← Back to list

Separuh Jiwa yang Pergi

#1: Bersama Fachri mengarungi kehidupan

Ubay · 2026-03-31 11:49 · 0 claps · 1.7 min read
Open on Medium ↗

Separuh Jiwa yang Pergi

1: Bersama Fachri mengarungi kehidupan

Sumber: Gemini AI

Sumber: Gemini AI

Kala fajar menyingsing, wanita itu nampak sibuk mempersiapkan barang-barang dan segala kebutuhan yang akan dibawanya. Satu koper untuk pakaian dan tas ransel hitam untuk barang-barang kecil lainnya. Ia harus meninggalkan tempat ternyaman dan aman untuk pulang demi mengadu nasib ke kota seberang.

Jika ada yang membuatnya berat untuk pergi meninggalkan tempat singgah tersebut, maka itu adalah sang buah hati. Anak laki-laki yang masih berusia 8 tahun, usia seorang anak yang sebenarnya memerlukan kehadiran ayah dan ibu dalam menunjang tumbuh kembang, harus rela ditinggalkannya untuk menyambung hidup.

Rumah tangganya hancur akibat kurang kejujuran di dalamnya, bak sudah jatuh tertimpa tangga, setelah gagal dalam berumah tangga kini harus terpisah jauh oleh anak kecilnya. Ini sejatinya bukan pilihan yang diinginkannya, tetapi segalanya butuh materi untuk menunjang kehidupan yang lebih baik, terlebih sang anak sudah menginjak usia sekolah dasar.

Dengan penuh kasih sayang, ia kecup dahi sang anak yang masih terlelap dengan tidurnya. Bukan tanpa alasan, pagi saat matahari belum menampakkan wujudnya dipilih sebagai waktu yang pas untuk berangkat agar sang anak tidak merasakan sakit yang begitu dalam tentang arti sebuah kehilangan.

Fachri (bukan nama sebenarnya), merupakan anak yang riang dan aktif. Selayaknya anak pada umumnya, ia sering melontarkan berbagai pertanyaan yang baru pertama kali dialami atau dilihatnya. Badannya yang gempal tak membuatnya menjadi pemalas, setiap hari ia kayuh sepedahnya untuk pergi ke sekolah. Sepulangnya, ia langsung bermain dengan teman-teman sebayanya hingga terkadang lupa waktu.

Keceriaan itu salah satu sebabnya adalah mendapatkan pendampingan dari ayah dan ibunya setiap hari. Ibunya yang hanya seorang pekerja rumah tangga dan ayahnya yang kerja serabutan sehingga bisa melungkan waktunya untuk pulang membuat keduanya selalu hadir di tengah-tengah pertumbuhan usia Fachri. Keduanya selalu hadir bersama Fachri meskipun tinggal di rumah yang sederhana dan hidup serba pas-pasan.

Kini hal yang membuat Fachri ceria, terenggut secara paksa oleh keadaan rumah tangga kedua orang tuanya yang berantakan. Egoisme kedua orang tua — yang tentu bukan salah Fachri — bisa saja dapat mengganggu tumbuh kembangnya sebagai seorang anak. Mungkin, secara lisan ia merelakan perpisahan itu, tetapi bagaimana dengan nuraninya? Anak kecil memang polos, tetapi bukan berarti tidak berperasaan.

Oleh karenanyalah, orang-orang terdekat yang kini bersama Fachri akan selalu menemaninya dan bersungguh-sungguh untuk bersamanya. Bersama-sama untuk memberikan warna yang cerah bagi kehidupan Fachri. Biarlah orang-orang egois itu sibuk dengan dunianya, tetapi bukan sebuah alasan untuk tidak menjadi anak yang berwarna..


메타데이터
post_id
b0cfb80cf92e
slug
separuh-jiwa-yang-pergi-b0cfb80cf92e
url
https://medium.com/@ubaymz/separuh-jiwa-yang-pergi-b0cfb80cf92e
canonical_url
https://medium.com/@ubaymz/separuh-jiwa-yang-pergi-b0cfb80cf92e
author_url
https://medium.com/@ubaymz
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36