← Back to list

Membunuh tanpa Menyentuh: Esistensi Seni Rupa sebagai Ruang Aman Perempuan dalam Merespon…

Femisida & Ruang Aman di Bandung

dekha · 2026-05-30 10:59 · 9 claps · 2.2 min read
#women #femisida #femicideawareness #feminism #social-politics
Open on Medium ↗
Wiki topics: SOC · Sociology & Politics 🔒 · Cybersecurity 🏛️ · Politics ✊ · Equality & Identity

Menolak Bungkam! Peran Pameran Seni Rupa di Bandung sebagai Arsip Realitas dan Respon Terhadap NeoFemisida

“Lentera Waras” Karya: Witri Mayang Sari | Foto oleh: Dekha Paskha Rinofan

“Lentera Waras” Karya: Witri Mayang Sari | Foto oleh: Dekha Paskha Rinofan

Rentetan kasus kekerasan ekstrem hingga pembunuhan yang beredar di media sosial pada akhir tahun 2025 menjadi alarm atas maraknya Femisida, yaitu pembunuhan terhadap perempuan semata-mata karena gendernya. Namun dalam realitanya, teror tersebut kini telah bermutasi.

Merespon hal itu, baru-baru ini sebuah ruang aman bagi perempuan dihadirkan di Bandung lewat pameran seni rupa & arsip respon atas kekerasan terhadap perempuan bertajuk “NeoFemisida”. Pameran ini hadir sebagai wujud nyata gerakan menolak bungkam sekaligus ruang refleksi bersama.

Lewat pameran ini, kurator Galih Jatu Kurnia memperkenalkan istilah NeoFemisida sebagai bentuk kekerasan baru yang mampu “membunuh” perempuan tanpa perlu menyentuh fisiknya. Di era digital, transformasinya nyata lewat pembunuhan karakter via cyberbullying, pembungkaman suara, penghilangan narasi, hingga pengekangan atau pengendalian terhadap tubuh perempuan.

Batas minimum kekerasan di masyarakat kita masih abu-abu, sehingga dampak psikologis korban sering kali diabaikan. Ima, selaku kurator, seniman, sekaligus founder dari komunitas perupa perempuan Senimom Bandung, menegaskan kalau sejak lahir pun perempuan sebenarnya sudah dikepung oleh pembatasan sosial.

Ironisnya, saat menjadi korban, mereka justru dilingkupi rasa takut untuk melapor akibat suburnya stigma victim blaming atau kultur yang tidak berpihak pada korban. Narasi penghakiman seperti “Cewek kok pulang malam” atau “Salah sendiri bajunya begitu” sampai sekarang masih menjadi aturan tak tertulis di masyarakat. Karena ketidaksepakatan standar kekerasan ini, korban akhirnya memilih bungkam karena ruang publik tak lagi menawarkan rasa aman.

Pameran ini menghimpun kekayaan perspektif dari 32 seniman. Dari total 32 seniman yang terlibat, 30 di antaranya merespon lewat karya rupa, sementara 2 lainnya bergerak melalui aksi performance art. Eksplorasinya pun beragam, ada yang berangkat dari kacamata murni sebagai penyintas, kritik isu sosial, fokus estetika, hingga menjadikannya sebagai art therapy (terapi trauma).

“The Unspoken Body” Karya: Yulia Puspita | Foto oleh: Dekha Paskha Rinofan

“The Unspoken Body” Karya: Yulia Puspita | Foto oleh: Dekha Paskha Rinofan

Karya yang menjadi sorotan penting dari pameran ini adalah “The Unspoken Body” milik Yulia Puspita, seorang perupa yang juga akademisi/dosen Pendidikan Seni Rupa UPI. Diwujudkan lewat medium akrilik di atas kanvas dengan format 7 panel komik, karya ini membedah bagaimana tubuh perempuan terus-menerus diobjektifikasi oleh persepsi sosial. Kita diajak untuk melihat perjalanan emosional korban dari rasa takut, ketertekanan, hingga munculnya cahaya terang di panel terakhir sebagai simbol resistensi untuk merebut kembali ruang aman mereka.

Banyak isu femisida menguap begitu saja bukan karena tertutup oleh berita lain, tapi karena budaya masyarakat kita yang masih sering mewajarkan isu femisida. Padahal, kekerasan dalam bentuk apa pun, oleh siapa pun, jelas tidak pernah bisa dibenarkan. Di tengah situasi tersebut, pameran ini berhasil hadir bukan sekadar sebagai ruang pamer, melainkan ruang aman untuk meregulasi emosi; tempat di mana kemarahan, kesedihan, dan trauma komunal bisa diolah menjadi sebuah kesadaran baru.

Hari ini, kualitas kepekaan kita sedang diuji oleh senyapnya krisis empati. Sebab pada akhirnya, ruang aman tak pernah lahir dari pemanis retorika; ia tumbuh dari pundak-pundak yang menolak abai. Mari kita mulai dengan merawat ruang-ruang di sekitar kita, meruntuhkan tembok sunyi yang mengurung mereka, dan mulai merajut kembali ruang aman bagi perempuan.


메타데이터
post_id
b06b08d6629d
slug
membunuh-tanpa-menyentuh-esistensi-seni-rupa-sebagai-ruang-aman-perempuan-dalam-merespon-b06b08d6629d
url
https://medium.com/@dekharinofan/membunuh-tanpa-menyentuh-esistensi-seni-rupa-sebagai-ruang-aman-perempuan-dalam-merespon-b06b08d6629d
canonical_url
https://medium.com/@dekharinofan/membunuh-tanpa-menyentuh-esistensi-seni-rupa-sebagai-ruang-aman-perempuan-dalam-merespon-b06b08d6629d
author_url
https://medium.com/@dekharinofan
status
ok
fetched_at
2026-09-04 04:43:22