Menyelami Pikir: Sejarah Filsafat Islam
Apa benar filsafat adalah tempat orang kurang kerjaan yang membuat rumit definisi kentut?
Menyelami Pikir: Sejarah Filsafat Islam

Sumber gambar: shutterstock.com
Sebenarnya, apa itu filsafat? Apa benar filsafat adalah tempat orang kurang kerjaan yang membuat rumit definisi kentut?
Definisi filsafat
Secara etimologi, kata filsafat, dari kata ‘philosophia’, berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘philen’ yang berarti cinta atau mengejar dan ‘sophia’ yang bermakna kebijaksanaan atau pengetahuan. ‘Philosophy’ kemudian dimaknai dengan cinta kebijaksanaan atau mengejar pengetahuan.
Filsafat Barat
Ilmu filsafat berkembang di Barat dalam beberapa periode, yakni Zaman Kuno, Zaman Abad Pertengahan, Zaman Modern, Periode Abad Ke-19, dan Periode Abad Ke-20 hingga Abad Ke-21 saat ini. Sepanjang sejarah, pembahasan ilmu filsafat berkutat pada pemahaman dan pemikiran tokoh-tokoh besar, pengaruh pemikiran tersebut terhadap orang lain, serta pentingnya filsafat dalam isu-isu abadi dan kontemporer. Tokoh-tokoh filsafat Barat yang terkenal misalnya: Marcus Tullius Cicero, Aristoteles, Plato, Socrates, Phytagoras, Christian von Wollf, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Herbert Spencer, Henry Sidgwick, dan Betrand Russel.
Mulanya, filsafat Barat, terutama yang berasal dari Yunani, berupaya mengubah pola pikir manusia terhadap suatu peristiwa dari yang dikira magis menjadi logis. Contohnya mengenai gempa bumi. Gempa bumi dahulu tidak dianggap sebagai fenomena alam, melainkan akibat Dewa Bumi menggoyangkan kepalanya. Hadirnya filsafat menjelaskan bahwa gempa bumi ialah aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas.
Filsafat Islam
Ilmu filsafat Islam lahir dari pemikiran mengenai ketuhanan, kenabian, kemanusiaan, alam, realita ontologi, serta pandangan tentang hakikat ruang, waktu, dan materi. Filsafat Islam juga berkembang dalam ilmu kalam, usul fiqh, serta tasawuf yang diklaim mengandung asas ajaran Islam yang logis dan sistematis.
Filsafat Islam berupaya memadukan wahyu dengan akal untuk menjelaskan bahwa wahyu tidak bertentangan dengan akal manusia. Beberapa pendapat mengatakan bahwa filsafat Islam muncul sebagai jawaban tantangan zaman yang berkaitan dengan Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, serta agama dan filsafat yang ditinjau dari sudut pandang Islam.
Oliver Leaman, seorang profesor Universitas Kentucky, mengatakan bahwa filsafat Islam tidak bersandar pada filsafat Yunani. Faktanya, sebelum mengenal filsafat Yunani, para cendekiawan Muslim telah mengenal hukum fikih dan usul fiqh, ilmu yang menggunakan akal pikir dalam penarikan hukum. Hal ini berarti filsafat Islam tidak berasal dari filsafat Yunani yang kemudian masuk dalam tradisi intelektual Islam melalui proses penerjemahan, melainkan berasal dari pengembangan khazanah Islam sendiri yang rasional sehingga mampu menerima filsafat Yunani. Begitu juga menurut Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya Islamic Philosophy from its Origin to the Present. Menurut beliau, filsafat Islam yang murni adalah ilmu yang lahir dari pengajaran Al-Quran.
Perkembangan filsafat Islam mengalami pasang-surut seiring berjalannya waktu. Filsafat Islam pernah disambut baik karena dapat mengatasi pemikiran aneh dan menyimpang di masyarakat, namun sempat dicurigai akibat sering digunakan untuk menyerang ajaran Islam yang baku, misalnya pada masa Ibnu Hanbal (780–855 M). Filsafat Islam berkembang lagi pada masa Al-Farabi (870–950 M) dan Ibnu Sina (980–1037 M), kembali jatuh pada masa Al-Ghazali (1058–1111 M), dan bangkit lagi pada masa Ibnu Rusyd (1126–1198 M).
Pasca masa Ibnu Rusyd, pemikiran filsafat berkembang dengan bersinergi pada kajian sufisme, terutama di tangan Suhrawardi (1153- 1191 M) dan Ibnu Arabi (1165–1240 M). Jika ditelisik lebih jauh, filsafat Islam yang dimulai pada masa Al-Kindi melalui buku Filsafat Utama (Al-Falsafat Al-Ula) hingga masa Ibnu Rusyd hanya bertahan selama kurang lebih 350 tahun.
Di kalangan umat Islam sendiri, filsafat Islam sebenarnya menghadirkan pro dan kontra. Meski beberapa menganggap filsafat Islam adalah sebuah warisan tradisi intelektual Islam, banyak pula yang antipati dan menganggap filsafat sebatas ‘barang impor’ yang memuat ateisme, sekulerisme, relativisme, pluralisme, dan liberalisme. Akibat alasan tersebut, ulama sepakat untuk menolak kehadiran filsafat. Bahkan, keempat ulama besar yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal secara tegas menolak filsafat karena lebih dekat dengan kemudharatan.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, S. 2014. ‘Filsafat Islam antara Tradisi dan Kontroversi’, Jurnal Tsaqafah, vol. 10, no. 1, hh. 1–22.
Soleh, A. K. 2014. ‘Mencermati Sejarah Perkembangan Filsafat Islam’, Jurnal Tsaqafah, vol. 10, no. 1, hh. 63–84.
메타데이터
- post_id
- b21b60d4c479
- slug
- menyelami-pikir-sejarah-filsafat-islam-b21b60d4c479
- url
- https://medium.com/keluarga-muslim-teknik/menyelami-pikir-sejarah-filsafat-islam-b21b60d4c479
- canonical_url
- https://medium.com/keluarga-muslim-teknik/menyelami-pikir-sejarah-filsafat-islam-b21b60d4c479
- author_url
- https://medium.com/@reanvu
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-28 02:10:06