The Daisy from Ubud | pt.4: The Things You Can See Only When You Slow Down
relieved, finally.
The Daisy from Ubud | pt.4: The Things You Can See Only When You Slow Down
relieved, finally.
Hari berganti dan pagi ini, aku bangun sama seperti hari kemarin. Kali ini pagi terasa lebih hangat, entah karena udara-nya yang lebih bersahabat, atau memang kejadian semalam yang membuatku berpikiran seperti itu. Ya, semalam kami berbincang cukup lama di depan kolam renang, menikmati udara malam di Ubud, sambil mengambil beberapa selfie dan video. Mungkin perbincangan malam itu menjadi salah satu yang paling penting di hidupku, karena pagi ini, aku merasa terlahir kembali. Seseorang yang beberapa hari lalu sempat mengalami patah hati terbesarnya dalam hidup, kini telah bisa mengikhlaskan dan merelakan apa yang seharusnya tidak menjadi miliknya.
Aku merasa, perbincangan dengannya malam tadi, adalah salah satu yang bisa merubah pandangan dan hidupku. Mungkin dia tidak melakukan apa-apa, dia tidak berusaha untuk menjadi orang lain, dia tidak secara sengaja berniat untuk menyelamatkan perasaanku. Tapi, malam itu dia cuma ada disana, dia melihatku apa adanya, dan membangkitkan versi dari diriku yang telah lama hilang. Disitulah titik dimana aku merasa Allah menyelamatkanku lewat dirinya. Bagaimana tidak? Setelah aku melewati ujian dan sangat sulit untuk melepaskan sesuatu bertahun-tahun, ternyata aku bisa melakukannya hanya dalam waktu semalam! Seolah, aku yang telah tenggelam hampir di dasar lautan, diselamatkan oleh sebuah tangan yang berhasil menarikku ke permukaan, dan menyadarkanku akan siapa diriku yang sebelumnya.
Mungkin aku tenggelam dalam lautan gelap selama bertahun-tahun, tapi malam tadi, rasanya aku ditarik ke permukaan, diingatkan kembali akan siapa diriku, sehingga aku bisa melihat dunia yang telah lama aku tinggalkan. Itulah keajaiban dari kehadiran dirinya disini. Makanya, seluruh kejadian tentang dia dari awal kita bertemu, bukanlah kebetulan belaka menurutku. Sudah jelas, disana ada campur tangan Tuhan didalamnya. Sehingga, proses “melepaskan” yang aku butuhkan terasa sangat lembut, terasa nyaman, tidak terasa sakit sama sekali, dengan perantaranya Lanhua. Dan, sampai detik ini aku masih bersyukur atas hal itu.
Kembali ke Ubud Tropical, 28 Maret 2026. Pagi ini seperti biasa, aku langsung mencari sarapan karena aku sadar, tadi malam aku belum menyentuh makanan. Mungkin karena aku terlalu antusias untuk berbincang dengannya, sehingga aku lupa untuk mengisi perut dan tidak lupa untuk mengisi instastory. Ohiya, tentunya pagi ini aku masih secara rutin mengecek instastory-ku sendiri, melihat bagaimana malam tadi aku masih tidak percaya bahwa perbincangan dengan salah satu strangers itu bisa terjadi. Setelah aku pergi mencari sarapan, matahari pagi ini lebih terasa hangat dan bersahabat dibanding hari kemarin. Mungkin karena kebetulan, aku berangkat saat matahari baru menunjukkan dirinya. Aku ingat betul bagaimana wangi jalanan Ubud di pagi itu, banyak warga sekitar yang berkegiatan lebih aktif dari hari sebelumnya karena mungkin ini hari Sabtu dan beberapa pasar buka khusus di akhir pekan.
Ada banyak warga yang bertransaksi di pasar tradisional, ada banyak yang berjualan makanan untuk sarapan, ada banyak pula yang mencari sarapan berkeliling di pagi ini. Matahari menunjukkan sinarnya dan menyinariku selagi aku di motor, sampai akhirnya aku kembali ke hostel setelah mendapatkan sebungkus nasi kuning.
Aku kembali seperti biasa untuk duduk di depan kolam renang. Pagi ini benar-benar terasa lebih ringan dan lebih hangat dari hari kemarin, setidaknya untuk perasaanku. Tidak kusangka kali ini aku benar-benar ikhlas, lega, atas semua beban yang telah aku simpan bertahun-tahun sebelumnya. Aku buka sebungkus nasi kuning yang telah aku beli tadi, dan tidak lupa untuk mengabari Lanhua melalui Instagram direct message. Sepertinya aku belum melihat dirinya pagi ini, mungkin dia belum bangun.
Pagi itu terlihat belum ada aktivitas sama sekali. Sembari menyantap sarapanku, aku memutuskan untuk mengambil foto dan mengirimkannya via chat.
sent a photo
“morninggg”
“breakfast, so hungry”
Ternyata, tidak lama kemudian pesanku dibalas.
“haha
good morning”
Lalu sesaat setelah aku menghabiskan sarapanku, Lanhua pun keluar kamar dengan pakaian yang masih sama. Dan tentunya, lambaian tangan dan senyuman yang masih sama seperti beberapa waktu lalu. “Hello” dia menyapaku seperti biasa. Lalu aku balas dengan penuh antusias “Hey morning!”
“morning,” dia balas sambil menuruni anak tangga. “I want to go to supermarket” yang ia maksud adalah minimarket. Dan yap, seperti biasa, destinasi favoritnya di Ubud salah satunya adalah minimarket.
Saat berada di minimarket, ternyata ia sempat menanyakan tentang sarapan tadi.
“Did you takeaway?” ketiknya di direct message. Pikirku, dia ingin beli sarapan yang sama denganku. Namun setelah kutawari untuk mengantarnya mencari makanan, dia menolak. Tapi lucunya, dia dengan antusias menceritakan bahwa dia menemukan sebuah roti enak untuk sarapan. Lalu ia balik hostel dengan kembali menyapaku lagi. Sejujurnya aku berada di titik menahan diri, karena pikirku aku tidak ingin membuat dia merasa risih dengan keberadaanku di hostel itu. Tapi setiap berpapasan dengannya, ia menyapaku duluan dengan senyumnya yang khas itu.
Pagi itu, cuaca lebih cerah dan lebih hangat dari hari kemarin. Terdapat beberapa wajah baru yang masuk di hostel, sepertinya orang dari Korea atau China. Dan beberapa dari mereka pun bersantai di depan kolam renang dengan tidak melakukan apa-apa. Inilah yang aku suka dari hostel ini. Suasana alami dan buatan yang bercampur di tengahnya membuat siapapun tidak bisa menolak untuk menikmati setiap hari nya hanya dengan bersantai dan tidak melakukan apa-apa. Tidak jarang aku pun melihat beberapa orang yang dengan sengaja tidak bepergian kemana-mana, hanya menikmati suasana hostel saja. Mungkin ini yang disebut slow living bagi sebagian orang.
Setelah ia kembali ke hostel, kemudian ia pun bergabung di depan kolam renang dengan membawa sebuah buku catatan, iPad, dan menggunakan pakaian seperti biasa. Satu hal yang selalu membuatku kagum darinya adalah, ia selalu mempelajari hal baru setiap saat. Belakangan aku ketahui, ternyata kebiasaan ia belajar adalah memang hanya untuk mempelajari hal baru saja, tidak ada tujuan khusus, ataupun hal yang sedang ia kejar. Mungkin, selama ini dengan hiruk pikuk kehidupan di Ibu Kota, Jakarta, aku jarang menemui hal seperti ini. Selama ini, pikiranku hanya diisi oleh kerja, kerja, dan kerja. Mungkin hal itu tidaklah salah, namun kehidupan jauh lebih luas dari hanya sekedar kerja. Mengisi waktu dengan mempelajari hal baru tentunya akan jauh lebih baik sebagai pengisi waktu luang, dibandingkan dengan kebiasaan kita menonton video TikTok seharian.
Lalu ia berada disana, dengan tanktop pink dan short navy nya, dengan posisi telungkup di salah satu kasur pinggir kolam renang, mempelajari sesuatu dan sesekali mencatatnya. Aku memperhatikannya secara kagum, dan mencoba untuk menikmati detik demi detik di tempat itu. Hanya beberapa hari lagi, aku sudah kembali ke rutinitasku di Ibu Kota. Aku tidak ingin ini berakhir begitu saja. Setelah duduk di dekatnya, lalu aku berusaha untuk menikmati udara pagi sembari membaca sebuah buku yang berjudul “The Things You Can See Only When You Slow Down.”
Entah, selama ini, aku pikir memang semesta sangat turut andil dalam prosesku melepaskan sesuatu. Bagaimana tidak, buku itu aku temukan secara tidak sengaja di M Boutique Hostel, tempatku menginap beberapa hari sebelumnya. Sesaat setelah aku mengalami patah hati terbesarku, aku duduk di ruang tengah hostel itu. Terdapat lemari yang menyimpan beberapa buku disana, lalu aku mengambil salah satunya. Hanya dari judulnya saja, aku merasa sangat relate dengan kondisi-ku sekarang. Dan kuputuskan untuk meminjam dan membaca buku itu ketika aku pergi ke Ubud untuk dua malam sebelum pada akhirnya kembali lagi ke hostel tersebut. Beberapa saat lalu, aku sempat menceritakan tentang kecintaanku terhadap Daisy, kan? Secara kebetulan, daisy menjadi tampilan di cover buku tersebut. Aku pun baru sadar belakangan, namun, mungkin ini bukan kebetulan. Seolah-olah Tuhan memberikan pelukannya dan pertolongannya melalui beberapa cara. Lanhua, buku ini, suasana Ubud, dll. Ada salah satu kutipan di buku tersebut yang berhasil menyadarkanku dan hidupku kedepannya.
“Jangan berusaha menyembuhkan luka kita. Tuangkan saja sedikit waktu ke dalam hati kita dan menunggu. Ketika kita merasa siap, luka itu akan sembuh dengan sendirinya.”

The book that changes everything.
it’s funny yet very sad that i wrote this on the exact same day two weeks ago, in this hour.
메타데이터
- post_id
- b21aa3ffc4c4
- slug
- the-daisy-from-ubud-pt-4-the-things-you-can-see-only-when-you-slow-down-b21aa3ffc4c4
- url
- https://medium.com/@panglimalembur/the-daisy-from-ubud-pt-4-the-things-you-can-see-only-when-you-slow-down-b21aa3ffc4c4
- canonical_url
- https://medium.com/@panglimalembur/the-daisy-from-ubud-pt-4-the-things-you-can-see-only-when-you-slow-down-b21aa3ffc4c4
- author_url
- https://medium.com/@panglimalembur
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 03:48:11