Langit Biru Itu Selalu Ada, Hanya Saja Saya Terlalu Sibuk Menghitung Rintik Hujan
Tentang belajar percaya, bahkan ketika semua terasa runtuh.
Langit Biru Itu Selalu Ada, Hanya Saja Saya Terlalu Sibuk Menghitung Rintik Hujan
Tentang belajar percaya, bahkan ketika semua terasa runtuh.
Ada hal yang tidak pernah diajarkan di mana pun tentang kehilangan pekerjaan: bahwa yang paling berat bukan saat kamu diberitahu. Yang paling berat adalah momen setelahnya ketika kamu harus tetap berdiri, tetap waras, dan tetap percaya bahwa sesuatu yang baik masih menunggumu di ujung jalan yang belum kelihatan.
Saya pernah berada di titik itu.
Dan jujur, satu hal yang membuat saya bisa tetap berjalan adalah bukan CV saya, bukan portofolio saya, bukan koneksi saya. Tapi satu keyakinan sederhana: Allah tidak akan meninggalkan.
Ketika yang terjadi jauh lebih buruk dari sekadar “layoff”
Kalau di tulisan sebelumnya saya bilang bahwa layoff adalah momen menutup laptop untuk terakhir kalinya. itu benar, tapi bukan gambaran penuhnya.
Yang tidak saya ceritakan adalah bagaimana prosesnya. Bagaimana ada meja yang digebrak. Bagaimana ada suara yang ditinggikan. Bagaimana sesuatu yang seharusnya jadi hak saya harus saya perjuangkan sendiri.
Saya keluar bukan hanya dengan rasa lelah. Saya keluar dengan rasa yang lebih kompleks dari itu. campuran antara marah, bingung, dan sebuah pertanyaan yang terus berputar: Apa salah saya?
Sampai akhirnya saya berhenti mencoba menjawab pertanyaan itu dan mulai menggantinya dengan pertanyaan yang berbeda: Apa yang Allah mau saya pelajari dari ini?
Tentang percaya yang bukan pasif
Ada kesalahpahaman yang sering saya dengar soal tawakkal. Seolah-olah menyerah kepada Allah berarti berhenti bergerak. Duduk, menunggu, dan berharap sesuatu jatuh dari langit.
Bukan itu yang saya rasakan.
Percaya, bagi saya, justru adalah keberanian untuk terus melangkah meski belum bisa melihat ke mana langkah itu membawa. Tetap kirim lamaran. Tetap benahin CV. Tetap datang ke interview bahkan yang feel-nya sudah kurang pas. Tetap jaga adab di setiap proses, meski prosesnya melelahkan.
Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang saya pegang: kalau ini bukan tempatku, pasti ada tempat yang lebih layak.
Ternyata itu bukan sekadar penghiburan diri. Itu janji yang terbukti.
Langit setelah badai
Saya sekarang bekerja di tempat yang berbeda.
Dan perbedaannya bukan soal gaji atau jabatan meski itu penting. Perbedaannya terasa dari hal-hal kecil yang dulu tidak pernah saya anggap bisa ada.
Atasan yang marah bukan karena kamu pulang tepat waktu tapi justru marah kalau kamu tidak pulang tepat waktu. Yang percaya bahwa pekerjaan yang baik tidak harus dibayar dengan kesehatan dan waktu personal.
Lingkungan yang menghargai kontribusi bukan sekadar tolak ukur jam yang terpasang di kursi.
Saya tidak sedang bilang bahwa tempat baru ini sempurna. Tidak ada tempat yang sempurna. Tapi ada sesuatu yang fundamental berbeda: saya merasa dihargai sebagai manusia, bukan hanya sebagai fungsi.
Dan itu percayalah terasa seperti hujan setelah kemarau panjang.
Untuk kamu yang sedang di tengah badai
Kalau kamu sedang membaca ini dan sedang berada di tempat yang gelap. Mungkin baru keluar dari lingkungan yang toxic, mungkin sedang menunggu kabar dari puluhan lamaran, mungkin sedang mempertanyakan kenapa hal buruk terjadi padamu yang sudah berusaha keras.
Saya tidak akan bilang “sabar ya” karena itu terasa terlalu mudah untuk diucapkan.
Yang ingin saya bilang adalah: Allah itu hadir. Bukan hanya di doa subuh yang panjang. Tapi juga di penolakan kesekian yang ternyata menyelamatkanmu dari tempat yang salah. Di jeda yang terasa menyiksa tapi ternyata sedang mempersiapkanmu. Di pintu yang tiba-tiba terbuka setelah kamu mulai ikhlas dengan pintu yang tertutup.
Badai itu nyata. Saya tidak akan menyangkal itu.
Tapi langit setelahnya langit itu juga nyata.
Dan saya bersaksi: setelah semua yang terjadi, langit itu memang biru.
Bagaimana dengan badaimu? Apakah kamu sudah mulai melihat sedikit warna biru di antara awan abu-abu itu?
— Essa, April 2026
메타데이터
- post_id
- b44d579d4eff
- slug
- setelah-badai-langit-itu-memang-biru-b44d579d4eff
- url
- https://medium.com/@essaluth12/setelah-badai-langit-itu-memang-biru-b44d579d4eff
- canonical_url
- https://medium.com/@essaluth12/setelah-badai-langit-itu-memang-biru-b44d579d4eff
- author_url
- https://medium.com/@essaluth12
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 14:26:31