← Back to list

Elegi Nyeri Gigi

Orang-orang berkata, hidup belum sempurna jika belum pernah singgah di antara cacar, gabak, dan nyeri gigi.

Niswatun Khasanah · 2026-05-08 14:35 · 4 claps · 1.3 min read
#poetry #elegy #toothache
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Elegi Nyeri Gigi

Orang-orang berkata, hidup belum sempurna jika belum pernah singgah di antara cacar, gabak, dan nyeri gigi.

Aku kerap bertanya diam-diam, mengapa kedewasaan harus diukur dari rasa sakit? Apakah tubuh memang baru belajar kuat setelah berhasil menelan perih yang datang silih berganti?

Dulu, semasa sekolah dasar, cacar dan gabak pernah mampir ke tubuh kecilku. Kelas dua, lalu kelas lima, musim sakit yang menular cepat, seolah satu anak tumbang, yang lain harus bersiap menyusul.

Hari itu penuh dispensasi keluar kelas, langkah kecil menuju puskesmas, dan wajah-wajah pucat yang saling memahami tanpa banyak kata.

Kini semuanya tinggal kenangan jauh. Namun rupanya, ada satu rasa yang sengaja datang belakangan: nyeri gigi.

Baru sadar aku menemukan sepotong geraham keropos. Kecil bentuknya, tetapi perihnya tiada tara hingga menguasai seluruh kepala.

Ia menjalar perlahan dari celah gigi yang hilang, Berbuah ngilu saat air menyentuhnya, Menjadi denyut kejam tatkala makanan lewat di sana. Kumur tak lagi sederhana, minum pun terasa seperti hukuman yang harus diulang berkali-kali.

Aku mencoba menenangkannya dengan obat pereda nyeri, minyak angin, serta koyo yang kutempelkan seolah rasa sakit dapat dialihkan ke tempat lain.

Tetapi nyeri rupanya keras kepala. Ia tinggal lebih lama daripada yang kuharapkan.

Aku jadi teringat pada seorang teman masa sekolah yang sering tak datang belajar karena sakit gigi.

Dulu pikiranku begitu dangkal,

“Memangnya seberapa besar permasalahan sakit gigi itu?”

Kemudian aku hanya mengirim doa agar ia lekas sembuh, tanpa benar-benar memahami betapa nyeri bisa membuat seseorang tak sanggup membuka hari.

Sekarang aku mengerti, bahwa sakit gigi bukan sekadar keluhan kecil. Ia dapat merambat sesukanya, mengacaukan tidur, mengubah yang tenang menjadi gelisah dan rapuh.

Jika orang dewasa saja menyerah pada denyutnya, bagaimana dengan anak-anak yang harus menahannya sambil menangis? Memohon kepada Emak supaya dihilangkan petaka di gigi mereka?

Dari nyeri sekecil itu, aku belajar sesuatu, bahwa gigi adalah anugerah Tuhan yang sering tak dianggap sampai rasa sakit datang mengingatkan betapa pentingnya ia dijaga.

Maka selama masih bisa tersenyum, rawatlah ia dengan baik. Sebab kadang kehilangan selalu dimulai dari hal-hal kecil yang kita abaikan sendiri.


메타데이터
post_id
b15ce5cd5a8f
slug
elegi-nyeri-gigi-b15ce5cd5a8f
url
https://medium.com/@niswatunkhasanah073/elegi-nyeri-gigi-b15ce5cd5a8f
canonical_url
https://medium.com/@niswatunkhasanah073/elegi-nyeri-gigi-b15ce5cd5a8f
author_url
https://medium.com/@niswatunkhasanah073
status
ok
fetched_at
2026-06-14 17:09:17