Jurnalisme Online dan Implementasinya
Sudah puluhan tahun sejak pertama kali jurnalisme online (online journalism) pertama kali menjadi tren. Jurnalisme online sendiri memiliki…
Jurnalisme Online dan Implementasinya

Sudah puluhan tahun sejak pertama kali jurnalisme online (online journalism) pertama kali menjadi tren. Jurnalisme online sendiri memiliki definisi yang kabur. Media online seperti kumparan.com, detik.com, jelas merupakan jurnalisme online. Namun tidak sedikit media online yang lahir dari berbagai media cetak ternama seperti sindo.com, tribunnews.com pun kemudian termasuk ke dalam jurnalisme online. Namun, blog dan konten yang dipublikasi pada berbagai media sosial pun dapat dikategorikan sebagai jurnalisme online. Jadi, apa yang sebenarnya disebut sebagai jurnalisme online?
Jurnalisme online merupakan kegiatan jurnalisme yang kemudian sangat bergantung pada internet. Tidak hanya dalam bentuk tertulis, jurnalisme online dapat berupa konten video dan podcast. Jurnalisme online dianggap memiliki berbagai kelebihan, salah satunya ialah kecepatan penyampaian informasi atau berita. Dewasa ini tidak jarang orang memberikan laporan terkait suatu kejadian tidak lama setelah peristiwa terjadi atau bahkan secara langsung melalui media sosial. Tidak sedikit berita yang mencuat sudah terlebih dahulu menyebar sebelum sebuah media dengan resmi membuat artikel berita.
Kecepatan jurnalisme online ini kemudian memiliki kemampuan untuk mempengaruhi publik dengan sangat cepat pula. Tidak jarang jurnalisme online memberikan kesempatan untuk membuat publik lebih sadar akan kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang terjadi pada suatu negara. Beberapa gerakan revolusioner di berbagai negara dengan mudah tersebar melalui jurnalisme online. Hal yang sama juga terjadi pada kontes politik atau pemilihan umum (pemilu) di berbagai negara. Jurnalisme online juga memberikan kebebasan terhadap penyampaian berita tanpa perlu takut campur tangan pemerintah atau golongan tertentu yang seringkali memiliki wewenang secara tidak langsung untuk membatasi pers. Sebagai contoh, Ohmynews.com, sebuah media online dari Korea Selatan, memberikan jalan bagi masyarakat untuk lebih berpartisipasi pada demokrasi dengan menyuarakan aspirasi dan memprotes berbagai kebijakan yang dianggap kurang tepat.
Sayangnya, kecepatan berita ini tidak diimbangi dengan tingkat kredibilitas dan objektivitas yang tinggi pula. Jurnalisme online sangat rentan akan hoaks atau berita palsu. Jika tidak, jurnalisme online dipengaruhi oleh opini yang sangat kuat. Hal ini dapat dilihat dari Pemilu Presiden tahun 2019. Tidak sedikit orang yang berbondong-bondong membuat sebuah tulisan dan mengaku-ngaku sebagai ahli, yang kemudian membuat masyarakat menjadi salah kaprah. Contoh lain yang cukup ironis ialah cerita dari sebuah kejadian kekerasan pada anak sekolah bernama Audrey pada tahun 2019. Cerita yang membuat masyarakat cukup bersimpati dan dengan segera membuat petisi agar pelaku yang melakukan kekerasan terhadap Audrey mendapat hukuman, hanya berakhir dengan kebenaran bahwa cerita tersebut telah dipelintir hingga sedemikian rupa. Tidak hanya dari sumber amatir, jurnalisme online yang berasal dari beberapa media ternama pun tidak sedikit yang membuat berita yang sangat tidak objektif. Mulai dari berita yang bias pada golongan tertentu, hingga berita yang tidak mencantumkan sumber yang dapat dipercaya.
Jurnalisme online juga rentan terhadap plagiarisme. Tidak sedikit jurnalis ternama yang mendapatkan perlakuan seperti publikasi ulang artikel berita yang sudah ditulis dengan susah payah, tanpa sepengetahuan yang memiliki tulisan. Kemudahan untuk membangun sebuah media online, serta kemudahan untuk menyebarkan sebuah berita, membuat plagiarisme menjadi kegiatan yang dinormalisasi, dengan dalih ‘sudah mencantumkan nama penulis’. Padahal hal tersebut tidak serta-merta memperbolehkan suatu media mempublikasi ulang suatu konten yang telah dipublikasi di media lain.
Kemudahan jurnalisme online harus diimbangi dengan edukasi kepada para pengguna, baik jurnalis profesional, jurnalis amatir, maupun pembaca, untuk tetap memperhatikan etika jurnalisme. Nilai-nilai seperti kredibilitas, objektivitas, keaslian, dan kebenaran harus tetap ditekankan. Peningkatan literasi digital dan skeptis terhadap suatu informasi yang baru merupakan sedikit dari berbagai hal yang dapat dilakukan demi pemanfaatan jurnalisme online yang lebih. Apabila tidak, jurnalisme online dapat menjadi bumerang yang menghilangkan kepercayaan baik pada seseorang, maupun golongan hingga sistem pemerintahan suatu negara.
Bacaan terkait:
Costa, Elisabetta. 2010. Online Journalism and Political Activism in Lebanon. Dapat diakses di: https://www.academia.edu/12829412/Online_journalism_and_political_activism_in_Lebanon
Widodo, Yohanes. 2010. Menyoal Etika Jurnalisme Kontemporer: belajar dari Ohmynews. Dapat diakses di: http://jurnalaspikom.org/index.php/aspikom/article/download/7/4&ved=2ahUKEwjHs6ONp7foAhV56XMBHWsRBGsQFjABegQIBBAH&usg=AOvVaw1_qvP4yfmEL1G2PhMaewaj
메타데이터
- post_id
- b37ac4e8a146
- slug
- jurnalisme-online-dan-implementasinya-b37ac4e8a146
- url
- https://medium.com/@deachusnul/jurnalisme-online-dan-implementasinya-b37ac4e8a146
- canonical_url
- https://medium.com/@deachusnul/jurnalisme-online-dan-implementasinya-b37ac4e8a146
- author_url
- https://medium.com/@deachusnul
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-02 01:52:28