Hitam, Putih, dan Kita
Dunia ini gemar sekali memaksa kita memilih kubu: kalau tidak hitam, ya putih. Benar atau salah. Sukses atau gagal.
Hitam, Putih, dan Kita
Photo by Gian D. on Unsplash
Dunia ini gemar sekali memaksa kita memilih kubu: kalau tidak hitam, ya putih. Benar atau salah. Sukses atau gagal.
Di sisi lain, foto yang paling bernyawa justru lahir dari pertemuan keduanya: bayangan gelap (shadow) dan cahaya terang (highlight). Sayangnya — atau untungnya, tergantung persepsi Anda — manusia diciptakan lengkap dengan kedua sisi itu sekaligus.
Kita sering mengira ucapan atau tampilan luar adalah cerminan mutlak dari isi kepala, padahal di dunia modern, hal itu sering kali bekerja sebaliknya.
“Saya ikut senang dengan pencapaianmu,” bisa jadi adalah penawar racun untuk kecemasan, “Kapan, ya, giliran saya? Kok dia melulu?” yang sedang membakar di dalam dada si pemuji.
“Tim kita sudah seperti keluarga,” mungkin sebuah kode halus untuk, “Siap-siap lembur tanpa uang lembur ya.”
Demikian juga mungkin dengan:
“Sabar ya, semua akan indah pada waktunya.”
“Yang penting pengalamannya, bukan gajinya.”
“Kebijakan ini diambil demi kepentingan bersama.”
“Juli 2025 — Mei 2026: Independent Consultant / Freelance.”
“Gue kuat kok, santai aja.”
“Kenapa Ya Allah…. Kenapa???”
“Kapan Ya Allah….. Kapan???!!”
Di dunia ini, ternyata, hitam dan putih tidak pernah berdiri sendiri-sendiri. Manusia memelihara keduanya di dalam satu tubuh. Kita bisa menjadi malaikat yang tulus menyemangati orang lain di pagi hari, sekaligus menjadi iblis kecil yang merutuki nasib sendiri di sepertiga malam.
Mungkin, keberuntungan kita merayakan cahaya putih kali ini, bukan lantaran kita telah berhasil membuang sisi hitam dari masa-masa sulit dari masa-masa lampau. Kita rayakannya tersebab sadar: bertahan di dalam kegelapan tanpa kehilangan arah adalah bukti bahwa kita punya kendali atas kedua sisi tersebut.
Sisi hitam memberi kita kedalaman. Sisi putih memberi kita harapan.
Pada akhirnya, manusia yang utuh bukanlah mereka yang suci tanpa noda hitam, melainkan mereka yang berhasil berdamai dengan kegelapannya sendiri demi sambut cahaya harapan baru, yang mungkin kelak sesekali remang, padam, atau kembali pekat; kita yang putuskan akankah tetap menikmatinya, selalu mensyukurinya, apa pun yang terjadi.
Whatever you see in the dark, remember the light is just on the other side.[]
메타데이터
- post_id
- b3a9894a91f2
- slug
- hitam-putih-dan-kita-b3a9894a91f2
- url
- https://medium.com/@cepy/hitam-putih-dan-kita-b3a9894a91f2
- canonical_url
- https://medium.com/@cepy/hitam-putih-dan-kita-b3a9894a91f2
- author_url
- https://medium.com/@cepy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 16:17:03