← Back to list

144. We’re Same.

Ren tau, bahwa Elara sama dengannya. Dan itu terbukti. Keduanya mendapatkan pekerjaan dari semesta.

coffee · 2025-10-17 14:30 · 0 claps · 1.7 min read
Open on Medium ↗

144. We’re Same.

Sudah lima belas menit Ren berdiri di basement utara. Ia tak banyak bergerak, hanya berdiri dengan tangan di saku jaket, menatap dinding tua yang catnya mulai terkelupas.

Ren menarik nafas panjang. Akhir-akhir ini ia tidak tidur dengan cukup. Harus menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus yang sudah cukup asing dari dirinya. Belum lagi menyelesaikan urusannya yang belum juga selesai sejak tahun lalu ia ambil cuti kuliah.

“Kak Ren!”

Lamunan Ren seketika buyar saat seseorang berteriak namanya cukup keras. Sama seperti yang Ren duga-duga, diantara kerumunannya banyak orang, ia tak melihat sekali pun benang merah milik Elara. Ia tidak melihat garis takdir cewek itu.

Ren terdiam, tenggorokannya terasa kering. “Lo…” suaranya nyaris tak keluar, “gak punya benang sama sekali.”

Elara mengerutkan dahi, bingung. “Apa?”

Hening sesaat, sampai Ren akhirnya berbicara lebih jelas. Ia tidak ingin basa-basi. Ia tidak punya banyak waktu.

“El, lo… bisa lihat benang gue?”

Elara langsung diam saat mendengar itu. Tatapannya berpindah ke wajah Ren, mencari gurauan atau tanda bahwa itu cuma lelucon. Tapi tidak ada. Sorot mata Ren serius.

Kenapa dia bisa tau kalau gue akhir-akhir ini liat benang merah? Kalimat itu nyaris saja keluar dari mulut Elara. Namun sebaik mungkin ia tahan.

“Gue gak ngerti maksud lo, Kak.” Ia mencoba tersenyum— senyum gugup yang bahkan tak sampai ke matanya.

Ren menatapnya lama, terlalu lama. Seolah sedang mencoba mencari sesuatu di balik tatapan Elara.

Kepala Elara memang penuh dengan pertanyaan, tapi semuanya itu seakan terjawab disaat Ren menarik tangannya. Tangan mereka bersentuhan dan Ren membuat tautan kuat.

Beberapa detik tangan mereka tertaut, sebuah sensasi aneh tiba-tiba menjalar cepat dari telapak tangan ke seluruh tubuh — panas, menusuk. Kurang dari satu detik, tautan itu langsung terlepas dan keduanya meringis kesakitan sambil memegang dada.

Elara terisak kecil, spontan menarik napas dalam-dalam saat dadanya mulai sakit. “A—apa-apaan ini?” suaranya pecah, matanya membulat panik.

Ren juga ikut meringis, napasnya berat. “Ah, shit. Bener ternyata,” Sengalnya di sela nafas, tatapannya tajam tapi kini dipenuhi keterkejutan yang sama.

Who… the fuck are you?” Elara mundur satu langkah. Ia merasa dirinya dalam bahaya jika ia dekat-dekat dengan Ren.

Sementara yang ditanya pun sibuk mengatur nafasnya. “Gue?” Ren berdiri dengan sisa tenaganya. “Gue sama kayak lo, El. We’re same.

Elara tak menjawab. Matanya menatap tajam ke cowok itu. Anjing, siapa orang ini? Elara menutup matanya sesaat, berbicara dari dalam hati dengan adegan apa yang barusan saja terjadi baru-baru ini.


메타데이터
post_id
b2d23b767f8a
slug
144-were-same-b2d23b767f8a
url
https://medium.com/@rtylenol/144-were-same-b2d23b767f8a
canonical_url
https://medium.com/@rtylenol/144-were-same-b2d23b767f8a
author_url
https://medium.com/@rtylenol
status
ok
fetched_at
2026-06-27 08:06:00