← Back to list

Perjalanan Tak Terduga

Berawal dari pemikiran agar tidak menjadi lelaki yang paling menyedihkan di bumi dengan hanya berdiam diri di rumah dan hanya mengandalkan…

bn · 2019-06-16 13:54 · 0 claps · 2.6 min read
#perjalanan #menuju #tangerang
Open on Medium ↗

Perjalanan Tak Terduga

Berawal dari pemikiran agar tidak menjadi lelaki yang paling menyedihkan di bumi dengan hanya berdiam diri di rumah dan hanya mengandalkan orang tua, saya harus melawan diri sendiri untuk mencari kerja. Pencarian kerja ini membuat saya harus kembali ke Tangerang dan mengalami perjalanan yang tak terduga. Menginap di rumah saudara dan naik ojek online dari Lenteng Agung ke Tangerang.

Pada mulanya, rencana untuk kembali ke tangerang sudah ada, yaitu tanggal 12. Saya ikut balik ke Tangerang dengan mas sepupu saya, tapi tidak jadi. Mas sepupu saya berangkat sehari lebih cepat. Saya tidak bisa. Kartu tanda penduduk elektronik saya belum jadi — baru jadi tanggal 12.

Saya sudah terlanjur melamar pekerjaan lewat jasa pencarian di internet. Ketika saya sedang melamar pekerjaan, tiba-tiba ayah saya membuka pintu. Beliau menjelaskan bahwa tanggal 12 ada acara keluarga di Magetan dan Ngawi. Saya tidak boleh berangkat tanggal segitu.

Rencana saya kembali gagal. Saya mencoba menenangkan diri dan tidak melanjutkan melamar pekerjaan. Ayah saya mengajak untuk bermain musik di sekolahnya bersama adik sepupu.

Saat kami sedang khusyuk bermain musik, pemberitahuan wawancara masuk. Saya senang dan sedih. Saya tidak mungkin membeli tiket kereta dan pesawat secara mendadak. Habisnya tiket kereta dan mahalnya tiket pesawat membuat saya harus mencari jalan lain. Nebeng pakde aja, mas, saran adik sepupu saya.

Di dalam mobil, sepulang dari sekolah ayah, beliau melakukan panggilan kepada pakde dan tidak ada jawaban. Ketika kami hampir sampai di rumah, ayah melakukan panggilan lagi dan ada jawaban. Tanpa basa-basi, ayah mengatakan kepada pakde bahwa saya ikut ke Jakarta dengan beliau karena ada panggilan wawancara.

Kami keluar dari dalam mobil dengan sumringah.

Pakde saya sedang berada di Ngawi. Beliau menghadiri pernikahan dari keluarga istrinya. Ayah dan keluarga besarnya pergi ke sana. Saya ikut dengan membawa barang-barang.

Pagi itu, saya tidak langsung ke ngawi, tapi ke magetan lebih dulu. Kami mengunjungi rumah-rumah keluarga dari ayah saya. kurang lebih sekitar 4 keluarga yang kami kunjungi.

Perjalanan berlanjut ke telaga sarangan. Berharap naik kapal, tapi saya tidak berani. Pengemudi kapal terlalu ugal-ugalan. Saya takut terbalik dari kapal dan tenggelam. Mencari kesenangan tidak semudah itu.

Sore hari, sekitar pukul 5, kami menuju ngawi. Perjalanan menempuh waktu 2 jam. Kami mengunjungi tempat acara, disambut keluarga, makan dan pulang. Saya tidak ikut pulang, tapi saya singgah di masjid menuggu pakde saya selesai acara.

Setelah selesai, saya diajak pakde dan bude dan satu anaknya menuju ke rumah — entah milik siapa, tapi saya rasa itu milik bude. Saya menaruh barang dan tidur. Tubuh sungguh perlu istirahat.

Saya menginap 3 hari 2 malam di sini. Selama acara pernikahan, saya tidak ikut ke sana, saya memilih di rumah, pergi ke toko besar untuk beli minuman atau hanya untuk menghisap rokok. Acara berlangsung dari hari rabu hingga jumat.

Hari jumat, kami berangkat ke Jakarta sesudah sholat jumat atau sekitar pukul 2 siang. Di dalam mobil, ada 5 orang dan banyak barang-barang. Saya berada di kursi paling belakang bersebelahan dengan barang-barang. Selama perjalanan, saya memutar musik dan podcast Ibu-Ibu Yacult dan tertidur.

Pukul 12 malam, kami sampai. Saya dan anak laki-laki pakde saya menurunkan barang-barang dari atas mobil. setelah itu, saya menuju rumah pakde, duduk di kursi bermain hp, dan disuruh tidur oleh bude. saya menurut.

Pagi harinya, sekitar pukul 9, saya sarapan, lalu berangkat menuju stasiun lenteng agung diantarkan oleh anak laki-laki pakde saya. pukul 10, kami sampai stasiun. Saya memesan tiket, masuk dan keluar lagi.

Kereta menuju tanah abang terlalu penuh. Saya sudah menunggu hampir 2 jam. Sudah lebih dari 6 kereta lewat, 3 jurusan jakarta kota dan 3 jurusan angke. Saya kesal tidak bisa masuk sebab membawa koper.

Saya keluar stasiun, memesan ojek online ke tanah abang. Mbak saya menyuruh untuk turun tanah abang, lalu naik bus. Saya sampai tanah abang dan tidak menjumpai bus ke perumahannya. Saya frustasi dan melanjutkan naik ojek online hingga ke tangerang. Pantat saya panas. Saya tidak akan mengulanginya lagi, sungguh.

Saya tiba di rumah mbak. Saya istirahat, menonton timnas futsal bertanding sambil makan, lalu mandi. Terlintas dalam pikiran saya:

Apakah saya akan mendapatkan pekerjaan?


메타데이터
post_id
b3a1843d6cda
slug
perjalanan-tak-terduga-b3a1843d6cda
url
https://medium.com/@basanitrogen/perjalanan-tak-terduga-b3a1843d6cda
canonical_url
https://medium.com/@basanitrogen/perjalanan-tak-terduga-b3a1843d6cda
author_url
https://medium.com/@basanitrogen
status
ok
fetched_at
2026-07-29 15:44:36