← Back to list

Pesan untuk kakak lelakiku — yang tidak kandung.

Kali ini, aku harap hidupmu selalu diiringi hal baik, Abang.

alyezshaa · 2025-02-18 14:58 · 0 claps · 3.8 min read
#banga #kakak-lelaki #pesan
Open on Medium ↗

warm hug, when i need it

warm hug, when i need it

Pesan untuk kakak lelakiku — yang tidak kandung.

https://open.spotify.com/track/2x3vwXWuecPrRqgEUuSUJA?si=SfSy5z6VTGKc1xVe1DIlow (silahkan dengar sembari membaca ya!)

Kali ini, sebuah pesan untuk kakak lelakiku — yang tidak kandung.

Sudah banyak hal yang dilewati manusia selama mereka hidup, banyak momen yang melekat, mampir, tinggal, banyak juga yang lepas dan hilang. Lalu menjadi memori yang tinggal dikepala, hanya kenangan dan ingatan yang tersisa.

Namun seumur aku hidup, tak pernah ku dapati kakak lelakiku — yang tidak kandung itu singgah di kepala hanya sementara. Dia selalu tinggal, menetap, dan akrab. Aku dapat mengenalinya tanpa perlu melihat, hanya perlu perasaan.

Ini mungkin menjadi tulisan pertamaku tentang lelaki, selain papa.

Ah, repot sekali memanggil dia kakak lelaki yang bukan kandung.

Jadi, ku panggil dia abang sepupu, lebih singkat lagi “Abang.”

Aku tumbuh dengannya sedari aku lahir. Usia kami terpaut 5 tahun, jarak yang cukup jauh menurutku, karena sekarang umurnya sudah masuk kepala dua. Cepat sekali waktu berjalan, kadang tak rela melepaskan.

Sedari dulu, dia selalu jadi orang yang seru, lucu, dan penuh haru. Persetan lagu sendu, hidupnya jauh lebih semu. Aku menyaksikan dia tumbuh menjadi Abang sepupu yang baik. Meskipun kadang aku miris melihat tubuhnya yang kurus kering, seolah sisa tulangnya saja yang ada di tubuh tinggi itu. Kala ku ingat dirinya kini telah menjadi kepala keluarga, begitu ayahnya meninggal beberapa tahun lalu. Ku ingat dirinya yang terpuruk selama beberapa waktu, menatapi nasibnya yang buruk. Lalu kuingat dia yang mengajakku mengobrol malam-malam. Malam itu aku tidak paham dengan cara pandangnya,

Aku kelas 5 sekolah dasar, dan dia kelas 10 SMA. Mana mampu aku paham tentang ucapannya mengenai dunia yang seakan runtuh begitu ayahnya tiada?

Namun, begitu aku masuk ke fase kehidupan sekarang, aku sudah cukup paham dan mengerti maksud ucapannya. Memahami bagaimana perasaan manusia yang rapuh, memahami segala permasalahan yang datang ke kehidupan yang sementara, memahami hal-hal kecil, memahami menghargai orang lain, dan memahami diri sendiri tentunya.

Kuingat beberapa tahun lalu, ketika aku sakit, aku selalu menjadi yang paling manja. Maka begitu tau aku merasa tidak nyaman dengan demam yang menyerang, aku lari kedekapannya, minta disuapi obat. Manja, memang. Apa peduliku, dia Abangku, tahu?

Aku selalu minta agar duduk didekatnya saat liburan keluarga naik mobil, agar aku merasa aman. Dari dulu, dia selalu tampak acuh pada diriku, meski begitu aku tetap jadi adik kecilnya. Seiring umurku dan dia bertambah, aku merasa itu adalah bagian dari tumbuh. Sekarang, mana pernah dia meninggalkan adik-adiknya? Dia selalu berdiri ditengah keramaian, menyaksikan adik kecilnya yang beranjak dewasa, memasuki fase hidup yang lebih serius dari sebelumnya.

Aku merasa, dia abangku yang keren. Tentu saja, ini hanya dari opiniku, ku tebak, pasti banyak dari mereka yang menentang.

Tapi untukku, dia bagian dari separuh hidupku.

Sama seperti mama dan papa,

Dia sama berharganya.

Dia sama hebatnya.

Kadang rasa penasaranku muncul, kira-kira bagaimana reaksinya begitu dia tahu aku selalu membanggakan dirinya didepan orang lain?

“Oh, kamu juga dari kampus itu? Abangku juga disana! Jurusan ekonomi dan bisnis,”

“Aku juga punya abang, dia keren, lho! Dia punya pengalaman magang di toko emas juga, dia kayanya jago matematika, deh,”

“Abangku suka es krim juga, rasa vanilla. Dia nggak suka rasa matcha, aneh memang.”

“Abangku juga bisa bawa mobil! Dia yang ajarin aku menyetir mobil waktu SMA,”

“Aku punya abang, dia juga ikut kepanitiaan, kemarin dia dinobatkan jadi panitia terbaik!”

Begitulah kira-kira, dimanapun aku berada, namanya tersebut pula.

Abangku itu suka sekali dengar lagu lawas, kemarin dia memutar lagu-lagu Iwan Fals di mobilnya, kadang juga lagu-lagu yang tak kuketahui penyanyi dan judulnya.

Abangku juga perokok berat,

Sebetulnya aku tak suka perokok, benci malah. Tapi, abangku pernah menegur temannya karena merokok didepanku, tidak tanggung-tanggung, dia seret temannya itu menjauh dariku. Prinsipnya dalam merokok, “Habis tiga bungkus sehari tak apa, asal adik perempuanku tidak ikut menghirup.” Sembari membuang bungkus rokok Sampoerna miliknya

Jadi, selama dia berada di sisiku, di sisi adik perempuannya yang lain, rokok kesayangannya itu hilang entah kemana. Meskipun, kadang dia tampak tak sanggup menahan candunya pada sebat itu. Aku selalu suka cara dia menghargai orang lain sebagai sesama manusia.

Selama tidak menyakiti orang lain, jangan takut untuk hidup lagi.

Kuingat ucapannya, “Nanti adek juga paham,” begitu dia mendapatiku tak mengerti ucapan dan maksudnya. Kala dia berucap begitu, aku langsung penasaran. Aku ingin cepat-cepat paham agar dia nyaman bicara denganku meskipun umur kami terpaut jauh.

Dan akhirnya aku bisa menyamai pemikirannya,

Ketika kami membahas politik, dan tempat minum kopi yang nyaman di Jakarta. Ketika kami saling memaki pemerintah yang setengah setan itu, ketika kami saling memberi nasehat tentang hidup yang tak selamanya mulus, ketika dia memberi afirmasi berharga tentang masa mudaku yang banyak cerita gilanya, ketika kami membahas tentang waktu dan umur, ketika kami membahas tentang asing, ketika kami membahas mengenai mati di tangan Tuhan yang abadi.

Makanya, aku berdoa keras keras, bukan harapan, tapi keharusan. Aku harus hidup dengan bahagia dan tinggal yang lama, aku harus makan sate padang pinggir jalan lagi dengan Abangku, aku harus beli es krim vanilla lagi (meskipun dia yang makan, karena aku tidak suka vanilla), aku harus jadi orang kaya, aku harus lihat dia wisuda, aku harus tuntas jadi manusia, tanpa penyesalan kala aku mati.

Aku sayang sekali dengannya, aku sayang sekali pada abangku.

Namun, aku tak bisa bilang sevokal itu, sefrontal itu, seberani itu. Namun, rasa sayangku yang tak terungkapkan ini ku harap bisa tersampaikan lewat kata. Menjelma menjadi sebuah frasa yang singgah di kepala, lalu pindah ke lidah-lidah yang kelu.

Terimakasih, ya. Karena selalu ada kala aku butuh, menjadi orang yang paling riuh merayakan keberhasilan kecilku, menenangkan kala aku ragu, memberi rengkuh yang aku butuh.

Terimakasih, ya. Sudah jadi abangku yang banyak cerita seru, dan sendu, jadi teman bicara kala gundah dan marah. Tempat mencari pandangan kedepan yang bebas dan tergapai tangan.


메타데이터
post_id
b36e7704860a
slug
pesan-untuk-kakak-lelakiku-yang-tidak-kandung-b36e7704860a
url
https://medium.com/@keshaaalies/pesan-untuk-kakak-lelakiku-yang-tidak-kandung-b36e7704860a
canonical_url
https://medium.com/@keshaaalies/pesan-untuk-kakak-lelakiku-yang-tidak-kandung-b36e7704860a
author_url
https://medium.com/@keshaaalies
status
ok
fetched_at
2026-06-27 18:20:27