Love in Arctic 🔞 (Zayne x Female Reader)
Kamu pikir kamu gagal merayakan ulang tahunnya, namun sepertinya ini lebih dari yang diharapkan.
Love in The Arctic 🔞 (Zayne x Female Reader)
Kamu pikir kamu gagal merayakan ulang tahunnya, namun sepertinya ini lebih dari yang diharapkan.
CONTENT WARNING:
Zayne x Female reader, written in bahasa indonesia, NSFW in terms of sex, vulgar words, nipple play, raw sex, food play, bathroom sex, kissing, blow job, deep throat, no mention of Y/N, using second person’s POV.
DISCLAIMER:
Cerita ini menggunakan karakter milik InFold Pte.Ltd yaitu Zayne, love interest di dalam video game berjudul Love and Deepspace. Karakter dalam cerita ini tidak berkaitan dengan alur video game dan juga keluar dari karakter asli. Dimohon untuk tidak mensangkut-pautkan karakter di cerita ini dengan karakter dalam game.
Arctic, 2025.
Perasaanmu hari ini sangat berkecamuk, campuran emosi antara kesal, tidak sabar dan sedih. Selalu begini, entah mengapa sangat sulit, seperti tidak direstui oleh semesta. Bagaimana tidak? Kamu yang sebelumnya sudah menyiapkan makan malam bersama sebelum ulang tahun kekasihmu, mendadak harus dimajukan karena Zayne mendapat tugas untuk pergi ke Arctic. Untungnya, Zayne berpikir cepat dan mengajakmu ikut bersamanya—menghindari perselihan antara engkau dan dirinya. Kamu juga senang karena ia memutuskan untuk membawamu daripada meninggalkanmu sendirian di Linkon.
Tapi kembali ke paragraf pertama kalimat kedua, kali ini semesta kembali tidak merestui rencanamu merayakan ulang tahun Zayne di Arctic. Lelakimu itu sejak pagi sibuk bersama dokter Noah, pergi meninggalkanmu sendirian di kabin kayu yang hangat demi pekerjaannya. Meski kamu lega karena dia sempat berpamitan juga memberimu kecupan hangat, tapi hingga detik ini, Zayne belum kembali. Dengan langkah gontai, kamu taruh kue ulang tahun yang dipersiapkan dengan penuh cinta kembali ke dalam kulkas—mungkin kamu akan merayakan ulang tahunnya besok.
Baru saja hendak berdiri untuk menutup kulkas, sepasang tangan melingkar di pinggangmu, dapat kamu rasakan hembusan napas hangat di tengkukmu.
Ah, ini dia. Orang yang kamu nantikan.
“Sayang.” suara lembut Zayne menyapa telingamu. “Maaf pulangnya terlalu malam. Kamu nunggu lama, ya?” tanya-nya dengan nada bersalah. Padahal ini hari ulang tahunnya dan bukan ulang tahunmu, tapi kenapa Zayne yang harus merasa bersalah?
Kamu membalikkan badanmu untuk menghadapnya, kemudian ikut memeluk tubuh yang lebih besar darimu itu. Senang rasanya bisa merasakan Zayne ada disini, dalam pelukan hangatmu, seolah ia berada di dalam genggamanmu dan tak bisa pergi kemanapun lagi.
“Kenapa kok kamu yang minta maaf, Mas?” Bukannya menjawab, kamu malah melontarkan pertanyaan baru. “Aku sedih, sih, karena belum merayakan hari kelahiranmu. Aku gak apa-apa, I mean.. aku lebih sedih karena ini momen setahun sekali, tapi kamu justru harus melakukan pekerjaan.. uh, bukan maksudku benci pekerjaanmu atau—”
“I know.” Zayne memotong cepat kalimatmu, lalu menatap paras indahmu dan mengecup lembut bibirmu—pelan, dan hangat. “Mau rayakan ulang tahun Mas sekarang? Sebelum berganti hari.”
Kamu anggukkan kepalamu pelan, lalu melepaskan diri dari pelukan tadi. Kembali kamu berjongkok untuk mengambil kue ulang tahun yang baru saja kamu masukkan, lalu kamu taruh di meja dekat perapian. Setelah lilinnya menyala, dengan mata berbinar kamu melayangkan tatapan pada Zayne penuh harap. “Ayo, tiup lilinnya dan buat harapan.”
Zayne tersenyum kecil, lelaki bersurai hitam itu menutup kedua matanya dan memulai sesi ‘Make a wish’. Nampak sekali dirinya khidmat, seolah memanjatkan banyak doa baik untuk dirinya dan orang di sekitarnya dalam sebuah catatan panjang. Setelah selesai, ia membuka matanya lalu meniup lilinnya dan segera disambut tepuk tangan senang darimu.
“Yeay, selamat ulang tahun Mas!” Katamu dengan antusias. Kamu duduk di sebelahnya lalu menyandarkan kepalamu di bahunya. “Kalau boleh tau.. Mas minta apa tadi? Lama sekali sebelum tiup lilin.” Tanyamu penasaran, seperti anak kecil yang terus menerus bertanya sampai berhenti ketika pertanyaannya sudah terjawab.
Zayne yang menyadari dirinya menjadi tumpuan, segera melingkarkan tangannya di bahumu, membuatmu merasa semakin nyaman untuk bersandar. Dikecupnya keningmu lembut sebelum ia menjawab, “Banyak sekali doa yang mas panjatkan di ulang tahun kali ini. Tapi yang paling utama adalah, Mas ingin bisa selalu bersama kamu, seperti saat ini.”
Mendengar itu, jantungmu bertalu dengan cepat. Kamu sembunyikan wajahmu di ceruk lehernya, membuat Zayne terkekeh pelan karena sikapmu yang lucu. “Makan kuenya besok aja ya? Kita—”
Kamu segera menegakkan tubuhmu, tidak lagi bersandar padanya lalu menatap iris hazel tersebut dalam-dalam. “Mas mau makan aku, gak?” Sanggahmu cepat tanpa berpikir dua kali.
Pertanyaanmu itu sukses membuat Zayne melongo, lelaki itu bahkan sempat menggelengkan kepalanya cepat seolah berusaha menyadarkan dirinya apakah ia berada dalam mimpi atau memang sedang berada di dunia nyata. Meneguhkan hati, kamu kembali mengulang pertanyaan tersebut. "I said.. Mas mau makan aku gak? Kuenya bisa besok.”
Yang tidak kamu duga adalah jawaban darinya.
“Mas punya ide yang lebih bagus.”
“Mmh.. Mas.. jangan gi—ahh.. please..”
Entah sejak kapan dirimu sudah bertelanjang bulat, di atas kasur hangat, dengan Zayne berada di bawahmu—menghisap bagian paling sensitif dari tubuhmu. Kamu mati-matian menahan untuk tidak mencapai puncak karena demi Tuhan, permainan lidah lelakimu ini patut diacungi jempol. Rasanya ia lah yang lebih mengenal tubuhmu dibanding dirimu sendiri.
Kamu melenguh kembali ketika lagi-lagi Zayne menghisap bagian klitorismu, menggigitnya kecil untuk menggoda dan sesekali mencubitnya dengan tangan.
Panas, panas, ingin lagi, ingin lebih.
Tanpa sadar, kamu melebarkan kakimu untuk memberi kekasihmu akses yang lebih mudah dalam menyantap bibir bagian bawah itu. Matamu membulat ketika tangan Zayne kembali mengoleskan krim yang ada di kue ulang tahunnya ke bagian luar vaginamu.
“Mas! Jangan lagi! Ah!” Kamu mendongak, merasakan sensasi geli yang anehnya ingin kamu rasakan lagi dan lagi. Campuran dari lengketnya krim kue ulang tahun, basah lidah dan jari jemari Zayne membuatmu hilang akal sepenuhnya—pasrah dan menyerahkan tubuhmu kepada kekasihmu.
“Manis, sayang. I love this. I love all of you.” Zayne bergumam tidak jelas, menciptakan getaran pada klitorismu yang sebelumnya masih ia hisap dengan lahap, membuatmu lagi-lagi mendesah kencang. Bisa-bisanya ia masih menggodamu dengan kata-kata manisnya sembari menghisapmu hingga gila???
Hah, tidak habis pikir. Seseorang yang nampak bersih dan suci seperti Zayne bisa berbuat hal kotor seperti ini. Bukan berarti kamu tidak menyukai, kamu sangat menyukainya, hanya saja ini terlalu berlebihan. Kamu seperti dibuat mabuk olehnya. “Zayne—please, ah. Aku.. aku mau pipis, berhenti, nanti wajahmu—”
“—Ngh!” Tubuhmu menggelinjang sebelum mampu menyelesaikan kalimatmu, menyemburkan cairan bening yang kamu sendiri tidak paham itu adalah air seni biasa atau orgasme hebat. Rasanya seperti menyentuh tempat tertinggi di surga, terlepas dari segala beban yang mengikat di dunia. Setelah akhirnya kamu merasa tidak ada lagi yang keluar dari bibir bawahmu, saat itulah kamu kembali menapak tanah dan panik karena wajah Zayne basah karenamu.
“Mas, maaf aku—”
Tidak kamu sangka, Zayne justru terkekeh pelan sembari mengusap cairanmu di wajahnya menggunakan sapu tangan miliknya. “Enak ya rasanya kalau dimainin sekaligus begitu? Sampai muncrat gini.”
Wajahmu memerah seketika, ucapannya itu terasa sangat cabul! Kamu benar-benar tidak pernah melihat sisi ini dari dirinya. Belum selesai, Zayne kembali mencolek sisa krim kue lalu menaruhnya di sekitaran dadamu. Kamu menahan napas ketika lelaki itu dengan wajah merah, mata sayu penuh nafsu menatap wajahmu sembari sesekali mengecup payudaramu yang bulat dan sempurna di telapak tangannya.
“Ide Mas bagus, bukan?” Zayne menaruh jari telunjuk dan jempolnya di putingmu, memutarnya sebentar sebelum mencubit dan memainkannya—membuatmu menggeliat dan melenguh pelan karena hal itu memantik kembali berahimu. “Kuenya tidak sia-sia, mas juga bisa makan kamu sekalian. Win-win solution.” Lanjutnya lagi lalu melahap putingmu yang lain, sesekali menggigit kemudian menghisap kuat-kuat seperti bayi yang kehausan.
Tidak sanggup dengan stimulasi yang kekasihmu lakukan di payudaramu, kamu arahkan kedua tanganmu ke rambut Zayne—meremasnya kuat demi menyalurkan rasa nikmat yang menggelitik perut bagian bawahmu. “M-Mas.. hhh.. geli..” Kamu memprotesnya karena kedua putingmu menjadi sasaran cabul Zayne saat ini.
Kamu mulai bergerak-gerak kecil, menahan sesuatu yang mungkin akan segera keluar sesaat lagi hanya karena hisapan dan permainan tangan yang dilakukan Zayne di payudaramu.
“Mmh.”
Kamu membulatkan matamu ketika mendengar Zayne menggeram pelan, menahan desahnya. Ternyata lututmu tidak sengaja mengenai pusat tubuhnya yang sudah mengeras sejak tadi. Ingin mendengar suara berat nan seksi itu lagi, kamu kembali menggesekkan lututmu ke arah penisnya—dan berhasil, gerakanmu membuat Zayne menghentikan kegiatan ayo-mainkan-payudara-sang-kekasih dan menatapmu sembari terengah.
“Yang pertama itu tidak sengaja, selanjutnya kamu sengaja, ya?” Tanya Zayne, membuatmu sedikit bergidik ngeri karena napasnya yang hangat menyapu payudaramu yang masih sensitif akibat dirinya.
“Sayang—ah.” Zayne membenamkan wajahnya di ceruk lehermu ketika kamu kini beraksi dengan kedua tanganmu—membelai lembut penisnya dari luar celana hitam kesukaannya itu. Kamu sedikit takjub ketika ukurannya semakin membesar karena kamu pikir ketika lututmu tidak sengaja menyentuh penisnya tadi, ukurannya sudah maksimal, ternyata belum sepenuhnya tegang.
Memangnya benda ini bisa masuk ke dalam dirimu, ya?
Hah?
Kamu menggelengkan kepalamu, menghapus pikiran kotor tersebut. Tidak mungkin Zayne akan melakukannya, ‘kan? Sejauh ini, kalian hanya pernah melakukan sampai berciuman dan memainkan alat kelamin masing-masing. Tidak pernah sampai sejauh itu...
Apa hari ini Zayne mungkin akan melakukannya?
Perlahan kamu menurunkan celana hitam tersebut, membebaskan penis Zayne yang sudah sepenuhnya tegang dan mengkilap karena cairan pre-cum. Wah.. berapa kalipun kamu melihat ini, kamu masih tetap tidak habis pikir dengan ukurannya.
Jarimu dengan telaten mencolek cairan tersebut lalu menggosokkannya ke seluruh bagian penis kekasihmu, membuatnya gemetar pelan di atas tubuhmu. “Mas..” Kamu menghentikan kalimatmu, merasa ragu, tapi tanganmu tetap bergerak naik turun. Setelah memantapkan hati, kamu menelan ludah, “Hari ini mau masuk gak?”
Penis yang sedang berada di genggamanmu merespons, menggantikan pemiliknya yang malah bungkam dengan wajah dan telinga memerah. “Mau..” Zayne menjawab pelan, lalu menarik kepalanya dari ceruk lehermu. “Memangnya boleh?” Dia bertanya dengan ragu, seolah memastikan bahwa tawaranmu dibuat berdasarkan keputusan rasional dari otakmu, bukan keputusan impulsif karena kalian sedang berkabut nafsu.
Kamu mengangguk cepat, meyakinkan bahwa ini bukan hanya racauan nafsu karena atmosfer sekitar memanas. “Pelan-pelan, ya? Aku sedikit takut—”
Zayne segera membungkam bibirmu lembut, menarikmu dalam cumbuan yang cukup panas. Lelaki itu mengetuk pintu bibirmu dengan lidahnya agar kamu membukakan akses untuknya dan dituruti olehmu secara sukarela setelahnya. Terengah, dia menarik dirinya guna memberimu ruang untuk bernapas.
“Promise I‘ll be gentle. Don't worry.”
Dia mengulurkan kedua jarinya ke depan mulutmu. “Suck it.” pintanya lembut, kamu mengangguk dan segera menjilat dua jarinya—mengulum serta membasahinya dengan air liurmu. Setelah dirasa cukup, Zayne tarik kedua jarinya dari bibir atasmu dan ia pindahkan ke bibir bawahmu, membuatmu meremas seprai dan melenguh nikmat. Kamu kembali lebarkan kedua kakimu namun rasanya lemas hingga akhirnya kamu hanya melingkarkan kedua kaki di pinggang Zayne.
“Bilang sama mas kalau rasanya sakit.” Satu tangan Zayne menggenggam jemarimu, satunya lagi memposisikan penisnya di bagian luar bibir bawahmu dan menggesekkannya, seolah menggoda dan membuatmu tidak sabar.
Caranya berhasil karena kamu merengek. "Mas yang betul.” ucapmu sebal.
Zayne terkekeh pelan, dia sebetulnya berusaha mencairkan suasana agar kamu tidak terlalu tegang. Melihatmu sudah bisa protes, dia mendorong pinggulnya, membuat penisnya masuk ke dalam vaginamu yang sudah sangat licin hasil orgasme sebelumnya.
"Mmh!” Kamu mengerutkan dahimu, genggamanmu di tangan Zayne semakin kuat untuk menahan rasa sakit. Siapa yang bilang kalau melakukan penetrasi itu enak? Sial, rasanya tubuhmu seperti dibelah dua. Kamu tundukkan kepalamu, ternyata penis Zayne belum semuanya masuk dan kamu sudah merasa penuh.
“Don‘t cry.” Zayne mengecup keningmu penuh kasih, memberikan ketenangan seolah bukan dialah yang sedang menghancurkanmu dalam ombak kenikmatan yang segera datang. Tangisan diammu yang awalnya keluar karena rasa sakit, perlahan berganti menjadi lenguhan-lenguhan kecil. Milik Zayne menggesek dinding vaginamu sebelum akhirnya lelaki itu menarik keluar penisnya namun segera melesakkannya kembali dalam satu hentakan cepat.
“Ngh!” Kamu menjulurkan lidahmu, rasanya aneh, tapi nikmat. Apalagi kali ini kepala penis itu terasa menyentuh suatu titik di dalam sana yang membuat matamu bergulir ke belakang.
Zayne mengecup lehermu, lalu membubuhkan beberapa hisapan yang meninggalkan jejak merah kecil disana. “Sempit, sayang. Mas jangan dijepit terlalu kencang, ya? Rileks.” Ujarnya pelan. Tangan yang awalnya menggenggammu, kini berpindah ke sepasang payudaramu yang teranggurkan. Zayne meremas, memelintir hingga menggoda payudaramu guna membuatmu lebih rileks dan membantu dirinya agar bisa kembali bergerak di bawah sana.
Tubuhmu gemetar, entah sudah sekacau apa dirimu saat ini, kamu tidak lagi mempedulikan hal itu. Kamu fokus pada rasa nikmat yang diberikan Zayne dan membiarkan dirimu rileks. Akhirnya setelah kamu bisa kembali melebarkan kaki serta rileks, kekasihmu itu kembali bergerak—masuk, keluar, masuk, dan keluar. Ritmenya teratur, lembut, dan penuh cinta, membuatmu tenggelam dalam lautan kenikmatan.
“Ah.. Mas.. enak, mmh.”
“Enak, sayang? Iya?” Zayne memelukmu erat, memperdalam tautan tubuh kalian dan menggeram rendah.
“Cantik. Nnh—Mas suka, mas sayang, mas cinta sekali sama kamu. Cantik.. Mmm..” Lelaki itu mulai meracau, ritme permainannya ikut menjadi tidak teratur karena sepertinya Zayne mulai ingin mengejar surga dunia.
Kamu mengalungkan kedua tanganmu di lehernya, bergantung padanya ketika tubuhmu terlonjak serta terhentak. Penis Zayne terus menerus menumbuk titik nikmat itu, gesekannya di dalam berhasil membuatmu mencapai orgasme keduamu dengan dirinya yang masih berada di dalam tubuhmu.
“Ahh.. ngh.. Mas.. Aku..” Kamu menggigit telinganya pelan, masih fokus mengeluarkan cairan tersebut dari tubuhmu—membasahi Zayne untuk kedua kalinya.
“It’s fine.” Zayne mengecup lehermu lagi, membiarkanmu menjemput surga dunia terlebih dulu. Setelah merasa getar tubuhmu terhenti, Zayne tersenyum tipis, “Mas gerak lagi ya.”
Satu tusukan, dua tusukan, tiga tusukan, rasanya mau pingsan.
“Mas—ahhh. Sayang, aku masih—mmh! Aku baru keluar ngh..” Tubuhmu masih sangat sensitif, sementara Zayne sudah kembali menghujam penisnya dalam perhitungan tepat di dinding vaginamu, rasanya kamu jadi ingin orgasme lagi.
Biasanya, Zayne selalu menuruti keinginanmu dan mengutamakan kenyamananmu. Tapi di saat seperti ini, bahkan lelaki seperti dia menulikan pendengarannya. Yang ia fokuskan hanyalah ikut mencapai orgasme. Lelaki itu menaruh kedua tangannya di masing-masing sisi pinggangmu, menarikmu untuk membenamkan penisnya lebih dalam dan terus membuatmu menjerit hingga kasur berderit.
“Sayangh..” Zayne merundukkan kepalanya ke sisi, menggigit bahumu tanpa melukainya—hanya bermaksud untuk menambah hasil karyanya disana. Kamu bisa merasakan gerakan Zayne semakin asal, semakin dalam menumbuk titik sensitifmu dan semakin cepat seolah ia sedang dikejar tenggat waktu.
“Ah.. ngh.. Mas.. lagi..” Kamu menarik rambut Zayne, seolah menjadikan itu pegangan dari serangan kenikmatan yang mendera.
“Ah—Zayne!” Lenguhanmu terdengar melengking ketika Zayne mencabut penisnya lalu kamu kembali orgasme hingga membasahi sprei entah untuk yang ke berapa kali.
Dengan peluh yang membanjiri tubuhnya dan membuat otot perutnya terlihat mengkilap, Zayne mengocok penisnya dengan wajah memerah—menatapmu intens hingga akhirnya penisnya berkedut dan memuncratkan cairan kental putih di badanmu. Sebuah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan.
“It feels.. amazing.” Zayne terengah, dia menjatuhkan tubuhnya di sampingmu kemudian memelukmu erat. “Thank you, sayang.” Dikecupnya keningmu lembut.
Kamu mendorong tubuhnya sedikit menjauh, “Ih.. aku kotor, Mas.”
Zayne sedikit mengerutkan keningnya, menandakan ia tidak suka kamu mendorongnya menjauh. “Ya sudah, mas siapkan air hangat untuk mandi ya.”
Setelah menunggu sekitar lima menit, Zayne keluar dari kamar mandi dengan handuk dililitkan di pinggangnya, menutupi bagian intimnya. “Kemari, Mas gendong.” ujarnya sambil mengangkat tubuh telanjangmu perlahan dan menggendongmu di depan, seperti pengantin baru.
Kamu merona, ini adalah Zayne-mu. Lelaki yang selalu lembut dalam setiap perkataannya, tingkah lakunya dan caranya memperlakukanmu setelah kalian menjadi sepasang kekasih. Rasanya hangat, meski orang-orang menganggap Zayne adalah seseorang yang dingin dan sulit didekati.
Sampai di kamar mandi, Zayne masuk ke dalam bak mandi setelah melepas lilitan handuknya. Dia tidak menurunkanmu sama sekali ketika melakukannya. Baru setelah itu, dia dengan hati-hati menurunkanmu dan membuatmu bersandar padanya dengan air hangat yang mengelilingi tubuh kalian.
“Masih kurang hangat, tidak?” tanya Zayne di samping telingamu, membuatmu sedikit bergidik.
Kamu gelengkan kepalamu, “Sudah cukup, Mas. Hangat sekali. Temperaturnya sudah pas.” jawabmu sambil menyamankan diri dengan menyandarkan punggungmu di dadanya. Kamu sedikit terlonjak ketika sadar penis Zayne masih tegak, meski lelaki itu tidak berkata apapun dan hanya terus membalur tubuhmu dengan sabun.
“Mas—eh,” Kamu sedikit tergelincir ketika hendak bergerak maju, membuat bagian pantatmu mengenai penisnya yang masih tegang.
“Mmh, hati-hati.” Zayne menggigit bibirnya, wajahnya mulai memerah. Kedua tangannya yang semula masih berada di tubuhmu untuk membersihkanmu, kini menggenggam erat kedua sisi bak mandi yang cukup untuk dua orang itu.
Melihat itu, kamu membalikkan tubuhmu menghadap dirinya lalu kamu bergerak mendekat. “Lagi yuk, Mas?” Itu bukan pertanyaan darimu—melainkan sebuah peringatan sebelum tanganmu masuk ke dalam air, mengarahkan penisnya masuk kembali ke dalam lubang senggamamu.
Baik kamu dan Zayne sama-sama menahan napas ketika penyatuan tubuh kalian kembali berhasil, kali ini air ikut masuk ke dalam dirimu, mengingat kalian berdua sedang berada di dalam bak mandi. Zayne menengadahkan kepalanya, lalu menyandarkannya di ujung bak mandi, menatapmu yang perilakunya tidak bisa ditebak.
Merasa tertantang, kamu akhirnya bergerak perlahan. Ini ternyata terasa mudah karena air membantu menghilangkan rasa sakit hasil penetrasi dan penisnya menjadi lebih mudah untuk keluar masuk. “Mas.. g-gede banget..” Kamu meremas kedua bahunya ketika mengangkat tubuhmu lalu kembali menggenjot ke bawah, memasukkan penis Zayne sampai ke bagian terdalam.
“Sayang..” Zayne mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipimu. “Kalau gak kuat gak apa-apa, biar Mas aja.”
“Kalau gitu.. aku mau request, boleh?”
Kamu berpegangan erat pada Zayne ketika tubuhmu kembali terguncang, penis kekasihmu kembali menghentak dalam ritme indah yang sempurna. Kali ini kalian sudah tidak berada lagi di dalam bak mandi, melainkan di bawah pancuran shower dengan kamu yang melingkarkan kedua kakimu di pinggang Zayne dan lelakimu berfokus untuk kembali memberikan surga dunia padamu seperti sebelumnya.
Air yang mengucur sedang dari atas terasa hangat, membuat suara becek yang tidak terdengar ketika kalian bermain di kasur kini justru ada. Kamu memajukan wajahmu, mencium bibirnya—yang tentu saja disambut baik oleh Zayne. Ciuman itu terasa panas dan basah dalam waktu yang bersamaan, menaikkan libido kalian dan mempercepat hentakan Zayne di bawah sana hingga kamu melepas ciumannya demi mendesah, melolongkan suara nikmat.
“Cantik, sayang. Cantik sekali.” Puji Zayne sambil mengecupi wajahmu, tangannya masih menahan pinggulmu agar tidak terjatuh karena tubuhmu mulai melemas bahkan hanya untuk sekadar berpegangan padanya.
Kamu mulai mengalungkan kedua tanganmu di lehernya, menempelkan tubuh kalian di tengah hentakkan yang membuatmu terbang ke langit ke tujuh. “Ahh! Mas aku mau pipis.” Kamu berkata sambil menggigit bahunya.
Zayne mengangguk, “Pipis aja, gak apa-apa.” sahutnya, tidak berhenti menggenjotmu sekuat tenaga sampai titik terdalam. Tubuhmu mulai bergetar, dinding vaginamu menyempit membuat Zayne menggeram rendah. Setelah dirasa kamu akan segera kembali menjemput puncak, Zayne mengeluarkan penisnya—membiarkan cairanmu menyembur keluar.
“Masss.. enak.. aku suka..” Kamu perlahan menjejakkan kakimu ke lantai kamar mandi, dengan bantuan Zayne agar kamu tidak tergelincir.
Tidak Zayne sangka, kamu justru berlutut di hadapan penisnya yang masih berdiri tegak dan memerah. Kamu taruh kedua tanganmu di penisnya—satu di bagian kepala, satu di bagian batangnya. Dengan lihai kamu gunakan jari jemarimu untuk memuaskannya lalu kemudian kamu jilat bagian kuncupnya, menggoda lubang kencingnya untuk menambah stimulasi.
“Nnh!” Zayne secara tidak sadar meremat rambutmu, tapi tidak terlalu kasar, satu tangan lainnya menempel di dinding kamar mandi seolah itu bisa menopang tubuhnya jika suatu saat oleng. “Sayang—” Zayne menggigit bibirnya ketika kamu memasukkan penisnya lebih dalam hingga ke pangkal tenggorokan, kali ini kamu berhasil melakukannya sempurna tanpa memicu gag reflex mu.
Berulang kali kamu memaksakan memasukkan seluruh bagian penisnya seolah sedang melahap es krim. Hal ini membuat Zayne khawatir karena wajahmu mulai memerah, terlihat sekali kalau kamu kekurangan oksigen. “Jangan dipaksa, sayang.” katanya lembut, namun kamu bisa melihat nafsu yang tertumpuk di matanya. Ternyata dia masih bisa menahan diri untuk tidak memperkosa mulutmu.
Kamu mulai memainkan dan meremas kedua bola kembarnya, menambah sensasi yang membuat Zayne kembali menahan desahnya. Lama-lama, kekasihmu itu tanpa sadar menggerakkan pinggulnya, membantu agar penisnya bisa masuk lebih dalam menyentuh bagian tenggorokanmu.
“Mmh! Mas—hmph?” Kamu menatapnya dari bawah sembari memukul pelan pahanya, Zayne yang tersadar segera menarik penisnya dan menatapmu khawatir. “Sayang maaf,” katanya sembari menghapus air mata yang sudah turun ke pipimu.
Kamu sedikit terbatuk tapi kondisimu baik-baik saja, itu membuat Zayne sedikit lega. “Sudah, jangan dipaksa lagi ya? Mas ngocok aja sendiri.” katanya lalu menaruh kedua tangan di penisnya sendiri, mengocoknya perlahan sambil menatap wajahmu.
Duh, kamu yang masih berlutut berhadapan langsung dengan penis yang sedang ia kocok itu. Kamu bisa melihat napas Zayne yang terputus, peluhnya membanjiri, wajah memerah dan suara desah berat yang sangat seksi.
Hah, pemandangan yang indah sekali.
Sampai akhirnya, Zayne mendesah keras disusul dengan cairan kental putih yang berhasil ia tembakkan tepat di paras cantikmu. Zayne yang melihat itu segera membantumu berdiri lalu mengusap wajahmu dengan air mengalir agar kembali bersih.
Kamu terkekeh, Zayne benar-benar selalu mengutamakan kenyamanan dan kebersihan dirimu. Dia juga tidak pernah memaksa atau berbuat kasar terkecuali dirimu memintanya berlaku seperti itu. Kamu memeluknya erat dengan tubuh kalian yang masih telanjang, lalu berjinjit dan berbisik di telinganya, “Jadi kapan mandinya, Mas? Atau mau lanjut lagi sampai aku gak bisa jalan dan lupa semua hal kecuali nama kamu?”
Dan kamu mulai menyesali keputusanmu menggodanya seperti itu karena Zayne benar-benar menggaulimu hingga fajar menyingsing.
메타데이터
- post_id
- b1a6efd7b180
- slug
- love-in-arctic-zayne-x-female-reader-b1a6efd7b180
- url
- https://medium.com/@FateofSnow/love-in-arctic-zayne-x-female-reader-b1a6efd7b180
- canonical_url
- https://medium.com/@FateofSnow/love-in-arctic-zayne-x-female-reader-b1a6efd7b180
- author_url
- https://medium.com/@FateofSnow
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 16:58:18