Satu Dua Kata Tentang Payudara
Dan aku tahu tidak akan ada yang mau menikahiku. Aku enggak punya payudara. Dan enggak akan pernah.
TERJEMAHAN
Satu Dua Kata Tentang Payudara
Dan aku tahu tidak akan ada yang mau menikahiku. Aku enggak punya payudara. Dan enggak akan pernah.

Ilustrasi oleh Manshen Lo
Belakangan ini saya senang membaca esai. Dan salah seorang esais yang saya suka adalah Nora Ephron. Wanita yang cerdas sekaligus jenaka. Juga jenius. Maka saya pikir, kenapa tidak menerjemahkan salah satu tulisannya. Dan saya memilih “A Few Words About Breast”.
Saya tahu saya bukan perempuan. Saya tahu saya tak punya payudara— paling tidak, terakhir kali saya cek begitu. Namun bukan berarti saya tidak boleh membacanya, kan. Dan untungnya saya memutuskan untuk membacanya. Karena saya kira, memahami bagaimana rasanya menjadi gender lain akan sangat membantu diri sendiri. Dengan kata lain, ini membantu saya memahami diri sendiri juga — yang kebetulan laki-laki.
Ini cuma terjemahan dari sebagian dari versi aslinya. Kalau kalian ingin membaca lengkapnya, tersedia di Majalah Esquire.
Selamat membaca.
Aku harus mulai dengan satu dua kata perihal androgini. Di sekolah dasar, di kelas lima dan enam, kami semua teraniaya sama seperangkat aturan kaku yang konon katanya menentukan apakah kami laki-laki atau perempuan. Hal-hal seperti itu.
Seperti adegan Huckleberry Finn dimana Huck menyamar menjadi perempuan dan ketahuan dari cara dia memasukkan benang ke jarum dan menangkap bola. Kami dididik bahwa cara duduk, menyilangkan kaki, memegang rokok, dan melihat kuku — hal-hal yang dilakukan tanpa dipikir — menjadi penentu pasti gendermu.
Jelas sekali biasanya anak-anak tidak ambil pusing. Tapi aku iya. Aku pikir cukup satu kekeliruan. Cuma satu kekeliruan menyilangkan kaki atau menjentikkan abu rokok lantas mengubahku dari aku sekarang ini menjadi sesuatu yang lain; sesederhana itu.
Meski dari luar aku jelas perempuan dan punya banyak atribut yang biasanya dikaitkan dengan keperempuanan — nama perempuan, misalnya, dan gaun, telepon pribadi, buku binder — aku menghabiskan masa-masa awal remajaku penuh keyakinan kalau kapan saja aku bisa gagal menjadi perempuan.
Aku sama sekali tidak merasa seperti seorang perempuan. Aku tidak feminin. Aku Atletis, ambisius, blak-blakan, kompetitif, banyak ngomong, sulit diatur. Lututku penuh luka, kaus kakiku melorot masuk ke sepatu, dan aku bisa melempar bola football. Aku sangat ingin tidak begitu. Tidak menjadi campuran laki-laki dan perempuan, melainkan hanya satu: perempuan. Perempuan tulen yang tak terbantahkan. Selembut dan semerah muda tempat tidur bayi. Dan satu-satunya hal yang bisa membuatku benar-benar menjadi perempuan adalah payudara, kurasa.
Aku sekitar enam bulan lebih muda dibanding teman-teman sekelasku. Jadi selama enam bulan pertama, saat payudara teman-temanku mulai tumbuh (itu kata yang kami pakai, tumbuh), aku belum terlalu khawatir. Aku duduk di bak mandi, menunduk melihat dadaku, dan tahu suatu hari, tak lama lagi, buah dadaku akan tumbuh seperti yang lain.
Namun ternyata enggak.

Nora Ephron (pinterest)
“Aku mau punya bra,” ucapku ke ibuku suatu malam.
“Buat apa?” katanya. Ibuku benar-benar resek soal bra. Sampai-sampai, ketika adik perempuanku yang ketiga mulai pengin punya satu, ia masih saja menjadikannya bahan ledekan.
“Kenapa enggak pakai hansaplast saja?” katanya.
Ibuku bangga sekali karena dia tidak perlu memakai bra bahkan sampai dia punya anak keempat — dan itu pun baru dipakai setelah dokter ginekolognya memaksa. Aku sulit memahami bagaimana bisa seseorang bangga atas hal semacam itu. Demi Tuhan, ini tahun 1950-an. Jane Russell. Sweater kasmir. Apa ibuku benar-benar enggak ngeh?
“Aku sudah kegedean buat pakai kutang.” Menjerit. Merengek. Berteriak.
“Ya sudah, jangan pakai,” kata ibuku.
“Tapi aku mau punya bra.”
“Buat apa?”
Kurasa bagi banyak perempuan — payudara, bra, segala tetek bengek itu — punya beban yang lebih besar dibanding apa pun. Lebih berhubungan dengan pubertas, dengan proses menjadi perempuan. Jauh lebih daripada menstruasi, meski itu juga membawa bebannya sendiri. Sebab payudara bisa dilihat. Mereka ada. Kelihatan. Sedangkan menstruasi tidak. Seseorang bisa saja mengaku sudah menstruasi padahal sebenarnya belum. Namun tidak ada yang tahu bedanya.
Dan memang begitulah yang kulakukan.
Yang perlu kamu lakukan cukup mengeluh soal uang jajan buat beli pembalut, lalu berjalan sambil memegangi perut dan mengerang selama tiga sampai lima hari setiap bulan sambil terus bilang “aku lagi dapat”. Dengan begitu semua orang bakal percaya.
Ada semacam anggapan — di kalangan feminis, majalah wanita, dunia ginekologi — kalau kram menstruasi itu sepenuhnya psikologis. Dan aku rasa aku cukup percaya itu. Tapi bukan berarti aku tidak merasakannya.
Tentu saja aku mengalaminya. Kram yang menyiksa. Yang membuatmu perlu sebotol air panas. Yang membuatmu harus ke UKS dan berbaring. Tapi tidak seperti rasa sakit lainnya yang pernah kuderita, aku justru menyukainya. Menyambutnya. Menikmatinya. Membanggakannya.
“Aku enggak bisa ikut. Lagi kram.”
“Aku enggak bisa melakukannya. Lagi kram.”
Tapi yang paling kusuka adalah mengatakan, sambil cekikikan dan malu-malu, “Aku enggak berenang dulu. Lagi kram.”
Enggak ada yang pernah menyebutnya dengan gamblang: menstruasi. Ya Tuhan, jelek sekali kedengarannya. Enggak pernah ada yang bilang begitu. Selalu saja “datang bulan”.
Pagi pertama aku datang bulan, aku menuju ke kamar ibuku untuk memberitahunya. Dan ibuku, yang sangat-resek-soal-bra, langsung menangis. Itu momen yang sungguh indah. Aku mengingatnya dengan sangat jelas. Bukan hanya karena itu kali kedua aku menyaksikan ibuku menangis gara-gara aku (yang satunya saat aku yang enam tahun ketahuan suka mencuri), tapi juga karena kejadian itu punya makna yang berbeda bagi kami berdua.
Untuk ibuku itu artinya anak gadisnya, anak pertamanya, akhirnya menjadi seorang wanita — itulah yang membuatnya terharu. Sementara aku, aku sadar aku sudah menjadi perempuan dewasa dalam pengertian biologis (dan tidak perlu berbohong dan membuang-buang uang jajan lagi). Tapi kalau dilihat dari tubuhku, aku masih merasa tidak cukup perempuan — masih merasa seperti anak laki-laki.
Bra pertamaku berukuran 28AA. Dulu, itu ukuran paling kecil. Meski sekarang katanya ada bra untuk anak lima tahun tanpa cup sama sekali — orang-orang menyebutnya miniset.
Itu kubeli di Robinson’s Department Store di Beverly Hills. Aku pergi sendirian, gemetar, dan merasa yakin kalau saat tiba di sana mereka akan menatapku, menyengir, lalu menyuruhku untuk kembali tahun depan saja. Seorang staf membawaku ke ruang ganti dan berdiri di sana saat aku membuka blus dan mencoba branya. Ternyata kedodoran.
“Coba menunduk,” katanya. (Sampai sekarang aku tidak benar-benar tahu apa yang dilakukan pegawai bagian bra selain menyuruhmu menunduk.)
Aku membungkuk, dengan harapan kalau payudaraku tiba-tiba muncul dan memenuhi bantalan bra itu. Udah, begitu saja. Enggak ada yang terjadi.
“Jangan terlalu dipikirkan,” kata temanku Libby beberapa bulan kemudian. “Nanti juga tumbuh setelah kamu menikah.”
“Maksudmu?” kataku.
“Kalau kamu menikah,” ujar Libby, “suamimu akan menyentuh, membelai, mencium payudaramu, dan itu akan membuatnya membesar.”
Matilah.
Mencumbu leher masih bisa kupahami. Bersenggama juga masih bisa. Tapi tidak pernah sedikit pun terpikir olehku kalau seorang lelaki akan meraba payudaraku. Kalau payudara merupakan bagian dari peningkatan gairah. Astaga. Enggak ada yang pernah bilang soal ini kepadaku.
Kepalaku pusing.
Seketika itu juga aku tahu: cuma sebagian dari yang temanku katakan itu benar — bagian diraba, dibelai, dicium. Bukan bagian membesarnya. Dan aku tahu tidak akan ada yang mau menikahiku. Aku enggak punya payudara. Dan enggak akan pernah.
메타데이터
- post_id
- b2b35ebf500c
- slug
- satu-dua-kata-tentang-payudara-b2b35ebf500c
- url
- https://medium.com/@justjeki/satu-dua-kata-tentang-payudara-b2b35ebf500c
- canonical_url
- https://medium.com/@justjeki/satu-dua-kata-tentang-payudara-b2b35ebf500c
- author_url
- https://medium.com/@justjeki
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 05:41:33