Rambut Gondrong bukan Tindakan Kriminal, Apalagi Tumbuhan Kriminil
Rambut Gondrong bukan Tindakan Kriminal, Apalagi Tumbuhan Kriminil

source : DALL·E
Populasi cowok rambut gondrong semakin merebak luas. Setidaknya ada satu teman kita di tongkrongan yang rambutnya gondrong dan memiliki keunikannya sendiri. Mulai dari mahasiswa, pelaku seni, barista, bahkan juga anak tetangga yang multitalenta. Sering kali kita menemukan mereka terselip di antara hingar-bingar publik dan terlihat begitu eksentrik.
Lain cerita dulu kala bapakku masih remaja, punya rambut gondrong bukanlah hal lumrah bagi pihak-pihak yang sentimentil. Berbagai isu tentang rambut gondrong seperti menghambat laju pembangunan negara, tidak mencerminkan budaya bangsa, dan alasan-alasan tidak logis lainya digaungkan oleh pemerintah di tengah masyarakat. Terlepas dari itu, nyatanya ada aja orang-orang di masa itu yang tetep memanjangkan rambut mereka sekalipun hanya sebatas gaya-gayaan semata. Yang jaditanda tanya, mengapa pandangan masyarakat terkait rambut gondrong masih aja nggak berubah sampai sekarang?
Awalnya sih, rambut gondrong identik sama orang-orang hippies yang merespon keadaan pas era 60-an dengan menebarkan cinta akan perdamaian serta menolak peperangan. Mereka turun ke jalan sambil menyuarakan tentang kebebasan setiap manusia dengan slogan ““make love, not war” kepada dunia agar Amerika Serikat segera menyudahi perang Vietnam yang berkepanjangan. Pesan-pesan perdamaian itu terbang ke seluruh dunia tak terkecuali ke Indonesia. John Lenon yang menjelma seperti merpati, mengantarkan pesan perdamaian tersebut ke Indonesia di era 70-an melalui media musik bersama band-nya, The Beatless.
Subkultur hippies dengan rambut gondrong dan tetek-bengeknya tersebut oleh orang-orang tua kita pada saat itu dianggap red flag karena identik dengan budaya barat yang awut-awutan. Komedi bapak-bapak mulai digelar pada tanggal 1 Juli tahun 1965 saat Soekarno memenjarakan band Koes Plus karena keseringan meng-cover lagu-lagu The Beatless. Katanya sih katanya, lagu-lagu yang genre-nya rock & roll kayak The Beatless tidak sejalan sama goals yang dipengenin bapak-bapak berjiwa nasionalis itu dan sangat tidak relevan dengan nilai budi pekerti luhur Indonesia.
Masih belum kelar, Soekarno turun ke back stage, giliran Soeharto yang open mic. Pertama kali ontran-ontran razia rambut gondrong terjadi pada tanggal 8 Desember 1966 di Stasiun Tanah Abang Jakarta. Dilanjutkan dengan pernyataan Ali Sadikin selaku gubernur Jakarta pada saat razia rambut gondrong di Jakarta pada tanggal 9 sampai 10 Januari 1968, katanya problematika rambut gondrong di Jakarta selambat-lambatnya pada tanggal 31 Januari 1968 harus sudah terselesaikan. Kebayang kan, biasanya ngokang senapan seketika disuruh keliling cari mangsa bermodalkan gunting dan sisir.
Puncak komedi jatuh pada 1 Oktober 1973 dimana Soemitro selaku Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban kepanjangan bejir, enak disingkat jadi “Pankopkamtib” menyinggung permasalahan rambut gondrong di TVRI, kan lucu ya. Kocaknya lagi adalah, pembentukan Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong alias BAKORPERAGON sama Gubernur Sumatera Utara pas tahun itu juga. Kurang lawak apa coba? Ketambahan, di Kepolisian Salatiga sengaja pasang pengumuman yang intinya tidak menerima pelayanan kepada siapa pun yang berambut gondrong.
Bapak bilang buat pencegahan, biar disiplin, kalian itu cerminan masa depan bangsa, dimana jiwa nasionalisme dan nilai-nilai budaya Indonesia kalian? Mau jadi apa negara ini kelak? Nah, kurang lebih kayak gitu alasan-alasan kenapa orang-orang tua jaman itu pada anti rambut gondrong. Masalahnya, delusi yang ada di kepala mereka tuh di jejelin ke mulut masyarakat luas pake berbagai instrumen yang mereka kuasai. ABRI, TVRi, pemerintah dari yang pusat hingga sekelas perangkat desa semua-mua-mua-muanya bahu-membahu berburu rambut gondrong, itu pun masih ada pembatasan pelayanan masyarakat yang rambutnya gondrong juga loh.
Tak terkecuali pendidikan, oke deh kalo kerapian dan kedisiplinan itu yang utama tapi emang ngaruh ya rambut gondrong sama kecerdasan siswa? Bayangin, kita nggak bisa ikut ujian gara-gara rambut kita gondrong, padahal kita tertib bayar SPP ataupun UKT. Ternyata cancel culture udah ada sejak dulu ya, contohnya di SMA XIX Jakarta memasang pengumuman pelarangan mengikuti ujian bagi siswa yang berambut gondrong berserta daftar nama siswa yang rambutnya gondrong. Atau, 40 siswa di SMA 1 Medan dikeluarin gara-gara bolos upacara biar nggak kena razia rambut gondrong, tapi akhirnya Cuma 9 doang yang dikeluarin, yang 31 ternyata anak pejabat.
Chill dulu nggak sih bro, udah ngulik-ngulik kenapa rambut gondrong lumayan termarjinalkan di masa lalu. Meski beberapa hari ini tagar TolakRUUTNI sedang naik-naiknya di media sosial gara-gara wakil rakyat pada back street rapat ngomongin dwifungsi ABRI di hotel mewah itu. Terlepas dari perkara rambut gondrong bukan tindakan kriminal, apalagi tumbuhan kriminil ternyata masa kelam yang berakhir kurang lebih dua dasawarsa kemarin jika dipanggil kembali bakal berdampak banyak bagi kita secara menyeluruh. Entah akan seperti apa kelak, kebebasan berekspresi dan masih banyak hal lain lagi akan terbungkam oleh pleton-leton yang keluar barak menyusup ke ruang rapat dan ranah sipil. Emangnya kalian rela digundulin setelah bertahun merawat dan memanjangkan rambut kalian sepenuh hati? Prei kenceng sih kalo gua.
메타데이터
- post_id
- b49039e1fbe8
- slug
- rambut-gondrong-bukan-tindakan-kriminal-apalagi-tumbuhan-kriminil-b49039e1fbe8
- url
- https://medium.com/@febriyanrifan/rambut-gondrong-bukan-tindakan-kriminal-apalagi-tumbuhan-kriminil-b49039e1fbe8
- canonical_url
- https://medium.com/@febriyanrifan/rambut-gondrong-bukan-tindakan-kriminal-apalagi-tumbuhan-kriminil-b49039e1fbe8
- author_url
- https://medium.com/@febriyanrifan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 15:04:06