← Back to list

Pada malam yang besoknya konser

Salah satu tugas yang harus ditunaikan sebagai mahasiswi profesi psikolog umum di latar komunitas adalah bernyanyi. Bernyanyi perihal hidup…

Fadna Sembadra · 2025-06-09 17:00 · 0 claps · 1.4 min read
#wates #psikologi #komunitas #life
Open on Medium ↗

Pada malam yang besoknya konser

Salah satu tugas yang harus ditunaikan sebagai mahasiswi profesi psikolog umum di latar komunitas adalah bernyanyi. Bernyanyi perihal hidup semaksimalnya, mengatasi yang kurang, dan menjahit bilah-bilah harapan. Bernyanyi dengan mikrofon seadanya, speaker yang kencang, dan audiens yang diasumsikan belum tahu lagunya.

Malam ini aku menjadi bagian dari konser kawanku. Aku salut dengan bagaimana presistensi menjadi nilai yang hidup dalam dirinya. Menjadi cantik dalam setiap gerak langkah keilmuannya, dan senantiasa tetap asik sebagai makhluk sosial.

Malam ini kami habiskan dengan menikmati nasi goreng paling wok-hay sejauh masa SMA-Kuliahku. Di tengah lalu-lalang setengah-setengah dari pengendara di Wates ini, kami mengulas. Betapa hal hebat yang kecil kemungkinan dipandang besar. Kami mensyukuri tiap biji zarah proses itu, beserta reaksi yang tak berani dipinta, namun terjadi lebih dari seharusnya.

Aku jadi bersyukur bahwa karsa yang dibawa kami, lebih besar dari tulisan yang akan dibaca manusia. Tentang kemarahan kami pada negara yang mengkhianati sila nomor 5. Tentang tepung beras dan gula merah yang dibilang gizinya sempurna. Hingga perihal harga 25 ribu dari giat dan peduli tulus bagi kehidupan generasi yang emas katanya.

Aku bersaksi bahwa giat yang dibawa kami lebih besar dari angka-angka. Perihal hujan dan gelap malam yang kami telantarkan. Bingung dan gelisah yang kami ajak berteman. Serta semua keagungan yang kami luruhkan dalam pertemuan-pertemuan. Agaknya kami belajar bahwa duduk di bangku perguruan tinggi, adalah kemalangan yang beruntung. Kami menjadi tahu lebih banyak kelihatannya. Kami jadi peduli lebih banyak pada setiap sisinya. Namun kami pula lah yang gagal memahami bagaimana roda kehidupan bisa berjalan selama ini.

Kami menolak untuk tetap duduk di menara. Berkutat dengan data-data, tanpa lihat langsung jejak langkahnya. Kami menolak untuk berjalan di atas gelar berpendidikan, sedang lupa bahwa tidak semua orang punya kesempatan yang sama. Kami juga membenci para penguasa. Yang hanya peduli pada laporan dingin tak bertuan. Sedang roda penggerak tertatih di belakang.

Boleh pula kami disebut naif. Mungkin memang adanya. Namun setidaknya, baru itu yang kami punya. Belum pada mimpi-mimpi besar di ujung sana. Tentang manusia yang layak berhidup besar, dan anak-anak yang bertumbuh sepuasnya. Semoga sedikit yang kami tabur, bisa menuai rambat-rambat setelahnya.


메타데이터
post_id
b093ab2d9744
slug
pada-malam-yang-besoknya-konser-b093ab2d9744
url
https://medium.com/@fadnasembadra/pada-malam-yang-besoknya-konser-b093ab2d9744
canonical_url
https://medium.com/@fadnasembadra/pada-malam-yang-besoknya-konser-b093ab2d9744
author_url
https://medium.com/@fadnasembadra
status
ok
fetched_at
2026-07-19 12:53:44