Lama, Tak Sempurna, Menua
pict by me
Lama, Tak Sempurna, Menua

pict by me
(i)
bunga itu sudah lama di pinggir jalan
ia berteman dengan panas dan hujan
bunga itu sudah lama di keranjang
ia tak pernah sekalipun pulang
merah, biru, kuning, hijau, dan putih satu persatu pergi
ia tak pernah peduli
meski tak lagi sempurna
ia menunggu seseorang mengabadikan kelapukannya
meski sepi dan sedih menguasai hatinya
ia menunggu kegembiraan hati yang ingin memotretnya
meski cintanya sangat jauh darinya
ia menunggu berbagai cinta yang ada di pinggir jalan Kota Lama
meski semakin menua
ia mendambakan untuk bertemu cinta yang selamanya menempati hatinya
(ii)
mana ada yang sempurna?
bertambah umur juga berkurang usia
tak ada yang pasti di dunia
sudahkah menabung pahala?
untuk bekal di surga
jangan terlalu terlena nikmatnya dunia
karena kau juga tahu itu hanya sementara
muliakan yang menua
jangan kau maki dan meremehkannya
baktilah sampai akhir hayatnya
meski ia lupa tak mengenali segalanya
(iii)
karena tubuh sudah ringkih
hampir seratus tahun di dunia ini
yang diingat hanya kenangan masa kecil
lupa anak, mantu, cucu, dan cicit
tak peduli makan apa hari ini
yang penting susur wajib dinikmati
jangan lupa teh dan kopi
buang saja air putih
kencing di sana di sini
adu mulut di sana di sini
diam pun semakin menjadi
tiada hari tanpa memaki
tubuh yang ringkih ini
메타데이터
- post_id
- b0abb8a65b5a
- slug
- lama-tak-sempurna-menua-b0abb8a65b5a
- url
- https://medium.com/@katalara/lama-tak-sempurna-menua-b0abb8a65b5a
- canonical_url
- https://medium.com/@katalara/lama-tak-sempurna-menua-b0abb8a65b5a
- author_url
- https://medium.com/@katalara
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-29 01:02:39