Ketika Jadi Ibu, Istri, dan Diri Sendiri Tidak Pernah Sinkron
Saat ini saya sedang nganggur. Nganggur yang sebenar-benarnya nganggur. Bukan cuti kreatif. Bukan jeda karier. Bukan juga “lagi cari…
Ketika Jadi Ibu, Istri, dan Diri Sendiri Tidak Pernah Sinkron

Saat ini saya sedang nganggur. Nganggur yang sebenar-benarnya nganggur. Bukan cuti kreatif. Bukan jeda karier. Bukan juga “lagi cari peluang”. Ya nganggur saja.
Maka dari itu saya jadi rajin menulis. Bukan karena menulis adalah pekerjaan, tapi karena menulis adalah cara paling murah untuk tidak tenggelam oleh pikiran sendiri.
Menulis sering disebut produktif. Padahal, bagi saya, menulis lebih mirip kegiatan bertahan hidup. Overthinking yang tidak ditulis biasanya berubah jadi insomnia. Maka saya tulis saja. Siapa tahu dibaca orang. Kalau tidak pun, setidaknya kepala saya sedikit lebih lega.
Masalahnya, keresahan ini tidak berdiri sendiri. Umur saya hampir kepala tiga, tapi rasanya hidup masih versi percobaan. Jadi istri, katanya sudah. Jadi ibu, jelas sudah. Tapi jadi diri sendiri? Itu yang sering error dan loading-nya lama.
Di fase hidup ini, semuanya datang bersamaan tapi tidak pernah kompak. Anak masih balita dan butuh kehadiran penuh. Keinginan bekerja muncul lagi, tapi lowongan di Indonesia sering lebih ramah pada usia dua puluhan. Mau lanjut studi, semangatnya ada, tapi biayanya belum tentu ramah. Ditambah lagi satu pertanyaan klasik yang selalu muncul dari mana saja: “Anaknya nanti gimana?”
Pertanyaan itu jarang ditujukan ke laki-laki.
Di titik ini, saya mulai sadar bahwa menjadi perempuan sering kali berarti hidup dengan banyak peran yang saling berebut waktu. Ibu dituntut hadir sepenuhnya. Istri diharapkan selalu siap. Perempuan dewasa diminta matang. Ironisnya, proses untuk “matang” itu sendiri jarang diberi ruang.
Aneh rasanya ketika keinginan untuk bertumbuh justru terasa seperti tindakan egois. Padahal tumbuh bukan berarti pergi. Belajar bukan berarti meninggalkan. Bekerja bukan berarti abai.
Tetapi narasi yang beredar sering kali membuat perempuan harus memilih, seolah hidup ini hanya punya satu jalur dan satu peran utama.
Padahal kenyataannya, banyak perempuan tidak sedang bingung karena tidak mampu. Mereka bingung karena terlalu banyak batas yang tidak mereka buat sendiri.
Menulis, bagi saya, bukan solusi atas semua itu. Tetapi menulis membantu saya jujur pada diri sendiri. Jujur bahwa belum mapan tidak sama dengan gagal. Jujur bahwa jeda tidak selalu berarti mundur. Jujur bahwa menjadi ibu dan istri tidak otomatis menghapus mimpi pribadi.
Mungkin hidup memang tidak harus sinkron setiap saat. Mungkin wajar kalau ada fase ketika semua peran terasa tumpang tindih dan berisik. Tetapi selama kita masih berani bertanya, berpikir, dan mengakui keresahan sendiri, berarti kita belum berhenti tumbuh.
Sehingga kalau hari ini satu-satunya hal yang bisa saya lakukan hanyalah menulis, maka saya akan menulis. Bukan untuk terlihat produktif, tapi untuk tetap waras. Karena kadang, bertahan saja sudah cukup revolusioner bagi seorang perempuan.
Bagi para perempuan di luar sana yang sedang berada di fase serupa — yang hidupnya terasa jeda tapi pikirannya tetap berlari — ingat satu hal: produktif tidak selalu harus terlihat sibuk, bergaji, atau diakui sistem.
Produktif kadang hadir dalam bentuk bertahan, belajar pelan-pelan, mengasuh dengan penuh kesadaran, menulis saat sempat, atau sekadar berani jujur pada diri sendiri.
Tidak semua pertumbuhan bisa diukur dengan CV atau usia. Ada yang tumbuh diam-diam, tapi akarnya kuat. Jalan kita mungkin tidak sinkron dengan standar dunia, tetapi selama kita masih bergerak dengan cara kita sendiri, kita tidak sedang tertinggal — kita sedang membangun.
메타데이터
- post_id
- b37c5caac7d6
- slug
- ketika-jadi-ibu-istri-dan-diri-sendiri-tidak-pernah-sinkron-b37c5caac7d6
- url
- https://medium.com/@diankusumaward21/ketika-jadi-ibu-istri-dan-diri-sendiri-tidak-pernah-sinkron-b37c5caac7d6
- canonical_url
- https://medium.com/@diankusumaward21/ketika-jadi-ibu-istri-dan-diri-sendiri-tidak-pernah-sinkron-b37c5caac7d6
- author_url
- https://medium.com/@diankusumaward21
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 11:06:28