mungkinkah rindu lahir karena waktu tidak pernah berjanji?
bolehkah diwaktu yang masih tersisa ini, kita bersama dengan sebaik-baiknya, lalu kau mencintaiku dengan sepenuh-penuhnya? biar aku pun…
mungkinkah rindu lahir karena waktu tidak pernah berjanji?
bolehkah diwaktu yang masih tersisa ini, kita bersama dengan sebaik-baiknya, lalu kau mencintaiku dengan sepenuh-penuhnya? biar aku pun mencintaimu sedalam-dalamnya.

sudah cukup lama aku tidak menulis. kalau tidak salah, tulisan terakhirku sudah berjarak beberapa minggu dari hari ini. lucunya, setelah sekian lama menganggap menulis sebagai rumah yang paling mudah kutemukan ketika pikiranku mulai ramai, hari ini aku justru seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu rumahnya sendiri dengan sedikit sungkan. rumahnya masih sama. meja itu masih ada. halaman kosong itu pun masih setia menunggu. hanya saja, aku yang mendadak lupa bagaimana caranya memulai kalimat pertama.
maka kalau tulisan ini terdengar sedikit canggung, atau barangkali tidak seluwes tulisan-tulisanku yang lalu, semoga kau berkenan memakluminya. anggap saja aku sedang belajar akrab lagi dengan diriku sendiri. sebab ternyata, kembali menulis tidak selalu semudah kembali membuka laptop. karena ada bagian dari diri yang juga harus dibujuk pelan-pelan agar mau pulang.
dan kali ini, izinkan aku hanya mengabarkan satu hal.
belakangan ini aku curiga, rupanya rindu juga memiliki cara untuk bersedih. sebab hari ini aku sedang merindukan seseorang.
anehnya, setelah kalimat itu selesai kutulis, aku tidak benar-benar merasa lega. biasanya, mengakui bahwa aku sedang merindukan seseorang sudah cukup membuat dadaku sedikit lebih lapang. tetapi kali ini berbeda. rindu itu seperti datang sambil membawa sesuatu yang lain. sesuatu yang sejak tadi duduk diam di sebelahnya. setelah kupandangi cukup lama, barulah kusadari bahwa yang ikut datang bersamanya adalah sedih.
aku sempat mengira penyebabnya adalah jarak. kupikir, mungkin aku hanya terlalu ingin bertemu. mungkin aku hanya sedang lelah karena terlalu lama menatap wajahnya melalui layar. tetapi semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa kami sudah terlalu akrab dengan jarak untuk menjadikan itu sebagai alasan utama. rindu kami sudah berkali-kali bertahan hidup di sela-sela kilometer. jadi, pasti ada sesuatu yang lain.
barangkali, sedih itu lahir karena untuk pertama kalinya aku benar-benar menyadari betapa sedikit kuasa manusia terhadap waktu.
semakin bertambah usia, semakin sering aku mendapati diriku memandangi hari-hari dengan cara yang berbeda. aku mulai menghitung perjumpaan bukan lagi sebagai rutinitas, melainkan sebagai kemungkinan.
sebab ternyata tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tahu, berapa banyak kesempatan yang masih disediakan hidup untuk membuat dua orang tetap berjalan berdampingan.
dan kesadaran itu perlahan mengubah cara aku merindukannya. aku jadi ingin lebih lama mendengar tawanya, lebih lama mengingat cara ia memanggil namaku, pun lebih lama menyimpan wajahnya di dalam ingatanku.
aku sedang sibuk menabung hari. bukan karena aku tahu kapan semua ini akan selesai. justru karena aku tidak pernah diberi tahu kapan waktu akan mulai menguranginya.
mungkin bisa saja ini terdengar berlebihan. aku tidak keberatan kalau kau merasa demikian.
tetapi bukankah semua orang yang benar-benar menyayangi seseorang diam-diam sedang melakukan hal yang sama?
kita akan mengumpulkan hal-hal kecil tanpa sadar. bahkan jeda-jeda yang tampaknya tidak penting. karena kita tahu ingatan sering kali menjadi satu-satunya tempat yang tidak bisa direbut oleh waktu.
namun, kalau boleh jujur, ada kemungkinan lain yang sesungguhnya lebih membuatku sedih. barangkali yang paling melelahkan dari rindu bukanlah karena kita tidak bisa bertemu. melainkan karena kita mulai bertanya-tanya, apakah perasaan yang sebesar ini masih memiliki ruang yang cukup di hati orang yang kita rindukan.
aku tidak sedang berharap ia merindukanku dengan kadar yang sama. cinta bukan perkara siapa yang lebih banyak merasa. aku hanya berharap, apa yang tumbuh begitu besar di dalam dadaku tidak perlahan mengecil ketika sampai di hadapannya.
sebab betapa pun seseorang berusaha terlihat baik-baik saja, setiap rindu kurasa selalu ingin diyakinkan bahwa ia tidak sedang mengetuk pintu rumah yang sudah lama kosong.
mungkin itulah yang membuat dadaku terasa lebih berat akhir-akhir ini. aku sedang merindukan seseorang, tetapi pada saat yang sama, aku juga sedang berduka atas begitu banyak kemungkinan yang bahkan belum terjadi.
aku tahu, hubungan kami masih menyimpan tantangan-tantangan yang belum selesai. hidup pun tidak pernah pandai memberi kepastian kepada siapa pun. dan justru karena aku mengetahui semua itu, setiap kali rindu datang, ia tidak lagi hanya membawa keinginan untuk bertemu. ia ikut membawa ketakutan-ketakutan kecil yang pelan-pelan belajar tumbuh bersamanya.
di tengah semua ketidakpastian itu, aku tetap ingin menemuinya. aku tetap tidak keberatan berangkat ketika langit bahkan belum selesai menggelapkan malamnya. aku tetap tidak keberatan membelah dingin yang menggigit kulit, selama di ujung perjalanan itu ada dirinya. sebab setelah kupikir-pikir lagi, ternyata cinta memang sering kali tidak menghapus lelah. ia hanya membuat lelah terasa pantas untuk dijalani.
dan mungkin, jika hari ini aku diminta menjelaskan apa yang sebenarnya sedang kurasakan, aku akan mengatakan bahwa; aku sedang merindukan seseorang.
dengan cara yang semakin hari semakin dipenuhi rasa syukur karena pernah dipertemukan. sekaligus dengan cara yang semakin hari semakin takut pada kenyataan bahwa hidup tidak pernah bersedia menjanjikan siapa pun untuk tinggal selamanya.
maka selama waktu masih mengizinkan kami saling menemukan, izinkan aku terus menjadi seseorang yang tidak pernah keberatan berangkat lebih pagi, menempuh jalan yang lebih jauh, atau memeluknya sedikit lebih lama.
barangkali, beginilah cara seseorang mencintai ketika akhirnya ia sadar bahwa yang membuat rindu terasa demikian pilu bukan karena kita sedang berjauhan, melainkan karena kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak "nanti" yang masih disediakan kehidupan untuk terus saling merindukan.
메타데이터
- post_id
- b20f7b650dc4
- slug
- mungkinkah-rindu-lahir-karena-waktu-tidak-pernah-berjanji-b20f7b650dc4
- url
- https://medium.com/@bulan7/mungkinkah-rindu-lahir-karena-waktu-tidak-pernah-berjanji-b20f7b650dc4
- canonical_url
- https://medium.com/@bulan7/mungkinkah-rindu-lahir-karena-waktu-tidak-pernah-berjanji-b20f7b650dc4
- author_url
- https://medium.com/@bulan7
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 09:38:12