← Back to list

I sometimes thinking of me dying in your arms

tw // mention of blood, suicide, toxic relationship

divcnvs · 2024-05-14 18:30 · 0 claps · 4.2 min read
#bahasa-indonesia #short-story #fiction
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 💑 · Relationships ✍️ · Writing & Creative

I sometimes thinking of me dying in your arms

Kiranya hampir tengah malam. Aku dengan perasaan senang menunggumu di pojok kamar. Berlagak layaknya bayangan yang tidak dinantikan hadirnya. Besok kamu berulang tahun ke-25, seperempat abad umurmu sudah. Penuh suka cita harapku selalu. Panjang umur dan diberi kebaikan di setiap jalannya. Doa baik selalu aku sematkan sambil menunggu kehadiranmu di kamar itu.

Jam dinding terus berdetik, hampir lewat tengah malam. Kamu tidak kunjung datang dan aku mulai mengantuk. Haruskah aku pulang? atau tetap menunggumu sedikit lagi? aku juga ragu untuk mengirim pesan, takut kamu mulai curiga dan kejutan ini jadi gagal. Lebih baik menunggu sedikit lagi, mungkin dengan mata sedikit terpejam. Pasti nanti aku bangun ketika suara langkahmu terdengar. Aku yakin itu.

Aku terlelap sejenak, mungkin 10 menit sampai aku mendengar derap langkahmu — dengan suara langkah kaki yang aku tidak kenal. Aku bersiap. Berdiri dan merapihkan rambut sedikit. Supaya terlihat cantik walaupun jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi.

Dalam hitungan 3, aku siap membuatmu terperanjat. Siap sekali.

1

2

3

Surprise!

Oh, sebentar. Kita — aku, kamu dan orang asing itu — sama kagetnya. Walaupun ekspresinya tak sama. Raut wajahmu lebih seperti tidak membayangkan keberadaanku, kalau wajahku lebih kecewa karena aku tidak mengenal wanita di belakangmu, sedangkan wanita itu terperanjat dengan mata yang melotot hampir mau lepas. Tangan kalian juga tidak seharusnya terkait seperti itu. Atau memang pertemanan zaman sekarang bisa dengan nyaman menggenggam satu sama lain?

“Surprise…” kataku lirih sambil menyodorkan kue tart yang sudah sedingin suhu ruang — tidak dingin, sih. Aku masih menahan dan berprasangka baik soal wanita itu.

“Tania?” jawabnya sama lemasnya seperti nadaku.

“Ngapain disini?”

Aku juga bingung menjawabnya. Menurutmu bagaimana menjawabnya? Yang jelas aku sudah lebih dari 3 jam menunggumu, kalau ditambah dengan persiapannya mungkin sudah 7 jam tapi kalau ditambah lagi dengan degdegannya mungkin sudah 24 jam aku memikirannya. Bagaimana menurutmu?

Sedangkan wanita itu semakin menutupi wajahnya dengan rambut hitam legam yang panjang. Wajah cantiknya jadi tak terlihat. Aku juga jadi lupa bagaimana tadi rupanya waktu kaget.

“Tania, kamu ngapain disini?” tanyanya sekali lagi dengan nada menekan. Oh, mungkin karena aku tidak menjawab pertanyaannya dia jadi agak marah. Atau karena aku mendapati dia bergandengan dengan wanita itu?

“Ulang tahun kamu…” suaraku serak sekali. Seperti habis terkena radang. Padahal aku yakin tadi aku baik-baik saja. Aku yakin sekali sampai kue tart itu jatuh dari tanganku. Entah karena aku sudah lemas menanggapimu atau energiku sudah habis untuk diam tidak bertanya soal wanita itu.

Kamu bukannya mencoba untuk menyelamatkan kue itu, kamu malah menyelamatkan tanganku. Mengamitnya — dengan sedikit kuat — lalu menarikku keluar dari keadaan canggung itu.

Aku menahannya kuat. Jangan menarikku keluar dari situasi yang aku belum tau jawabannya. Aku ingin tetap disini sampai lidahku kuat untuk mengutarakan “siapa dia?”

Tunggu sebentar, aku harus mencernanya sedikit lebih lama. Perasaan apa ini?

“Aku mau kamu pergi dari sini.” ucapnya sedikit kasar. Oh, mungkin itu namanya sudah kasar — bukan sedikit. Saat itu juga aku baru sadar kalau dia selalu keterlaluan menghadapiku. Dia juga tidak pernah menggenggam tanganku sekuat itu. Aku kemudian semakin bingung, kepalaku berputar hebat.

“Itu siapa?” aku sambil menunjuk wanita yang berdiri tepat di belakangmu. Dia berlindung di balik tubuhmu yang tegap, yang selama ini aku banggakan!

Kamu diam, sambil terus menyembunyikan wanita itu. Kue tart yang jatuh pun tidak kunjung kamu ambil dan rapikan, hanya diam menungguku pergi. Aku ingin berteriak untuk mendapatkan jawaban darimu tapi ini sudah tengah malam, bagaimana kalau yang lain terbangun dan kita bertiga masuk berita dan jadi perbincangan hangat di jejaring sosial?

Akhirnya karena aku tidak kunjung mendapat jawaban, aku memperhatikan sekitar. Mungkin dengan sedikit ancaman kamu akan memberikan jawaban karena aku butuh jawaban itu sekarang. Kalau kamu minta waktu, aku juga akan berikan 2 menit.

2 menit cukup untuk kamu memikirkan alasan yang logis untuk aku dengar. 2 menit juga cukup untuk menodongkan alat tajam ke nadiku dan wajahmu secara bergantian. Aku sambil sedikit mengancam kalau dalam 2 menit itu kamu masih bergumam.

Aku mengamati seluruh ruangan, mungkin ada yang bisa aku pecahkan supaya alat itu menjadi tajam atau kali saja kamu menyimpan di balik kasur untuk jadi alat pelindung ketika kamu tidur ada yang datang mencekikmu (di pikiranmu mungkin aku bisa saja jadi orang gila itu)

Kamu tetap menjaga wanita itu sambil terus berteriak menyumpahi aku. Wanita di balikny itu sepertinya sudah mulai melakukan panggilan darurat.

“TANIA!! LO UDAH GILA YA?!?”

Oh, sejak kapan… sejak kapan panggilan kesayanganmu itu menjadi sebuah nama Tania dan “lo”

Hal yang bisa aku lakukan saat itu menghancurkan cermin di dekat kita berdiri. Kamu dan wanita itu menjauh dari pecahannya sedangkan aku mendekatinya dengan berani. Menginjak serpihannya seperti akan menunjukkan aksi debus.

Aku mengambil potongan yang paling besar dan runcing ujungnya. Aku yakini potongan itu tajam dan cukup untuk menusuk atau menyayat sesuatu.

“Tania…” suaramu melunak, memintaku untuk menyudahi ini semua. Aku bingung sampai air mataku jatuh begitu saja. Beberapa kali aku menyekanya dengan punggung tangan yang tidak menyerap apa-apa. Mataku mulai memanas dan hal yang bisa aku lakukan hanya memantikmu dengan mengancam aku akan menutus urat nadi saat itu juga.

“Tolong…” ucapku sama lelahnya

“Tolong… jawab aku…” masih dengan potongan lancip yang menggantung di atas nadiku.

Aku masih belum dapat jawaban apapun dan yang aku ingat adalah beberapa orang sudah mulai penasaran dengan kejadian kita. Beberapa tetangga kosmu mulai grasak-grusuk mengambil momen pertengkaran tengah malam itu. Tidak ada dari mereka yang mencoba untuk melerai kita.

“Sini, please… Aku sayang banget sama kamu, Tania.” Kamu mengulurkan tanganmu sebagai upaya agar alat tajam itu tidak merusak kulitku.

Tapi sebentar, kalimat “Aku sayang banget sama kamu, Tania” terdengar seperti paksaan. Terlihat seperti aku akan memuntahi kalimat itu di depan banyak orang.

Wanita di balik tubuhmu kemudian tersenyum lebar, mungkin bagi dia ini adalah sebuah kemenangan. Perasaan yang ragu, kalimat yang canggung, perilaku yang sulit dimengerti. Semua itu selalu mengarah ke akhir dari sebuah hubungan yang selama ini aku selalu perjuangkan.

Tidak ada lagi yang aku butuhkan kalau begitu. Setelah aku mendengar suara sirene mendekat, itulah tandanya aku akan baik-baik saja. Serpihan kaca yang tadi hanya aku todongkan ke urat nadi di tangan, kali ini aku mulai merobeknya dalam.

Perlahan cairan kental berwarna merah itu mengucur secara perlahan. Warnanya pekat dan segar, aku meringis sedikit sedangkan yang menonton kejadian itu panik setengah mati. Memang pertunjukan abad ini yang pantas dipertontonkan.

Kepalaku sudah mulai terasa berat dan pandanganku mulai hilang. Kamu mulai panik dan menangkap tubuhku yang hampir terjerembap, menggotongku keluar dengan langkah yang lebar. Aku hanya ingat ada tangis air mata yang menetes di dahiku dengan suara lirih aku mendengarmu meminta maaf.

Entah minta maaf seperti apa rupanya, mataku sudah terpejam hitam pekat. Kalau memang aku mati hari ini, setidaknya aku bisa mati dalam pelukanmu.


메타데이터
post_id
b2b18f93307c
slug
i-sometimes-thinking-of-me-dying-in-your-arms-b2b18f93307c
url
https://medium.com/@divcnvs/i-sometimes-thinking-of-me-dying-in-your-arms-b2b18f93307c
canonical_url
https://medium.com/@divcnvs/i-sometimes-thinking-of-me-dying-in-your-arms-b2b18f93307c
author_url
https://medium.com/@divcnvs
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12