← Back to list

Kenapa Gen Z Pengen Balik ke 2016? Romantisasi Era Snapchat dalam Kacamata Uses and Gratifications

Famela Alafiya — Mankom ’25, Kelas A

famelaalafiya77 · 2026-06-12 09:01 · 0 claps · 5.2 min read
#2016 #2016-is-the-new-2026 #uses-and-gratifications #2026 #snapchat
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🌐 · Society · General

Kenapa Gen Z Pengen Balik ke 2016? Romantisasi Era Snapchat dalam Kacamata Uses and Gratifications

Famela Alafiya — Mankom ’25, Kelas A

Sumber: https://timesofindia.indiatimes.com/etimes/trending/2026-is-the-new-2016-why-everyones-engaging-in-performative-trend-hopping/articleshow/126778973.cms

Sumber: https://timesofindia.indiatimes.com/etimes/trending/2026-is-the-new-2016-why-everyones-engaging-in-performative-trend-hopping/articleshow/126778973.cms

Desember selalu menjadi bulan yang magis sekaligus emosional, sebuah transisi di mana orang-orang mulai merefleksikan hidup. Namun, di akhir tahun 2025, ada yang berbeda di timeline media sosial kita. Alih-alih dipenuhi oleh video wrapped tahun berjalan yang biasa, algoritma TikTok, Instagram, dan X. tiba-tiba dibanjiri oleh gelombang nostalgia. Hashtag “2026 is the new 2016” bertebaran di mana-mana bahkan sebelum tahun 2026 itu sendiri dimulai.

Bayangkan sebuah era di mana media sosial tidak menuntutmu untuk estetis. Tidak ada algoritma yang memaksamu melihat video pendek berisi tips hustle culture setiap tiga detik, tidak ada etalase e-commerce di pojok layar, dan yang paling penting: tidak ada tekanan untuk terlihat sempurna. Selamat datang kembali di tahun 2016, era keemasan ketika internet terasa jauh lebih ramah, autentik, dan menyenangkan.

Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSQ5Ghxnj/

Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSQ5Ghxnj/

Kerinduan yang Disambut Hangat oleh Gen Z

Apa yang dimulai sebagai tren estetik iseng di akhir Desember 2025, berubah menjadi bola salju yang besar begitu kalender resmi berganti ke Januari 2026. Gen Z, yang kini berada di usia matang dan mulai dihantam realita dunia kerja serta kedewasaan, seperti menemukan escapism. Karena sudah resmi 10 tahun sejak 2016, orang-orang di internet memutuskan bahwa sudah saatnya kita merasakan kembali nuansa tahun itu. (Parent, 2026).

Platform utama yang menjadi saksi bisu transisi ini adalah TikTok. Di kolom komentar, seorang pengguna menulis, “Aku berkomentar supaya bisa tetap tinggal di 2016.” Ungkapan ini pun langsung diamini oleh banyak netizen lain. (Susanto, 2026). Lewat fitur photo dump dan video transisi, para pengguna TikTok mulai mereka ulang estetika tahun 2016. Lagu-lagu lama diputar kembali, seperti “Closer” oleh The Chainsmokers, “Lush Life” oleh Zara Larsson, “Lean On” oleh Major Lazer & DJ Snake, dan masih banyak lagi lagu nostalgia lainnya. Mereka sengaja mengunduh kembali aplikasi edit foto lama, memakai filter kamera yang sedikit grainy dan over-exposure, hingga membagikan screenshot memori lama mereka. Salah satu filter iconic yang sudah membawa tren ini adalah filter warna Rio de Janeiro. Bahkan hanya dengan melihat warna-warna tersebut tanpa harus melihat caption, orang-orang secara otomatis akan tahu postingan tersebut adalah tren 2016.

Sumber: https://www.instagram.com/p/DUJMwpSgp8P/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=NTc4MTIwNjQ2YQ==

Sumber: https://www.instagram.com/p/DUJMwpSgp8P/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=NTc4MTIwNjQ2YQ==

Gerakan nostalgia ini akhirnya meledak menjadi tren besar ketika industri pop dan algoritma itu sendiri mulai membaca pergeseran hasrat penggunanya. Sadar bahwa audiens sedang haus akan keaslian masa lalu, algoritma mulai melipatgandakan jangkauan konten-konten bertema “2016” ini. Respons berantai pun terjadi dalam hitungan minggu di awal tahun 2026. Para musisi, brand fesyen, hingga para influencer mulai ikut merayakan estetika era tersebut. Banyak selebriti juga ikut mengikuti tren ini, seperti Kylie Jenner yang mengenang era ‘King Kylie’ yang terkenal, bahkan merilis koleksi kosmetik yang didedikasikan untuk persona dirinya di tahun 2016. (Jesson, 2026).

Sumber: https://www.instagram.com/p/DPuln7vAfCo/?img_index=3&igsh=MWxrb2V4NTB2cHQ3aQ==

Sumber: https://www.instagram.com/p/DPuln7vAfCo/?img_index=3&igsh=MWxrb2V4NTB2cHQ3aQ==

Fenomena ini membuktikan bahwa kerinduan terhadap era Snapchat bukan lagi sekadar pelarian individu yang terisolasi, melainkan sebuah gerakan kultural kolektif. Gen Z secara sadar memanfaatkan ruang digital hari ini untuk merekonstruksi kembali kenyamanan masa lalu yang telah hilang.

Romantisasi 2016 Lewat Kacamata Uses and Gratifications

Ketika ribuan anak muda secara serentak mengunggah ulang memori era Snapchat, memutar lagu Tropical House, dan menolak standardisasi estetika media sosial modern, mereka sedang mengirimkan sinyal protes. Menggunakan Teori Uses and Gratifications, fenomena ini menunjukkan bagaimana Gen Z secara aktif berpaling ke masa lalu demi memenuhi kepuasan (gratifications) yang gagal diberikan oleh lanskap digital hari ini.

Teori Uses and Gratifications dicetuskan oleh Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch pada tahun 1974 melalui buku mereka yang berjudul “The Uses of Mass Communications: Current Perspectives on Gratifications Research”. Teori ini menjelaskan konsep dalam ilmu komunikasi yang menyatakan bahwa audiens atau pengguna media bersifat aktif dalam memilih dan menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial mereka.

  1. Kebutuhan Escapism

Dunia di tahun 2026 terasa sangat melelahkan bagi Gen Z. Mereka yang dahulu di tahun 2016 masih duduk di bangku sekolah, kini telah bertransformasi menjadi dewasa muda yang dihantam realita dunia perkuliahan/pekerjaan, inflasi, dan ketidakpastian masa depan.

Konten bertema “2016” digunakan sebagai alat pelarian mental (diversion). Musik EDM yang familier dan filter foto yang buram berfungsi untuk keluar sejenak dari realita yang penuh tekanan, membawa mereka kembali ke ruang aman di mana tanggung jawab terbesar mereka hanyalah mempertahankan Snapstreak bersama teman sekelas.

  1. Kebutuhan Integrasi Personal

Kebutuhan ini berkaitan dengan kredibilitas, stabilitas status, dan pencarian identitas diri yang sejati. Di era modern, media sosial telah bergeser menjadi panggung sandiwara yang sangat terkurasi. Ada tekanan konstan untuk selalu terlihat estetik, mengikuti tren fyp, atau memiliki visual yang “sempurna”. Hal ini memicu krisis identitas digital.

Melalui tren “2026 is the new 2016”, Gen Z mengekspresikan kerinduan mereka akan identitas digital yang lebih jujur. Tidak ada kata “cringe” yang dapat mendefinisikan identitas digital mereka saat waktu itu. Di sinilah letak romantisasi terhadap Snapchat. Pada tahun 2016, pemenuhan kebutuhan integrasi personal tidak didapatkan dari foto-foto studio yang glamor, melainkan dari filter dog (anjing) dengan lidah menjulur atau filter flower crown (mahkota bunga). Menggunakan filter-filter tersebut kala itu memberikan kepuasan berupa rasa percaya diri yang kasual. Ada keberanian untuk tampil konyol dan apa adanya. Dengan meromantisasi era tersebut, Gen Z hari ini sedang berusaha memenuhi kembali kebutuhan akan keaslian diri (authenticity). Sebuah upaya aktif untuk merebut kembali kendali atas identitas mereka dari dikte algoritma modern yang serba menuntut kesempurnaan visual.

  1. Kebutuhan Integrasi Sosial

Media sosial zaman sekarang digerakkan oleh algoritma minat, bukan lagi lingkaran pertemanan murni. Lanskap digital tahun 2016 diingat sebagai ruang interaksi yang lebih intim. Snapchat menjadi primadona bukan hanya karena filternya, melainkan juga karena fitur “Snapstreak”. Tidak ada motif untuk mencari likes dari orang asing, interaksi itu murni dilakukan untuk merawat kedekatan.

  1. Kebutuhan Kognitif

Kebutuhan kognitif berkaitan dengan pemahaman, pengetahuan, dan pemaknaan terhadap lingkungan sekitar. Gen Z hari ini sedang mengalami information overload akibat arus konten yang terlalu cepat. Tren ini membantu Gen Z melakukan simplifikasi kognitif. Mengonsumsi kembali narasi lama yang sudah jelas ujungnya (seperti tren musik atau meme tahun 2016) memberikan rasa aman dan prediktabilitas yang menenangkan otak mereka yang lelah. Memori masa lalu jauh lebih mudah diproses secara kognitif dibandingkan masa depan yang serba tidak pasti.

Melawan Algoritma, Memeluk Masa Lalu

Pada akhirnya, fenomena “2026 is the new 2016” merupakan bukti nyata dari Teori Uses and Gratifications yang menunjukkan betapa aktifnya Gen Z dalam menentukan nasib digital mereka. Dipicu oleh kejenuhan massal terhadap algoritma modern yang terlalu komersial dan manipulatif, generasi ini secara sadar memilih untuk menghidupkan kembali estetika serta tren era Snapchat 2016 demi memenuhi kebutuhan psikologis akan autentisitas dan pelarian emosional. Melalui penolakan aktif terhadap standar digital masa kini, netizen membuktikan bahwa ketika media sosial tidak lagi mampu memberikan kepuasan psikologis yang tulus, audiens memiliki kekuatan penuh untuk mendobrak batasan waktu dan menciptakan sendiri ruang perlindungan mereka di masa lalu.

DAFTAR PUSTAKA

Jesson, L. (2026, February 17). Is 2026 the new 2016? Lifestyle. https://theboar.org/2026/02/is-2026-the-new-2016/

Parent, T. (2026, January 14). Is 2026 the New 2016? All About the Throwback Trend Taking Over the Internet . https://people.com/2026-is-new-2016-trend-explained-11885444

Susanto, F. F. (2026, January 21). Viral di Media Sosial Tren “2026 Is The New 2016”, Apa Maksudnya? Beautynesia. https://www.beautynesia.id/life/viral-di-media-sosial-tren-2026-is-the-new-2016-apa-maksudnya/b-314391


메타데이터
post_id
b2aa68c39284
slug
kenapa-gen-z-pengen-balik-ke-2016-romantisasi-era-snapchat-dalam-kacamata-uses-and-gratifications-b2aa68c39284
url
https://medium.com/@famelaalafiya77/kenapa-gen-z-pengen-balik-ke-2016-romantisasi-era-snapchat-dalam-kacamata-uses-and-gratifications-b2aa68c39284
canonical_url
https://medium.com/@famelaalafiya77/kenapa-gen-z-pengen-balik-ke-2016-romantisasi-era-snapchat-dalam-kacamata-uses-and-gratifications-b2aa68c39284
author_url
https://medium.com/@famelaalafiya77
status
ok
fetched_at
2026-06-22 05:41:33