Matinya Romantisme di Tengah Kapitalisme
Kita hidup di era dimana mencintai secara sederhana adalah hal yang sulit dan langka untuk ditemukan. Hari ini mencintai bagaikan…
Matinya Romantisme di Tengah Kapitalisme
Kita hidup di era dimana mencintai secara sederhana adalah hal yang sulit dan langka untuk ditemukan. Hari ini mencintai bagaikan bertransaksi, bukan lagi soal bertemu di sebuah taman sambil ngobrol lucu membahas keseharian. Tapi seringkali pembahasan berkutat pada soal siapa yang harus membayar bill atau soal tempat mewah mana yang harus dipilih untuk first date.
Tidak, ini bukan salah perempuan atau laki-laki, tapi memang salah dunia yang sudah berubah begitu drastis menjadikan cinta bukan lagi perasaan murni tapi negosiasi akan komoditas. Dunia berubah membuat cinta adalah pertimbangan bukan lagi perasaan naluriah disaat kita bertemu dengan orang yang kita inginkan. Sedihnya, negara dan society mendukung ini. Mendukung terkikisnya romantisme natural yang muncul dari naluri. Tergantikan oleh tukar-menukar komoditas dan kelas sosial.
Tapi “mau bagaimana lagi” adalah ucapan yang selalu keluar dari mulut kita dalam menghadapi kepasrahan akan perubahan dunia yang tak lagi kita bisa kendalikan. Kita hanya bisa menerima dan beradaptasi agar bisa terus mencintai sambil membawa komoditas yang bisa mendukung perasaan kita. Tetap memperjuangkan cinta walau harus berdarah-darah dihajar lemahnya nilai mata uang rupiah.
메타데이터
- post_id
- b05984fa26c2
- slug
- matinya-romantisme-di-tengah-kapitalisme-b05984fa26c2
- url
- https://medium.com/@midnighttiramisu4/matinya-romantisme-di-tengah-kapitalisme-b05984fa26c2
- canonical_url
- https://medium.com/@midnighttiramisu4/matinya-romantisme-di-tengah-kapitalisme-b05984fa26c2
- author_url
- https://medium.com/@midnighttiramisu4
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 11:40:45