Foucault & Panoptikon Modern: Evolusi Kekuasaan yang Estetik
Foucault & Panoptikon Modern: Evolusi Kekuasaan yang Estetik

Ilustrasi panoptikon di era digital
Selamat datang di dunia Michel Foucault. Di mana kekuasaan tidak selalu pakai seragam, tapi bisa menyamar jadi guru, iklan skincare, algoritma TikTok, atau suara ibu di kepalamu yang berkata, “Kok statusnya gitu sih, Nak?”
Foucault bukan filsuf yang nyuruh kamu mikir apa itu kebenaran. Dia ngajak kita buat curiga siapa yang ngatur “kebenaran” itu. Karena menurut dia, di balik setiap “aturan baik-baik aja” biasanya ada satu hal: kekuasaan yang bekerja diam-diam tapi telaten kayak admin fanbase.

https://surimposium.rhumatopratique.com/en/the-political-philosophy-of-michel-foucault/
Panoptikon: Ketika Kamu Nggak Diawasi Tapi Tetap Takut
Foucault suka banget bahas penjara. Tapi jangan salah, ini bukan karena dia kriminal. Justru dia nanya: “Kenapa penjara itu bikin orang tertib, bahkan kalau nggak ada sipir?”
Foucault memperkenalkan konsep Panoptikon, sebuah rancangan penjara dari Jeremy Bentham di abad ke-18: sebuah menara pengawas di tengah-tengah sel tahanan, di mana para tahanan tidak tahu apakah mereka sedang diawasi atau tidak.
Tapi Foucault bukan tertarik pada arsitekturnya, dia tertarik pada efek psikologis kekuasaan tentang bagaimana kekuasaan bisa mengendalikan tanpa perlu kekerasan, cukup dengan menanam rasa “diawasi”.
Ini semacam CCTV batin. Kita jadi disiplin bukan karena diawasi, tapi karena merasa diawasi. Mirip pas kamu melihat lampu flash di jalan tol dan langsung ngerem meski mobilmu cuma 20 km/jam. Atau ketika kamu ngetik “wkwk” di chat grup dosen padahal nggak lucu-lucu amat, biar tidak dikick dari grup.
Dari Penjara ke Dunia Digital: Evolusi Kekuasaan yang Estetik
Menurut Foucault, kekuasaan bukan cuma soal orang kuat menindas yang lemah. Bukan sekadar tentara atau aparat. Kekuasaan itu menyebar, merembes dalam institusi, norma, bahkan dalam tubuh kita sendiri.
Kekuasaan hari ini bukan lagi pakai cambuk, tapi motivasi toxic dan reminder dari Google Calendar. Foucault bilang: kekuasaan modern itu canggih, dia bikin kita menertibkan diri sendiri.
Kalau kamu merasa bersalah makan nasi padang karena takut “gagal diet”, padahal lapar, atau takut tidak lulus kuliah karena sering absen, bukan karena kamu bodoh, itu kekuasaan bekerja.
Dan lucunya, kita sering berpikir itu pilihan pribadi. Padahal itu hasil proses panjang dari disiplin tubuh dan normalisasi perilaku yang diciptakan oleh kekuasaan tak kasat mata: budaya, sistem pendidikan, kapitalisme, dan algoritma.
Misal, kamu tidak pernah beli baju karena kebutuhan, tapi karena iklan bilang “warna earth tone bikin kamu terlihat calm”, padahal kamu stres tiap akhir bulan. Itulah bentuk kekuasaan gaya baru, kamu patuh tanpa sadar.
Ilmu Pengetahuan: Sains atau Strategi Kekuasaan?
Foucault juga curiga sama yang namanya “ilmu pengetahuan.” Bukan karena dia anti-sains, tapi karena dia tahu bahwa ilmu sering dipakai untuk melegitimasi kekuasaan.
Contoh klasik: dulu perempuan dianggap tidak cocok jadi pemimpin karena otaknya kecil (serius, ini pernah diajarkan). Dan manusia kulit tertentu dianggap lebih rendah. Padahal? Itu bukan ilmu, itu strategi kuasa yang disamar jadi logika.
Hari ini bentuknya beda: “Produktivitas” jadi standar nilai. Dan “Bermental juara” dipakai buat nyalahin orang miskin.
Seks, Norma, dan Siapa yang Atur Selera?
Foucault juga nulis History of Sexuality, dan bukan buat clickbait. Dia bilang bahwa kita bukan makin bebas ngomongin seks, tapi makin dikontrol cara ngomongin seks.
Kekuasaan hari ini hadir dalam bentuk halus: menentukan apa yang sopan, menentukan siapa yang normal dan menentukan siapa yang harus diam.
Jadi kalau kamu ngerasa bersalah karena belum menikah di umur 30, bukan kamu yang salah. Itu panoptikon budaya sedang bekerja. (Penulis nyesek waktu ngetik paragraf ini)
Dunia Foucault dan Dunia Kita, Beda Tipis
Hidup dalam dunia Foucault itu kayak main game yang aturannya tidak kelihatan, tapi tetap bikin kamu capek. Kita berpikir kita bebas, padahal kita sedang jadi bagian dari sistem kontrol yang canggih, nggak pakai senjata, tapi pakai rasa malu, rasa bersalah, dan notifikasi: “temanmu baru saja menikah.”
Tapi bukan berarti kita tidak bisa berbuat. Foucault bukan ngajak kita paranoid, tapi sadar. Karena kesadaran adalah awal dari pembebasan.
Foucault juga bukan penghasut revolusi jalanan. Dia hanya tidak percaya pada satu bentuk “kebenaran absolut” yang bisa membebaskan. Tapi dia memberi kita alat untuk membongkar struktur kekuasaan, untuk bertanya: Siapa yang diuntungkan dari sistem ini? Kenapa saya merasa harus begini? Apa yang sedang bekerja dalam kepala saya saat saya merasa “tidak cukup”?
Pertanyaan-pertanyaan ini adalah bentuk perlawanan kecil, bentuk “filsafat sehari-hari” yang tidak mengubah dunia dalam semalam, tapi bisa menyalakan kesadaran di dalam penjara transparan kita.
Dan ingat, kebebasan sejati bukan ketika kamu tidak diawasi, tapi ketika kamu sadar siapa yang menaruh CCTV di kepala kamu.
메타데이터
- post_id
- b0a1edcf9ef5
- slug
- foucault-panoptikon-modern-evolusi-kekuasaan-yang-estetik-b0a1edcf9ef5
- url
- https://medium.com/@EchoVeritas/foucault-panoptikon-modern-evolusi-kekuasaan-yang-estetik-b0a1edcf9ef5
- canonical_url
- https://medium.com/@EchoVeritas/foucault-panoptikon-modern-evolusi-kekuasaan-yang-estetik-b0a1edcf9ef5
- author_url
- https://medium.com/@EchoVeritas
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-06 19:37:38