← Back to list

Menikah dalam Kondisi Menanggung Utang Orang Lain

Kisah Napas Megap-Megap di Rumah Petak Jakarta

Donny Kurniawan in Berbagi & Berdampak · 2026-06-12 01:53 · 347 claps · 6.8 min read paywalled
#berbagi-dan-berdampak #bahasa-indonesia #penulis-indonesia #rezeki #refleksi
Open on Medium ↗

Menikah dalam Kondisi Menanggung Utang Orang Lain

Kisah Napas Megap-Megap di Rumah Petak Jakarta

Hasil dari manipulasi Grok AI, dari foto pribadi Donny Kurniawan

Hasil dari manipulasi Grok AI, dari foto pribadi Donny Kurniawan

Tahun 2009 adalah pertama kalinya saya mendapatkan uang dari hasil pekerjaan profesional saya. Ya, walaupun tidak profesional amat — student employee — yang saat itu digaji sebesar Rp250.000 per bulan, angka tersebut sudah cukup untuk membuat saya tidak meminta uang saku lagi kepada orang tua. 2009 adalah tahun ke-4 saya berkuliah. Di tahun itu juga saya mendapatkan beasiswa dari salah satu provider telekomunikasi sebesar Rp3 juta.

Pada 2009 juga sudah memasuki tahap skripsi. Saya ingat senior saya berkata, “Caramu agar bisa semangat untuk menyelesaikan skripsi adalah meminjam uang dari temanmu untuk biaya skripsi dan hidupmu, dan selesaikan skripsimu, luluslah sebelum uang itu habis.” Dan di tahun itu pula saya meminjam uang teman saya sebesar Rp2 juta. Uang di kantong ada; waktunya saya hidup mandiri.

Saya bertemu istri saya (masih calon) pada tahun 2008. Pada tahun 2011, istri saya juga melakukan hal yang sama, bekerja sebelum lulus kuliah. Saat itu ia mengharuskan dirinya bekerja karena ada tanggungan yang harus ia lunasi — bukan tanggungan dia, tetapi dia menanggung tanggungan orang lain. Pada tahun 2012, ia juga mengajukan utang ke bank sejumlah Rp30 juta untuk melunasi tanggungan itu.

2013 kami pun menikah. Kami menikah dalam kondisi menanggung utang orang lain tersebut.

Dengan kondisi yang pas-pasan, kami meniatkan semuanya untuk ibadah — pernikahan dan menanggung beban utang orang lain. Bahkan uang hasil dari sumbangan orang-orang yang datang ke acara pernikahan kami, 90 persen kami berikan kepada mereka yang punya utang itu. Sekitar uang sebesar Rp20 juta saya kasih ke mereka.

6 bulan pernikahan, kami masih LDM (Long Distance Marriage). Rasanya cukup sesak dan berat karena kami harus berbeda tempat; saya di Jakarta, istri saya di Gresik. Kemudian kami memberanikan diri untuk tinggal di satu rumah petak di Jakarta.

Konsekuensinya, istri saya harus keluar dari pekerjaannya dan ikut saya ke Jakarta. Istri saya bertanya apakah dia boleh bekerja. Saya jawab, selama kewajibannya sebagai istri dipenuhi, silakan kalau mau bekerja. Istri saya kemudian memutuskan untuk tidak bekerja profesional di luar dan bekerja profesional di rumah — ibu rumah tangga.

Suasana rumah petak di Jakarta. Dokumen pribadi Donny Kurniawan

Suasana rumah petak di Jakarta. Dokumen pribadi Donny Kurniawan

Saya masih ingat, gaji saya saat itu cuma Rp4 juta punjul titik.

Biaya kontrakan Rp1,5 juta per bulan, menyalurkan utang ke bank — ingat, utang masih ada waktu kami menikah — sebesar 1 juta rupiah per bulan, biaya lain-lainnya untuk makan, bensin, pulsa, dsb., ya sekitar Rp1,5 juta. Kami hidup dengan napas yang megap-megap, tambal sana, tambal sini.

Saya masih ingat mengapa saya yakin mengajak istri saya ke Jakarta, karena penderitaan LDM itu lebih tinggi daripada kita harus hidup sederhana. Saya waktu itu berkata, “Ada Allah, saya yakin Allah akan membantu.” Benar adanya, walaupun gaji saya cuma Rp4 juta, hampir setiap weekend saya diajak rekan saya untuk bekerja di tempat lain dengan bayaran sebesar Rp300 ribu, dibayar setiap weekend. Dan uang dari bekerja di weekend itulah yang menyambung napas kami.

2014 akhir, istri saya hamil. Dengan uang yang pas-pasan itu, kami harus kontrol ke dokter kandungan yang biayanya sekali kontrol sebesar 800 ribu rupiah sudah dengan obat. Mengapa ke dokter yang mahal, tidak ke bidan? Karena saat itu kandungan istri lemah, istri juga mengalami perdarahan, dan terkena cacar. Waktu-waktu itulah salah satu masa terberat kami sebagai suami istri.

Anak kami pun lahir tahun 2015. Saat kami pulang ke Malang karena ingin melahirkan di Malang, kami segera mengurus BPJS Kesehatan. Saya ingat waktu itu HPL (Hari Perkiraan Lahir) masih sekitar 2 minggu lagi. Jadi, jika saya mengurusnya sekarang, 1 minggu kemudian BPJS sudah aktif. Eh ternyata, 2 hari setelah saya mengurus BPJS, anak saya lahir.

Saya akhirnya meminjam uang ayah saya sebesar sekitar Rp3 juta untuk biaya lahiran. Setelah melahirkan pun, mertua menyuruh saya untuk segera akikah beli kambing 1. Keluar lagi biaya Rp3 juta dari meminjam ke teman baik saya. Sebenarnya saya mau menundanya, tetapi waktu itu sedikit emosional dan bermental “sekalian saja”, jadinya saya menyetujuinya.

Anak saya berumur sekitar 4 hari, mereka harus saya tinggal ke Jakarta untuk melanjutkan bekerja. Saat itu mendekati puasa dan uang saya tinggal Rp50 ribu. Uang Rp50 ribu itu hanya cukup untuk biaya transportasi ke kantor, pulang nunut motor teman saya. Nah, waktu itu saya bingung, makan apa ini.

Kebetulan puasa masuk. Karena saya tidak punya uang, saya cerita ke teman baik saya — ke dia yang saya pinjam uangnya untuk akikah tadi. Bukan niat utang lagi. Ya, cerita saja. Ternyata dia langsung memotong omongan saya, dan dia bilang, “Sudah, saya bantu makan sahur. Pokoknya makan sahur bareng saya, ndak usah mikir uang.” Saya batin, “Alhamdulillah.”

Selama sekitar 2 minggu hidup saya seperti itu. Berbuka di kantor dengan takjil yang disediakan oleh kantor.

*Ndak cukup, kadang saya mencari takjil yang ndak dimakan karena kebetulan karyawan itu tidak hadir di kantor.*

Terus menunggu sahur, makan sahur dibayari oleh teman saya.

2 minggu berlalu, kemudian uang kelahiran ternyata bisa di-reimburse. Uangnya cair, THR cair, dan gaji juga cair. Wah, bernapas lagi. Alhamdulillah. Saya bilang ke teman saya, sudah cukup, tidak perlu dibayari lagi makan sahurnya, tapi untuk utang Rp3 jutanya nanti dulu ya.

Saya ingat tahun itu saya melaksanakan Lebaran di Jakarta. Sendirian. Rumah petak tempat saya tinggal itu sangat sepi. Mengapa saya tidak pulang? Ya, sudah tahulah ya alasannya. 1 bulan setelah Lebaran, baru saya pulang untuk menjemput anak dan istri saya untuk kembali ikut saya ke Jakarta.

Prahara utang ini belum juga selesai.

Sekitar tahun 2016 akhir, utang di bank sudah lunas. Saya sudah mulai bisa sangat bernapas karena gaji saya saat itu sudah Rp7 juta. Saya masih ingat berdiri di depan bank untuk membayar utang bank, dan saya nyeletuk, “Udah nih, selesai nih cicilannya?” Istri saya bilang, “Iya sudah.” Alhamdulillah.

Akhir 2017, terjadi lagi prahara. Tidak selesai-selesai prahara ini. Orang tersebut mengabari saya bahwa mereka sedang ada masalah lagi. Dan kali ini masalahnya lebih pelik karena urusannya menyangkut nyawa. Mereka bisa saja disamperin oleh orang puluhan di rumah karena masalah itu. Mereka sampai-sampai ke rumah orang tua saya untuk berutang. Aduh.

Karena saat itu saya sudah punya tabungan, ya, saya meminjamkan uang itu kepada mereka. Saya lupa, sekitar Rp20 juta kurang lebih. Saya masih ingat momentumnya. Saat itu ada acara buka bersama di rumah petak. Alumni Elektro UB berkumpul semua di sana.

Saya saat itu sangat bahagia karena tiket pesawat pulang pergi untuk mudik sudah di tangan, THR dan gaji sudah masuk. Tetapi karena ada telepon itu, uang di tabungan saya berkurang banyak. Malam itu yang harusnya berbahagia jadi menyedihkan.

Dan uang Rp20 juta itu apakah saya tagih? Tidak. Istri saya suruh telepon mereka untuk berkata bahwa sudah tidak usah dibayar. Diikhlaskan. Karena mereka bukan orang asing yang jauh. Tapi orang yang sangat dekat.

Beberapa tahun kemudian, datang lagi masalah. Kali ini meminjam uang Rp8 juta. Baru 2 tahun lalu, ada lagi. Kali ini agak besar. Saya meminjamkan uang sebesar Rp50 juta. Ada 1 lagi, sebesar Rp13 juta, tapi saya lupa kapan. Sampai lupa. Mengapa saya tulis nominalnya? Karena biar jelas saja nominalnya berapa.

Dan baru beberapa bulan lalu. Ternyata masalahnya belum selesai. Dan kali ini kami merasa cukup. Kami tidak mau membantu lagi. Sudah capek, dan juga keuangan saya masih naik turun karena saya sekarang bekerja mandiri.

Mengapa saya menulis ini? Saya cuma ingin berkata bahwa hidup kita ini penuh masalah. Mungkin masalah ini sepele, tapi tidak untuk saya. Mungkin ada yang merasa ah cuma uang segitu, ada juga yang merasa gila, uang besar itu. Beda-beda.

Ada yang masalahnya kesehatan, ada yang masalahnya keluarga, ada yang masalahnya keuangan.

Nah, khusus saya, masalahnya keuangan dan keluarga. Hehe.

Tapi satu hal yang saya yakini. Mengambil hikmah dari pengalaman saya ini, saya yakin Tuhan tidak tinggal diam. Dalam setiap kejadian itu Tuhan campur tangan. Contoh campur tangannya adalah saya bisa bekerja di perusahaan startup pendidikan terbesar di Asia Tenggara.

Saya bisa pindah ke kampung halaman—bekerja secara remote dengan gaji Jakarta. Saya bisa punya mobil beli cash, dan punya rumah tanpa menyicil. Tapi tetap saja, semua itu harus dilalui. Dan saat dilalui ya berat.

Startup Pendidikan Terbesar Asia Tenggara. Dokumen Pribadi Donny Kurniawan

Startup Pendidikan Terbesar Asia Tenggara. Dokumen Pribadi Donny Kurniawan

Selama kita melakukan ini dengan niat membantu, tulus atau tidak, bukan masalah. Tuhan pasti turun tangan. Tuhan pasti membantu.

Kalau kita hitung tadi, berapa jumlahnya? Dan uang itu tidak akan kembali ke saya. Mau minta gimana, uangnya ndak ada. Jadi ya saya niatkan sedekah. Tidak banyak orang yang bisa sedekah sebanyak itu. Hehe.

Belum lagi, saat ini uang saya yang dibawa kabur orang ada sekitar 10 juta rupiah. Orangnya dah hilang entah ke mana. Haha.

Riya? Yo ben. Saya tidak menyakiti perasaan yang saya beri utang kok. Dia tidak tahu tulisan ini, dan kalaupun tahu, mungkin dia tidak merasa. Toh dia ndak tahu detail cerita ini. Bisa jadi dia merasa bahwa bukan dia “pelakunya”, haha.

Menggunakan hukum fisika, rezeki itu ibarat reaksi. Semakin besar aksi, semakin besar pula reaksi. Baper membuat kita mengecilkan aksi kita. Selama kita tidak mudah baper, aksi kita tidak akan pernah terganggu.

Keluarkan aksi Anda, keluarkan uang Anda. Beri mereka perhatian, doa, bantuan, dan uang sebanyak mungkin (aksi), maka hasilnya: perhatian, bantuan, dan uang (reaksi) akan kita dapatkan banyak juga.

Salah satu goal saya dalam waktu dekat adalah mengatasi kekhawatiran rezeki: Bagaimana cara agar hati bisa tenang dan tidak khawatir soal rezeki? Serta bagaimana membuktikan bahwa jika kita fokus pada disiplin kerja keras yang halal, rezeki justru akan datang sendiri dalam jumlah yang lebih banyak?

Saya sedang berlatih mindset seperti ini. Saya dapatkan dari salah satu penceramah agama, “Rezeki itu di tangan Allah, sedangkan pahala (amal, pekerjaan, karya) itu di tangan kita.” Jadi alangkah bodohnya saya jika yang saya fokuskan adalah rezeki yang sudah jelas diatur Allah, alih-alih memfokuskan diri pada pahala — berkarya seperti menulis, mengembangkan usaha, bersilaturahmi, menambah teman, melanjutkan sekolah, bekerja untuk memperbaiki hidup orang banyak.

Jadi itu inti dari tulisan saya ini. Saya ingin meyakinkan diri saya kembali bahwa selama saya berjuang untuk hidup mulia, membantu, dan tidak khawatir terhadap rezeki, maka rezeki tidak akan ke mana-mana. Akan datang dengan jumlah yang berlimpah.


메타데이터
post_id
b40cfbd79b3d
slug
menikah-dalam-kondisi-menanggung-utang-orang-lain-b40cfbd79b3d
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/menikah-dalam-kondisi-menanggung-utang-orang-lain-b40cfbd79b3d
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/menikah-dalam-kondisi-menanggung-utang-orang-lain-b40cfbd79b3d
author_url
https://medium.com/@donnykrn
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01