← Back to list

First Stage & Finally, We Talk

For years, I’ve been longing for a moment like this… soft, fleeting, just to know you a little more. I hold no regrets. I’ll wait, as…

sasva🥛☕️ · 2026-03-19 21:46 · 174 claps · 10.8 min read
#taesan #leehan #taeshan #alternate-universe
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space

First Stage & Finally, We Talk

For years, I’ve been longing for a moment like this… soft, fleeting, just to know you a little more. I hold no regrets. I’ll wait, as gently as time allows, until that moment returns to me, believing the universe will always guide me back to you.

Suara Kedua sudah sampai ketempat berlangsungnya festival. Mereka mendapatkan giliran dipukul 18.30, masih cukup waktu untuk melakukan latihan dan make up. Saat rehearsal berlangsung, Senan dengan detail memberikan masukan mulai dari sorotan lampu, suasana stage, stage act, dan konsep yang sudah ia susun dengan matang. Senan berlari kesana kemari, Dilan dan Leo yang melihatnya hanya bisa terkekeh karena sudah 7 tahun bersama Senan tidak berubah sedikit pun. Senan menyetel kembali gitar elektriknya yang akan dia gunakan nantinya untuk memainkan intro manifesto. Leo juga mengecek kembali drumnya begitupun dengan Dilan. Setelah rehearsal selesai mereka berbondong-bondong kembali ke ruang tunggu untuk makan siang dan bersiap-siap. Saat suara kedua sedang bercanda gurau bersama, Sella sebagai manager mereka memanggil Suara Kedua untuk keluar sebentar. Mereka mengikuti kemana Sella melangkah, alangkah terkejutnya mereka, ternyata Baskara lah yang menemui mereka. Mereka berbincang sebentar dan Baskara memberikan beberapa wejangan juga pujian mengenai lagu mereka.

Setelah momen itu, Suara Kedua kembali ke ruang tunggu dengan wajahnya yang berbinar dan hati yang berbunga-bunga. Senan semakin yakin bahwa jalannya memang benar untuk bermusik, untuk menyebarkan awareness sekencang-kencangnya melalui karya, bukan mengikuti jejak ayahnya menjadi pengacara. Baginya mengikuti kemauan sang ayah untuk belajar hukum sudah lebih dari cukup, untuk sisanya ia ingin melangkah sendiri, sesuai dengan keyakinannya, sesuai dengan kebolehannya juga kata hatinya. Setelah itu mereka bersiap-siap, menunggu hingga akhirnya, giliran mereka naik keatas panggung.

Sara bertemu dengan Adhisty ditempat festival berlangsung. Sara menggunakan pakaian casualnya dengan kaos putih sebagai dalaman dan sweatshirt diatasnya. Adhisty langsung mengandeng lengan Sara dan menuntunnya untuk masuk ke gate. Adhisty mengalungi Lanyard bertuliskan VIP-Baricade/Media, Sara tersenyum lebar karenanya, diperhatikan terus lanyard tersebut hingga ia tidak berkedip. “Sara lucu banget, seneng ya punya VIP acsess gitu?” tanya Adhisty padanya, Sara mengangguk dengan semangat dan tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit itu. “Nanti kita bakal wawancaraiin Suara Kedua, kurang lebih 1 jam gitu? Setelahnya kalau lu masih mau nonton boleh, atau mau langsung balik juga gapapa… soalnya gue ada janji sama nyokap jadi abis wawancara gue balik” ujar Adhisty, “Paling gue cuma nonton beberapa setelahnya terus balik mba” jawab Sara. Mereka berdua berjalan dengan beriringan, berdiri paling depan barikade untuk menikmati penampilan-penampilan yang disuguhkan oleh band-band ternama yang masuk dalam line up festival ini.

Suara Kedua memulai aksi panggungnya. Smokebomb terpancarkan dari sisi-sisi panggung, hingga panggung tertutup sempurna oleh kerumunan asap. Terdengar suara sebagai pembuka, “Jenderal diharap menghadap Presiden” semua penonton berteriak ricuh bertepuk tangan. Dilan dari belakang panggung berkata “Here comes, the second opinion… Let’s Go, Senan” setelah dialog itu selesai, Senan ditengah panggung dengan gitar elektriknya dia memainkan intro manifesto dengan lihainya. Semua penonton bersorak memanggil nama Senan, ditengah Intro videotron berubah menjadi gambar Indonesia Gelap, dengan improvisasi gila dari Senan. Semua orang pun paham, Senan sedang menggila, Ia marah dengan petikan gitarnya itu.

Setelah itu Leo masuk dengan ketukan-ketukan Drumnya, menginisiasikan bahwa sebentar lagi Manifesto akan dilantunkan. “Selamat malam Jakarta” Dilan membuka stage dengan sangat indah, Senan berjalan ke kiri Dilan dan melepas gitarnya, ia tukar dengan bass. “Suara Kedua, present to you! Manifesto” Dilan berteriak, penonton juga sama, atmosfer terpecah selama festival.

Dengar baik-baik, ini adalah teguran keras. Teruntuk kali ini kami tidak lagi sudi, mungkin tidak ada yang berani menegur sekeras ini. Terkutuklah kalian orang-orang yang dengan teganya merampas kehidupan kami. Hi para cecunguk bodoh, lihat kearah sini! Sesekali kalian memang perlu diajarkan tahu diri. Beberapa orang tunduk, namun tidak dengan kami. Sengsarakan lagi kami, akan kami lawan dengan seruan paling keji.

Dunia yang kini kami jalani terasa asing, mecekat, mencekam, bukan seperti yang kami dambakan. Ini manifesto bentuk kekecewaan paling nyata. Kami tidak takut kehilangan nyawa. Toh setiap hari kami simulasi hidup di neraka. Manifesto pukul mundur oligarki. Basmi tikus berdasi. Tuhan tidak akan mengampuni. Sengsarakan lagi kami, akan kami lawan dengan seruan paling keji.

“Sekali lagi lebih kencang” teriak Dilan, mereka mengulangi reff dengan semangat, semua penonton berteriak penuh suka cita. Mereka merasa terwakilkan, beberapa penonton bahkan meneteskan air mata. Senan menikmati euphoria stagenya, hingga dia melihat seseorang yang sangat ia kenali betul, berdiri didekat panggung. Pandangannya tidak bisa ia alihkan, sosok yang berdiri disana dengan rambut blondenya yang tertiup angin kemudian mengangguk-anggukan kepalanya menikmati musik yang dimainkannya. Senan tersenyum, kamera menyorot kearahnya. Ia tersenyum salah tingkah namun dirinya tidak sadar bahwa ia disorot kamera dan menampilkan dirinya di videotron. Para penonton berteriak memanggil namanya.

Manifesto selesai dibawakan, tepuk tangan begitu meriah dari penonton, Senan melirik kearah Dilan dan menaikan kedua bahunya. Mereka berdua tersenyum puas. “Halo teman-teman, kami Suara Kedua! Rasanya haru dan membanggakan sekali bisa membawakan manifesto ditengah-tengah kalian” ujar Dilan. Leo berlari kecil kearah dua abangnya itu. “Salam kenal, saya vokalis dari Suara Kedua, Dilan Dwira” Dilan membungkukan badannya. “Saya Senandika Hartvian, basist dari Suara Kedua” Senan juga ikut membungkukan badannya, mengikuti gesture Dilan. “Halo teman-teman! Saya Leoneal, drummer kerennya Suara Kedua” Leo selalu ceria, ia tidak pernah kehabisan energinya. “It’s such an honor for us, bisa diberikan kesempatan untuk berada dipanggung ini” Dilan menyampaikan kesan dan pesannya.

Kemudian Dilan memberikan kode untuk lagu selanjutnya. “Lagu ini akan ada didalam first EP kami, yang akan di release beberapa bulan kedepan. Tolong nantikan dan mari kita gaungkan suara lebih keras, ikuti saya ya teman-teman… Kaula Muda Lawan Penindasan! Lawan Buta Politik” Dilan berseru dan lampu panggung kemudian mati. Suara Senan terdengar dari video. “Kita hanya ingin hidup pak… hidup sejahtera di tanah sendiri” kemudian suara Leo yang Senan ubah pitchnya menjawab seakan-akan mereka memang melakukan investigasi. “Bodoh, seharusnya menurut saja apa susahnya” balasan dari Dialog tadi, “Bagaimana bisa kami ikut tunduk pada belengu kebodohan, kami sudah disiksa, anak kami sudah dibunuh negara” Senan kemudian memainkan intro untuk lagu kedua yang Suar Kedua bawakan, gaungan anak kami sudah dibunuh negara bergema. Sebagian penonton bergeridik ngeri, Senan membuka lagu “Matter Fact, We Never Be Heard” dengan suara indahnya.

I’ve been carrying so much grudge inside me, who do I turn to for help if the cops… if my own people are the ones killing me? Here I lie in the cold, my body trembling. Electrocuted. Blood on my face. I think my bones are breaking. They keep stepping on me with their heavy boots, over and over, until the air is gone from my lungs. I can’t breathe. Mama, Papa… I’m fine. Don’t wait for me. I won’t be coming home.

I tried to run. I only wanted quiet things my books, my music, the voices that once made me feel alive. But they called me a traitor. Said I deserved to die. All I ever did was try to help my people find peace in their own land. I just… I just… no one hears me. No one hears my soul breaking into screams. My country has failed me. And no matter how loud I cry, no matter how long I beg… we are never heard.

I was only trying to help my friend who had been shot. I tied a ribbon around me a small sign that I was a paramedic, but they kept firing anyway. The bullets found my chest, one after another, until there were five. They stripped me, erased me, hid my body where no one would look. Mama… thank you for always seeking for my justice every Thursday afternoon.

Penampilan Suara Kedua ditutup dengan tepuk tangan yang begitu meriah. Penonton banyak yang menangis, merasakan tiap bait yang dinyanyikan oleh Dilan, Senan, dan Leo. Mereka turun dari panggung disambut pelukan hangat dari sang manager. “You guys did so well!” ujar Sella. *“Thank you, kak” Dilan membalas. “Kalian touch up dulu ya baru ketemu media”* Novi menepuk bahu Senan, kemudian Senan mengangguk. Sella dan Novi keluar dari ruang tunggu, “Kalau gue bilang… gak jadi deh” Senan mengurungkan niatnya untuk berbicara. “Ye anjir, gue udah mau dengerin” ujar Dilan. Mereka beristirahat sebentar dan touch up makeup mereka.

Sara baru saja menyaksikan festival musik terbaik seumur hidupnya. Suara Kedua dan lagu-lagunya itu entah bagaimana menyihirnya. Saat anggota Suara Kedua memperkenalkan dirinya, terputar dengan jelas kata-kata dua sahabatnya bahwa Dilan adalah tipe idealnya. Sepertinya, setelah menyaksikan pertunjukan menakjubkan ini, rasanya ia menaruh perhatian lebih pada sang basist. Senyum salah tingkah yang tersorot kamera, membuat Sara ikut tersenyum.

“Ayo, kita wawancara Suara Kedua” ajak Adhisty, Sara mengangguk. “Lu observe dulu ya, terus nanti the summary kita kerjain bareng. Habis itu kita publish bareng, anggap aja gue mentoring lu asik” ujar Adhisty dengan nada semangatnya. “Okay, mba” akhirnya mereka berdua berjalan beriringan menuju backstage, ruang tunggu Suara Kedua. Diawali dengan berbincang ringan dengan managernya, akhirnya mereka berdua dipersilahkan masuk. Sara gugup bukan kepalang, baru pertama kali dia berhadapan langsung dengan artis besar. Ia menundukan kepalanya dan berjalan dibelakang Adhisty. “Hi, izin kami dari Lini Media, saya Adhisty dan partner saya Sara” Adhisty memperkenalkan diri mereka. Sara mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, kepada member Suara Kedua tanpa mengetahui seseorang mati-matian untuk tidak bertingkah bodoh.

Senan tengah sibuk bermain handphone sebelum akhirnya media menghampiri Suara Kedua ke ruang tunggu. Alangkah terkejutnya ia, Sara… dengan wajah cantiknya, rambut blondenya yang akan mewawancarainya kali ini. Sara yang selama ini Senan nantikan, “Halo, Senan” ia menjabat tangan Sara, digenggamnya begitu erat seperti tidak mau dilepas. “Hi Senan, nice to know you! I’m Sara” ujar si manis, persetan dengan perkenalan, jika Ia bisa… Ia ingin memeluk Sara melepas rindu yang tertahan sendirian.

Sara disatu sisi, mati-matian menahan salah tingkahnya. Baru saja ia memutuskan untuk menjadi seorang fans dari Senan, kali ini Senan menggenggam tangannya berkenalan dengannya. Oh mungkin ini akan menjadi hari paling beruntung untuknya. “Kita mulai wawancaranya ya” ujar Adhisty. “Okay” Dilan menimpali, Senan dan Sara terpaksa melepaskan genggamannya itu. Adhisty dan Sara duduk bersebrangan dengan member Suara Kedua. “Nanti lu notulen ya” ujar Adhisty pada Sara, Sara hanya mengangguk lucu. Senan yang terus menerus memperhatikan gelagat lucu Sara ia sampai-sampai menggenggam erat tangan Leo karenanya. Leo kebingungan, namun hal itu tidak Leo ambil pusing karena menurutnya mungkin Senan sedang nervous.

Wawancara berjalan dengan lancar, profesionalitas Senan menahan semua salah tingkahnya. Dilan menjawab juga dengan begitu serius, Leo juga menimpali dan sesekali mencairkan suasana. Sara dan Adhisty dibuat begitu nyaman dalam melakukan sesi wawancara. Hingga akhirnya wawancara selesai dilakukan dan Adhisty juga Sara berpamitan. “Sar, gue balik duluan ya… nyokap udah nelfonin” ujar Adhisty, “Sure mba, hati-hati ya” balas Sara. “Thank you guys, gue harus balik duluan. Today stage was wonderful, kalian keren banget” puji Adhisty sebelum ia benar-benar menghilang dari ruang tunggu.

“Sara” Senan memanggilnya, yang punya nama merasa terpanggil dan menengok ke sumber suara, “Iya?” jawabnya pelan. “Menurut lu, how about the performence? I haven’t hear from your perspective” ujar Senan. “Oh… em, actually sebelum dateng ke festival ini, gue sama sekali belum pernah dengerin lagu kalian. One of my friend udah sempet nyaranin tapi gue selalu lupa terus, he says lagunya bakal gue suka banget and turns out he knows me very well! Personally I do love it, dari beatnya, baitnya, esekusi intronya, the story line was epic! Beneran buat merinding dan gue jamming banget! I’m a big fan!” puji Sara sembari ia mengacungkan kedua jari jempolnya itu. “Thank you Sara! Appreciate it” ujar Dilan, Sara mengangguk malu, “Sama-sama”.

Kakak namanya gak asing tau” celetuk Leo, “Kaya pernah denger tapi dimana ya” lanjutnya. Senan mencubit kecil paha Leo setelahnya. Mereka berkontak mata, seperti bertelepati, Leo langsung menutup mulutnya ia tahu apa maksud abangnya itu. “Namanya kedengeran feminine ya, Leo? Nama lengkap gue Aksara kok” ujar Sara. *“Tapi emang dari kecil dipanggilnya Sara sama keluarga jadi lebih nyaman dipanggil gitu dibandingkan nama lengkap, takut… kaya diomelin rasanya” Sara menjelaskan, Leo mengangguk setuju. Ia lebih suka dipanggil Lele dibanding Leoneal! “Anyway, gue cabut duluan ya… kalian selamat beristirahat! stagenya memukau banget, pasti habis ini kalian bakal nambah fans 20 juta! Percaya sama gue”* ujar Sara, Senan terkekeh mendegarnya, “Terima kasih ya” kata Senan dengan nada paling lembut yang pernah dia lontarkan. Sara mengangguk dan pergi meninggalkan Suara Kedua.

Senan melemas, “Bang serius? Itu Kak Sara? Yang selama ini abang cari?” tanya Leo. Senan mengangguk, “Iya…” ujarnya. “Demi apa sih anjir? Sen.. KEJAR GOBLOK” titah Dilan, “Mintain nomer telfonnya sosmednya sekarang juga buruan” lanjutnya. “Iya bang mumpung belum jauh” ujar Leo. Akhirnya Senan bangkit dari duduknya, “Doain gue” ujarnya sebelum ia pergi mengikuti langkah Sara. Dari kejauhan Ia bisa melihat Sara berjalan kearah smoking zone, Senan mengikutinya dan berdiri seperti orang bodoh disana. Ia merogoh kantongnya, tidak ada satupun batang rokok yang ia kantongi. Sara yang sadar akan keberadaan Senan, menegurnya “Senan! Mau?” tawarnya. Dengan keberanian yang ia sudah pupuk tiga tahun lamanya itu, Ia mengangguk dan mendekat ke arah Sara. “Thank you, lupa banget… perasaan udah gue kantongin tadi” ujar Senan asal. Sara tertawa mendengarnya, “Ini juga tadi dapet dari mas-mas disini, dikasih dua” Sara menjelaskan. “Sara ada korek?” tanya Senan dengan rokok dibilah bibirnya itu. “Eh nggak punya, tadi minjem juga… ini pake punya gue aja nyalaiinnya” ujar Sara, Ia mendekatkan rokoknya dengan rokok dibibir Senan itu hingga benar-benar terbakar sempurna. Jarak mereka cukup dekat, Senan bisa melihat bulu mata lentik Sara dari posisinya. “Okay!” ujar Sara tak lama setelah ia berhasil membakar rokok Senan itu.

“Senan, jago main gitar dan bass gitu dari kapan?” tanya Sara memecahkan lamunan Senan yang daritadi bergelut dengan pikirannya sendiri. “Dari SMP kali ya? sebenernya gak jago-jago banget, keasah terus skillnya pas gabung band di SMA, kalau Sara? Suka main alat musik?” jelas Senan dan ia juga melontarkan pertanyaannya. “Oalah, soalnya tadi keren banget, gue sampe bengong liatnya, ini seriusan! Sebenernya pengen bisa tapi kayanya emang gak terlahir untuk itu deh” kata Sara. “Maksudnya?” Senan memiringkan badannya secara natural untuk bisa mendengar Sara bercerita lebih banyak. “Waktu itu udah sempet belajar, tapi gabisa-bisa, sampe gurunya kwalahan sendiri… terus sama teteh akhirnya diberhentiin deh lesnya” jawab Sara. “Oh ya? les apa emang?” tanya Senan penasaran, “Gitar juga! Karena gabisa terus teteh suruh gue ikut kelas flower arrangement” jelas Sara. “Terus Sara suka sama kelas flower arrangementnya?” tanya Senan dengan nada lembutnya, “Suka… Sara suka! Akhirnya bisa bantu teteh deh, by the way ini shameless promotion sih… Sara punya toko bunga sama teteh namanya fresh picked siblings, kapan-kapan Senan mampir ya!” pekik Sara dengan semangat. Tanpa Sara tau Senan sudah sangat sering berkunjung ke FPS, “Kaya pernah denger deh, waktu foto di studionya Gavi juga bunganya dari fresh picked siblings itu” sengaja Senan menyebutkan nama Gavi dipercakapan mereka. “Oh iya! Itu teteh loh yang arrange bunganya, maaf ya waktu itu gak sempet ketemu Senan dan temen-temen lainnya, soalnya lagi melamun di balkon” ujar Sara suaranya mengecil karena rasa bersalah. Senan tertawa, tidak sadar Senan menyentuh tangan Sara dan berkata, “Gapapa kok! Kan sekarang kita udah kenalan” ujar Senan. “Iya! Seneng deh bisa kenal Senan, Leo, Dilan! You guys are amazing” balas Sara.

“*Sara juga beyond amazing! Absolutely amazing” puji Senan, Sara tidak bisa berkutik dia malu bukan kepalang, ia hanya bisa memalingkan wajahnya dan menyesap rokoknya dengan kencang. “Thank you”* ujarnya pelan. “Apa? Gak kedengeran Sara” jahil Senan, “Kalau ngomong liat orangnya gak sih” lanjutnya. Sara membalikkan badannya, menatap lekat Senan dengan mata berbinarnya, “Thank you, Senan” ujarnya sambil tersenyum begitu manis. Senan terkekeh, mengangguk, “Iya… sama-saama” jawabnya. Kalau boleh jujur ingin sekali Senan mengelus rambut laki-laki didepannya ini. Namun apa boleh buat, dia lagi-lagi harus menahan segala keinginannya itu. “Senan” panggil Sara, “Iya, Sara?” jawab Senan, “Boleh nggak kalau sekiranya kita jadi mutual” tanya Sara ragu-ragu, “Of course, I wanna ask the same thing actually” Senan mematikan putung rokok yang sudah tersisa filternya itu, dan menyodorkan hadphonenya pada Sara. “May I ask your number and also social media?” tanya Senan. Sara juga mematikan putung rokoknya, ia menerima handphone Senan dengan semangat. Lalu ia menuliskan nomor telpon dan nama kontaknya disana, “Kalau social media… jarang sih gue buka selain twitter hehehe mau temenan di twitter sama instagram atau gimana?” tanya Sara, “Anything, dimana aja boleh” ujar Senan, “Gue tulis di notes aja ya Senan… gak enak kalau buka langsung aplikasinya” Sara kemudian menuliskan username twitter dan juga instagramnya tidak lupa dengan instagram fresh picked siblings tentunya. “Sudah” ujar Sara dan ia mengembalikan handphonenya itu. “Okay, nanti gue chat dan gue follow ya” ujar Senan, Sara mengangguk lucu.

“Abang, ayo we need to move to our next schedule, dicariin kemana-mana… eh Kak Sara” ujar Leo terhenti ketika melihat Sara disana, “I gotta go…” ujar Senan dengan suaranya yang payau, “Go ahead, hati-hati ya” ujar Sara, Senan mengangguk. “See you!” Senan melambaikan tangannya, Sara tersenyum dan mengangguk, ia juga membalas lambaian tangan itu, sampai Senan benar-benar menghilang dari pandangannya. Setelah memastikan Senan sudah pergi, Ia juga beranjak sembari mengipasi pipinya yang sudah panas itu. Malu bukan kepalang, dirinya bertukar kontak dengan artis yang baru saja jadi favoritenya itu. Dunia sedang baik pada Sara hari ini, mungkin moodnya akan sangat berbunga-bunga untuk seminggu kedepan.


메타데이터
post_id
b1658ba2ffb6
slug
first-stage-finally-we-talk-b1658ba2ffb6
url
https://medium.com/@lilithgaze/first-stage-finally-we-talk-b1658ba2ffb6
canonical_url
https://medium.com/@lilithgaze/first-stage-finally-we-talk-b1658ba2ffb6
author_url
https://medium.com/@lilithgaze
status
ok
fetched_at
2026-07-13 12:51:24