Sekadar Singgah (Cerita Pendek)
1.
Sekadar Singgah (Cerita Pendek)
Rumah ini seperti perut yang kenyang — diam, hangat, dan tidak membutuhkan apapun lagi. Aku duduk di kursi plastik berwarna hijau toska yang sudah pudar, mendengarkan suara kulkas yang bersenandung seperti orang tua yang sedang mengantuk. Jam dinding berdetak dengan ritme yang sama sejak sepuluh tahun lalu, seolah waktu di sini punya kesabaran yang tak terbatas.
Mama sedang menyapu halaman. Gerakannya pelan, seperti sedang menari dengan debu. Sapu ijuk itu adalah pasangan setianya — sudah botak di beberapa bagian, tapi masih setia melakukan tugasnya setiap pagi. Aku memperhatikan punggungnya yang sedikit bungkuk. Waktu adalah pencuri yang paling halus, mencuri tanpa bersuara, tanpa jejak, hanya meninggalkan tanda-tanda kecil di tubuh yang kita sayangi.
“Kamu pulang lagi,” katanya tanpa menoleh. Bukan pertanyaan, bukan pula tuduhan. Hanya pernyataan sederhana seperti mengatakan bahwa matahari terbit dari timur.
“Sekadar singgah, Ma.”
Dia tersenyum — senyuman tipis yang sudah kuhafal bentuknya sejak kecil. Senyuman yang tidak pernah menuntut penjelasan lebih. Mama adalah pelabuhan yang tidak pernah menanyakan kenapa kapal-kapal selalu pergi lagi setelah berlabuh.
Kamarku masih sama. Tempat tidur single dengan sprei bergambar Superman yang sudah memudar, meja belajar yang penuh coretan pensil dari jaman SMP, dan poster band-band yang sudah bubar sejak aku kuliah. Ruangan ini seperti museum pribadi yang tidak pernah diperbaharui. Debu menari-nari di sinar matahari sore, seperti salju yang jatuh ke atas.
Aku membuka laci meja. Ada foto kita berempat — Papa, Mama, aku, dan Christina. Foto itu diambil saat piknik ke Pantai Anyer tahun 2015. Kita semua tertawa, tidak tahu bahwa tiga bulan kemudian Papa akan pergi untuk selamanya. Foto itu sekarang seperti nisan kenangan yang dibingkai kayu.
Christina sekarang tinggal di Surabaya. Menikah dengan laki-laki baik yang memberinya kehidupan yang stabil. Mereka punya rumah kecil dengan taman belakang dan rencana untuk punya anak tahun depan. Hidupnya seperti film keluarga yang berakhir bahagia.
Sedangkan aku? Aku adalah burung migran yang tidak pernah benar-benar tahu ke mana terbang. Jakarta, Bandung, Yogya, Bali — kota-kota berganti seperti baju. Pekerjaan berganti seperti musim. Hubungan berganti seperti cuaca.
Malam ini aku menemani Mama menonton serial Korea yang sama yang sudah ditayangkan ulang untuk ketiga kalinya. Dia tidak pernah bosan. Mungkin karena pada usia ini, mengulang adalah bentuk kenyamanan. Seperti membaca buku yang sama, mendengar lagu yang sama, atau makan di warung yang sama.
“Kamu lapar?” tanyanya saat adegan sedih mulai dimulai.
Selalu begitu. Mama tidak pernah bisa diam saat melihat orang — bahkan orang di televisi — sedang sedih. Dia akan mencari cara untuk mengalihkan perhatian. Menawarkan makan, minum, atau sekedar bercerita tentang tetangga yang baru punya cucu.
“Tidak, Ma. Kenyang.”
Tapi dia tetap ke dapur dan kembali dengan semangkuk mie ayam instan yang diberi tambahan telur dan wortel. Tangannya yang keriput menyodorkan mangkuk itu dengan penuh kasih sayang. Cinta Mama adalah bahasa yang sederhana: makan yang banyak, pakai jaket kalau keluar, dan pulang sebelum magrib.
Esok pagi aku akan pergi lagi. Ke Medan kali ini. Ada tawaran kerja yang menarik di sebuah startup teknologi. Gaji yang lumayan, tim yang solid, visi yang jelas. Semuanya terdengar sempurna di atas kertas.
Mama sudah menyiapkan bekal. Dua potong roti bakar dengan selai kacang, sebotol air putih, dan sekotak permen mint. Bekal untuk perjalanan yang akan memakan waktu tiga jam terbang. Dia tahu itu tidak akan cukup, tapi ini adalah caranya mengatakan “hati-hati di jalan” tanpa kata-kata.
“Medan jauh,” katanya sambil melipat kemeja-kemejaku yang sudah dicuci dan disetrika.
“Tidak sejauh yang Mama bayangkan.”
“Sejauh hati yang meninggalkan rumah.”
Kalimat itu menggantung di udara seperti asap rokok. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Mama selalu punya cara berkata-kata yang membuat kata-kata ku terasa kosong.
Di bandara, dia tidak menangis. Mama tidak pernah menangis saat mengantarku pergi. Dia hanya memelukku lebih lama dari biasanya, seperti sedang mengisi ulang baterai cinta yang akan kuperlukan selama berbulan-bulan.
“Jangan lupa telpon,” katanya. Kalimat yang sama sejak pertama kali aku meninggalkan rumah untuk kuliah.
“Pasti, Ma.”
“Dan jangan lupa makan.”
“Pasti.”
“Dan jangan lupa…”
“Pulang. Aku tahu, Ma.”
Dia tersenyum. Senyuman yang sama yang sudah kuliat ratusan kali saat berpisah. Senyuman yang mengatakan: aku akan menunggu, seberapapun lamanya.
Pesawat lepas landas. Jakarta mengecil di bawah, menjadi kumpulan lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip seperti bintang jatuh. Aku melihat ke jendela dan membayangkan Mama sedang dalam perjalanan pulang, naik bus Transjakarta yang ramai, mendengarkan musik dangdut dari headphone driver yang bocor, memandang keluar jendela dengan tatapan yang sama seperti yang kulakukan sekarang.
Medan ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Cuacanya panas, tapi tidak sepanas Jakarta. Orang-orangnya ramah, makanannya enak, dan pekerjaannya… lumayan. Lumayan adalah kata yang sering kugunakan untuk mendeskripsikan hidupku belakangan ini. Tidak buruk, tapi juga tidak istimewa. Seperti lagu yang enak didengar tapi tidak memorable.
Aku menyewa kamar kos di daerah Medan Petisah. Kamarnya kecil, tapi bersih. Ada kasur single, meja lipat, dan lemari dua pintu yang pintunya suka terbuka sendiri kalau tidak dikunci. Pemilik kosnya adalah ibu paruh baya yang suka bercerita tentang anak-anaknya yang sudah merantau ke luar negeri. Dia sering memberiku makanan lebihan — rendang, gulai ikan, atau sekedar pisang goreng. Mungkin karena aku mengingatkannya pada anak-anaknya yang jauh di sana.
Tapi malam-malam di Medan terasa lebih sunyi dari yang pernah kualami. Bukan karena tidak ada suara — jalanan tetap ramai, tetangga tetap berisik, kulkas tetap berdenging. Tapi ada jenis kesunyian yang berbeda. Kesunyian yang datang dari dalam, seperti ruang kosong di dada yang tidak bisa diisi oleh apapun.
Aku mulai menelpon Mama lebih sering. Setiap malam, setelah pulang kerja, sebelum tidur. Percakapan kami selalu sama:
“Sudah makan?”
“Sudah, Ma.”
“Makan apa?”
“Nasi gudeg.”
“Pedas tidak?”
“Tidak.”
“Bagus. Jangan makan yang terlalu pedas, nanti sakit perut.”
Percakapan sepuluh menit yang tidak penting tapi somehow sangat penting. Seperti ritual yang menjaga kita tetap terhubung meski terpisah ratusan kilometer.
Bulan ketiga di Medan, aku bertemu Larisa. Dia freelance graphic designer yang sering nongkrong di kafe yang sama dengan ku. Rambutnya dikuncir asal, selalu pakai kaos oversize dan celana jeans sobek. Dia punya tawa yang keras dan tidak malu-malu, seperti petasan yang meledak di malam tahun baru.
Kami mulai sering mengobrol. Tentang pekerjaan, tentang hidup, tentang mimpi-mimpi yang sebagian sudah tercapai dan sebagian lagi masih tergantung di langit. Larisa punya cara pandang yang unik tentang hidup. Dia bilang hidup itu seperti playlist musik — ada lagu cepat, ada lagu lambat, ada yang membuat menangis, ada yang membuat menari. Yang penting adalah tidak skip terlalu cepat, karena setiap lagu punya bagian terbaiknya.
“Kamu itu kayak turis,” katanya suatu sore saat kami sedang minum kopi di teras kafenya yang kecil. “Datang ke suatu tempat, foto-foto, terus pergi lagi. Tidak pernah benar-benar tinggal.”
“Memangnya kenapa kalau jadi turis?”
“Turis tidak pernah tahu rasa nasi gudeg yang sesungguhnya. Mereka hanya tahu rasa nasi gudeg untuk turis.”
Kalimat itu membuatku diam. Larisa punya cara berkata-kata yang membuat aku merasa telanjang, seolah dia bisa melihat semua kepalsuan yang selama ini kusembunyikan di balik senyuman dan percakapan ringan.
Enam bulan di Medan. Hidup mulai terasa nyaman. Pekerjaan lancar, punya teman-teman baru, dan Larisa… Larisa mulai terasa seperti rumah yang bisa kubawa kemana-mana. Dia tidak pernah menanyakan tentang masa depan kita, tentang rencana jangka panjang, atau tentang komitmen. Mungkin dia tahu bahwa aku adalah jenis orang yang alergi terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu.
Tapi suatu malam, saat kami sedang berbaring di kasurnya yang kecil, mendengarkan hujan yang turun dengan malas, dia berkata, “Aku akan pindah ke Bali bulan depan.”
“Kenapa?”
“Ada proyek besar. Branding untuk resort baru. Kontrak dua tahun.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Bagian dari diriku merasa lega — tidak ada yang perlu kuputuskan, tidak ada yang perlu kupikirkan tentang masa depan. Tapi bagian yang lain merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum benar-benar kumiliki.
“Ikut tidak?” tanyanya dengan nada santai, seolah sedang menanyakan apakah aku mau ikut ke warung makan soto.
Malam itu aku menelpon Mama lebih lama dari biasanya.
“Ma, kalau Papa masih hidup, kira-kira dia akan bilang apa kalau lihat aku sekarang?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa rencana. Mama terdiam cukup lama. Aku bisa mendengar suara televisi di latar belakang — sepertinya serial Korea yang sama.
“Papa akan bilang: yang penting kamu bahagia.”
“Tapi aku tidak tahu aku bahagia atau tidak, Ma.”
“Kalau tidak tahu, berarti belum.”
Kalimat sederhana yang seperti tamparan halus. Mama selalu punya cara menjawab yang membuat segala sesuatu terasa jelas, meski sebenarnya tetap rumit.
“Aku kangen Papa, Ma.”
“Mama juga.”
“Aku kangen rumah.”
“Rumah selalu menunggu.”
“Tapi aku tidak tahu kapan akan pulang.”
“Rumah tidak menanyakan kapan. Rumah hanya menunggu.”
Aku memutuskan untuk tidak ikut Larisa ke Bali. Bukan karena tidak ingin, tapi karena merasa ini bukan saatnya untuk mengikuti orang lain lagi. Sudah terlalu lama aku membuat keputusan berdasarkan keadaan, berdasarkan tawaran, berdasarkan kesempatan. Mungkin sudah saatnya membuat keputusan berdasarkan apa yang benar-benar kuinginkan.
Tapi apa yang benar-benar kuinginkan?
Larisa pergi pada hari Minggu pagi. Aku mengantarnya ke bandara. Dia tidak menangis, tidak dramatis. Hanya memelukku dan berkata, “Terima kasih untuk enam bulan yang menyenangkan.”
“Terima kasih juga.”
“Jangan jadi turis terus, ya. Sesekali coba jadi penduduk lokal.”
Pesawatnya terbang. Aku pulang ke kos dengan perasaan kosong yang aneh. Bukan sedih, bukan lega. Hanya kosong, seperti gelas yang baru selesai diminum airnya.
Dua minggu setelah Larisa pergi, aku mengundurkan diri dari kantor. Boss-ku kaget. Timku kaget. Bahkan aku sendiri agak kaget dengan keputusanku. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa yakin dengan sebuah keputusan yang tidak bisa kujelaskan secara logis.
“Mau kemana?” tanya boss-ku.
“Pulang.”
“Pulang kemana? Jakarta?”
“Pulang ke rumah.”
Dia tidak mengerti bedanya. Bagi sebagian orang, pulang dan pulang ke rumah adalah hal yang sama. Tapi bagiku, pulang bisa ke mana saja — ke kota lain, ke pekerjaan lain, ke kehidupan lain. Pulang ke rumah hanya ada satu tempat.
Mama menunggu di bandara. Dia tidak kaget melihatku pulang tanpa kabar terlebih dahulu. Seolah dia sudah tahu bahwa suatu hari aku akan pulang dengan cara seperti ini — tiba-tiba, tanpa rencana, dengan koper yang lebih berat karena berisi lebih banyak kenangan daripada barang.
“Sekadar singgah lagi?” tanyanya sambil membantu mengangkat koper.
“Tidak tahu, Ma. Mungkin tidak.”
Dia tersenyum. Senyuman yang berbeda kali ini. Senyuman yang mengatakan: apa pun itu, tidak apa-apa.
Perjalanan pulang terasa berbeda. Jalanan yang sama, pemandangan yang sama, tapi semuanya terasa baru. Seperti melihat lukisan lama dengan mata yang sudah berubah. Rumah-rumah di sepanjang jalan tidak lagi terlihat kecil dan membosankan. Mereka terlihat seperti cerita-cerita kecil yang punya makna sendiri.
Rumah masih sama. Kulkas masih bersenandung, jam dinding masih berdetak dengan sabar, kursi plastik hijau toska masih pudar. Tapi aku yang sudah berbeda. Aku tidak lagi merasa seperti tamu yang singgah sebentar. Aku merasa seperti anak yang pulang setelah lama belajar di luar.
Malam pertama di kamarku yang lama, aku tidak bisa tidur. Bukan karena tidak nyaman, tapi karena terlalu nyaman. Seperti tubuh yang lupa bagaimana rasanya benar-benar rileks. Aku menatap langit-langit yang sama yang sudah kutatap sejak kecil. Ada bercak bekas bocor yang sudah diperbaiki, tapi bekasnya masih terlihat samar. Seperti luka lama yang sudah sembuh tapi meninggalkan parut.
Aku mulai memikirkan apa yang akan kulakukan sekarang. Tidak ada rencana, tidak ada strategi jangka panjang. Hanya keinginan sederhana untuk tinggal. Tinggal di tempat di mana aku tidak perlu menjelaskan siapa aku, tidak perlu membuktikan apa-apa, tidak perlu menjadi versi tertentu dari diriku sendiri.
Minggu kedua di rumah, aku mulai membantu Mama dengan hal-hal kecil. Belanja ke pasar, mengantarnya ke pengajian, memperbaiki keran yang bocor. Hal-hal sederhana yang tidak pernah kulakukan saat masih tinggal di sini dulu. Waktu itu aku terlalu sibuk dengan sekolah, dengan teman-teman, dengan mimpi-mimpi untuk pergi jauh.
Sekarang aku mengerti kenapa Papa dulu selalu senang melakukan pekerjaan rumah di akhir pekan. Bukan karena dia hobi, tapi karena ada kebahagiaan sederhana dalam memperbaiki sesuatu yang rusak, dalam membuat rumah menjadi lebih baik, dalam berkontribusi pada kehangatan kecil yang kita sebut keluarga.
“Kamu berubah,” kata Mama suatu sore saat kami sedang menanam bunga di taman kecil depan rumah.
“Berubah bagaimana?”
“Tidak terburu-buru lagi.”
Dia benar. Selama ini aku selalu merasa terburu-buru. Terburu-buru menyelesaikan sekolah, terburu-buru mendapat pekerjaan, terburu-buru pindah ke kota yang lebih besar, terburu-buru mencari sesuatu yang bahkan tidak kutahu apa itu. Sekarang, untuk pertama kalinya, aku merasa punya waktu. Waktu untuk memperhatikan bagaimana matahari bergerak dari timur ke barat, bagaimana bunga-bunga di taman tumbuh pelan-pelan, bagaimana Mama tersenyum saat melihat hasil kerja kita.
Bulan ketiga di rumah, aku mulai bekerja sebagai freelance content writer. Tidak glamor, tidak bergaji besar, tapi cukup untuk hidup sederhana. Yang penting, aku bisa bekerja dari rumah, bisa mengatur waktu sendiri, bisa tetap ada saat Mama membutuhkan.
Christina datang berkunjung dengan suami dan anaknya yang baru berusia dua tahun. Keponakanku yang kecil itu berlarian di rumah dengan energi yang tidak ada habisnya. Tawanya memenuhi sudut-sudut rumah yang sudah lama sunyi. Mama terlihat sangat bahagia. Dia menggendong cucunya sambil bernyanyi lagu-lagu lama, sama seperti yang dulu dia lakukan pada kami.
“Kayaknya kamu lebih tenang sekarang,” kata Christina saat kami sedang duduk di teras malam itu, mendengarkan suara jangkrik dan menonton keponakanku yang sudah tertidur di pangkuan Mama.
“Mungkin karena aku sudah tidak lari lagi.”
“Lari dari apa?”
“Tidak tahu. Mungkin dari kenyataan bahwa hidup sederhana juga bisa bahagia.”
Christina tertawa. “Dulu kamu selalu bilang hidup di sini membosankan.”
“Sekarang aku tahu perbedaan antara membosankan dan damai.”
Setahun sudah aku di rumah. Mama tidak pernah lagi bertanya apakah ini “sekadar singgah” atau tidak. Mungkin dia sudah melihat jawabannya dari cara aku menata ulang kamarku, dari cara aku mulai punya rutinitas tetap, dari cara aku berbicara tentang rencana-rencana kecil untuk rumah ini.
Aku mulai memahami sesuatu yang tidak pernah kupahami sebelumnya: bahwa pergi itu mudah, yang sulit adalah tinggal. Pergi hanya membutuhkan keberanian sesaat, tiket, dan koper. Tinggal membutuhkan komitmen setiap hari untuk memilih tempat yang sama, orang yang sama, kehidupan yang sama, meski terkadang terasa monoton.
Tapi ada keindahan dalam monoton. Ada kebahagiaan dalam rutinitas. Ada cinta dalam hal-hal kecil yang berulang setiap hari: secangkir kopi di pagi hari, percakapan ringan saat makan malam, suara kulkas yang bersenandung menjelang tidur.
Suatu malam, aku menemukan surat lama dari Papa di laci mejanya yang tidak pernah kubuka. Surat itu ditujukan untuk Mama, ditulis saat mereka masih pacaran. Tulisan tangannya rapi, bahasa formalnya kaku tapi penuh kasih sayang.
“Aku tahu aku bukan laki-laki yang sempurna,” tulis Papa. “Aku tidak kaya, tidak tampan, tidak pintar. Tapi aku janji akan pulang ke rumah setiap hari, akan makan malam bersamamu setiap hari, akan mencintaimu dengan cara yang sederhana tapi konsisten.”
Aku menangis membaca surat itu. Bukan karena sedih, tapi karena akhirnya mengerti apa yang selama ini tidak kupahami tentang cinta, tentang kebahagiaan, tentang arti rumah. Papa tidak pernah pergi ke mana-mana, tidak pernah punya petualangan besar, tidak pernah mengejar mimpi-mimpi yang spektakuler. Tapi dia bahagia. Dia mencintai dengan cara yang sederhana dan konsisten. Dan cinta seperti itulah yang membuat rumah ini hangat selama bertahun-tahun.
Hari ini tepat setahun aku pulang. Mama membuat rendang — makanan favoritku yang hanya dia masak saat ada acara spesial. Kami makan malam dengan tenang, tidak banyak bicara, hanya menikmati rasa makanan dan kebersamaan.
“Terima kasih,” kataku tiba-tiba.
“Untuk apa?”
“Untuk tidak pernah menyerah menunggu.”
“Menunggu itu mudah kalau kamu tahu yang ditunggu pasti pulang.”
“Mama yakin aku akan pulang?”
“Tidak yakin. Tapi berharap. Dan kadang harapan itu cukup.”
Malam ini aku duduk lagi di kursi plastik hijau toska yang pudar, mendengarkan kulkas bersenandung, memandang Mama yang sedang menonton serial Korea yang sama untuk entah yang keberapa kalinya. Semuanya sama seperti dulu, tapi sekarang aku mengerti bahwa kesamaan itu bukan kebosanan. Kesamaan itu adalah konsistensi. Konsistensi dalam cinta, dalam kehadiran, dalam pilihan untuk terus ada.
Aku akhirnya paham bahwa selama ini aku mencari rumah di tempat-tempat yang salah. Rumah bukan tempat yang paling indah, paling nyaman, atau paling menarik. Rumah adalah tempat di mana kamu tidak perlu menjadi siapa-siapa selain dirimu sendiri. Tempat di mana kamu dicintai tanpa syarat, diterima apa adanya, dan selalu punya tempat untuk kembali.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak lagi “sekadar singgah”. Aku pulang. Benar-benar pulang.
Di luar, hujan mulai turun dengan pelan. Suara tetesan air di genteng terdengar seperti lullaby yang mengantarku tidur. Mama mematikan televisi dan berkata, “Jangan lupa matikan lampu kalau mau tidur.”
“Baik, Ma.”
“Dan jangan lupa…”
“Aku tahu, Ma. Jangan lupa bersyukur.”
Dia tersenyum — senyuman yang sama yang sudah kulihat ribuan kali, tapi baru sekarang benar-benar kupahami artinya. Senyuman yang mengatakan: selamat datang di rumah, nak. Selamat datang di tempat di mana kamu tidak perlu kemana-mana lagi untuk merasa utuh.
Dan malam itu, aku tidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun merantau. Tidur di tempat tidur yang sama, di kamar yang sama, di rumah yang sama. Tapi dengan hati yang sudah berbeda — hati yang akhirnya tahu di mana tempatnya berada.
메타데이터
- post_id
- b4afea96ad09
- slug
- sekadar-singgah-cerita-pendek-b4afea96ad09
- url
- https://medium.com/@Parnassuxx/sekadar-singgah-cerita-pendek-b4afea96ad09
- canonical_url
- https://medium.com/@Parnassuxx/sekadar-singgah-cerita-pendek-b4afea96ad09
- author_url
- https://medium.com/@Parnassuxx
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-07 00:45:30