← Back to list

Bunuh Diri di Negeri yang Sakit Jiwa

google.com

Nur Ariestya Ningsih · 2026-02-10 11:59 · 0 claps · 2.9 min read
#bunuh-diri #indonesia #global #global-health #psychology
Open on Medium ↗
Wiki topics: PUB · Public Health & Epidemiology PSY · Psychology

Bunuh Diri di Negeri yang Sakit Jiwa

google.com

google.com

Judul dari pembahasan kali ini saya terinspirasi dari dosen psikologi islami, yang hari ini telah berbagi ilmunya di kelas, dan dari itu saya mendapatkan ide dari opini kali ini.

Seorang anak berusia sepuluh tahun mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena untuk sekolah. Berita itu singkat, nyaris tenggelam di antara hiruk-pikuk media sosial yang lebih gemar merayakan pencapaian dan kebahagiaan semu. Namun di balik kesunyian itu, ada satu pertanyaan yang tak bisa dihindari: siapa yang sebenarnya gagal? anak itu, keluarganya, atau negara?

Di negeri yang kerap mengagungkan pendidikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan, ironi justru lahir dari ruang kelas. Buku dan pena, simbol paling dasar dari proses belajar, berubah menjadi beban yang terlalu berat untuk dipikul seorang anak. Ketika kebutuhan paling elementer untuk belajar tak terpenuhi, sekolah bukan lagi ruang harapan, melainkan sumber rasa malu dan keputusasaan.

Selama ini, bunuh diri kerap direduksi sebagai persoalan individu: kurang iman, mental lemah, tidak bersyukur. Perspektif ini tidak hanya menyederhanakan masalah, tetapi juga berbahaya. Dalam psikologi, khususnya psikologi sosial, bunuh diri dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara individu dan lingkungannya. Émile Durkheim sejak lama menegaskan bahwa bunuh diri adalah fenomena sosial, bukan sekadar tragedi personal. Artinya, ada struktur sosial yang ikut bekerja, menekan, dan pada akhirnya mendorong seseorang ke batas paling rapuh dari kemanusiaannya.

Pada kasus anak tersebut, kita tidak sedang berhadapan dengan “gangguan jiwa” dalam pengertian klinis. Kita sedang menyaksikan learned helplessness, kondisi ketika seseorang merasa tak lagi memiliki kendali atas hidupnya karena berulang kali menghadapi kegagalan dan keterbatasan. Anak itu belajar, terlalu dini, bahwa apa pun yang ia lakukan tak akan mengubah keadaan. Ketika rasa tidak berdaya bertemu dengan tekanan sosial dan rasa malu, harapan pun runtuh.

Rasa malu adalah emosi sosial yang sangat kuat. Dalam psikologi, shame bukan sekadar rasa bersalah, melainkan perasaan bahwa diri ini “tidak layak” di hadapan orang lain. Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang aman, justru bisa menjadi arena pembanding sosial yang kejam. Anak yang tak punya buku dan alat tulis belajar satu hal lebih cepat dari pelajaran apa pun: bahwa ia tertinggal, berbeda, dan tak diinginkan oleh sistem.

Di titik ini, negara seharusnya hadir. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Anggaran pendidikan yang besar sering kali tak menjangkau kebutuhan paling dasar. Program bantuan sosial tersendat, birokratis, dan kerap salah sasaran. Pendidikan gratis berhenti sebagai slogan, bukan realitas. Negara absen, sementara anak-anak dipaksa menanggung akibatnya.

Dari sudut pandang teori kebutuhan Maslow, kebutuhan fisiologis dan rasa aman adalah fondasi sebelum seseorang bisa bertumbuh secara psikologis. Bagaimana mungkin seorang anak diminta berprestasi, bermimpi, dan berdaya saing, jika kebutuhan paling mendasarnya saja tak terpenuhi? Ketika sistem gagal menyediakan fondasi itu, kita sedang membangun masa depan di atas tanah rapuh.

Ironisnya, di tengah kegagalan struktural ini, agama kerap hadir bukan sebagai pelukan, melainkan palu penghakiman. Bunuh diri dikutuk sebagai dosa besar, tanpa keberanian untuk menelusuri ketidakadilan yang melahirkannya. Padahal, inti ajaran agama mana pun adalah pembelaan terhadap kehidupan dan martabat manusia. Mengutuk tindakan terakhir seseorang tanpa mengoreksi sistem yang memojokkannya adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan itu sendiri.

Lebih jauh, kasus ini hanyalah puncak dari gunung es. Di bawahnya ada jutaan anak yang terancam putus sekolah, mahasiswa yang cemas akan masa depan, dan keluarga yang hidup di bawah tekanan ekonomi kronis. Kita hidup di negeri yang secara perlahan menormalisasi keputusasaan. Yang kuat diminta bertahan, yang lemah diminta bersabar, dan yang tumbang dianggap gagal beradaptasi.

Maka, bunuh diri di negeri ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras tentang kesehatan mental kolektif kita. Negeri ini mungkin tidak “gila” dalam arti medis, tetapi jelas sakit secara sosial. Ketika sistem pendidikan, ekonomi, dan kebijakan publik gagal melindungi yang paling rentan, penderitaan menjadi warisan yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Anak itu tidak mati karena miskin. Ia mati karena ditinggalkan oleh sistem yang seharusnya melindunginya, oleh negara yang seharusnya hadir, dan oleh masyarakat yang terlalu cepat menghakimi. Jika kita terus menutup mata dan menyalahkan individu, maka bunuh diri akan terus berulang, dan kita akan terus berpura-pura terkejut.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi mengapa seorang anak memilih mati, melainkan mengapa kita membiarkan hidup menjadi sedemikian tak tertahankan. Negeri ini bukan kekurangan iman atau jargon moral. Negeri ini kekurangan keberanian untuk berpihak kepada yang miskin, yang lemah, dan yang nyaris tak terdengar suaranya.


메타데이터
post_id
b3e1d7e8efe6
slug
bunuh-diri-di-negeri-yang-sakit-jiwa-b3e1d7e8efe6
url
https://medium.com/@cicayy/bunuh-diri-di-negeri-yang-sakit-jiwa-b3e1d7e8efe6
canonical_url
https://medium.com/@cicayy/bunuh-diri-di-negeri-yang-sakit-jiwa-b3e1d7e8efe6
author_url
https://medium.com/@cicayy
status
ok
fetched_at
2026-06-25 16:53:31