Kisah Mengesankan dari Manahan
Kisah Mengesankan dari Manahan

Surakarta - Lahir dan besar di daerah yang tidak memiliki kultur sepak bola jempolan, membuat saya asing dengan pergi ke stadion dan mendukung tim lokal. Bukan tidak cinta, namun bagaimana saya bisa mencintai jika tim sepak bola tempat saya lahir tidak selalu mentas di liga tiap tahunnya?
Pergi ke stadion memang bukan hal yang akrab bagi saya, namun menyaksikan Rendra Soedjono membawakan Djarum Indonesia Super League sudah seperti shalat rawatib bagi saya, boleh tidak dilakukan, namun sayang untuk dilewatkan. Menyaksikan piawainya Bima Sakti dalam membagi bola, BePe menanduk bola menjadi “santapan” saya setiap pulang sekolah, sekitar 16 tahun berlalu sejak saya mulai menyukai sepak bola.
Meski sudah candu sejak dini, saya merasa belum sepenuhnya mencintai sepak bola Indonesia sampai pekan lalu, 26 Februari 2025. Banyak hal yang membuat saya seperti tidak bisa mencintai liga ini, meski candu seperti saya memiliksi adiksi terhadap makanan manis, saya menganggap mencintai liga Indonesia secara mendalam merupakan pemantik diabetes di kemudian hari. Pasalnya, menerima kabar yang tidak sedap yang intensitasnya tidak jarang membuat saya sedikit putus asa, dan pada klimaksnya tragedi Kanjuruhan terjadi.
Keinginan untuk menikmati liga Indonesia seperti menyantap cemilan manis itu pudar, bahkan tidak ada lagi hingga teman saya diterima sebagai pegawai di salah satu klub paling bersejarah di Indonesia. Memang sudah jalan Tuhan, teman saya diterima di PSIM Yogyakarta, tim yang dianggap kurang baik pada dua dekade terakhir, namun mereka memiliki sejarah Panjang di pentas Liga Indonesia.
PSIM mencoba merangkak kembali ke kasta tertitnggi, sering kali hampir, namun tidak pernah terjadi, dan selalu menjadi siklus PSIM tiap musimnya sejak pertama kali turun kasta 2006 silam. Musim 2024–2025 entah mengapa menjadi musim yang meyakinkan bagi PSIM, kata teman saya yang atas dasar profesionalitas harus menjadi Brajamusti. Laga demi laga, babak demi babak sukses mereka lewati dengan hasil bagus meski tak mulus.
Sehatnya manajemen, menemukan kurcaci jahat Bernama Rafinha seolah menjadi kreatin bagi PSIM dan supporternya. Produksi 19 gol (belum termasuk laga final) mampu menghantarkan PSIM kembali ke habitatnya dan berlaga di partai puncak, berjumpa dengan klub Aparat itu. Laga puncak itu terjadi pada 26 Februari 2025, di Stadion Manahan, Surakarta.
Tak ada niat untuk menjadi saksi sepak bola Indonesia secara langsung, namun teman saya ini bersikeras mengajak saya untuk menyaksikan PSIM angkat piala, ucapnya waktu itu. Dengan segala keraguan dan pertimbangan, saya menyanggupi ajakan teman saya. Tidak ada salahnya kan, untuk pengalaman pertama? Kebanyakan juga membuat orang-orang bahagia.
Seperti tokoh Jin dan Jun, kami memulai perjalanan menggunakan motor berdua saja. Meski sempat terguyur hujan, kami tetap melanjutkan perjalanan ke Surakarta dengan penuh semangat. Kata teman saya sih biar kaya Rafinha, apapun diterjang, Gas!. Hampir 3 jam, kami pun tiba di Surakarta. Ramai! Merupakan situasi yang terjadi 2 jam sebelum Rio Permana meniup peluit tanda babak final dimulai. Stasiun, warung kopi, dan tempat umum lain di sekitar Manahan dipadati masa berbaju biru, menggambarkan antusiasme warga Yogyakarta mengawal tim mereka berlaga. Jujur saja, cinta lama itu mulai muncul kembali, seperti menjumpai perasaan yang sama namun ada pada orang yang berbeda, hehe.
Sebelum pertandingan, saya sempat berbincang dengan teman satu kampus saya, Brajamusti sejak kelas dua Sekolah Dasar, katanya. Meninggalkan kelas demi mengawal kebanggan rela ia lakukan, persis seperti kakaknya yang hanya presensi di kantor dan memberikan surat izin kepada empunya perusahaan. Salah, namun bagaimana lagi, momen yang tidak terjadi setahun sekali memang pantas diperjuangkan. Hmmmm

Kurang 15 menit jelang kick-off, saya dan teman saya yang mengais rezeki dan portofolio dari PSIM ini memasuki tribun VIP. Tampak jelas dan megah gelaran final kali ini, meskipun bukan final kasta tertinggi. Namanya juga sepak bola dan kebanggaan, final tetaplah final, dan saya mencoba memahami situasi kala itu. Peluit ditiup, pertempuran dimulai!. Laskar Mataram dengan “12 Pemain” tak ciut menghadapi gempuran tim idamanmu sebagian kaum hawa itu.
Tujuh menit laga dimulai, PSIM mendapat tendangan bebas hasil pelanggaran yang dilakukan oleh salah satu “anggota”. Pemain ke-12 PSIM nampak sudah tahu siapa yang akan menghadapi tendangan bebas itu. Rafinha menjadi eksekutor bola mati tersebut, dan macam tendangan Christian Eriksen tatkala prima, bola itu melengkung tajam ke gawang meski Awan adalah lawan bagi sepakan Rafinha. Jika anda kagum akan debut Marc Marquez yang menikung tajam pada debutnya di Losail, kiranya seperti itulah anda akan kagum dengan lengkungan tajam sepakan yang menembus Awan. PSIM unggul hingga turun minum.
Paruh kedua dimulai, namun tanda juara bagi PSIM itu datang, kata Bilal yang baru saya kenal saat gol Rafinha terjadi. Hujan menjadi tanda PSIM juara, tuturnya. Tidak hanya datang, namun hujan juga membuat lapangan tergenang. Pertandingan ditunda 2x30 menit! Bukan waktu yang sebentar, namun apresiasi tinggi untuk PanPel yang bergerak cepat membuat keputusan.
Lepas surut, pertandingan kembali dijalankan. Klub itu mengambil kendali pertandingan, dimotori oleh Felipe yang bergerak kesana kemari dan tertawa. Pasalnya, umpan manja Kaka Ruben berhasil ia tanduk dan meluncur mulus ke gawang PSIM, penempatan yang tak sempurna dari kiper PSIM juga menjadi sebab, mengapa harus menjalankan babak tambahan sebelum angkat piala.

Beberapa pergantian dilakukan guna mengambil piala dari pihak berwajib. Roken! Sosok yang menjadi kartu AS bagi PSIM dimainkan. Intensitas yang tak menurun menjadi alas an yang masuk akal mengapa PSIM memainkan lae satu itu. Muka tegang dan harap-harap cemas tidak bisa ditutupi oleh Brajamusti, yang mana mereka yakin akan menang, namun klub yang dihadapi juga bermaterikan pemain jempolan.
Paruh kedua babak tambahan berjalan, lae kecil itu meliuk dari sisi kiri penyerangan. Seperti melewati ketangkasan ujian SIM, Roken mampu melewati barisan pertahanan lawan dengan lihai sebelum akhirnya melepaskan tendangan kencang persis saat ia membunuh satu kaki PSPS Riau. Brajamusti bergemuruh, dan merayakan gol yang memastikan mereka tampil di kasta tertinggi bukan sebagai peserta, namun sebagai raja!.
Peluit panjang ditiup, emosi pun meletup dan membuat seluruh Brajamusti yang hadir bersorak. Kebanggaan, kecintaan yang tak dapat mereka jelaskan dengan kata-kata akhirnya benar-benar naik kasta sebagai raja. Tangis Bahagia juga terlihat dari tak hanya satu, melainkan banyak Brajamusti yang hadir. Perlu anda tahu, tangis haru air mata itu membuat saya kembali jatuh cinta terhadap Liga Indonesia!. Saya merasakan kebanggaan dan keterikatan yang sama, kalua ditanya alasannya apa, saya juga tidak mampu menjelaskan. Itulah mengapa, saya menyebutnya cinta.
Pejah Gesang Nderek PSIM masih menjadi kalimat yang saya belum tahu artinya sampai piala itu diangkat. Namun, bagaimana bangganya Brajamusti ketika PSIM juara, menjadikan saya paham akan kecintaan tidak perlu diartikan dari sebuah perkataan atau slogan. Selamat, Brajamusti!, selamat juga Artorius FJ Pinem! Masih intern juara liga 2, gimana udah kartap? Zona Asia akan menjadi habitat untuk menetap. Aamiinnnn.
Terma kasih, Manahan! Rasa itu muncul kembali berkatmu! Kali ini tidak bisa dijelaskan, karena yang jelas saya menyukai Liga Indonesia kembali. Sesuatu yang saya sadari menjadi teman sejak dini, dn sayang jika harus berhenti sampai sini. Tak hanya untuk PSIM tapi juga untuk Liga Indonesia, AYDK!

Penulis menyukai sepak bola, namun baru belajar menulis sekarang. Untuk berbicara tentang sepak bola,kasih masukan mengenai penulisan juga ayo! Ketuk saya melalui X @nadhif_hilmi31. Maturnuwun!
메타데이터
- post_id
- b41f43dbf763
- slug
- kisah-mengesankan-dari-manahan-b41f43dbf763
- url
- https://medium.com/@nadhifhilmi71/kisah-mengesankan-dari-manahan-b41f43dbf763
- canonical_url
- https://medium.com/@nadhifhilmi71/kisah-mengesankan-dari-manahan-b41f43dbf763
- author_url
- https://medium.com/@nadhifhilmi71
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 18:44:07