← Back to list

Kebijaksanaan W. S. Rendra dalam ‘Bersilat Lidah’

Menerjemahkan Naskah “Kereta Kencana” Dari Naskah Asli “Les Chaises”

Catch In Between · 2021-12-25 04:12 · 0 claps · 2.6 min read
#artkel #articles #w-s-rendra #naskah-drama #terjemahan
Open on Medium ↗

Kebijaksanaan W. S. Rendra dalam ‘Bersilat Lidah’

Menerjemahkan Naskah “Kereta Kencana” Dari Naskah Asli “Les Chaises”

Gambar: W S Rendra (Sumber: Merdeka.com)

Gambar: W S Rendra (Sumber: Merdeka.com)

Tugas penerjemah dalam menerjemahkan karya sastra adalah mengonversi suatu bahasa ke dalam bahasa lain sesuai dengan target pembaca. Untuk menyesuiakan dengan target pembaca, tidak hanya mengonversikan kata perkata dari karya aslinya saja, namun mengonversikan juga budaya dan unsur-unsur lain sesuai target pembaca tersebut. Karena bahasa adalah bagian dari budaya pula. Setiap bahasa tentu memiliki kosakata maupun tandanya masing-masing, begitulah hal yang dikatakan pula oleh Sapardi yang merupakan sastrawan sekaligus akademisi dan penerjemah pula.

Menurut Sapardi Djoko Damono dalam wawancaranya di acara Indonesia International Book Fair 2017 pada Kamis, 7 September 2017 yang saya baca dari Tempo.Co, “karya hasil terjemahan adalah ‘milik’ si penerjemah”. Karena seperti yang telah dibahas di paragraf awal, selain penerjemah mengalihwahanakan kata perkata, ia juga harus menyesuaikan dengan budaya dari target pembaca. Untuk sampai tahap tersebut, penerjemah harus betul-betul paham apa yang dibahas dalam karya tersebut.

Untuk mengonversikan kata perkata dan unsur budaya dari karya asli kepada target pembaca, biasanya penerjemah selalu ‘bersilat lidah’ dalam menerjemahkan suatu karya. Hal tersebut dilakukan karena penerjemah ingin menyampaikan maksud dari penulis asli dengan baik dan benar. Biasanya penerjemah mengonversikannya tidak sesuai dengan kata-kata yang ada pada karya aslinya. Hal tersebut bukan berarti penerjemah tidak melakukan tugasnya dengan benar, justru penerjemah biasanya mengubah hal tersebut agar makna dari karya aslinya tetap sampai kepada target pembaca.

Hal tersebut juga dilakukan oleh Rendra dalam menerjemahkan “Les Chaises”. Arti atau makna dari judul karya tersebut, yaitu les chaises sendiri dalam bahasa Indonesia adalah ‘kursi-kursi’. Namun Rendra mengubah judulnya menjadi “Kereta Kencana”. Berbohongnya Rendra dalam mengubah kata dalam judulnya tersebut merupakan sebuah tindikan yang bijaksana. Rendra berusaha menekankan isi terhadap keberadaan kursi-kursi sebagai representasi kehadiran tamu-tamu khayalan pasangan suami istri dalam cerita tersebut.

Naskah drama “Les Chaises” yang ditulis oleh Eugene Ionesco yang ditulis pada tahun 1952 ini merupakan naskah yang mengisahkan sepasang suami istri (le vieux yang berarti ‘lelaki tua’ dan la vieille yang berarti ‘wanita tua’) yang telah berusia sangat tua. W. S. Rendra kemudian menerjemahkan naskah drama tersebut ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 2004. Pada naskah aslinya, suami istri ini dikisahkan berusia 95 dan 94 tahun., sedangkan pada terjemahan Rendra, usia mereka diubah menjadi dua abad.

Rendra juga menghilangkan tokoh L’orateur. L’orateur dalam bahasa Indonesia berarti ‘juru bicara’. Rendra juga mengubah nama serta jabatan beberapa tokoh dalam cerita. Tokoh la vieux (kakek dalam terjemahan Rendra) tidak memiliki nama dan dulunya merupakan seorang militer, sedangkan dalam “Kereta Kencana”, tokoh tersebut memiliki nama, yaitu Henry dan merupakan seorang profesor. Sebaliknya, la vieille (nenek dalam terjemahan Rendra) memiliki nama, yaitu Semiramis, sedangkan dalam “Kereta Kencana” tokoh tersebut tidak memiliki nama. Ia disebut-sebut sebagai Putri Zeba oleh sang suami. Zeba sendiri memiliki arti ‘cantik’.

Latar waktu terjadinya peristiwa dalam naskah pun dibuat berbeda. Dalam “Les Chaises”, disebutkan bahwa kisah berlangsung dalam semalam, tepatnya pukul enam sore hingga malam hari. Dalam “Kereta Kencana”, latar waktu tidak disebutkan, tapi dapat diperkirakan bahwa cerita dalam naskah tersebut terjadi dari malam hari yang tidak diketahui jamnya, hingga tengah malam pukul dua belas.

Tidak hanya itu, Rendra juga menghilangkan beberapa bagian cerita dalam naskah Les Chaises”, seperti perdebatan yang terjadi antara sepasang suami istri tersebut. Dalam “Kereta Kencana”, Rendra benar-benar fokus pada tokoh Kakek dan Nenek yang saling bermesraan di sisa-sisa waktu hidup mereka. Lalu, Rendra juga menerangkan peristiwa datangnya tamu-tamu khayalan. Dalam terjemahannya, Rendra tampak ingin menekankan kisah tragedi, yakni Kakek dan Nenek yang dulunya memiliki pengaruh atau jasa yang besar terhadap Prancis, namun dilupakan ketika mereka sudah tua. Tamu-tamu khayalan yang para tokoh ciptakan tersebut merupakan cara mereka memberikan sedikit kebahagiaan bagi diri mereka sendiri di akhir-akhir hidupnya. Kemudian, kisah diakhiri dengan kematian keduanya yang disebabkan oleh serangan jantung, tepat pada pukul dua belas malam.

(Ditulis pada tanggal 14 Desember 2020)


메타데이터
post_id
b2aa40dfc957
slug
kebijaksanaan-w-s-rendra-dalam-bersilat-lidah-b2aa40dfc957
url
https://medium.com/@catchinbetween/kebijaksanaan-w-s-rendra-dalam-bersilat-lidah-b2aa40dfc957
canonical_url
https://medium.com/@catchinbetween/kebijaksanaan-w-s-rendra-dalam-bersilat-lidah-b2aa40dfc957
author_url
https://medium.com/@catchinbetween
status
ok
fetched_at
2026-07-27 16:56:52