← Back to list

Coda

Hari minggu kemarin, Apple Tv+ sedang bermurah hati, semua akses sedang di gratisin! Tanggal 7 Januari 2025 kemarin, hari terakhirnya.

Hendri Yudistira · 2025-01-07 12:59 · 0 claps · 4.4 min read
#coda #review-film-hollywood #apple-tv #films-review #oscar-winning-movies
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television

Coda

Hari minggu kemarin, Apple Tv+ sedang bermurah hati, semua akses sedang di gratisin! Tanggal 7 Januari 2025 kemarin, hari terakhirnya.

Kesempatan ini gak gue sia-siain, mumpung gue libur, seharian gue nonton doooong tuh aplikasi dengan bayaran paling mahal sejagat maya ini aduuuuhh aduuh. Kapan lagi gratis ya kan.

Selain nungguin banget season 2 serial Severance yang katanya bakal rilis di tahun ini (yang belum juga rilis nih), gue nonton dulu serial Shrinking tapi gak sampe abis saking ngantuknya nonton serial itu, ntar lagi deh gue tonton, gue juga nonton lagi Ted Lasso yang bisa bikin gue nostalgia dengan menonton ulang, tapi ada film yang udah lama banget gue incer, yaitu Coda.

Judul filmnya menarik menurut gue, bunyinya enak di ucapin, CODA, well kayak seakan-akan bagus buat nama anak hahahaha. Yang gue tau coda ya bagian penutup pada sebuah lagu.

Film Coda belum pernah gue tonton, tapi sinopsisnya pernah gue baca dulu, udah lama, kalo gak salah dulu juga gue tuh sempet liat deh di rental DVD gitu, kalau gak salah ya, kek pernah liat tapi dimanaaa gitu, asa gak asing gitu.

Pas gue searching tentang film Coda ini, ternyata gue menemukan bahwa Coda adalah film adaptasi dari film Prancis yang judulnya La Famille Bélier (2014), dan gue langsung inget, oiya ini dia film yang gue temuin di salah satu rental DVD waktu itu!!! Pantesan mirip, ternyata ya remake.

Film Coda menceritakan tentang Ruby Rossi (Emilia Jones) yang merupakan putri satu-satunya yang bisa bicara dalam sebuah keluarga yang semuanya Tunarungu.

Karena itulah Ruby mesti selalu hadir ketika ayahnya, Frank (Troy Kotsur), dan kakaknya, Leo (Daniel Durant), berlayar mencari ikan.

Plotnya sederhana dan gak neko-neko, gak ada kejutan juga saat film berlangsung, tapi film ini menang Oscar anjir.

Hidup di kelilingi oleh keluarga yang tunarungu serta jiwa remajanya, tentu membuat Ruby sedikit emosi, lantaran dia ingin menjadi dirinya sendiri. Ketika dia sudah menemukan langkah selanjutnya mau jadi apa, tapi dia terhalang oleh keluarganya yang sangat membutuhkannya.

Musik jadi pelarian Ruby. Karena itulah dia suka bernyanyi, dan bergabung dengan grup musik atau paduan suara gitu di sekolahnya.

Ruby ingin kuliah di Berklee, yang merupakan tempat kuliah musik di New York, banyak musisi-musisi terkenal jebolan sana, termasuk guru musiknya di sekolah, Berrrrrrrrnardo Villalobos atau bisa dipanggil dengan Mr. V (Eugenio Derbez).

Namun Ruby sadar, untuk sekolah di Berklee tentu tidak mudah, selain persaingan masuk sana ketat walaupun nantinya dibantu ole Mr. V ini, tetaplah dia tidak bisa karena masalah keuangan.

Tapi Mr. V sang guru, memberikan tawaran berupa beasiswa, hal itu menjadi gejolak dalam diri Ruby. Dia dipersimpangan jalan, antara memilih untuk menggapai mimpinya, atau tetap membantu keluarga karena mereka juga membutuhkan Ruby.

Di dalam kelas menyanyi ini juga dia berduet dengan Miles (Ferdia Walsh-Peelo), ternyata cowok ini sudah menarik perhatian Ruby. Tapi sayangnya, gak keliatan ya, justru karena Mr. V memanggil mereka berdua, gue baru ngeh kalau ternyata Ruby cemceman sama Miles.

Ruby kesulitan membagi waktu antara bermusik dan menjadi penerjemah bagi keluarganya. Andai ia berhasil diterima di Berklee, siapa yang akan mengisi posisi itu? Belom lagi sang ibu, Jackie (Marlee Matlin), menentang niat Ruby.

Huff kacau bener jadi Ruby ya.

Ada alasan kenapa Jackie menentang niat ruby, yaitu karena di keluarga ini hanya rubi yang bisa menjadi jembatan bagi usaha mereka, sejak harga ikan di tengkulak cenderung menurun, keluarga Ruby berani menentang dan menjual ikan langsung ke pembeli. Karena mereka Tunarungu, dan hanya Ruby lah yang bisa menerjemahkan mereka kepada pembeli. Selain itu juga siapa yang menggantikan Ruby jika suatu saat nanti harus pergi dari rumah? Tanpa Ruby saja mereka sudah dapat masalah, karena tidak mendengar adanya polisi laut yang mencegat mereka karena memasuki daerah terlarang, dan melanggar aturan: orang dengan disabilitias tidak boleh melaut.

Namun film ini tak sesederhana sampai situ situasinya. Justru ada banyak momen yang berhasil menyentuh, tapi ditampilkannya gak menye-menye kek acara ikatan kasih, justru menjadikan kita yang nonton memandang Tunarungu bukanlah batasan dalam berakting.

Setidaknya ada dua momen dimana bisa membuat cukup terharu. Pertama, momen ketika Leo marah kepada Ruby karena merasa dia tidak berguna tanpa adiknya. Kedua, momen ketika Frank sadar bahwa Ruby memang punya keinginan kuat untuk mengejar impiannya sebagai penyanyi. Kedua momen itu kek apa yaa, kek ngerasa ketampar aja gitu, gue masih aja kurang bersyukur ketimbang mereka yang disabilitas.

Film ini juga tidak mengajarkan siapa yang salah dan siapa yang benar, walaupun alur film ini seperti menggiring opini bahwa Ruby harus hidup bebas dengan pilihannya, namun mendapat tekanan dari sana sini.

Kendati demikian, gak salah juga sih, kalau mau masuk sekolah yang hebat kek Berklee kan emang harus latihan yang rajin. Juga kepentingan keluarga tidak boleh di tinggalkan, karena bagaimanapun, keluarga adalah segalanya.

Film ini juga sedikit menampilkan beberapa persennya musikal, suaranya Ruby bagus juga sih, tapi kasian jadi Ruby yang selalu di bully oleh teman-temannya karena mempunyai keluarga disabilitas.

Overall, menurut gue film ini sangat bijak, terkesan tidak menggurui tapi mampu memainkan perspektif.

Bahkan untuk adegan-adegan kecil pun, film ini mengerti untuk gak melakukannya dengan berlebihan. Ketika urusan cinta-cintaannya Ruby, elemen ini dibutuhkan untuk membuat karakter Ruby makin ter-flesh out aja si. Tapi kadarnya harus pas, supaya enggak mengambil persoalan utamanya.

Yang dilakukan film ini, apa coba? Benar-benar pas.

Ruby gak pernah jadi karakter yang bucin, melainkan tetap pada jalur yang manis. Begitu juga sebaliknya, dengan pembullyan yang ia terima.

Well, meski film ini ngejual sebagai drama musikal, tapi gue gak perlu ngerti musik buat dapat menikmati film ini. Gue juga gak perlu membandingkan film ini sama film-film India, gak, dramanya pas lagunya juga pas.

Yah film ini tuh kek lagi nunjukin, Ruby udah menghabiskan seluruh hidupnya sebagai penerjemah keluarganya, tapi ada gak sih yang bisa menerjemahkan isi hatinya?

Coda (2021). Sutradara: Sian Heder

Coda (2021). Sutradara: Sian Heder


메타데이터
post_id
b3df1cb360fb
slug
coda-b3df1cb360fb
url
https://medium.com/@afterwatching/coda-b3df1cb360fb
canonical_url
https://medium.com/@afterwatching/coda-b3df1cb360fb
author_url
https://medium.com/@afterwatching
status
ok
fetched_at
2026-09-09 02:55:15