Kau dekap aku dari balik payung
Awal April kala itu datang tak seperti biasanya, hujan yang seharusnya tenggelam justru datang menghampiri kembali.
Kau dekap aku dari balik payung
Awal April kala itu datang tak seperti biasanya, hujan yang seharusnya tenggelam justru datang menghampiri kembali.

Malam datang menjemput — begitupun dengan dirimu.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, biasanya kita sudah berpuisi dari balik layar kaca seperti sepasang burung yang jatuh cinta — tapi malam ini, ternyata hujan ingin bercengkrama kembali dengan kita.
Saat aku meneduh di sudut stasiun bus kecil, ada perasaan sedih dan rindu yang menghinggap — berharap bisa segera melihat wajahmu sembari perlahan terlelap dalam gulungan selimut.
“Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Apa dia sudah tertidur?”
Saat kalut ku mulai menghampiri, Aku mendengar pekikan kecil di sampingku dari kejauhan, saat ku lihat — ah… kamu datang dengan senyum rembulanmu itu.
Pria itu menutupiku dari terpaan hujan dengan payung biru kesayangannya itu
(walaupun angin tetap membawa rintik-rintik hujan kepadaku),
dia tetap melakukannya tanpa peduli jika ia basah kuyup.
Dia memegang bahu ku–memastikan aku tetap hangat sembari terus berbicara tentang bagaimana ia begitu mencintai hujan,
Ini terasa… anehnya, hangat.
메타데이터
- post_id
- b1ecda7a6557
- slug
- kau-dekap-aku-dari-balik-payung-b1ecda7a6557
- url
- https://medium.com/@raisamiftahuljanah12/kau-dekap-aku-dari-balik-payung-b1ecda7a6557
- canonical_url
- https://medium.com/@raisamiftahuljanah12/kau-dekap-aku-dari-balik-payung-b1ecda7a6557
- author_url
- https://medium.com/@raisamiftahuljanah12
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 13:13:48