Lamaran Ditolak, Sumpah Terhentak
Kisah Roro Jonggrang Gresik Yang Berjasa Bagi Sesama Perempuan
Lamaran Ditolak, Sumpah Terhentak
(Kisah Roro Jonggrang Gresik Yang Berjasa Bagi Sesama Perempuan)
Photo by Utsman Media on Unsplash
Pernah mendengar kisah Roro Jonggrang? Folklore terkenal di Indonesia yang menceritakan Putri Prabu Baka menolak mati-matian pinangan Bandung Bondowoso karena merupakan pembunuh ayahnya?
Kisah ini merupakan simbol ego dan cinta yang dipaksakan. Semakin besar ego, semakin bengis dalam memperlakukan rasa yang dianggap cinta.
Di bandar pesisir utara Tanah Jawa, kisah yang serupa namun tak sama juga pernah lahir dalam sejarah. Bukan sekadar folklore biasa, sosoknya pernah benar-benar hidup dan berjasa bagi perempuan di Tanah Jawa.
Silsilah Nyai Ageng Tumengkang Sari Lenggang
Ia adalah Nyai Ageng Tumengkang Sari Lenggang. Nyai Ageng lahir dan besar di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Ia merupakan cucu dari Sunan Giri dengan istri pertamanya, yakni Dewi Murtasiyah yang merupakan anak dari Sunan Ampel.
Ayah dari Nyai Ageng adalah Sunan Weruju dengan istri yang tidak diketahui dan tidak tertulis dalam sejarah. Jika ditarik dalam sejarah Islam, Sunan Giri berdakwah di Gresik sekitar abad ke-15 hingga ke-16 (wafat sekitar 1506), yang artinya Nyai Ageng Tumengkang Sari hidup pada pertengahan hingga akhir abad ke-16.
Berdasarkan informasi tertulis yang tertera di daerah makam Nyai Ageng Tumengkang sari, apabila ditarik keatas terkait keturunan, Ia merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW.
“Lalu, apa pentingnya kita memahami bahwa beliau memiliki garis keturunan Rasulullah?”
Sebelum kisah ini dijelaskan lebih lanjut, perlu diketahui bahwasanya garis keturunan tidak sontak memberikan fakta terkait watak atau sifat lahir seseorang yang bisa mirip dengan keturunan sebelumnya atau lainnya.
Memahami garis keturunan memberikan gambaran terhadap prinsip kisah sejarahnya dalam menguak tabir siasat politik dengan jalur dakwah dan keimanannya. Lalu, bagaimana kisah sejarahnya yang diceritakan mampu berdiri di kaki sendiri dalam menolak ketidaksesuaian iman dan hatinya?
Lamaran Sang Pangeran Majapahit
Pada suatu hari datanglah seorang pangeran yang sangat sakti tidak tertandingi ke Giri Kedaton (pusat pemerintahan Sunan Giri). Tujuannya melamar sosok wanita yang tidak hanya cantik dan anggun, tetapi juga cerdas dan sangat disayangi oleh masyarakat.
Sosok wanita tersebut adalah Nyai Ageng Tumengkang Sari Lenggang. Parasnya yang ayu nan rupawan memikat sosok laki-laki dari kerajaan Majapahit yang beragama Hindu.
Rasa cinta yang menggebu-gebu dari pangeran tersebut membuatnya ingin segera memilikinya, apa pun yang terjadi. Nyai Ageng, yang merupakan sosok muslimah dengan garis keturunan Rasulullah (syarifah) yang taat, menolak halus sesuatu yang merusak prinsip dan keimanannya.
Mendengar penolakan tersebut, ego dari sang pangeran terluka. Sosoknya yang dikenal sakti dan hebat membuatnya tidak menyerah dan terus mencoba dengan berbagai cara.
Di saat yang bersamaan, pada masa dakwah Islam di Tanah Jawa, segala sesuatu dapat berubah menjadi konflik horizontal atau perang besar. Rasa khawatir berlebih dari Nyai Ageng Tumengkang Sari membuatnya memutuskan pergi dari Giri Kedaton dan bersembunyi ke area pelosok hutan yang saat ini dikenal dengan sebutan Dusun Sumur Songo.
Dukun Beranak Yang Berjasa Bagi Warga Desa
Dalam misi pelarian tersebut, beliau ditemani oleh dayang-dayangnya. Di antaranya adalah Mbah Susilowati sebagai dayang setianya yang hingga akhir hayat dimakamkan di sebelah Nyai Ageng Tumengkang Sari, Mbah Singo sebagai dayang muda, dan Mbah Brojol sebagai bantuan tenaga ahli medisnya.
Sebelum alat kedokteran masif, racikan dan ramuan dari dedaunan digunakan secara masif untuk membantu persalinan. Dedaunan tersebut ditumbuk dengan alat penggiling atau pelumat jamu tradisional yang mirip dengan alu dan lumpang.
Berdasarkan sejarah, nama “Tumengkang” dari Nyai Ageng merupakan pemberian gelar terhormatnya sebagai dukun beranak di zaman tersebut. Tumengkang memiliki arti “mekangkang” atau bentuk kaki yang dilakukan dalam proses melahirkan.
Saat menjadi dukun beranak, berbagai metode melahirkan dengan bantuan Nyai Ageng dilakukan demi memudahkan proses kelahiran bayi. Hingga pada suatu hari persembunyiannya ditemukan oleh pangeran Majapahit tersebut.
Syarat Mustahil 10 Sumur
Di tengah kepungan dari berhasilnya menemukan Nyai Ageng, sang Pangeran kembali menegaskan lamarannya dengan agresif. Nyai Ageng yang tidak memiliki kemampuan bela diri, melawan dengan pola taktik dari leluhurnya.
Nyai Ageng memberikan syarat mustahil apabila sang Pangeran ingin lamarannya diterima.
Membuat 10 sumur dalam waktu satu malam sebelum fajar tiba.
Dengan ego yang besar dan kepercayaan diri akan kemampuan saktinya, ia memulai operasi di tanah gersang di tempat itu dengan menggali satu per satu.
Kisah pitutur menceritakan, bahwa terdapat bantuan jin yang dengan ajaib membantu menyelesaikan pembuatan sumur sebanyak 10 buah, hanya dalam semalam sebelum fajar menyingsing.
Ketika malam mulai larut menuju subuh, sang Pangeran telah berhasil menyelesaikan 9 buah sumur. Namun, saat sang pangeran hendak menggali sumur yang ke-10, Nyai Ageng panik dan segera menggelar sajadah tepat di titik tanah yang diincar oleh Pangeran.
Nyai Ageng duduk bersimpuh memohon pertolongan dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan pertolongan. Dengan kekuatan doa yang besar, Pangeran mendadak kehilangan fokus dan kesaktiannya terhalang.
Ufuk di langit timur mulai menampakkan wajahnya. Di saat yang bersamaan, sumur ke-10 gagal diselesaikan akibat diduduki oleh Nyai Ageng.
Sumpah Yang Menghentak ke Bumi
Dalam buku berjudul Sang Gresik Bercerita: Kisah-Kisah Kearifan Lokal Gresik Tempo Dulu dijelaskan bahwa sang Pangeran sangat murka dan mengucapkan sumpah yang membuat perempuan di daerah tersebut ketakutan.
“Arek wedok dusun kene ojok onok sing nolak lamarane wong lanang maneh, sampek onok sing nolak lamarane wong lanang maneh koyok sing tak rasakno, dadi perawan tuwo sak lawase…”
Kalimat tersebut merupakan sumpah bagi perempuan siapa saja dari dusun ini yang apabila menolak lamaran laki-laki lagi, seperti yang Pangeran rasakan, disumpah menjadi sosok yang tidak pernah menikah sampai kapan pun.
Setelah berhasil menggagalkan lamaran Pangeran tersebut, Nyai Ageng Tumengkang Sari kembali pada kegiatannya sebagai dukun beranak. Sembilan sumur yang ditinggalkan oleh sang pangeran tidak ditutup, melainkan dirawat oleh beliau dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih.
Tidak lama setelah penolakan lamaran tersebut, beliau meninggal di usia muda dan belum sempat menikah hingga maut menjemputnya.
Dari kisah inilah nama Dusun Sumur Songo diciptakan.
Lokasi Makam Nyai Ageng Tumengkang Sari berada di situs religi Sumur Songo. Alamat administratif saat ini tercatat di Jalan Kramantadap, Gapurosukolilo, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, 61111.
Dalam kisah ini, makna apa saja yang bisa kita ambil?
Kisah ini bukan hanya tentang pangeran yang egois dan taktik jeli yang bisa dimaknai sebagai perbuatan licik Nyai Ageng. Kisah ini menjadi pembelajaran bagi manusia, salah satunya adalah langkah mencintai.
Cinta bukan hanya kata kerja, tetapi juga kata sifat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Cinta” memiliki beragam makna, di antaranya “ingin sekali; berharap sekali”. Namun, makna tersebut sering mendekati tindakan egoisme.
Langkah sang pangeran Majapahit memaksakan kehendak Nyai Ageng sama dengan merusak prinsip yang telah dibangun Nyai Ageng. Lebih jauh dari itu, rasa ingin memiliki sosok Nyai Ageng yang besar dari sang Pangeran membuatnya melupakan logika tentang rasa tenang dan aman dari Nyai Ageng Tumengkang Sari dalam mencintai.
Rerensi:
- Dukut Imam Widodo dkk, Grisse Tempo Doeloe, Pemerintah Kabupaten Gresik, 2004.
- Hidajatur Rochmah, Makam Nyai Ageng Tumekang Sari di Sumur Songo Sidokumpul Kecamatan Gresik dan Persepsi Masyarakat Terhadapnya, Skripsi UIN Sunan Ampel, 2005.
메타데이터
- post_id
- b0a0f00b0dde
- slug
- lamaran-ditolak-sumpah-terhentak-b0a0f00b0dde
- url
- https://medium.com/lentera-literasi/lamaran-ditolak-sumpah-terhentak-b0a0f00b0dde
- canonical_url
- https://medium.com/lentera-literasi/lamaran-ditolak-sumpah-terhentak-b0a0f00b0dde
- author_url
- https://medium.com/@fadyaamajida
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01