Dirimu : Poros Hidup
Suatu sore aku melangkahkan kaki ku dengan berat menuju tempat yang lebih bercahaya. Setapak demi setapak aku lewati meskipun terasa…

source : pinterest.com
Dirimu : Poros Hidup
Suatu sore aku melangkahkan kaki ku dengan berat menuju tempat yang lebih bercahaya. Setapak demi setapak aku lewati meskipun terasa begitu melelahkan. Bak perjalanan jauh sebab sudah lama diam di tempat. Beberapa hari ini aku mengisolasi diriku karena lagi-lagi merasa begitu tak mampu untuk sekedar memperkenalkan “aku” pada udara yang bebas berkeliaran di bumi.
Ku menelusuri cahaya, bangkit kembali dari gelap dan kemudian terperangah dengan sinar yang begitu terik namun menghangatkan. Terik namun tak sedikit sombong meski seolah berada dititik tertinggi. Justru memberikan tanda dengan desiran seluruh tubuhku yang kian menghangat dibuatnya. Matahari, sore, dan diriku yang penuh luka. Sungguh menjadi obat meski hanya beberapa saat.
Tampaknya dunia tetap berjalan baik-baik saja. Semesta tetap dengan hiruk pikuk yang sangat bising dan suara bersautan yang tak kunjung usai. Seluruhnya kerap menjadi indah setiap sudut memori ku. Membantuku terus melangkah meski dengan sedikit demi sedikit berbalut ketakutan.
“hmm….” ku hirup dalam-dalam hal gratis paling bermakna dalam hidup yang mampu menyemangati paru-paru ku agar bertahan lebih lama setiap detiknya.
Ku lanjutkan kembali berjalan, dan aku akhirnya menemukan satu inginku diantara berjuta angan yang selalu ku kubur dalam-dalam. “Eskrim!”
Kali itu aku merasakan kemilau kembali di dalam jiwa. Degup yang tak beraturan sebab hal sederhana yang menjadi impian. Dengan satu keinginan tersebut, aku seolah menginginkan lebih dalam melakukan pergerakan, aku kian bersemangat menghadapi matahari menghangatkan dan penuh dengan tawa bahagia itu. Meski di tengah jalan aku menapaki ada batu yang mengganjal, aku hanya perlu melewatinya dan ingat selalu akan tujuanku melangkah, “Tujuanku ada disana. Eskrim itu menungguku untuk dijadikan milikku”.
Mungkin itu hanya sedikit gambaran mengenai hidup. Perihal makna segala hal yang seolah terbalut berbagai hal yang memberatkan untuk dijadikan sebagai tujuan.
Kita seringkali digagalkan oleh diri sendiri. Kita sering kali hilang arah dan tak tau kemana jalan yang ingin ditapaki. Tetapi, ketika dunia memiliki pusatnya dalam berotasi, maka dirimu adalah pusat pada dirimu dalam berotasi pula. Jadikan dirimu sebagai titik pada sumbu duniamu, maka pergerakan dan segala hingar bingar hidup akan berjalan sesuai dengan semestinya.
Meski terkadang dalam perjalanan menuju “Eskrim” kita akan menemui banyak jalan membingungkan, jalanan penuh krikil yang menyakitkan, bahkan tak jarang sembarang orang meletakkan silet yang tak sengaja diletakkan hingga melukai diri kita. Kuncinya hanya satu : Hadapilah.
Dunia ini hanya berisi skenario yang telah tercipta. Perihal bagaimana akhir dari hidup, kita bukanlah pengendali dalam keputusan setiap halnya. Sebab dunia menginginkan usahamu sebagai langkah untuk tuju, agar akhir mu indah dan menemukan “Eskrim” yang kamu impikan.
“Tak apa dunia jahat, asal jangan kamu. Tak apa dunia tak adil, asal jangan kamu. Tak apa seluruh dunia membenci mu, asal jangan kamu. Tak apa dunia tak baik, asal jangan kamu yang tak baik pada dirimu”
Selamat menjadi satu-satunya pembela dirimu. Semangat meraih “Eskrim” yang kamu inginkan. Mari hidup kembali, sebab tuju mu merindukan juang mu.
메타데이터
- post_id
- b2ebd256f8ab
- slug
- dirimu-poros-hidup-b2ebd256f8ab
- url
- https://medium.com/@finiakhairani/dirimu-poros-hidup-b2ebd256f8ab
- canonical_url
- https://medium.com/@finiakhairani/dirimu-poros-hidup-b2ebd256f8ab
- author_url
- https://medium.com/@finiakhairani
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 14:26:31