mata, membuat Matthew tersenyum puas. Pria itu kini mengetikkan sesuatu pada Chatgpt miliknya, lalu mulai keluar berbagai tulisan dengan pertanyaan yang mengundang hawa nafsu.

Baiklah, teknis permainannya adalah sebagai berikut. Mereka akan bermain batu gunting kertas untuk menentukan siapa yang duluan mendapatkan tantangan, lalu dengan aplikasi spinning wheel akan ditentukan tantangan mana yang akan mereka dapatkan dari nomor satu sampai sepuluh. Awalnya sih Seira menolak, namun Matthew membujuknya dengan traktiran es krim rasa coklat di keesokan harinya sehingga Seira mau melakukan tantangan nakal itu.

Kita mulai di permainan pertama, batu–gunting–kertas. Bisa ditebak, yang menang kali ini adalah Seira. Gadis tersenyum penuh kemenangan, membuat Matthew berdecih pelan.

“Aku menang, Matt!” Seira tertawa nyaring, lalu berkata. “Truth or dare!

“Pemanasan dulu kali ya …, truth!”

Great! Let’s spin the wheel!” gadis itu mulai menikmati permainan yang sedang berlangsung. Tanpa disangka, Matthew mendapatkan pertanyaan yang paling mengejutkan dari Seira. Gadis itu mulai membacakan pertanyaan yang diberikan oleh Chatgpt, lalu mulutnya ternganga pelan.

“Matt, kata Chatgpt … ‘kalau aku tiba-tiba ngajak kamu mandi bareng, kamu bakal gimana?’”

“MANDI BARENG???” wajah Matthew mulai memerah. Seira tertawa lebar hingga menampakkan gigi gingsulnya, wajahnya ikut memerah namun tertutupi oleh bantal yang kini menutupi wajahnya.

“Gue — maksudnya, aku … eh … SEIRA, PERTANYAANMU SADIS!”

“SALAHIN CHATGPT!” seru Seira kesal sambil melempar bantal ke wajah pria itu, lalu kembali tertawa puas melihat Matthew kelabakan seperti ini.

“Iya deh! Aku bakal mau!” ketus Matthew dengan wajah yang memerah. Seira tersenyum penuh kemenangan. Gadis itu mengacak rambut pria mungil itu dengan gemas, membuat wajah Matthew semakin memerah.

“Tapi pas udah nikah ya,” ujar Seira sambil tertawa pelan. Gadis itu kini mengambil undian, lalu mempersilakan Matthew untuk membacakan undian yang sudah ia dapatkan.

“Pilih truth or dare?”

Seira tersenyum nakal, kemudian menjawab sembari menatap Matthew iseng, “Dare karena aku suka tantangan.”

Matthew tertawa mengejek, “Kamu gali lubang sendiri ini, Miss Kobayashi.”

“Memang apa tantangannya?” tanya Seira ingin tahu. Matthew membacakannya dengan lantang, membuat wajah Seira sukses memerah.

“Berlutut sambil bilang ‘I’m yours’. Gak boleh nolak.”

Seira hendak memerotes, tapi ia segera mengatupkan bibir saat gadis itu melihat netra Matthew yang menajam, menunggunya untuk melakukan hal tersebut. Seira mendesah pelan, lalu mulai berlutut.

I’m yours,” bisiknya pelan, tanpa sadar merangsang alam bawah sadar Matthew. Pria itu terdiam, berusaha mengontrol hasrat yang kian bergejolak di dada.

Sial, gadis ini terlalu imut, pikir Matthew. Pria itu berusaha tersenyum nakal, hendak menggoda Seira lebih lanjut.

Repeat,” ujarnya dengan suara rendah, membuat Seira mendelik kesal. “With my name on it, Miss Seira.

Gadis itu menggembungkan pipinya, lalu mendongak dan menatap Matthew dengan netra yang berbinar, “Baiklah. I’m yours, Matthew —

Ucapan itu tidak terselesaikan. Matthew menariknya ke dalam pelukannya, kemudian menciumnya perlahan di bibir. Seira hendak mengelak, tapi Matthew mengunci pergelangan tangannya, membuat ia tidak bisa melawan. Seira dapat merasakan bibir ranum itu mengenai miliknya, membuat tubuhnya mendadak lemas.

“Seira,” Matthew berbisik pelan di telinga Seira, merangsang segala saraf milik gadis itu. “You’re mine, okay?

I know,” bisik Seira pelan. Gadis itu kini duduk di pangkuan Matthew, menarik dagu Matthew pelan hingga netra mereka saling bersitatap. Jemarinya saling bertaut seiring dengan jarak mereka yang semakin menipis. Seira tertegun, ia dapat merasakan detak jantung Matthew yang seirama dengan miliknya. Walaupun masih merasa gugup, Matthew menyeringai sembari membisikkan sesuatu di telinga Seira.

I choose dare,” Matthew menyeringai. “Aku juga suka tantangan, Seira.”

Seira tersenyum manis hingga menampakkan gigi gingsulnya, “Gpt says: Kasih aku satu ciuman, tapi tidak boleh di bibir — HEY, MATT!”

Pria itu kini membaringkan Seira di kasur. Gadis itu mengerang, lalu terkejut saat Matthew kembali mengunci pergelangan tangannya. Pria itu terlihat … berbeda dari biasanya. Tatapannya lebih tajam, tapi Seira dapat merasakan perasaan cinta yang terpendam di balik tatapan tajam pria mungil itu.

Matthew kini mencium leher Seira, pelan tapi pasti. Gadis itu mengerang, sesekali mendesah pelan. Sial, rasanya Matthew ingin menggila. Malam ini, dengan hoodie kebesaran milik Matthew yang dipinjamkan ke Seira, gadis itu terlihat begitu imut.

Dan juga begitu menggoda hingga Matthew nyaris kehilangan akal sehatnya. Tatapannya berubah sayu, lalu netranya terpaku pada wajah Seira. Gadis itu berusaha memberontak, tapi ia dapat merasakan keinginan yang terpendam.

Seira berusaha menolak meski jauh di dalam lubuk hatinya, dia ingin melakukan ini bersama Matthew.

Truth!” seru Seira dengan napas yang tertahan.

Matthew menyeringai, “Aku bacain, ya. Kapan terakhir kali kamu kepikiran hal nakal tentangku?”

Matthew tertawa puas saat ia menyadari perubahan di raut wajah Seira. Wajahnya kini memerah, membuat Matthew tersenyum penuh kemenangan. Pria itu semakin mendekat, kemudian berbisik tepat di telinga Seira.

“Atau … kau sudah mikir yang aneh-aneh sekarang?”

“NGACO KAMU, MATTHEW!!!!”

Malam itu, keduanya kini berbaring di kasur milik Matthew. Pria mungil itu memeluk Seira yang kini sudah tidak mengenakan hoodie milik Matthew (pria itu melepasnya saat mereka berciuman sebelumnya).

Gadis itu memejamkan mata, merasakan kehangatan yang menjalar dari tubuh Matthew ke miliknya. Seira mengepalkan tangan, kemudian menutup wajahnya yang kini memerah saat Matthew mengerang pelan.

“Matt, kamu mabuk ya?” gadis itu berujar pelan, membuat Matthew bergumam.

“Hm?”

Sial, suara rendahnya juga membuat Seira menggila. Atau mungkin, Seira sudah gila sekarang.

“Matt …,” desah Seira pelan, tak tahan dengan sentuhan Matthew yang terasa begitu pelan dan menjalar di tulang selangkanya. “Aku tak tahan ….”

“Maaf,” ujar Matthew pelan. “Aku kebablasan. Sakit, ya?”

Gadis Jepang itu meringis pelan, “Geli, Matt. Tapi … aku ….”

Wajahnya seketika memerah. Seira hendak berbaring menjauh akibat salah tingkah, namun Matthew segera menariknya dengan gesit.

Sial, sejak kapan pria ini menjadi sangat kuat?

Setelah setahun berpacaran, Seira baru menyadarinya sekarang. Ia terlarut dalam setiap sentuhan yang diberikan Matthew, terutama saat pria itu menciumnya tepat di bibir ranumnya.

“Suka?” Matthew tersenyum tipis, menyadari wajah Seira yang menjadi semakin memerah. Gadis itu tanpa sadar membenamkan dirinya di dada bidang Matthew, tak sanggup menatap netranya yang kini mengerling nakal. Pria itu kini mencium puncak kepala Seira, lembut namun pasti. Gadis itu hanya mengangguk pelan, malu untuk mengutarakan secara langsung.

Matthew tertawa pelan sembari mengacak puncak rambut Seira, “Kamu lucu banget kalau lagi malu-malu begini. Padahal, biasanya juga malu-maluin.”

“Apaan, sih?” ujar Seira yang kini salah tingkah. Gadis itu kembali mengerang, namun Matthew menariknya semakin mendekat.

“Jangan menjauh,” ujarnya pelan. Pria itu memeluk Seira erat, seolah tak ingin melepaskannya. Jarum jam terus berdentang menunjukkan perubahan waktu. Waktu terasa berjalan dengan begitu lambat. Tak ada suara lain selain jarum jam yang bergerak … dan juga napas berat Matthew saat memeluknya dalam posisi seperti ini.

Jarum jam bergerak begitu pelan hingga akhirnya hari resmi berganti menjadi tanggal 12 Juli, tepat pada saat ulang tahun Matthew. Setelah beberapa detik berlalu, Matthew akhirnya melepaskan pelukannya, membiarkan Seira bergerak dengan leluasa. Gadis itu mulai mengambil sesuatu di kulkas, lalu mengambil korek api dan membawanya ke hadapan Matthew. Pria itu tampak terkejut, namun tak berbicara banyak.

“Matthew,” Seira berbicara pelan sembari membawakan kue rasa taro tersebut. “I’ve brought you your favourite type of cake. Happy birthday, Matthy.”

Tanpa sadar, pria itu menitikkan air mata. Tanpa kata yang terucap, Matthew memeluk Seira erat.

Thanks,” ujarnya pelan, lalu terdiam saat Seira tertawa tipis. Sial, gadis itu begitu manis saat ia tertawa. Tanpa sadar, Matthew menangkup dagu Seira, lalu menciumnya pelan. Gadis itu terdiam, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Matthew kepadanya. Sesekali, gadis itu mendesah pelan sembari menggenggam lembut jemari Matthew. Waktu berjalan dengan begitu lambat seiring dengan mereka yang sedang melakukan hal itu. Tanpa sadar, ciuman itu menjadi semakin agresif seiring dengan waktu yang berjalan. Matthew menggigit lembut ujung bibir Seira, membuat gadis itu mendesah pelan.

Perlahan, ciuman itu turun ke leher. Matthew menggenggam jemari Seira dengan semakin erat, membuat gadis itu mengerang pelan.

“Matt,” gadis itu mencengkram lengannya, membuat Matthew akhirnya berhenti. Seira mengerling, berusaha mengatakan sesuatu sebelum akhirnya netra gadis itu terbelalak saat Matthew kembali mencium bibirnya sekilas.

“Maaf, kamu lucu soalnya,” wajah Matthew kini memerah. Seira tertawa tipis dengan wajah yang sama merahnya, kemudian mengatakan sesuatu yang sanggup membuat Matthew malu bukan main.

“Kuenya dimakan dulu, jangan asik ciuman, Matt.”

“SEIRA!!!”

Pria itu mengacak rambut Seira dengan gemas, tak tahan dengan kepolosan gadis itu.

–end.


메타데이터
post_id
b04799cd9abe
slug
happy-birthday-matthew-camaraderie-b04799cd9abe
url
https://medium.com/@amescent/happy-birthday-matthew-camaraderie-b04799cd9abe
canonical_url
https://medium.com/@amescent/happy-birthday-matthew-camaraderie-b04799cd9abe
author_url
https://medium.com/@amescent
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12