← Back to list

Premanisme Kampus (Fasis), Watak Iri Dengki (Akumulatif), dan Ketidakpahaman Sistem Demokrasi…

Oleh: Mochamad Iqbal M, S.Sn.

Penerbit Obscurrection · 2025-03-20 07:19 · 13 claps · 3.6 min read
#sosiologi #psikologi #fasisme #demokrasi #hierarki
Open on Medium ↗
Wiki topics: 📋 · Product Management

Premanisme Kampus (Fasis), Watak Iri Dengki (Akumulatif), dan Ketidakpahaman Sistem Demokrasi (Moron)

Oleh: Mochamad Iqbal M, S.Sn.

Dalam iklim sosial kampus, kita dapat menemukan berbagai macam sikap yang diambil oleh berbagai macam individu sebagai mahasiswa. Seperti misalnya yang pertama; mahasiswa berwatak preman yang kerap memframing mahasiswa lain sesukanya tanpa didasarkan dari fakta, bahkan lebih dari itu, sama-sekali tidak mengakui adanya fakta yang telah terkuak. Kedua; mahasiswa berwatak iri dengki sehingga turut memframing mahasiswa lain sesukanya tanpa didasarkan dari fakta pula. Dan ketiga; mahasiswa yang tidak paham sistem demokrasi yang selalu memaksa individu lain untuk mengikuti berbagai sikapnya (tidak boleh berbeda sikap), sehingga bila individu lain tersebut enggan bersepakat dengannya, maka individu lain tersebut diframing sesukanya tanpa didasarkan dari fakta pula. Itulah tiga jenis mahasiswa yang berpotensi menebar tuduhan-tuduhan buruk (framing buruk) yang tidak didasarkan dari fakta kepada individu mahasiswa lain. Itulah ketiga jenis mahasiswa yang menebar kebencian tanpa dasar yang jelas. Simak esai saya yang bercorak deskriptif singkat atas ketiga jenis mahasiswa tersebut di bawah ini.

Tiga Jenis Mahasiswa: Preman Kampus (Fasis), Iri Dengki (Akumulatif), Tidak Paham Demokrasi (Moron) Jenis mahasiswa pertama, dapat kita sebut sebagai mahasiswa preman kampus lantaran kerap membuat masalah yang tidak perlu, seperti misalnya ketika ia tidak suka terhadap sebuah kegiatan yang digelar oleh mahasiswa lain, maka ia menjelek-jelekan mahasiswa lain tersebut dengan menuduh-nuduh tanpa dasar yang jelas sesuai fakta, dan bila dilakukan mediasi antara dirinya dan mahasiswa lain tersebut untuk mengungkap fakta-fakta ke publik, maka ia menolak mengakui bahwa justru dirinya lah yang menuduh tanpa sesuai fakta yang ada. Itulah preman kampus yang telah ditunjukan berbagai fakta sekalipun, ia tetap tidak mengakui adanya berbagai fakta tersebut. Mungkin sikapnya yang semacam itu memang disebabkan oleh keinginan dirinya untuk mencitrakan buruk orang lain, agar dirinya tidak terlihat sebagai individu yang buruk sendirian. Dengan kata lain, ia tahu bahwa dirinya buruk, maka ia menuduh-nuduh orang lain agar orang lain juga sama-sama terkesan buruk. Tidak sampai di situ saja, di beberapa kesempatan, ia berupaya untuk berlagak care kepada mahasiswa yang lainnya lagi agar ia dapat menutupi sikap-sikap premanisme nya; agar ia tetap tercitra sebagai mahasiswa yang care, baik, ataupun jenaka. Hal macam itu bisa kita sebut sebagai fasis yang terselubung (kripto-fasis). Itulah preman kampus (entah preman sebagai proto-fasis, fasis, kripto-fasis, ataupun moron-fasis).

Kemudian jenis mahasiswa yang kedua, dapat kita sebut sebagai mahasiswa iri dengki lantaran kerap membenci mahasiswa lain yang sedang menggelar sebuah kegiatan yang tidak berkerja sama dengan dirinya. Dengan kata lain, ia ingin semua mahasiswa lainnya turut bekerja sama dengan dirinya, dan bila mahasiwa lain tersebut tidak menghendaki, maka mahasiswa lain tersebut akan dibenci olehnya, bahkan dituduh-tuduh tanpa dasar yang jelas. Tidak sampai disitu saja, ia menebar gunjingan-gunjingan yang buruk kepada mahasiswa lain tersebut. Mungkin sikap macam itu disebabkan oleh keinginan dirinya sebagai mahasiswa yang ingin terkesan lebih pintar, kompeten, aktif, maupun mempunyai reputasi yang baik akibat sering menggelar sebuah kegiatan (ingin mengkonstruksi citra diri). Disamping itu, mungkin pula disebabkan oleh keinginannya untuk mengakumulasi portofolio diri, dan tidak suka bila mahasiswa lain punya banyak portofolio pula. Watak iri dengki macam itulah yang menyebabkan ia membenci mahasiswa lain dan memilih untuk berpola pikir kompetitif sekaligus hierarkis; yakni kondisi psikis yang enggan melihat mahasiwa lain menggelar kegiatan tanpa kerjasama dengan dirinya, enggan melihat mahasiswa lain mempunyai portofolio/melebihi portofolio yang dimiliki olehnya, ataupun enggan melihat mahasiswa lain saling bekerjasama tanpa adanya hierarkis, sehingga dirinya tidak lagi dipandang sebagai mahasiswa yang mempunyai kedudukan tinggi/mahasiswa penting (dituakan atau dispesialkan secara hierarkis) dibandingkan dengan mahasiswa lainnya. Hal macam itulah yang dapat kita sebut sebagai mahasiswa berwatak iri dengki yang dilandasi oleh watak akumulatif.

Terakhir, jenis mahasiswa yang ketiga, dapat kita sebut sebagai mahasiswa yang tidak paham sistem demokrasi lantaran selalu memaksa individu lain untuk mengikuti berbagai sikapnya (tidak boleh berbeda sikap), sehingga bila individu lain tersebut enggan bersepakat dengannya, maka individu lain tersebut diframing buruk sesukanya tanpa didasarkan dari fakta pula. Seperti misalnya ada mahasiswa lain yang menggelar kegiatan, akan tetapi mahasiswa lain tersebut menggelar kegiatan yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia membenci mahasiswa lain tersebut. Mungkin sikap macam itu disebabkan oleh ketidakpahamnya mengenai sistem demokrasi, padahal sistem demokrasi mengizinkan berbagai macam sikap lantaran setiap individu itu mempunyai keunikannya masing-masing, sehingga setiap individu merdeka dalam mengambil sikapnya sendiri tanpa terikat oleh individu lain atau kelompok lain (kecuali adanya konsensual). Dengan kata lain, ketidakpahamannya tersebut setara dengan orang yang moron (idiot) atau berpola pikir setara dengan anak TK yang notabene masih kesulitan memahami prinsip-prinsip atau sistem demokrasi, kecuali anak SD-SMP yang notabene pola pikirnya sudah mampu memahami beberapa prinsip hidup salah satunya prinsip atau sistem demokrasi.

Penutup: Segala Pilihan Ada di Tangan Anda Dari uraian singkat di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa ada tiga jenis mahasiswa yang menebar kebencian kepada mahasiswa lainnya. Yakni ketiga mahasiswa yang dapat kita deskripsi sebagai mahasiswa preman kampus (proto-fasis, fasis, kripto-fasis, moron-fasis), mahasiswa berwatak iri dengki (akumulatif, hierarkis), dan mahasiswa yang tidak paham sistem demokrasi (moron). Dengan itu, anda yang telah membaca esai singkat saya ini, akan memilih menjadi mahasiswa yang bagaimana?, apakah yang memilih salah satu dari ketiga jenis tersebut, memilih ketiga-tiga nya, atau memilih untuk tidak memilih satu pun dari ketiga jenis tersebut sehingga anda memilih untuk menjadi mahasiswa yang paham sistem demokrasi, tidak berwatak iri dengki / akumulatif, serta tidak bersikap sewenang-wenang laiknya proto-fasis, fasis, kripto-fasis, atau moron-fasis?. Segala pilihan ada di tangan anda sendiri. Bagi saya — senada dengan argumen chaos theory sekaligus free will — bahwa dunia ini memang acak, kita bebas menentukan sikap kita sendiri, dan sikap atau tindakan sekecil apapun memiliki efek yang berpotensi berkembang menjadi besar. Sekian.

Surel penulis: mochamadiqbal909@gmail.com


메타데이터
post_id
b482f2164e1a
slug
premanisme-kampus-fasis-watak-iri-dengki-akumulatif-dan-ketidakpahaman-sistem-demokrasi-b482f2164e1a
url
https://medium.com/@penerbit.obscurrection/premanisme-kampus-fasis-watak-iri-dengki-akumulatif-dan-ketidakpahaman-sistem-demokrasi-b482f2164e1a
canonical_url
https://medium.com/@penerbit.obscurrection/premanisme-kampus-fasis-watak-iri-dengki-akumulatif-dan-ketidakpahaman-sistem-demokrasi-b482f2164e1a
author_url
https://medium.com/@penerbit.obscurrection
status
ok
fetched_at
2026-08-16 00:54:39