Kisah Beras 2,5 Kilogram
Usai disuntik vaksin, ia pun menerima beras. Dengan pose ala penerima bantuan pada umumnya, pihak KSR-PMI menyerahkan beras kepada teman…
Kisah Beras 2,5 Kilogram

(Tempo.co)
Anda mungkin tidak percaya, bahwa seorang teman sempat menggadaikan kesehatan demi mendapat makan.
Saat pandemi covid-19 menghantam Indonesia, kami bertahan di kantor sekretariat organisasi. Kalau tidak salah, saya masih semester delapan.
Kala itu, berbagai sektor ekonomi runtuh. Kehidupan sosial berubah total. Semua orang panik. Takut. Sebagian yang lain meregang nyawa.
Akibat covid-19 semua orang terdampak. Kami yang masih bertahan di kantor sekretariat juga mengalami hal serupa. Kantong kami kosong. Keuangan keluarga masing-masing dari kami juga tidak stabil.
Saya tidak ingat pasti, bagaimana cara kami bertahan hidup di tengah kondisi demikian.
Namun, ada satu momen menyedihkan sekaligus konyol yang dilakukan oleh seorang teman.
Ceritanya begini. Hari itu, kami bingung akan makan apa. Uang habis. Persediaan beras juga kosong.
Akhirnya, ada satu orang teman memperoleh kabar yang cukup menggembirakan. Korps Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) kampus kami memberikan bantuan beras 2,5 kilogram kepada mahasiswa. Namun dengan syarat harus berkenan disuntik vaksin.
Memperoleh kabar itu, teman saya langsung bergegas ke kampus. Tentu tujuannya bukan ingin disuntik vaksin. Tujuannya memperoleh bantuan beras 2,5 kilogram secara cuma-cuma.
"Saya antre, lalu nama saya dipanggil," kenangnya.
Usai disuntik vaksin, ia pun menerima beras. Dengan pose ala penerima bantuan pada umumnya, pihak KSR-PMI menyerahkan beras kepada teman saya sambil dipotret dengan kamera.
"Saya pegang beras, terus difoto," lanjutnya sambil tertawa.
Ia mengaku malu. "Benar-benar kayak orang rentan," bebernya.
Saat beras diterima, ia pun senang karena setelah itu perutnya dapat terisi nasi dan menolong teman-teman lainnya yang kelaparan.
"Saya bawa beras. Ada di jok motor," teriaknya setibanya di kantor sekretariat.
Semua senang karena tubuhnya akan mendapat tambahan energi. Akhirnya karena beras sudah ada, maka untuk memperoleh lauk, ada yang bertugas meminjam uang kepada seorang teman yang lain.
Setelah semua bahan terkumpul, masakan diolah dan siap disantap bersama. Namun pahlawan yang telah menolong perut semua anak di kantor, mengalami demam. Vaksin yang disuntikkan pada tubuhnya mulai bereaksi.
Alhasil, sang pahlawan jatuh sakit dan nafsu makannya berkurang. Momen ini bagi saya amat membekas. Antara kocak, konyol, dan prihatin bercampur jadi satu emosi.
Bayangkan coba. Niat hati ingin disuntik vaksin agar bisa makan karena memperoleh beras, eh, setelah beras diperoleh, malah sakit dan tidak nafsu makan.
Sungguh pahit memang. Setelah peristiwa ini diceritakan ulang--karena saya lupa--saya hanya menepuk dada. Betapa, kami sempat mengalami keadaan sulit untuk dapat sesuap nasi.
Gila betul. Ada orang yang waras dan sehat harus mengorbankan diri agar bisa makan. Bukan kenyang dan badan fit yang diperoleh, tetapi badan sakit, nafsu makan hilang. Apes betul teman saya.
Sementara yang lain, hanya bisa meratap dan memandang pedih momen itu. Pengalaman ini sangat berharga, setidaknya bagi saya.
메타데이터
- post_id
- b2cb4d800325
- slug
- kisah-beras-2-5-kilogram-b2cb4d800325
- url
- https://medium.com/@rofiqideni/kisah-beras-2-5-kilogram-b2cb4d800325
- canonical_url
- https://medium.com/@rofiqideni/kisah-beras-2-5-kilogram-b2cb4d800325
- author_url
- https://medium.com/@rofiqideni
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-28 02:21:31