← Back to list

Kejayaan Industri Gula di Pasuruan adalah Romantisasi Penindasan Rakyat

Beberapa hari ini saya membaca buku “Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan” saya teringat dengan identitas Pasuruan yang selalu…

Gloriapw · 2026-02-23 04:03 · 0 claps · 3.9 min read
#comunist #partai-komunis-indonesia #komunis #tentang-belanda
Open on Medium ↗

Kejayaan Industri Gula di Pasuruan adalah Romantisasi Penindasan Rakyat

Beberapa hari ini saya membaca buku “Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan” saya teringat dengan identitas Pasuruan yang selalu membanggakan industri gula hasil monopoli Belanda yang sudah mati itu. Sebuah ide terikat dengan pikiran saya, “ada nggak ya memori soal komunis di Pasuruan ini?”

Kota ini membanggakan industri gulanya di masa lampau. Semua bermula sejak Proefstation Oost-Java didirikan di Pasuruan pada tahun 1887. Inovasi ini telah menyelamatkan industri gula di Indonesia, juga berkontribusi pada stabilitas industri gula di seluruh dunia.[1] Mungkin hal ini yang selalu dibanggakan oleh pemerintah kota sejak saya belia hingga semuak sekarang. Karena Belanda melakukan pengalihan lahan sawah menjadi Kawasan perkebunan gula. Van den bosch pernah melakukan kontrak politik dengan Sembilan orang pengusaha gula di Pasuruan pada tahun 1830 untuk menjalankan politik tanam paksa (cuultur stelsel) agar konsep bisnis industri gula pemerintah kala itu berjalan lancar. Enam orang diantaranya adalah pengusaha Tionghoa, dan tiga lainya pengusaha Eropa. Mereka harus menyerahkan 17.430 Pikul gula kepada pemerintah. Lantas apakah orang-orang tionghoa dan eropa ini bekerja keras untuk itu? Tentu saja tidak. Mereka memonopoli produksi gula milik penduduk, hasil tanah penduduk lokal.[2]

pekerja gula di Jawa Timur. Sumber: Arsip Jatim

pekerja gula di Jawa Timur. Sumber: Arsip Jatim

Cara agar dapat menguasai hasil kerja rakyat adalah melalui kepala desa. Mereka membayar pajak tanah, dan mengambil pekerja kasar dari masyarakat lokal. Rakyat yang awalnya petani beras, dipaksa menanam tebu agar ketersediaan gula bertambah. Belanda menjadikan tebu sebagai tanaman andalan kala itu. Bukan karena ada alasan kemanusiaan dalam proyeknya, namun semata hanya demi keberlanjutan bisnis gula untuk memperkaya mereka. Keberadaan perkebunan tebu diperluas sampai ke Probolinggo, Malang, hingga lumajang.[3] Lantas bila bisnis gula ini memeras tenaga kasar masyarakat lokal untuk menguntungkan Belanda, kenapa kita terus membanggakan peninggalan mereka?

Surat kabar yang diterbitkan Java Bode pada 15 September 1953 pernah melaporkan tentang pemogokan oleh serikat buruh gula. Serikat Buruh Gula (SBG) menuntut perbaikan skema pensiun setelah mereka bekerja. Selain itu juga terjadi pemogokan buruh di Nebritex pasuruan, selama seluruh tuntutan belum dipenuhi, maka serikat pekerja akan melanjutkan aksinya.[4] Serikat Buruh Gula (SBG) merupakan serikat buruh historis di jawa yang aktif dalam penuntutan hak mereka pada era demokrasi liberal hingga nasionalisasi aset. Serikat buruh ini adalah terkait dengan Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Pandangan SOBSI adalah memperjuangkan buruh untuk mengubah keadaan social. Organisasi ini memiliki visi dan misi memberantas kemiskinan buruh serta anti terhadap koruptor, sayangnya organisasi ini dibubarkan pasca Gerakan 30 September.[5]

Bukti sejarah lain yang diterbitkan Het Hieuwsblad Voor Sumatra pada 19 Oktober 1953 membuktikan eksistensi SOBSI di Pasuruan. Surat kabar ini menyatakan bahwa Pengurus Sebda Cabang Pasuruan dari sepuluh departemen dari Persatuan Pegawai Negeri Sipil telah mengundurkan diri dari keanggotaan SOBSI. Diantaranya adalah Dinas Jepara, Probolinggo dan Pasuruan. Pengunduran diri mereka dilakukan karena SOBSI memimpin serikat pekerja ke arah blok tertentu.[6]

Surat kabar lain De Vrije Pers pada tanggal 4 Juli 1951 juga menginformasikan pemogokan kerja oleh stasiun penelitian Pasuruan selama satu minggu, karena tidak diberikan bonus lebaran yang setara dengan gaji satu bulan. Akhirnya tuntutan tersebut segera dipenuhi oleh perusahaan.

Terdapat bukti surat kabar lain oleh De Vrije Pers yang diterbitkan pada 1 Agustus 1952 dengan judul “PKI dan SOBSI tidak ada di Komite 17 Agustus” yang berisi informasi bahwa pada pertemuan Komite 17 Agustus Kabupaten Pasuruan yang dipimpin oleh bupati, terjadi pemrotesan dari perwakilan SOBSI dan PKI karena niat bupati yang tidak menyediakan keterwakilan PKI sebagai anggota komite tersebut. Usulan dari PKI dan SOBSI untuk memilih anggota dari seluruh kelompok dan partai ditolak oleh rapat tersebut. Setelah keputusan bupati ini, SOBSI dan PKI meninggalkan rapat.[7]

Telah banyak saya temukan bukti perlawanan buruh yang hadir di wilayah Pasuruan. Apabila perlawanan terjadi maka pasti terdapat ketidakadilan yang tercipta akibat industri gula di kota ini. Lantas jika masyarakat lokal dirugikan atas bisnis ini, mengapa kita meromantisasinya setiap tahun sebagai sejarah yang harus dibanggakan?

[1] Solichan Arif, Kisah Pasuruan, Rajanya Pabrik Gula Sejak Meletusnya Perang Jawa, Sidonews.com, diakses 23 Februari 2026, https://daerah.sindonews.com/read/1011117/704/kisah-pasuruan-rajanya-pabrik-gula-sejak-meletusnya-perang-jawa-1675224135/5.

[2] Muhammad Farhan, Sejarah Gula di Pasuruan, Kota Kecil dengan Jejak Besar Dunia, Suarajatimpost.com, diakses 23 Februari 2026, https://suarajatimpost.com/sejarah-gula-di-pasuruan-kota-kecil-dengan-jejak-besar-dunia.

[3] Arif, Kisah Pasuruan dan Orang-Orang Madura Tulang Punggung Pabrik Gula, Blitar.inews.id, diakses 23 Februari 2026, https://blitar.inews.id/read/248487/kisah-pasuruan-dan-orang-orang-madura-tulang-punggung-pabrik-gula.

[4] -, Sarbupri Wens Staking Niet aft e Gelasten, Diakses tanggal 23 Februari 2026, Java Bode, https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=Pasuruan&coll=ddd&page=1&maxperpage=50&identifier=ddd:010864652:mpeg21:a0082&resultsidentifier=ddd:010864652:mpeg21:a0082&rowid=31.

[5] Rachma Syifa Faiza Rachel, Sejarah SOBSI, Organisasi Onderbouw PKI yang Masif Memperjuangkan THR, idntimes.com, diakses 23 Februari 2026, https://www.idntimes.com/news/indonesia/sejarah-sobsi-organisasi-onderbouw-pki-yang-masif-perjuangkan-thr-00-fdhs5-wprgrl.

[6] J.G. Gleichman, Sebda-afdeling uit Sobsi Getreden, Het Hieuwsblad Voor Sumatra, diakses 23 Februari 2026, https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=Pasuruan&coll=ddd&page=1&maxperpage=50&identifier=ddd:010477675:mpeg21:a0039&resultsidentifier=ddd:010477675:mpeg21:a0039&rowid=15.

[7] -, Gedeeltelijke Suiker-actie, De Vrije Pers, diakses 23 Februari 2026, https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=Pasuruan&page=9&maxperpage=50&coll=ddd&identifier=ddd:011210334:mpeg21:a0024&resultsidentifier=ddd:011210334:mpeg21:a0024&rowid=38.


메타데이터
post_id
b2d7abdcb9bb
slug
kejayaan-industri-gula-di-pasuruan-adalah-romantisasi-penindasan-rakyat-b2d7abdcb9bb
url
https://medium.com/@gloriapw98/kejayaan-industri-gula-di-pasuruan-adalah-romantisasi-penindasan-rakyat-b2d7abdcb9bb
canonical_url
https://medium.com/@gloriapw98/kejayaan-industri-gula-di-pasuruan-adalah-romantisasi-penindasan-rakyat-b2d7abdcb9bb
author_url
https://medium.com/@gloriapw98
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13