← Back to list

wanci wening — prologue

source pict: pintereset

caramelcsalt · 2026-05-02 17:25 · 0 claps · 2.7 min read
#markhyuck
Open on Medium ↗

wanci wening — prologue

source pict: pintereset

source pict: pintereset

“TITIPAN.”

Kata itu selalu terdengar sederhana — sampai seseorang menagihnya kembali.

Mahesa sedikit melirik, ada satu tangan putih terulur di hadapannya bersama sepotong cheesecake yang beberapa hari lalu memang sempat dia inginkan. Alih-alih langsung diterima, Mahesa memilih angkat pandangan dengan satu alis terangkat. Menuntut penjelasan.

Yang ditatap jelas embus napas kasar.

Faishal — atau yang lebih dikenal sebagai Ical — pilih tarik pelan tangan Mahesa yang masih bergeming di atas paha. Tahu bahwa Kakaknya tak sama sekali punya niat terima apa yang dia sodorkan.

“Mas Adi titip ini buat Kakak. Diterima ya.. buat menghargai,” ujar Faishal dengan menaruh cheesecake itu di tangan Mahesa.

Kali ini justru Mahesa yang menghela napas.

“Aku udah pernah bilang gak mau terima apa pun, Cal.”

Masih menatap sang adik, Mahesa sama sekali tak perlihatkan setitik emosi apa pun di raut wajahnya. Seperti memang dia hidup tak punya emosi. Terlalu dingin. Nyaris tanpa riak. Padahal dulu wajah itu kerap terlihat jauh lebih manis.

Ada denyut nyeri yang lagi-lagi bertandang di relung Faishal, ketika hari-hari yang dia lihat dari kakaknya adalah sebuah benteng yang kokoh. Lantas, dia turunkan tubuhnya dari berdiri. Bersimpuh di depan Mahesa yang terduduk di atas dipan. Lutut Faishal mencium dinginnya lantai, menggenggam jemari kakaknya yang kosong dan diusapnya pelan.

“Kakak udah ribuan kali tolak pemberian Mas Adi. Kali ini, tolong diterima. Kalau memang belum mau lihat Mas Adi, cukup terima ini atas dasar menghargai usahanya selama ini, ya?”

“Tap — “

Faishal menggeleng.

“Gak akan kenapa-napa, Kak. Mas Adi enggak akan minta imbalan apa pun dari Kakak.”

Mahesa termenung. Dia tidak langsung percaya. Karena menurut dia, orang yang benar-benar tidak meminta imbalan … biasanya tidak perlu mengatakannya.

Tenggelam dalam pikiran, Mahesa tersadarkan oleh usapan halus jempol Faishal di punggung tangannya. Berangsur-angsur memberinya tenang. Selalu seperti itu. Selalu membuat Mahesa jauh lebih tenang jika Faishal melakukan itu. Rasanya seperti Mahesa sedang ditemani dalam kesendiriannya. Dalam kedinginannya.

Masih ada ragu yang menggelayut dalam pikiran Mahesa. Memang selama ini dia tak pernah ingin terima apa pun dari Mas Adi karena sebuah ketakutan. Takut apabila dia terima semua dengan cuma-cuma, Mas Adi akan meminta bayaran di kemudian hari. Bayaran yang bahkan tak berani Mahesa beri bentuk dalam pikirannya. Seolah dengan membayangkannya saja, itu bisa menjadi nyata.

Mata yang kini sudah tak sejernih seharusnya itu masih menatap mata milik Faishal. Mencari-cari keyakinan di sana. Mencari aman yang telah lama tak dia punya.

“Gak apa?”

Bukan seperti pertanyaan, tapi tanya itu justru lebih seperti pengulangan untuk sebuah keyakinan.

Faishal mengangguk dan di detik itu juga Mahesa embuskan napas lebih lepas. Dia ikut mengangguk setelahnya.

“Okay, aku makan.” Merekahlah senyum Faishal. Dengan senyum yang masih bertengger di bibir, sang adik bangkit dari simpuhnya, usap halus puncak kepala Mahesa dengan penuh sayang.

“Makasih udah mau terima,” ujarnya dengan girang.

Mahesa kembali mengernyit dan sedikit mendelik.

“Kenapa kamu yang makasih sih? Yang ngasih kan bukan kamu?”

Tapi Faishal justru tertawa lepas dan melenggang keluar dari kamar Mahesa.

“Ical,” panggil Mahesa, sebelum Faishal benar-benar keluar dari kamarnya.

Faishal berbalik tanpa mendekat, mengernyit menunggu apa yang akan Mahesa ucapkan. Lama tak ada tanggapan, nyaris Faishal memilih lanjutkan langkahnya. Tapi lagi, Mahesa bersuara dengan sedikit tergagap.

“M-mas Adinya ada di mana?”

Tanpa bisa ditahan, senyum Faishal kian merekah, lebih dari sebelumnya.

“Ada. Masih di Tentrem.”

Lantas Mahesa mengangguk dan membiarkan Faishal pergi dari kamarnya. Dia tatap cheesecake di tangan. Embus napas lelah sejenak sebelum kemudian mulai benar-benar menyuap makanan manis itu.

“It’s nice, honestly,” gumam Mahesa pelan, sesaat setelah makanan creamy itu menyapa rongga mulutnya. Sejenak dia melupakan banyak hal. Atau mungkin hanya menundanya.

Tapi tak bisa dipungkiri, Mahesa cukup terlena pada rasa manis yang menguasai mulutnya. Ada secercah senang di relung hati — begitu tipis dan rapuh. Setelah sekian lama yang hadir di sana hanyalah luka dan ketakutan yang mendalam.

Hanya dengan cheesecake tak seberapa itu, Mahesa kembali merasa hidup. Dan justru itu yang paling menakutkan. Karena Mahesa tahu bahwa sesuatu yang datang tanpa diminta, jarang benar-benar datang tanpa meminta bayaran.


메타데이터
post_id
b1c0b3eb1729
slug
wanci-wening-prologue-b1c0b3eb1729
url
https://medium.com/@caramelcsalt/wanci-wening-prologue-b1c0b3eb1729
canonical_url
https://medium.com/@caramelcsalt/wanci-wening-prologue-b1c0b3eb1729
author_url
https://medium.com/@caramelcsalt
status
ok
fetched_at
2026-08-11 23:03:24