← Back to list

Mencintai Yang Sakral dalam yang Profan: Kritik atas Pandangan Instrumental terhadap Alam dalam…

Isu ekologi menjadi sebuah diskursus yang tiba-tiba gencar dibicarakan akhir-akhir ini oleh masyarakat Indonesia. Jika kita melihat…

Dombakesepian · 2026-04-20 17:48 · 0 claps · 9.2 min read
#ecological-crisis #theology #indonesia
Open on Medium ↗
Wiki topics: HUM · Humanities · General 🕊️ · Religion

Mencintai Yang Sakral dalam yang Profan: Kritik atas Pandangan Instrumental terhadap Alam dalam Teologi Ekologi

Isu ekologi menjadi sebuah diskursus yang tiba-tiba gencar dibicarakan akhir-akhir ini oleh masyarakat Indonesia. Jika kita melihat berbagai tagar bertebaran di media sosial seperti #SaveRajaAmpat, #IndonesiaGelap, #prayForSumatera #SaveMentawai, #PapuaBukanTanahKosong, dan banyak lagi tagar yang menggambarkan bangkitnya kesadaran ekologis akhir-akhir ini. Kita juga mendapati komentar dari Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) berkenaan dengan hal ini, yaitu PGI sepakat untuk menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dirancangkan akan di laksanakan di Merauke sebagai bagian dari proyek ketahanan pangan yang diusulkan oleh Presiden. Pertimbangan tanah adat sebagai basis ekonomi dan spiritualitas lokal, ancaman kerusakan ekologis, dan kekhawatiran akan militerisasi menjadi sebab PGI menolak rancangan PSN ini. Sampai disini kita melihat besarnya minat masyarakat dewasa ini terhadap isu ekologis yang sedang terjadi. Saya menduga kondisi sosio-politislah yang menjadi sebab terbesar bagi timbulnya minat topik ini ke permukaan. Kekecewaan terhadap pemerintah menciptakan sebuah iklim ruang publik yang demikian bergairah dalam menyatakan kritik sosialnya dengan berbagai macam cara. Saya melihat kehadiran media sosial memberikan dampak yang sangat signifikan bagi tergiringnya opini sosio-politis. Kritik terhadap kebijakan pemerintah gencar dilakukan sebagai respon atas kekecewaan terhadap kebijakan yang berlaku. Kritik ini hadir baik melalui medium konten media sosial, maupun juga penggunaan media sosial sebagai alat penggerak massa. Dalam konteks sosio-kultural kontemporer, ruang publik digital cenderung membentuk pola komunikasi yang lebih ekspresif dan reaktif, sehingga diskursus yang muncul di media sosial sering kali didominasi oleh respon emosional ketimbang argumentasi yang tersusun secara sistematis. Tentunya ada beberapa konten kreator yang benar-benar memberikan analisis yang dalam mengenai fenomena ini, namun dalam hemat saya intensi netizen terhadap konten tersebut tidak lain membawa suatu ideologi kebencian yang mendahului segala rasionalitas argumentasi. saya tidak mencoba membela pemerintah dalam hal ini, namun sikap semacam ini juga perlu kiranya kita sadari sebagai sebuah autokritik terhadap kita sebagai pejuang demokrasi. Dengan demikian kita dapat melihat sebuah fakta bahwa sebenarnya masyarakat kita subjektif dalam penilaian. Bukan berarti saya ingin menggunakan kategori ilmu alam untuk meninjau fenomena sosial ini, namun sikap ini sendiri dalam hemat saya tidak mencerminkan sikap bijaksana sebagai seorang mahkluk etis. Ruang publik seakan terpecah menjadi dua kutub dikotomi yang ekstrem. Pemerintah seakan menjadi iblis dengan segala jenis kebijakannya, sedangkan aktivis adalah martir dengan semua tindakkannya.

Stigma pemerintah adalah iblis sudah berkembang luas, paling tidak yang saya ketahui dalam sosial media seperti instagram. Saya sebelum menulis ini melihat konten dari salah seorang menteri dibidangnya yang yang mengedukasi penggunaan bantalan leher untuk perjalanan mudik di moda transportasi kereta. tidak ada yang salah dengan edukasi yang diberikan, bahkan tidak sedikitpun menyinggung kepentingan politis manapun. Namun apa yang saya dapati dalam komentar sungguh memprihatinkan, seperti makian, “konten tidak penting”, “kok tidak kerja”, dan beberapa orang yang adu nasib karena mereka menggunakan gerbong ekonomi. Contoh lain juga saya dapati ketika sebuah konten yang memperlihatkan uji coba rudal jarak jauh yang baru dibeli oleh kementerian pertahanan. Komentarnya seperti, “pasti ladang korupsi”, “buang-buang duit”, “lebih bermanfaat kalo digunakan untuk menangani kemiskinan”, dan banyak lagi komentar negatif yang bertebaran di konten yang lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam ruang publik dewasa ini, hampir setiap tindakan pemerintah mudah dibaca dalam kacamata kecurigaan politis. Bahkan kebijakan atau aktivitas yang tidak berkaitan langsung dengan kepentingan politik sering kali ditafsirkan dalam kerangka konflik antara pemerintah dan masyarakat. Dan hal yang pasti adalah apapun prihal yang yang berkenaan dengan keburukan pemerintah akan cepat viral dan isu yang dibawanya akan menjadi perdebatan panjang. Dalam konteks ini, masyarakat tampak menunjukkan kecenderungan ambivalen dalam merespons suatu isu. Kritik akan suatu isu bukan ditempatkan sebagai sebuah keprihatian inheren akan isu tersebut, melainkan suatu medan pertempuran kepentingan politis semata. Mereka peduli bukan karena memang peduli, namun karena pemerintah yang melakukannya. Saya melihat fenomena serupa dalam munculnya isu kerusakan ekologis ke permukaan. Dari apa yang saya saksikan, bahwa isu ekologis semacam demikian sebenarnya sudah menjadi masalah laten yang tidak ada habisnya disiarkan dalam pemberitaan TV nasional sudah sejak lama, ataupun media massa lainnya. Namun baru akhir-akhir ini masalah ini mendapatkan atensi yang serius dari masyarakat luas pada umumnya. Jika dahulu berita ini hanya panas di telinga orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap isu ekologis, maka audiensinya dewasa ini menjadi lebih luas sebab diboncengi dengan muatan politis. Dengan daya politis dan disertai dengan analisis kapitalisme dalam krisis ini tidak mengherankan jika pada akhirnya isu ini akan sangat sensitif di telinga masyarakat kita yang masih hidup dalam garis kemiskinan dan ketimpangan sosial yang tinggi.

Dengan demikian kita mendapati satu kekurangan masyarakat kita dalam menyikapi isu ekologis adalah bahwa isu ini hanya bernilai secara instrumental dalam kehidupan masyarakat. Artinya kekuatan akan daya makna alam itu didapati sejauh mana isu ini digumuli dalam kerangka sosio-politis yang sedang ramai dibincangkan, dan bukan bernilai secara intrinsik dalam diri alam itu sendiri. Sehingga kemungkinan jika keadaan sosio-politis menjadi stabil, maka isu ekologis mungkin akan ditinggalkan. Cara berpikir demikian kiranya mirip dengan apa yang diajukan oleh Leonardo Boff yang melihat keadilan sosial dan kelestarian ekologi sebagai sebuah kait kelindan. Bumi adalah rumah bersama, namun sistem kapitalisme selain menindas secara sosial juga memberangus rumah bersama ini. Tinjauan alam dalam dua kategori ini, yaitu intrinsik yang menekankan nilai dalam dirinya sendiri dan instrumental yang menekankan sejauh mana alam berguna bagi manusia menjadi penting. Dua kecenderungan ini akan menentukan bagaimana manusia memandang alam dan bersikap terhadapnya. Maka penting bagi kita untuk mencari nilai dari alam itu sendiri dalam dirinya sendiri supaya kita mempunyai dasar yang teguh bagi penghargaan kita akan alam. Kita akan meninjau alam sejauh mana bernilai, apakah kita terlalu naif untuk melakukan pencarian nilai alam secara intrinsik, atau mungkinkah bagi kita mencari alternatif lain dari nilai instrumental alam yang darinya penghargaan akan alam itu dimungkinkan.

Untuk mendalami alam secara aksiomatis, maka perlu kiranya kita menemukan sebuah ruh yang menyatukan seluruh kehidupan organisme yang ada dalam alam, saya mengusulkan sebuah istilah “metafisika tentang alam”. Metafisika tentang alam merujuk pada usaha untuk menyingkap hakikat terdalam dari keberadaan alam, bukan sekedar sebagai objek yang berguna, melainkan sebagai realitas yang memiliki makna dalam dirinya sendiri. Untuk masuk lebih dalam mengenai metafisika tentang alam, perlu ditekanan di awal bahwa tulisan ini bertolak dari sebuah refleksi teologis tentang alam, yakni teologi ekologi. Dengan demikian untuk menemukan metafisika tentang alam, saya kira akan lebih limpah dalam analisis ini jika kita memulainya dalam sebuah tinjauan teologis terlebih dahulu. Persoalan mengenai cara manusia memahami alam bukanlah sesuatu yang baru. Dalam diskursus klasik, Lynn White Jr. mengemukakan tesis yang cukup provokatif. Bagi White akar dari krisis ekologis modern justru dapat ditelusuri pada cara pandang teologis manusia terhadap alam. Bertolak dari tesis ini kita akan melihat secara jernih bagaimana sebenarnya paradigma masyarakat modern yang terdominasi oleh logika barat yang melanggengkan kekerasan terhadap alam. Tesis White ini membantu kita menemukan akar dari pemahaman instrumentalis yang seringkali dikenakan terhadap alam.

Untuk memaparkan tesis White saya merujuk buku “pengantar Teologi Ekologi” karya Emanuel Gerrit Singgih yang di dalamnya Singgih memaparkan ringkasan yang telah dibuat oleh Todd LeVasseur dan Anna Peterson. Pertama, tesis ini mengangkat ke permukaan agama dan budaya sebagai akar krisis lingkungan hidup atau ekologi. Faktor yang terutama disini menempatkan ideologi, budaya, dan agama sebagai sebuah pendorong bagi tindakan. Dengan demikian apa yang diperbuat seseorang tergantung dari apa yang mereka pikirkan mengenai diri mereka sendiri dalam relasi dengan benda-benda di sekitar mereka. Ekologi manusia dengan demikian dikondisikan oleh kepercayaan-kepercayaan mengenai hakikat dan tujuan manusia, dengan kata lain oleh agama. Kedua, tesis ini menekankan bahwa agama secara khusus kekristenan di dunia barat sebagai penyebab kerusakan ekologis. Menurut White, agama Kristen Barat adalah agama yang paling antroposentrik daripada agama-agama lain di dunia. Sikap antroposentris ini diperoleh dari pemahaman bahwa manusia ambil bagian dalam transendensi Allah terhadap alam. Manusia ada di dalam alam, tetapi manusia berpihak kepada Allah yang mengatasi alam, dan dengan demikian manusia pada hakikatnya terpisah dari alam dan mengatasi alam, meskipun alam dan manusia adalah sama-sama ciptaan. Kita dapat memahami lebih mudah mengenai konsep ini ketika seringkali kita mendengar gagasan bahwa manusia adalah mahkota ciptaan. Hanya manusia yang mengandung roh, sedangkan alam tidak, melainkan benda-benda material biasa. Dengan berkembangnya agama Kristen, roh-roh yang tadinya ada dalam objek-objek alam telah menguap. Hanya manusia saja yang memegang monopoli atas roh, dan runtuh sudah larangan-larangan mengeksploitasi alam. Agama Kristen sebagai agama baru, memungkinkan eksploitasi alam dalam suasana hati yang tidak peduli terhadap perasaan objek-objek alam. Ketiga, White mencoba memberikan jalan keluar terhadap problematika ini. Menurutnya karena masalah ini bersifat religius, maka jalan keluar yang ditempuh juga mesti berasal dari religiusitas. Dalam agama Kristen Barat sendiri, ada potensi-potensi yang memungkinkan transformasi pemikiran untuk memulihkan dan mempraktikkan sikap-sikap yang kurang destruktif. Menurut White, salah satu potensi pemikiran adalah pemikiran-pemikiran teologis Fransiskus dari Assisi. Bagi Fransiskus dari Assisi, alam dilihatnya bukan sebagai objek, melainkan menyapanya sebagai saudara/saudari. Jadi pemikiran yang semulanya antroposentris diusulkan diganti dengan pemikiran ekologis dari Fransiskus dari Assisi yang lebih melihat alam sebagai sesuatu yang dekat dengan manusia.

Jika kita menarik tesis White ini dalam kerangka pembahasan sebelumnya, maka kita disini mendapati bahwa kecenderungan manusia modern untuk memandang alam secara instrumental tidak datang secara tiba-tiba, melainkan berakar pada konstruksi teologis tertentu yang menempatkan manusia di atas alam. Dengan demikian krisis ekologis tidak hanya krisis praksis, tetapi juga krisis cara pandang yang bersifat mendasar. Dengan demikian menjadi jelas bahwa krisis ini sebenarnya adalah sebuah permasalahan ideologis manusia. Maka kita dapat dengan jelas melihat alasan para pegiat ekologi untuk mendekati problematika ini dalam perspektif etika, Misalnya dalam diskursus ekologi secara spesifik yang terkait dengan teologi, Borrong menawarkan suatu etika yang disebutnya sebagai “etika bumi baru”. Borrong mengusulkan suatu etika yang bagi saya sebuah imperatif untuk berkorban. Berkorban supaya manusia mau dengan rendah hati hidup dalam kemajuan yang lambat asal keseimbangan dengan alam terjalin. Singgih dalam tulisannya menanggapi Borrong mengusulkan hal lain yang bagi saya lebih dalam, yaitu masuk kedalam ranah teologis. Bagi Singgih jika masalah utamanya disini adalah pemahaman jemaat mengenai teks, maka yang harus dirombak adalah cara kita membaca teks ekspolitatif tersebut. Dalam uraiannya lebih lanjut Singgih menawarkan beberapa alternatif penafsiran terhadap teks yang disinyalir rentan terhadap penafsiran yang melegitimasi kekerasan terhadap alam. Tapi disini kita tidak akan masuk kedalam uraiannya lebih lanjut. Kita mencoba menelusuri jalan lain yang sekirannya dapat menjadi usulan yang menambah kelimpahan perspektif dalam menyikapi isu ini.

Saya pikir kita tidak perlu menyangkali pembedaan antara manusia dengan alam untuk mencari sebuah nilai intrinsik dari alam. Kita masih bisa berkata bahwa manusia adalah mahkluk rasional yang membedakannya dengan ciptaan lainnya sebagaimana yang dikatakan Rene Descartes. Yang menjadi permasalahan sendirinya bukan terletak pada apakah ide itu salah, namun pada cara kita merespon ide tersebut. Benar bila dikatakan pengutamaan manusia sebagai mahkluk yang rasional ini melahirkan spirit yang sekiranya melihat dunia secara tidak berimbang. Manusia seakan dengan satu keutamaan ini dapat menundukkan mahkluk non-manusia kedalam gengamannya. Manusia melihat mahkluk non-manusia sebagai benda semata. Tentu saja kita tidak setuju dengan implikasi ini. Namun apa yang semestinya kita perhatikan adalah bahwa semua sikap destruktif ini adalah sebuah bentuk respon terhadap ide dan bukan bagian dari ide tersebut. Dalam paparan yang sudah kita lihat, kita menjumpai ketergantungan manusia terhadap alam. Dengan demikian kita dapat berkata bahwa kita unggul sebagai mahkluk rasional, namun kita rapuh secara produktifitas kebutuhan. Kita harus mengakui kebergantungan kita akan alam dengan demikian dalam hal ini alam lebih tinggi dari manusia. Fragmen yang rapuh dan kuat ini tentunya tidak akan indah jika berdiri secara independen. Ketersalingan di antara semua yang ada menciptakan makna yang sempurna bagi kehidupan. Namun melihat nilai alam ini dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan manusia masih memperlihatkan kepentingan yang instrumental semata.

Kita akan kesulitan menemukan nilai intrinsik alam jika kita terus berkutat pada analisis filsafat, etika, sosial, ekonomi, atau semacamnya. Saya menganjurkan supaya kita masuk kedalam ranah teologis sebagai sebuah pencarian akan nilai intrinsik dari alam. Saya akan menunjukan hal ini dengan teks alkitab. Istilah “alam” (nature) pertama-tama harus dibedakan dari istilah “ciptaan” (creation). Meninjau teks Kejadian pasal 1 kita akan menjumpai perbedaan ini. Saya melihat bahwa ayat 1–2 bisa dibaca sebuah kondisi pra-creation. Jadi sebelum penciptaan enam hari yang secara popular kita dengar sudah ada material yang darinya penciptaan terjadi. Disebutkan bahwa bumi sudah ada, hanya saja belum berbentuk dan kosong. Samudera sudah ada, hanya saja masih gelap gulita. Roh Allah hadir disana bahkan ketika sebelum manusia ada. Kita menemukan beberapa fakta penting disini. Pertama, alam bukanlah bagian dari ciptaan. Mungkin kita bisa sedikit meluruskan arti “ciptaan” sebagai sebuah hasil dari enam hari penciptaan yang tercatat dalam Alkitab. Saya tidak sedang mensejajarkan alam sebagai sebuah zat yang setara dengan Allah. Namun informasi mengenai keberadaan material ini pra perciptaan memberikan informasi yang cukup bagi kita untuk mempertimbangkan keluhuran alam sebagai yang lain dari ciptaan. Kedua, ciptaan yang lahir dari alam. Alam menjadi dasar dari segala sesuatu yang tercipta. Tanpa alam sebagai kondisi pra-creation tidak ada dasar kehidupan. Ketiga, Roh Allah yang melayang-layang di atas permukaan samudera memerikan informasi kepada kita akan kehadiran Allah dalam alam. Konsep “Allah berdiam bersama dengan kita” tidak terbatas sebagai misi kepada manusia perjanjian, atau manusia secara umum saja. Sejak alam sebelum diciptakan Allah terlah berdiam bersama dengan kita”. Bukan karena manusia, Allah membersamai kita, buktinya toh Allah juga berdiam bersama alam sejak sebelum penciptaan. Dengan demikian kita dapat menemukan sebuah nilai intrinsik dari alam. alam bernilai sebab dirinya adalah alam. Oleh energi Allah, alam menjadi hidup. Kita dengan demikian dapat membangun spiritualitas yang mendalam dengan alam. Konsep dalam tradisi ortodoks timur seperti Panenteisme sekiranya juga dapat memperdalam refleksi kita mengenai hal ini.

Dengan demikian kita tidak lagi melihat alam semata sebagai saran bagi pemenuhan kebutuhan manusia, melainkan sebagai realitas yang memiliki makna dalam dirinya sendiri, yang dalamnya Allah telah lebih dahulu hadir dan berkarya. Apa yang ditunjukan Lynn White Jr. menjadi peringatan bahwa cara pandang teologis yang keliru dapat melahirkan praksis yang destruktif, namun sekaligus membuka kemungkinan bahwa transformasi juga dapat dimulai dari pembaruan cara pandang yang sama. Dalam terang ini, spiritualitas yang melihat alam sebagai “yang lain” yang sarat makna menjadi penting untuk dikembangkan, bukan untuk meniadakan keunikan manusia, tetapi untuk menempatkannya kembali dalam jaringan relasi yang saling bergantung. Apa yang dihidupi oleh Francis of Assisi dengan menyapa alam sebagai saudara dan saudari memperlihatkan kemungkinan lain dari cara berada manusia di dunia: bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai bagian dari sebuah persekutuan kosmik. Dalam horizon ini, mencintai yang sakral dalam yang profan bukan lagi sekadar gagasan puitis, tetapi sebuah sikap eksistensial yang mengakui kehadiran ilahi dalam keseluruhan realitas. Maka teologi ekologi tidak berhenti pada kritik atau etika, tetapi bergerak menuju pembentukan cara pandang baru, cara pandang yang memungkinkan manusia hidup dengan rendah hati di tengah ciptaan, menjaga, merawat, dan sekaligus belajar darinya.


메타데이터
post_id
b17568751cdc
slug
mencintai-yang-sakral-dalam-yang-profan-kritik-atas-pandangan-instrumental-terhadap-alam-dalam-b17568751cdc
url
https://medium.com/@dombakesepian123/mencintai-yang-sakral-dalam-yang-profan-kritik-atas-pandangan-instrumental-terhadap-alam-dalam-b17568751cdc
canonical_url
https://medium.com/@dombakesepian123/mencintai-yang-sakral-dalam-yang-profan-kritik-atas-pandangan-instrumental-terhadap-alam-dalam-b17568751cdc
author_url
https://medium.com/@dombakesepian123
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30