Sebatas di Ranjang Ibu
Malam ini aku mendengar ibu menjerit lagi, mengerang suaranya. Aku tidak tahu mengapa, terkadang suaranya seperti meminta pertolongan…
Sebatas di Ranjang Ibu
Malam ini aku mendengar ibu menjerit lagi, mengerang suaranya. Aku tidak tahu mengapa, terkadang suaranya seperti meminta pertolongan. Pertolongan seperti apa yang dia butuhkan ketika yang membersamainya adalah seorang tentara. Tentara yang tampak keren-keren itu. Aku ingin menjadi seperti mereka dan nanti bisa menolong ibu jika dia berteriak minta tolong.
Setiap malam jeritan ibu mengganggu tidurku, tak jarang ranjang ibu berdecit membangunkanku. Tapi aku tidak pernah tahu apa yang terjadi pada ibu karena dia selalu memintaku untuk segera tidur sebelum si tentara datang. Bikin kesal memang, dia memintaku lekas tidur, tapi dia sendiri yang mengganggu tidurku, padahal sudah tahu aku tidur di kolong ranjangnya.
Semua pikiran itu terus menyertai tidur malamku sebelum pada suatu malam akhirnya aku membantah ibu. Saat ranjangnya mulai berdecit dan ibu mulai mengerang aku segera bangkit dari kolong ranjang, secepat kilat berdiri di samping ranjang ibu.
Ruangan yang sempit itu tiba-tiba menjadi sepuluh kali lipat lebih sempit. Rupanya tembok-tembok gubuk itu murka padaku lantas dihimpitnya tubuh kecilku. Para kelambu tak kalah murkanya, dililitnya leher yang hanya segenggam sapu lidi. Menyesakkan seakan kapuk-kapuk dari kasur, bantal, dan guling yang ditiduri dua binatang itu memenuhi paru-paru
Binatang, benar binatang. Keduanya tampak seperti kuda-kuda liar di tanah lapang sedang musim kawin. Ibu seperti sedang mandi, dan teteknya yang sedari kecil aku isap sebagai sumber kehidupanku sedang diisap tentara. Aku merasa teritorialku direbut paksa, aku rasa tentara itu tidak memiliki wewenang untuk mengisap sumber kehidupanku seperti itu. Apa jika jadi tentara maka seluruh ibu dari anak di dunia ini juga termasuk dalam wewenangnya?
Pemandangan yang memualkan. Aku muntah. Mengeluarkan segala macam kapuk yang bersarang di kerongkonganku sedari tadi. Badanku rasanya remuk seperti dihimpit tembok gubuk sempit itu. Sebelum terhuyung membentur lantai sempat terlihat kilat jijik dan amarah si tentara tertuju padaku. Lalu gelap. Tinggal suara-suara menyedihkan melagu dari bibir ibu. Lalu terang. Sempat kulihat tentara itu menampar pipi ibu sebelum membanting pintu meninggalkannya begitu saja.
Ibu dengan tidak berpakaian mendekatiku, aku merasa bersalah melihatnya, aku ingin minta maaf. Kuulurkan kedua tangan yang kotor karena terjatuh di atas muntahanku sendiri, seperti dahulu kala meminta gendong. Dengan masih tersedu ibu mengangkatku. Lalu gelap. Ibu membantingku. Mungkin tubuhku remuk, tapi tak kurasa. Ibu segera memelukku lagi. Meraung tangisnya meminta maaf padaku, merapatkan kepalaku di dadanya, merapal segala penyesalan yang seketika menyerang nuraninya sebagai seorang ibu.
Dia bertanya kenapa aku keluar dari kolong, aku diam saja. Dia bertanya lagi apakah ada yang luka parah, aku diam saja. Kali ini dia berkata seharusnya aku tidak keluar dari kolong, seharusnya aku tidur saja, aku masih diam. Sampai ibu melepas dekapnya, menatap wajahku yang sepertinya berdarah di pelipis kiri. Aku melihat ibu menangis, tergenang pula air mataku. Dadaku sakit melihat ibu menangis, yang di kemudian hari aku tahu itu salah satu dampak rasa cinta.
Sejak malam itu kami tidak lagi tinggal dan tidur di sana. Aku tak mengapa, sudah biasa berpindah-pindah tempat tidur. Aku tidak pernah meminta penjelasan ibu tentang malam itu, ibu juga tidak pernah tampak ingin menjelaskannya. Jadi jika aku terbangun di tengah malam, aku hanya akan meneruskan baring, berpura-pura mendengkur agar ibu kira aku lelap tertidur (walau kini aku merasa dia selalu tahu bahwa aku berpura-pura tidur).
Semakin sering aku terbangun di tengah malam, semakin aku yakin tak ada satu pun dari mereka yang merupakan bapakku. Jika bapakku memang mencintainya, jika tentara-tentara itu salah satunya adalah bapakku, ibu tidak akan menangis kesakitan begitu. Seperti aku yang selalu ditimang ibu, walau tak jarang pula dia bermain tangan, begitulah cinta di mata kecilku.
Ibu bercerita bahwa bapakku adalah seorang yang cinta sekali padanya, lebih dari cintaku padanya, seorang perwira, wong londo, katanya menghibur hati kecilku yang baru dimandikan karena kotor setelah dilempari tahi sapi oleh anak-anak pribumi.
Saat itu yang kutahu orang-orang Belanda, tentara-tentara Belanda, pejabat-pejabat Belanda dipandang tinggi oleh orang-orang pribumi. Jadi kupikir anak-anak yang memiliki keturunan Belanda juga dipandang tinggi oleh pribumi.
Tanpa kutahu bahwa pada kenyataannya aku, seorang Indo ini berkali-kali lipat lebih rendah dari pribumi. Tidak peduli siapa bapakku, apa pangkatnya sebagai wong londo namanya hasil pergundikan tidak akan mempunyai tempat di masyarakat, mungkin dapat tempat jika bapak yang katanya mencintai ibu dan mencintaiku itu memberikan namanya.
Tidak ada tempat untukku di sini. Setelah sifilis merenggut cantik ibuku, merenggutnya dari dekapku, aku berada di awang-awang. Bukan pribumi, bukan pula Belanda totok. Negeri ini enggan sekali menerima darahku. Kucicip segala macam sumber uang demi menyambung nyawa, demi membungkam perut laparku, atau sesekali terbesit demi menabung masa depan yang entah akan kupijaki atau tidak. Sekalipun negeri ini, negerinya pribumi dan Belanda totok.
Kulitku matang, matangnya tak serasi dengan mata terang dari bapak. Ibu berkata kian beranjak dewasa kian serupa pula rupaku dengan perwira itu, yang tak pernah kutahu bagaimana rupanya tapi kudu kusebut bapak.
Selalu saja ibu berkata bapak begitu menyayanginya dan menyayangiku. Aku muak, aku muak hingga sudah tidak tergiur lagi pada pangkat-pangkat militer itu. Dewasa ini setelah sebuah tragedi menyasar nyawaku, seorang mantan perwira, seorang Belanda totok berdiri di depan bola mataku, membawa secarik kertas bergambar hitam-putih. Senyum cantik tuhanku terpampang nyata di atas tangan putih pucat si Belanda totok itu. Tampak bahagia ibu di sana, menggendong putra semata wayangnya, aku. Di belakang berdiri wong londo yang dulu sering diceritakan padaku.
Matanya menatapku seperti seorang bapak. Kasihan, matanya mengasihaniku, katanya kasihan adalah rasa cinta yang paling besar.
“Aku begitu mencintai ibumu, dan dirimu.” Kecut rasa senyum di bibir. Seketika ruangan putih yang menyilaukan itu menghimpitku lagi, kali ini disertai selang infus yang melilit leher dan besi-besi menghantam kepala.
“Cinta?” Pelipis kiri kupijat, letak luka ibu dan aku di masa lampau.
Babak belur wajahku dihantam bogem mentah anak-anak pribumi tanpa mampu mengerti di mana letak salahku. Apakah keberadaanku salah? Ibu bilang tidak, keberadaanku tidak salah. Ibu akan memelukku erat, menenggelamkanku di dadanya, tempat hati berada katanya. Itu cinta. Bapakku, yang mencintai ibu dan aku itu, kemudian kuketahui telah membunuh pribumi atas alasan yang tidak mau kucari tahu hingga kini. Jika aku saja babak belur dihantam dendam anak-anak pribumi, bagaimana dengan ibu. Dan ke mana perginya wong londo yang katanya mencintai ibu pun aku ini.
“Kau sebatas mencinta di ranjang ibu.” Tuduhku.
“Tidak, aku sungguh mencintaimu.”
“Lalu lahirlah aku.”
“Aku pergi karena tidak punya pilihan lain-”
“Hasil pengumbaran nafsu birahi yang tidak dilakukan dengan hati-hati.” Potongku.
Bibirnya seakan dibungkam udara. Pipiku perih. Dia tidak mencintaiku, tapi matanya kasihan padaku. Aku tidak mengerti. Apa dia sungguh mencintaiku atau tidak. Apakah aku membencinya atau tidak.
TAMAT.
메타데이터
- post_id
- b2d140f779e2
- slug
- sebatas-di-ranjang-ibu-b2d140f779e2
- url
- https://medium.com/@rasyidatuz/sebatas-di-ranjang-ibu-b2d140f779e2
- canonical_url
- https://medium.com/@rasyidatuz/sebatas-di-ranjang-ibu-b2d140f779e2
- author_url
- https://medium.com/@rasyidatuz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 06:47:43